The Thing About Violet

The Thing About Violet
Kau Cantik


__ADS_3

"Kenapa kau berdiri di depanku? mau apa kau?"


Violet melotot ke Mada.


"Aku akan melatihmu taekwondo dan itu dimulai dari........Se....ka......rang" senyum riang mengembang di wajah tirusnya Mada.


"Nggak mau! kau bukan tutor sini kan? Mana Kak Jojo yang tadi?" Violet berjinjit sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok laki-laki yang bernama Jojo.


"Kak Jojo sedang melatih atlet. Karena, kau pemula, dia menyerahkannya padaku" Mada lalu bersikap sempurna, membungkukkan badannya dan berkata, "Saya tutor Anda sekarang ini Nyonya dan perkenalkan nama saya Mada Goh" Mada kemudian menegakkan badannya kembali dan menatap Violet dengan senyum cemerlang.


"Dasar konyol! Aku akan pulang, aku nggak mau latihan di sini kalau kau yang melatih" Violet berbalik badan dan Mada segera mengeluarkan kata, "Begitu ya sikap seorang Elruno? Aku menolongmu saat kamu hendak diculik di sebuah bar di saat kamu mabuk dan seperti ini balasanmu?"


Violet berbalik badan kembali dengan meragu dan di saat ia bersitatap dengan Mada, dia melempar tanya, "Apa maksudmu?"


"Bar, mabuk, dan kunci cadangan hotel, kau ingat?"


"Ah! sial! aku lupa mau menanyakan soal kunci cadangan hotel itu karena ada banyak hal yang mengejutkanku, aku jadi melupakan soal itu. Bagaimana kau bisa punya kunci cadangan hotel itu? jangan-jangan kau...........?" Violet langsung memeluk tubuhnya sendiri dan melotot ke Mada.


Mada tersenyum geli lalu ia menghela napas dan berkata, "Aku yang membawamu ke hotel itu karena, waktu itu aku panik kamu mabuk berat dan pingsan dan aku belum tahu rumah suamimu. Tapi, tenanglah! aku tidak ngapa-ngapain kamu. Kamu bisa cek kamera CCTV jika kamu tidak percaya padaku"


"Syukurlah" Violet lalu mengelus dadanya.


"Kau tidak ingat sama sekali kejadian waktu itu? di kamar hotel?" tanya Mada dengan senyum jahilnya.


"Apa? a....a..pakah ada yang terjadi? hal memalukan apa yang sudah aku lakukan?" Violet memucat di depannya Mada.


Mada tersenyum lebar lalu berkata, "Nggak ada yang terjadi. Lupakanlah! aku cuma menggodamu saja kok"


"Mas! kamu serius kan, beneran nggak ada yang terjadi, kan?" sahut Violet.


"Hmm. Kita mulai saja latihan kita hari ini" Mada berucap sambil membetulkan letak sabuknya.


Violet mengerucutkan bibirnya lalu ia gerakan bibir monyong itu ke kiri dan ke kanan. Violet merasa gengsi harus mengucapkan terima kasih kepada laki-laki yang sangat ia benci namun, bagaimana pun juga, Mada sudah menolongnya. Jadi akhirnya, dengan helaan napas panjang ia menyemburkan kata, "Terima kasih"


Mada tersenyum dan bertanya, "Apa yang kau ucapkan? aku tidak dengar"


Violet memekik kesal, "Terima kasih! dengar kan?"

__ADS_1


Mada tertawa lalu ia berkata, "Iya aku dengar. Untung saja gendang telingaku tidak pecah mendengar teriakanmu"


Violet kembali mengerucutkan bibirnya.


Mada menahan diri untuk tidak nekat memeluk Violet dan mencium bibirnya Violet yang terus mengerucut dengan berdeham, "Ehem! kita mulai latihan kita. Ada 4 hal mendasar yang harus dikuasai pemula seperti kamu. Pertama, kuda-kuda, serangan, tangkisan, dan sasaran tubuh. Keempat hal itu harus kuat dulu pondasinya barulah lanjut ke tahap berikutnya" ucap Mada sambil berdiri di depannya Violet dengan kaki terbuka lebar siap membentuk kuda-kuda yang kuat.


Violet mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sikap malas-malasan dan bersikap santai acuh tak acuh sembari mengusap-usapkan jari jempol kaki kanannya di atas matras.


"Kalau kau tidak serius, maka pulanglah! latihan taekwondo itu tidak gampang. Tapi, jangan salahkan aku kalau di luar sana kau akan dijadikan sasaran empuk bagi banyak orang terutama laki-laki hidung belang. Apalagi orang-orang yang telah mencelakai Papa dan Mama kamu. Aku yakin mereka saat ini, mereka juga tengah mengincar kamu"


Violet langsung bersikap sempurna dan memasang wajah serius, "Mas! jangan nakut-nakutin!"


"Aku serius. Kalau kamu tidak percaya maka sekarang pulanglah dan tunggu beberapa hari ke depan maka akan ada orang yang akan ........." Mada memasang wajah serius walaupun di dalam hatinya ia tersenyum geli.


"Stop! jangan diteruskan! oke! Fine! Aku mau latihan sama kamu tapi, kamu janji dulu, jangan sentuh aku!"


"Bagaimana bisa aku melatih kamu, tanpa menyentuh kamu? kalau kamu salah gerak atau jatuh, aku tidak boleh menolong kamu?" Mada berusaha keras untuk tidak meluncurkan tawanya ke udara.


