The Thing About Violet

The Thing About Violet
Hai, Adam!


__ADS_3

Beberapa jam kemudian terdengar suara tangis bayi dan di menit berikutnya Dokter Bayu keluar dengan senyum lebar dia melangkah mendekati wajah-wajah penuh ketegangan yang tengah menatapnya.


Mada langsung berlari dan menggenggam kedua tangannya Dokter Bayu dan dengan suara bergetar hampir menangis, Mada berucap, "Gimana Vio dan Bunny?"


Elmo mendekati Dokter Bayu sambil terus memeluk istrinya. Dia pun bertanya, "Anak dan cucuku, baik-baik saja, kan Dok?"


Dokter Bayu menarik tangannya dari genggamannya Mada lalu menepuk pundaknya Mada dan Elmo dengan senyum lebarnya ia berkata, "Jujur saja kasus Vio tadi sangat rumit dan sempat membuat saya panik. Tapi, syukurlah, Violet bisa selamat dan baik-baik saja saat ini. Dan selamat, Bunny adalah cowok dan sudah terlahir dengan selamat. Tapi, karena Bunny terlahir prematur, maka Bunny harus berada di dalam inkubator untuk sementara dan jangan khawatir, Bunny terlahir normal, lengkap dan sehat kok. Selamat Mada, Selamat Om dan Tante"


Mada, Elmo dan Lili langsung memeluk Dokter Bayu secara bersamaan dan dalam tangisan haru, mereka berucap secara bersamaan pula, "Terima kasih banyak, Dok"


Dokter Bayu tertawa lirih lalu melepaskan diri dari pelukan Mada, Elmo dan Lili. Lalu Dokter muda berbakat itu berkata, "Vio itu kuat dan cerdas. Keturunan Elruno pastilah kuat dan cerdas, perjuangannya untuk tetap hidup dan melahirkan anaknya, patut untuk saya acungi jempol"


Mada, Lili dan Elmo tertawa lega dan penuh syukur.


Dokter Bayu tersenyum lebar dan melanjutkan ucapannya, "Dan sudah menjadi tanggung jawab saya untuk menyelamatkan pasien saya jadi, Anda semua tidak perlu berterima kasih. Maaf, masih ada pasien yang harus saya tangani segera, saya permisi dulu. Silakan menemui Violet di kamar VVIP nomer delapan belas, yang sudah saya siapkan untuk Violet"


"Baik, Terima kasih banyak Dok" sahut Elmo. Sedangkan Mada langsung berlari menuju ke kamar VVIP nomer delapan belas disusul oleh Lili dan Elmo.


Ting! pintu lift terbuka dan Mada langsung keluar dari dalam lift dengan berlari kencang. Brak! Mada membuka pintu kamar VVIP nomer delapan belas itu dengan tidak sabar dan ia langsung bersitatap dengan kedua bola mata indah miliki Violet.


Mada langsung melangkah lebar dengan mata penuh air yang meleleh akibat dari membaranya rasa syukur dan bahagia. Mada memeluk Violet yang masih terbaring lemah dengan selang infus terpasang di tangan. Mada berucap, "Terima kasih sudah berjuang untuk hidup. Terima kasih sudah berjuang melahirkan Bunny dengan selamat" Mada sesenggukkan di dalam pelukan istrinya.


Violet ikutan menangis terharu dan sambil mengelus punggung suaminya, ia berkata, "Aku mencintaimu, Mas"


"Aku juga sangat mencintaimu" sahut Mada.


Mada lalu melepaskan pelukannya saat ia mendengar ada suara langkah kaki memasuki kamar rawat inap istrinya.


Mada mundur selangkah untuk memberikan ruang bagi papa dan mama mertuanya yang ingin memeluk putri tunggal kesayangan mereka.

__ADS_1


Elmo menciumi wajah pucat putrinya dan berucap, "Papa bangga sama kamu, Nak"


Lili menciumi tangan Violet dan menatap Violet dengan senyuman, "Mama juga sangat bangga sama kamu"


"Kenapa semua ini bisa terjadi? Kata Mama kamu, kamu berlari panik sewaktu di mall dan langsung pingsan di pangkuan Mama kamu. Memangnya apa yang kamu lihat?" tanya Elmo sambil duduk di tepi ranjang dan merapikan. rambutnya Violet.


"Nanti aja ya Pa ceritanya, Vio masih lemas nih"


"Ah! oke, oke. Maafkan Papa" sahut Elmo sambil mengusap pipinya Violet.


Mada terus menatap istrinya karena ia pun ingin menanyakan hal yang sama kepada Violet. Benaknya Mada dipenuhi tanya, kenapa Violet berlari ketakutan, siapa yang Biolet lihat karena Violet tidak pernah takut pada apapun atau siapa pun, kecuali Gasa Aefar. Mungkinkan.......?


