The Thing About Violet

The Thing About Violet
Violet Bertemu Dengan Mamanya


__ADS_3

Violet kemudian berucap untuk dirinya sendiri, "Oke, aku tidak boleh panik dan taku demi anak yang masih berada di kandunganku! Huuffttt! aku akan ke rumah Papa aja. Mas Gasa pasti tidak akan berani menyusulku ke sana karena, ia sepertinya segan dan takut sama Galvin"


Dan Violet langsung membelokkan laju mobil sedan kesayangannya itu ke rumah papanya.


Gasa langsung dapat mengetahui ke arah mana Violet melajukan mobil dan dengan mengumpat kesal, Gasa mengerem laju mobilnya dan memukul kemudi dengan teriakan, "Dasar sial!"


Gasa kemudian terhenyak di jok mobilnya. Dia menatap laju mobilnya Violet yang terus menjauhinya hingga berbelok di tikungan dan tidak nampak lagi di penglihatannya Gasa, dengan perasaan campur aduk. Kemarahan, kecemburuan dan kesedihan menyergap Gasa sekaligus dan membuat Gasa tiba-tiba memegang dadanya lalu ia cengkeram dadanya karena, terasa sangat nyeri dan tanpa bisa Gasa bendung lagi, air mata jatuh bercucuran membasahi wajah tampannya Gasa.


Dua kali itu Gasa menangis dengan begitu hebatnya. Pertama kalinya Gasa menangis dengan begitu hebatnya saat ia diadopsi oleh keluarga Aefar dan dipisahkan dengan Mia sahabat masa kecilnya di panti asuhan. Lalu kedua kalinya adalah di hari itu, hari di mana ia mengira, Violet mengkhianatinya di saat ia mulai mengenal sebuah cinta yang begitu besar bahkan mampu membuat dirinya bertekad untuk berubah. Namun, komitmen perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, yang lembut dan penuh cinta kasih yang Gasa janjikan kepada dirinya sendiri, lenyap sudah berubah menjadi amarah, kekecewaan, dan dendam. Semua itu terjadi akibat dari mulut tajamnya seorang wanita yang bernama Mia.


"Kenapa semua orang tidak ada yang mencintaiku? Mama kandungku membuangku di saat aku masih bayi, orang tua angkat yang mengadopsi aku, selalu berbuat kejam padaku, selalu menyiksa fisik dan mengintimidasi jiwaku. Dan Papa kandungku, hanya memikirkan soal dendam pribadinya. Lalu sekarang Violet, istri yang begitu aku cintai, berselingkuh dan mengandung anak pria lain? Lalu apa gunanya aku dilahirkan di dunia ini? Apa gunanya, dasar brengsek!" Gasa berucap perih di dalam derai tangisnya sembari terus memukul-mukul kemudi mobilnya sampai telapak tangannya mulai memerah dan memar tanpa ia sadari karena, rasa sakit di hati dan jiwanya lebih dahsyat daripada rasa sakit di telapak tangannya.


Gasa terus menangis sampai kehabisan daya dan jatuh tertidur di dalam mobilnya.


Mia yang mengikuti Gasa dan Violet dengan taksi online, berhasil menemukan mobilnya Gasa. Mia mengetuk kaca mobil itu dengan pelan dan melongok ke dalam. Ia mendapati suaminya memejamkan kedua matanya di dalam mobil. Mia panik, ia mengira Gasa pingsan. Mia langsung membuka pintu mobil dan bersyukur karena, pintu itu tidak terkunci lalu ia menepuk pelan pipi suaminya, "Gasa? kau pingsan? Gasa?"


Gasa membuka kedua matanya lalu mengerjap-ngerjapkannya. Ada kekecewaan di sorot matanya Gasa karena, Gasa berharap yang datang menghampirinya adalah Violet bukannya Mia.


"Kenapa kau ke sini?" tanya Gasa sambil mendorong tubuhnya Mia lalu ia membuka lebar-lebar pintu mobilnya.

__ADS_1


"Aku mengkhawatirkanmu makanya aku mengejarmu tadi dengan taksi online. Syukurlah kau tidak kenapa-kenapa?" Mia menatap Gasa dengan raut wajah penuh dengan kesedihan.


