The Thing About Violet

The Thing About Violet
Kartu Pos


__ADS_3

Dengan lengan bersedekap dan pundak bersandar di dinding luar gedung perkantoran tinggi dan megah yang terletak di tikungan, Mada Goh dan Deo mempertimbangkan pilihan-pilihan mereka. Penyelidikan dan daya upaya pencarian mereka selama empat bulan akan keberadaan si pembunuh kejam yang telah merenggut nyawa Mamanya Mada, telah menggiring Mada dan Deo sampai ke negeri Gajah Putih.


Berkat kolega dan tim yang solid, Mada dan Deo berhasil melamar menjadi Office Boy di gedung perkantoran tinggi dan megah yang terletak di tikungan itu. Mada dan Deo menyamar dengan nama baru dan identitas baru yang tercetak rapi di atas dokumen CV (daftar riwayat hidup) mereka.


"Kita masuk sekarang apa nanti?" tanya Mada.


"Besok" sahut Deo kesal.


"Aku serius" Mada melotot ke Deo.


"Aku dua.rius malah. Kita udah sampai di sini Bro, tentu saja kita harus masuk dan mulai bekerja sebagai OB"


"Sial! aku gugup nih" sahut Mada.


"Kalau gugup balik aja kemeja kamu" Deo terkekeh geli sambil berjalan mendahului Mada.


Mada mendengus kesal sambil melangkah mengikuti Deo.


Karena, mereka adalah karyawan baru, mereka harus menjalani prosedur pemeriksaan di sebuah ruangan. Dan di setiap ruangan sudah menunggu seorang satpam perempuan yang tampak gagah dan garang.


Mada Deo masuk ke ruang yang terpisah dan satpam yang bertugas memeriksa segera memutar tubuh Mada dan Deo, "Letakkan kedua tanganmu di meja dan regangkan kakimu lebar-lebar! Mada dan Deo mendapatkan perintah yang sama. Deo menikmati permainan itu karena, dia memang masih kosong hatinya dan tertarik untuk sedikit bermain-main dengan satpam yang memeriksanya yang kebetulan lumayan enak untuk dipandang.


Sedangkan Mada merasa menderita. Ia merasa risih tubuhnya diraba-raba oleh wanita asing. Mada merengut dan bertanya, "Kenapa bukan pria yang memeriksa kami?"


"Jangan banyak tanya!" Satpam itu melotot ke Mada.


Selama lima detik penuh, Mada tidak bergerak sama sekali sementara tubuhnya diraba-raba oleh satpam wanita itu dari pangkal leher sampai ke mata kakinya. Pundak Mada terasa pegal dan kaku.


Sementara itu, Deo justru berciuman dengan satpam perempuan yang memeriksanya. Panas dan liar karena, sudah empat bulan lebih, Deo tidak bersentuhan dengan seorang wanita. Dan di menit kelima, Deo terpaksa melepaskan satpam perempuan itu dan berkata dengan senyum penuh arti, "Sampai jumpa besok ya, Manis"


Mada yang sudah lebih dulu keluar dari ruang pemeriksaan menunggu Deo di ruangan OB dengan tidak sabar. Deo muncul dengan bekas lipstick belepotan di bibirnya dan Mada langsung menutup mulutnya Mada sebelum OB yang lain melihat bibirnya Deo dan bertanya-tanya. Mada memutar badannya Deo sambil berbisik, "Bersihkan dulu bibir kamu dari lipstick satpam wanita yang memeriksaku tadi!"

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Deo masuk kembali ke ruangan OB dengan jejeran gigi putihnya dan Mada hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepalanya.


Demikianlah hari baru yang Deo dan Mada alami Satu jam berikutnya, kepala OB memerintahkan Mada untuk mengantarkan kopi ke ruang CEO.


Mada tersentak kaget saat masuk ke dalam ruangan CEO dan bersitatap dengan kedua mata lentik palsu milik seorang wanita yang tampak cantik karena riasan wajah yang lengkap dan tebal.


Mada meletakkan nampan berisi satu teko kecil kopi, cangkir beserta lepek dan toples berisi gula di atas meja kerja CEO yang Mada baca papan di atas meja kerja itu, nama CEO tersebut adalah Liu Yin. Mada mengerutkan alisnya dan bergumam di dalam hatinya, kenapa namanya nama Tiongkok bukan nama Thailand?