Pintu kamar rawat inapnya Violet Cinta Elruno yang masih terbuka lebar, membuat seorang perawat dengan leluasa melangkah masuk sambil mendorong kursi roda. Perawat itu menghentikan kursi roda di samping kanan bed dan sambil menulis senyum, perawat iru berkata, "Maaf Nyonya, Nyonya harus memberikan ASI kepada dedek bayi. Oh iya, dedek bayinya kan belum dikasih nama. Namanya siapa?"


Elmo, Lili bersitatap lalu mereka berdua menoleh ke Violet, "Siapa nama cucu Papa dan Mama?"


Mada.tergagap dan langsung menyemburkan tanya, "Aku? Aku boleh kasih nama ke anak kita?"


Elmo dan Lili bangkit lalu berbalik badan untuk memandang wajah polosnya Mada. Elmo kemudian berkata, "Tentu saja boleh. Kamu kan Ayahnya Bunny"


"Emm, Iya Papa benar" Mada lalu bertepuk tangan kegirangan dan dengan wajah semringah ia kembali berkata, "Bagaimana kalau Adam? Adam Goh?"


Elmo dan Lili bersitatap. Pasangan suami istri itu kemudian terkekeh geli dengan permainan takdir karena pada akhirnya, nama marga Goh ditakdirkan menempel di nama cucu mereka. Elmo, Lili dan Violet berucap secara bersamaan, "Nama yang bagus. Aku suka"


Mada memekik kegirangan lalu ia mendorong Violet yang telah duduk nyaman di atas kursi roda menuju ke kamar bayi dengan langkah lebar sampai-sampai sang perawat menegur Mada, "Tuan, dorong kursi rodanya pelan-pelan! Istri Anda baru saja menjalani operasi Caesar dan masih lemas"


"Ah iya! Anda benar, Sus. Maafkan aku ya, sayang" Mada lalu memperlambat laju kursi roda yang ia dorong sambil mencium rambutnya Viilet.


Violet menyentuh tangan suaminya dan terkekeh geli, "Kamu ingin segera bertemu dengan Adam ya, Mas?"

__ADS_1


Mada melepas tawa bahagianya dan berkata, "Iya benar"


"Putra kalian sangat tampan. Mirip banget sama Papanya" sahut sang perawat.


Mada memekik bahagia dan hampir terbang rasanya mendengar ucapan sang perawat. Dia menoleh ke sang perawat dan bertanya, "Benarkah? Adam putra kami, mirip banget dengan saya?"


"Iya Tuan" sahut sang perawat dengan tersenyum lebar. Perawat tersebut bisa ikut terhanyut merasakan kebahagiaan yang terpancar nyata dan tulus dari wajah tampannya Mada.


Sesampainya di ruang PICU. Perawat tersebut meminta Mada dan Violet membasuh kedua tangan mereka dengan cairan khusus semacam hand sanitizer, lalu meminta Mada dan Violet memakai seragam khusus untuk memasuki ruang PICU dan memakai masker medis. Kemudian, perawat itu, menuntun langkah Mada dan Violet sampai mereka berhenti di depan sebuah inkubator. Perawat berambut cepak itu, lalu berkata, "Ini Adam"


Mada dan Violet bersitatap penuh rasa syukur dan bahagia yang membuncah lalu pasangan suami istri itu mengelus kaca inkubator dan berkata, "Haaiiii, Adam"


"Ini Papa" ucap Mada.


"Dan ini Mama" ucap Violet.


Adam, bayi mungilnya Violet, tampak menggerak-gerakkan kaki dan kedua tangan mungilnya mengepal, meregangkan tubuhnya dan membuka mulutnya terus menerus.


"Apa saya boleh memasukkan tangan saya ke dalam inkubator?" tanya Mada.


"Boleh saja. Tapi, jangan lama-lama! karena sepertinya, Adam sudah mulai lapar dan ingin menyusu" sahut sang perawat.


Mada tersenyum lebar dan menganggukkan. kepalanya lalu ia masukkan. tangannya secara perlahan ke dalam inkubator dan secara tidak terduga, tangan Adam yang masih mengepal, menyentuh tangannya Mada. Mada lalu meletakkan tangan mungilnya Adam yang masih mengepal di atas tangannya dengan tatapan takjub dia membacakan doa untuk Adam.



Setelah membacakan doa, Mada menarik keluar tangannya lalu mengecup keningnya Violet, "Aku keluar dulu. Kamu mau menyusui Adam, kan?"


Violet.tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2