"Nggak usah ditolong! Aku udah gede dan aku bisa bangun sendiri dan kalau salah tinggal bilang salah nggak usah pegang-pegang dan ngebetulin posisiku! Oke?" Violet membeliakkan kedua bola matanya ke Mada sambil berkacak pinggang.


Violet mengikuti gerakannya Mada secara perlahan dan ia terlonjak kaget saat Mada berteriak secara tiba-tiba, "Salah!"


Violet melotot ke Mada, "Nggak usah berteriak bisa kan? apanya yang salah?"


"Itu" Mada menjulurkan wajahnya ke Violet yang berdiri di depannya dengan jarak satu meter.


"Itu, itu apa? tanganku, pinggangku, kakiku, apa? yang jelas dong Mas!"


"Kaki" Mada berucap asal.


"Kaki? kurang lebar maksudnya?" Violet menunduk menatap kedua kakinya kemudian menatap Mada kembali dengan wajah kebingungan.


"Boleh aku betulkan?" Mada bertanya dengan wajah serius walaupun otaknya sedari tadi memerintahkan mulutnya untuk membuka tawa.


Violet menggelengkan kepalanya dengan penuh semangat namun, terlambat. Mada sudah meluncur, memegang pinggangnya Violet dan kaki kanannya mengetuk kaki kirinya Violet, "Kurang lebar sedikit yang kiri dan yang kanan udah pas"


Violet mendelik ke Mada, "Lepaskan pinggangku! udah betul kan kakiku, jadi lepaskan tanganmu dari........"

__ADS_1


"Kau masih sangat fasih marah-marah ya?"


"Mas! jangan bercan..........."


"Kenapa kau tidak mau aku sentuh? apa tangan-tanganku tidak bersih?" Mada menyunggingkan senyum sensual dan mulai berkata, "Kau sangat menggairahkan saat kau marah, kau juga bertambah menarik dan cantik saat kau marah"


"Mas! ingat! kau sudah menikah, aku juga sudah menikah jadi........."


Mada mengangkat sedikit pinggangnya Violet hingga kakinya Violet tidak menyentuh matras lagi. Lalu Mada mendorong tubuh Violet sampai membentur tembok dengan pelan. Mada langsung mengungkung Violet dan segera berkata, "Aku tidak punya istri. Saat kamu datang dulu, aku hendak menceraikan istriku yang kamu temui di kapalku waktu itu. Dan wanita yang ada di rumahku kemarin itu adalah adik angkatku, bukan istriku. Soal permainan, iya benar permainan itu ada dan awalnya memang aku tertarik untuk menaklukkanmu hanya untuk memenangkan taruhan tapi kemudian, aku menyadari bahwa aku benar- benar jatuh cinta padamu. Aku suruh Edo menghapus rekaman kita waktu kita berciuman di kapal waktu itu dan aku membatalkan taruhan itu. Soal Katherine punya rekamannya aku tidak tahu soal itu"


Violet menatap lekat kedua bola mata indahnya Mada dan ia tidak menemukan kebohongan di sana. Lalu ia bertanya, "Dan soal balas dendam?"


"Sejak kau meninggalkan aku, aku pergi ke Amerika mencari kebenaran soal kematian Mamaku. Mamaku dibunuh dengan sangat keji di saat aku masih berumur lima tahun. Aku menemui Budhe kamu. Berkat Budhe Kamu, Ibu Chery dan Pak Raja, aku menemukan kebenarannya bahwa bukan Kakek kamu yang membunuh Mamaku"


"Kenapa dulu tidak kau ceritakan semuanya ke aku?" Violet menatap kedua bola mata indahnya Mada.


"Karena beban itu sangat berat. Aku tidak mau kamu ikut menanggung beban itu" sahut Mada.


Violet terus memandangi kedua netranya Mada.


"Kalau kamu tidak percaya padaku, kamu bisa tanya ke Budhe kamu. Dari awal aku tidak pernah ada niat membalas dendam ke kamu" Mada kemudian mengangkat tangan kanannya, ia menarik sehelai rambut hitam yang jatuh di pipinya Violet. Lalu disentuhkannya tangannya itu ke pipi Violet.


"Kau masih sama seperti dulu. Cantik, bahkan semakin cantik dengan bertambahnya umurmu. Kau juga masih sangat menggairahkan. Aku sangat merindukanmu" Dibelainya pipi Violet.


"Jangan!" Violet berucap tegas sambil memalingkan wajahnya.


Senyum sensualnya Mada berubah menjadi senyum yang penuh kegetiran, "Kamu masih belum memercayaiku?"


Violet masih memalingkan wajahnya namun tangannya bergerak mendorong tubuhnya Mada.


Mada memandang Violet dengan wajah penuh kesedihan. Lalu ia bertanya, "Apa kau masih membenciku?"


Violet kembali menatap Mada dengan diam seribu bahasa. Violet mematung dengan berbagai rasa di dalam hatinya. Violet masih terus bergeming di depannya Mada saat Mada kembali melangkah maju secara perlahan.


Degup jantung Violet kembali menggema di sanubarinya, terasa menyesakkan namun, justru indah ia rasakan saat ia menyadari, degup jantung itu bukanlah degup jantung dendam, kebencian, ataupun amarah. Namun degup jantung itu, degup jantung kerinduan akan Mada Goh.


Mada terus melangkah maju dengan pelan ke arah Violet dengan senyum sensualnya............

__ADS_1


__ADS_2