"Dia pulang ke rumah Papanya. Ada Galvin di sana dan entah kenapa, aku selalu saja merasa ketakutan setiap kali aku beradu pandang dengan Galvin. Untuk itulah aku memutuskan untuk berhenti mengejar Violet" sahut Gasa dengan nada bicara penuh dengan kesedihan.


"Kau menangis sampai pingsan ya, tadi?" tanya Mia yang masih berdiri di samping pintu kemudi mobilnya Gasa.


"Siapa yang menangis dan siapa yang pingsan? aku hanya ketiduran tadi" ucap Gasa dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun.


"Kau lihat kan? hanya aku yang tetap berdiri di sampingmu. Hanya aku yang mau menerimamu apa adanya dan hanya aku yang tulus mencintaimu" ucap Mia dengan penuh semangat membara.


Gasa hanya melempar senyum tipis ke istri keduanya itu. Kemudian ia berkata, "Masuklah! kita pulang"


Mia tersenyum lebar karena, ia berhasil mendapatkan kembali perhatiannya Gasa, suami yang sangat ia cintai. Saat Gasa melajukan mobilnya di tengah hirup pikuk jalan raya yang semakin padat, Mia melemparkan tanya, "Apa kau masih berniat menceraikanku?"


Mia langsung mengunci rapat-rapat mulutnya dan tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.


Violet masuk ke dalam rumahnya dan dikagetkan dengan keberadaannya Papa dan Mama tercintanya di ruang tamu bersama dengan Deo, Galvin dan Mada. Dan semua menoleh dan menatap Violet.


Lili dan Mada secara spontan bangkit saat Violet mematung di pintu depan. Mada mengerem langkahnya yang ingin memeluk Violet ketika ia melihat Lili, mamanya Violet telah lebih dulu berlari menuju ke Violet lalu memeluk Violet dengan tangis kerinduan. Violet langsung menangis dan memeluk erat tubuh ramping mama tercintanya.

__ADS_1


Lili tersentak kaget saat ia melepaskan pelukannya dan melihat pipi Violet memar dan di sudut bibirnya ada setitik darah yang sudah mengering. Lili menyentuh pelan sudut bibirnya Violet sembari bertanya ragu, "Apa Gasa yang melakukannya?"


"Apa yang Gasa lakukan?" Mada segera melesat, berdiri di sebelahnya Lili untuk melihat kondisi wajahnya Violet dan Mada tersentak kaget, "Apa benar Gasa yang melakukannya?" Mada tanpa sadar mengepalkan kedua tinju di tangannya.


Violet menganggukkan kepalanya dengan wajah yang masih penuh dengan deraian air mata.


Lili kembali memeluk Violet dan berkata, "Kamu sudah aman di sini, Sayang. Kita masuk ke kamar dulu, yuk!" Dan karena kondisi fisiknya belum pulih benar Violet kembali pingsan di dalam pelukan Mamanya. Lili memekik kaget dan Mada segera membopong tubuh rampingnya Violet. Lili langsung memimpin langkahnya Mada menuju ke kamarnya Violet.


Dengan penuh perasaan cinta, Mada merebahkan Violet di atas ranjang super mewah yang menguasai kamar super luas itu.


Lili menoleh ke Mada, "Terima kasih ya, Mada"


"Sama-sama Tante" Mada berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah ayu alaminya Violet yang tampak pucat. Hati Mada terasa nyeri karena kesedihan melihat kekasih hatinya, pujaan hatinya, menanggung beban yang begitu dahsyat.


Lili melihat Mada dan berkata di dalam hatinya, apa anak ini, memiliki rasa pada Vio?


Lalu Lili membuka suara, "Tolong keluar dulu ya, Mada! Tante mau mengganti bajunya Vio"


Mada menoleh ke Lili dan berkata, "Baiklah Tante! saya permisi" Mada kemudian melangkah keluar dari dalam kamarnya Violet dan menutup pintu kamar itu dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


Mada bergabung kembali ke ruang tamu dan dengan masih berdiri tegak ia berkata ke Elmo, "Saya akan menemui Gasa sekarang apakah Bapak mengijinkannya?"


"Jangan! itu hanya akan menambah masalah. Kita harus bersabar sampai besok, kita akan menangkap Gasa besok" sahut Elmo dan Mada akhirnya menuruti perkataannya Elmo Elruno itu walaupun hatinya terasa sangat panas, dia begitu ingin menghajar Gasa karena, Gasa telah lancang menyakiti Violet.


__ADS_2