
Ivan Goh uring-uringan terus selama.sebulan Mada menghilang tanpa kabar dan secara tiba-tiba Ivan Goh menerima paket yang di dalamnya ada sejumlah uang dengan disertai surat dari Mada yang menjelaskan bahwa uang yang ia kirim adalah uang pengganti biaya pesawat dan menginap di hotel selama satu hari satu malam di Amerika.
"Apa-apaan anak bodoh ini? ngapain ia ke Amerika? Sial! dasar brengsek! apa dia menemui Chery Elruno?" Ivan menggeram kesal lalu membuang paket berisi uang itu ke lantai, "Dasar anak tidak tahu diuntung, dia mirip banget dengan Mamanya, bodoh, cengeng, dan menyebalkan!" Ivan Goh menggebrak meja tapi, di detik berikutnya, ia menyeringai, "Tapi, aku masih punya Gasa. Putraku Gasa itu bisa aku andalkan untuk aku pakai sebagai alat balas dendamku karena, Gasa mirip denganku dan Fang Yin"
Pesta resepsinya Violet Cinta Elruno dan Gasa Aefar digelar dengan sangat megah dan meriah. Namun, Mada tidak bersedia datang saat ia diajak oleh Raja. Mada membuat alasan, dia harus mengerjakan tugas kuliahnya yang super banyak dan tugas-tugas itu tidak bisa ditinggal karena, ia ingin mengejar deadline dua tahun ia harus sudah berhasil menyabet gelar Sarjana Hukum. Raja memahaminya dan membiarkan Mada tetap tinggal di Amerika.
Setelah resepsi selesai, Gasa dan Violet dengan ditemani oleh sekretaris pribadinya Gasa, masuk ke mobil, menuju ke bandara dan terbang ke Tiongkok, ke villa milik Moses Elruno atas permintaannya Violet. Violet mengajak terbang ke Tiongkok, ke villa-nya Moses Elruno untuk berbulan madu sekalian ia ngin mengunjungi makam semua Kakek dan Neneknya untuk meminta doa restu supaya pernikahan yang ia pilih yakni pernikahannya dengan Gasa bisa langgeng sampai maut memisahkan seperti pernikahan semua Kakek dan Neneknya.
Gasa yang masih berakting menjadi 'anak baik' menuruti permintaannya Violet.
Mada termangu di dalam kamarnya sambil memandangi wajah Violet di layar ponselnya yang baru. Ada rasa penyesalan, kerinduan, dan cinta yang begitu besar di dalam dadanya, membuat dadanya terasa penuh dan sesak. Mada beberapa kali menghela napas, mencoba mengurai sesak di dadanya sambil terus mengusap layar ponselnya yang menampakkan wajah ayu alaminya Violet. "Ternyata aku tidak pernah baik-baik saja. Aku masih sangat mencintaimu Cinta dan kabar pernikahanmu dengan Kak Gasa, membuatku lemas. Aku jadi malas untuk melakukan apapun bahkan jika raga dan otakku mengijinkan aku, aku juga merasa sangat malas untuk bernapas. Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu?" gumam Mada lirih.
Sesampainya di Tiongkok, Gasa, Violet dan Mia, dijemput oleh Allen. Allen segera mengantarkan tamunya ke villa.
Semua penduduk di sekitar villa menyambut gembira berita pernikahannya Violet. mereka ternyata menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk merayakan pernikahannya Violet. Violet sampai menitikkan air mata karena, terharu.
Pesta kecil-kecilan itu akhirnya selesai di malam yang semakin larut. Violet yang merasakan kelelahan yang begitu hebat segera melompat ke kasur tanpa berganti baju dan mulai memejamkan mata namun, tidak demikian dengan Gasa, Gasa tidak merasakan lelah sedikit pun apalagi dia melihat Violet tertidur dengan posisi miring dan dressnya Violet tersibak, memperlihatkan kulit mulusnya Violet.
__ADS_1
Gasa segera naik ke kasur, berbaring di sebelahnya Violet dengan tangan menyentuh kulit mulusnya Violet dan bibirnya menyusup ke lehernya Violet.
Violet tersentak,.membuka kedua bola matanya dan secara spontan ia bergeser menjauh. Gasa langsung menangkap pinggangnya Violet dan menariknya hingga tubuh Violet menempel erat ke tubuhnya Gasa. Gasa lalu menciumi rambutnya Violet sambil berbisik, "Kau istriku sekarang dan salah satu kewajiban dari seorang istri, harus menuruti kemauan suami. Aku membutuhkanmu sekarang" Gasa menarik tubuh Violet hingga Violet tidur terlentang dan Gasa segera naik ke atas mengungkung tubuh rampingnya Violet.
Violet menatap Gasa, seluruh tubuhnya menegang dan ia berucap, "Aku sangat capek hari ini Mas. Mas apa tidak capek? kita tidur aja ya, hmmmmmmpt!" ucapan Violet langsung terbungkam oleh bibirnya Gasa yang tidak berhenti mencium bibirnya secara liar. Violet mencoba untuk bergerak membalas ciuman itu tapi entah kenapa dia tidak memiliki minat untuk membalas ciumannya Gasa. Bahkan Violet hanya merasakan daging bertemu dengan daging tanpa ada rasa dan percikan kecil seperti sengatan aliran listrik yang pernah ia rasakan saat ia berciuman dengan Mada.