"Ehem! kenapa kau terus menatap papan namaku?" CEO yang bernama Liu Yin itu bangkit dan mulai melangkah memutari meja kerjanya.


Mada berkata maaf lalu ia menundukkan wajah tampannya sambil melangkah mundur sebanyak tiga langkah.


CEO yang bernama Liu Yin itu kemudian berdiri dengan bersandar di meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati yang tampak gagah dan kokoh lalu bertanya, "Kau OB baru ya di sini?"


Liu Yin bertanya memakai bahasa Thailand.


Mada yang belum mahir berbahasa Thailand mengangkat wajahnya dan berkata, "I am sorry, Madam, I Don't understand what you mean. I'm from Indonesia and........"


Mada menganggukkan kepalanya.


"Emm, kau sangat tampan untuk ukuran OB. Berapa umurmu?" tanya Liu Yin.


"Dua puluh enam tahun" sahut Mada.


"Siapa nama kamu?" tanya Liu Yin sambil terus mengamati Mada yang kembali menundukkan wajah tampannya.


"Johny" sahut Mada dengan masih menundukkan wajahnya.


"Kenapa kau terus menatap papan namaku tadi?"


"Maafkan kelancangan saya, emm, saya cuma berpikir kenapa nama Anda memakai nama Tiongkok bukan nama Thailand?"

__ADS_1


"Mamaku pemilik dan pendiri perusahaan ini adalah orang Tiongkok. Nama Mamaku Fang Yin"


Deg! dada Mada berdegup kencang karena, amarah ketika ia mendengar nama Fang Yin dan ia tengah berhadapan dengan putrinya Fang Yin yang ia ketahui, Fang Yin lah pembunuh Mamanya.


"Kenapa?" tanya Liu Yin. "Kenapa kau langsung mengangkat wajahmu saat mendengar nama Fang Yin? Kau kenal dengan Mamaku?"


Mada kembali berkata maaf, menundukkan kembali wajahnya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Baguslah! Aku butuh teman kencan malam ini untuk mengelabui Mamaku. Maukah kau jadi teman kencan boonganku? Aku capek menjalani kencan buta yang diatur oleh Mamaku"


"Hah?!" Mada mengangkat wajahnya dan ternganga.


"Hanya sementara sampai aku benar-benar menemukan laki-laki yang tepat untuk aku nikahi. Jangan khawatir! aku akan membayarmu untuk jadi pacar boonganku" sahut Liu Yin.


"Kenapa harus saya?" tanya Mada.


Liu Yin terkekeh geli melihat raut wajah lolosnya Mada lalu ia kembali membuka suara, "Karena kamu memiliki postur tubuh yang bagus dan wajah yang tampan. Jika kau memakai setelan baju bermerk kau akan tampak mewah. Cocok dengan selera Mama aku. Mamaku suka cowok tampan bersetelan mewah dan berpostur tubuh sempurna seperti kamu ini"


"Dan kita akan bertemu dengan Mama Anda?" tanya Mada dengan nada serius.


"Emm, awalnya kita hanya akan bertemu dengan asisten pribadinya mamaku karena, Mamaku tidak pernah muncul di depan orang asing sebelum ia memercayainya. Kalau kita sudah berkencan beberapa kali, mungkin Mamaku akan muncul untuk menemui kita" ucap Liu Yin.


"Jadi, sebenarnya Mama Anda berada di mana?" tanya Mada.


"Aku sendiri pun, putri kandungnya, tidak tahu di mana Mamaku berada saat ini" Liu Yin tersenyum sedih.


Mada lalu berkata Iya. Dia bersedia menjalani kencan pura-pura dengan CEO tempat ia bekerja sebagai OB hanya demi bertemu dengan Fang Yin, pembunuh Mamanya.


Violet berbaring di tempat tidur nyamannya dan membuka surat yang berasal dari negeri Gajah Putih tanpa nama pengirim. Violet menemukan sebuah kartu pos dengan gambar pemandangan indah di negeri Gajah Putih. Violet lalu membalik kartu pos itu dan membaca tulisan yang tertera di sana, "Aku belum berhenti mencintaimu, Cinta. Tunggu aku kembali dan aku akan memperjuangkan cinta kita. Yang selalu mencintaimu, Mada Goh"


Violet menitikkan air mata dan memeluk kartu pos yang dikirim oleh Mada sambil bergumam, "Apa yang mesti kau perjuangkan Mas? Aku masih istrinya Mas Gasa"

__ADS_1


__ADS_2