Gasa tidak memperdulikan dinginnya sikap Violet. Ia terus menyerang Violet, meraup bibir, memaksa lidahnya masuk dan bermain dengan liar di sana dengan tangan yang terus merajai di setiap centimeter lekuk tubuhnya Violet, Violet hanya diam, menegang dengan mata membeliak menatap langit-langit kamar tanpa bisa mencerna apa yang sedang ia alami. Semua cumbuan Gasa terasa aneh bagi Violet, terasa sangat berbeda dengan cumbuannya Mada, Violet hanya bisa mematung pasrah mengikuti kemauan suaminya.
Bercinta tanpa adanya cinta di hatinya, membuat Violet merasa tidak nyaman, dia justru merasa takut pada Gasa dan di saat Gasa hendak melesak masuk dengan gairah yang memuncak, Violet tanpa sadar menahan Gasa, "Mas, aku belum siap. Aku takut Mas, kata Mama, pertama kali akan sakit dan..........."
Gasa tetap melesak masuk walaupun Violet terus berteriak kesakitan. Gasa terus bergerak hingga ia mengerangkan kepuasan di udara tanpa mempedulikan Isak tangisnya Violet. Violet masih terisak dan Violet berharap Gasa akan memeluknya setelah itu namun, Gasa justru memakai kembali celana kolornya dan berkata, "Tidurlah!" lalu Gasa pergi meninggalkan Violet begitu saja, melangkah keluar dari dalam kamar.
Bahkan kelelahan fisik dan psikisnya Violet membuat kabut di bayang-bayang wajahnya Mada. Violet begitu ingin menangkap bayangannya Mada walaupun hanya di dalam benaknya namun, kabut lelahnya membuat buram bayangan wajah Mada di benaknya sehingga raganya memilih untuk menyerah dan terjatuh melemah, tertidur pulas tanpa impian.
Gasa merokok di depan kolam renang dan ia segera membuang puntung rokoknya di tanah, menginjak puntung rokok itu lalu dengan menyeringai senang ia berjalan masuk ke dalam kolam renang saat ia melihat Mia berenang di sama dengan memakai bikini berwarna merah menyala. Warna kesukaannya Gasa.
Gasa langsung menangkap tubuh seksinya Mia, kekasih gelapnya dan mengajak Mia bercinta di kolam renang itu. Mia segera menahan tubuh Gasa dengan berucap, "Istri kamu tahu nanti, kalau dia memergoki kita gimana?"
__ADS_1
"Dia sudah tidur" Dan Gasa langsung mendaratkan ronde kedua gairahnya yang kembali membara ke Mia. Mereka menyatu di kolam renang itu dengan tanpa malu.
Setelah mengerangkan kepuasan bersamaan, Gasa mengajak Mia bersandar ke tepian kolam renang dan Mia bertanya, "Apa kau masih belum menyatu dengan istrimu?"
"Sudah tapi, aku masih kurang puas karena dia hanya diam mematung dan dingin di ranjang"
"Dia kan masih lugu dan masih sangat muda. Kamu harus lebih bersabar" Mia berpura-pura peduli hanya untuk meraih simpatinya Gasa.
"Iya kau benar" Gasa berucap sambil keluar dari kolam renang, memakai kembali celana kolornya lalu meninggalkan Mia begitu saja untuk kembali ke kamarnya.
Sesampainya di kamar, ia menemukan Violet telah tertidur dengan lelapnya. Gasa merebahkan diri di sampingnya Violet, memeluk Violet lalu ia pun memejamkan matanya.
Mia masih berada di kolam renang dia tersenyum senang karena, Gasa masih mencari dan membutuhkannya. "Tinggal menunggu waktu yang tepat, aku akan menjerat Gasa untuk menikahiku. Aku rela menjadi istri keduanya Gasa dan asalkan aku bisa membalas Violet atas semua rasa sakit di hatiku selama ini"
Di Amerika................
Mada bergetar tangannya ketika ia memegang kaleng bir. Dia hendak menenggak habis isinya tapi kemudian dia lempar kaleng bir itu sampai isinya terburai ke lantai dan terciprat di dinding kamarnya. Mada keluar sebentar untuk membeli beberapa kaleng bir namun, sesampainya di kamar, saat ia membuka kaleng bir dan hendak meminumnya, dia teringat kembali akan kata-katanya Violet, "Jangan lagi menjadi pecandu bir ataupun minuman beralkohol lainnya. Itu nggak baik untuk kesehatan kamu" kata--kata Violet yang menyusup masuk ke telinganya, membuat tangannya secara refleks membuang kaleng bir yang sudah terbuka itu.
__ADS_1
Mada lalu duduk di lantai dan memeluk kedua lutut kakinya, "Kenapa kita harus dipertemukan kalau kau tidak tercipta untukku. Aku sangat merindukanmu Cinta" bisik Mada pilu.