The Thing About Violet

The Thing About Violet
Gasa Meminta Mada Untuk Menjauh


__ADS_3

Mada kembali ke kapalnya dengan langkah lebar dan wajah merah padam penuh amarah. Dia naik ke atas kapal dan berdiri tepat di depannya Katherine dengan mata menyala-nyala, bibir rapat, wajah merah padam dan kedua tangannya terkepal. Napasnya memburu menahan segala kebencian yang dia punya untuk Katherine.


Katherine melipat kedua tangan dan tersenyum tipis kemudian berkata, "Apa? apa salahku? aku hanya katakan yang sebenarnya kan?"


Mada menggeram dan dengan masih mengepalkan kedua tangannya ia berucap, "Andai kau bukan seorang wanita aku sudah menghajarmu habis-habisan saat ini"


"Lalu apa? nasi udah menjadi bubur. Kau sudah kehilangan kelinci manismu itu. Kita nggak akan bercerai kan? karena jika kita bercerai, kau tidak akan punya siapa-siapa lagi Mada" Katherine berucap sambil melangkah maju untuk meraih tangannya Mada namun, Mada segera mundur dan berkata dalam kegeramannya, "Aku akan tetap menceraikanmu. Sekarang! detik ini juga!" Pekik Mada lalu Mada menoleh ke pengacaranya.


Pengacaranya Mada segera paham dan langsung membuka map yang ia bawa dan menyodorkannya ke Katherine, "Baca dan tandatanganilah, Nyonya!"


Katherine membaca alasan ia diceraikan oleh Mada dan ia langsung melancarkan protes, "Selingkuh? kapan aku selingkuh?"


"Cih! bukan kau saja yang memiliki rekaman video. Aku juga punya rekaman video yang berisi semua kebusukanmu. Tandatangani cepat! kalau tidak kau tandatangani, aku akan tetap menceraikanmu tanpa uang sepeserpun. Kau tinggal pilih, pergi dariku dengan rumah dan uang atau pergi dariku tanpa uang sepeser pun" Mada menatap Katherine dengan sorot tegas berbalut kebencian.


Sial! Batin Katherine kesal.


Akhirnya Katherine menandatangani surat cerai itu demi sebuah rumah dan beberapa rupiah yang cukup untuk hidup dia selama dua tahun jika ia mampu berhemat


"Kemasi barang-barangmu dan pergilah sekarang juga! aku muak melihatmu" kemarahan masih terdengar di nada bicaranya Mada Goh


Beberapa menit kemudian Katherine meliukkan badannya, melangkah pergi meninggalkan Mada Goh untuk selama-lamanya karena, dia bukan lagi istrinya Mada Goh di detik itu.


Mada menyugar rambutnya dan jika sesuai dengan perhitungan waktunya, Violet telah sampai di rumah sakit Natura Medika maka Mada mencoba menelepon Violet. Dia hanya ingin bertemu dan mengatakan yang sebenarnya ke Violet karena, ia tidak ingin Violet hidup dengan belenggu cerita editannya Katherine.


Violet membiarkan ponselnya yang terus berbunyi nyaring memanggil untuk disentuh. Mata yang dipenuhi butiran bening yang keluar dari sanubarinya yang terluka, membuat pandangannya Violet kabur dan dia tersentak kaget saat di jarak dekat, di depan mobilnya, ada anak kecil yang menyeberang ngawur dan membuat Violet.langaung membanting setir mobil ke kiri dan mobilnya menabrak sebuah pohon beringin besar yang ada di pinggir trotoar jalan itu. Keningnya terantuk kemudi dan Violet jatuh pingsan.

__ADS_1


Gasa yang pertama kali menemukan Violet karena, memang Gasa sudah mengikuti ke mana pun Violet pergi, sejak Violet keluar dari rumah. Gasa membopong Violet masuk ke dalam mobilnya dengan hati-hati kemudian dia meraih ponselnya Violet, melihat nama yang tertera di layar ponsel dan ia memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon yang masuk ke dalam ponselnya Violet.


Mada.tersenyum lebar saat panggilan teleponnya akhirnya diterima oleh Violet. Dia segera memekik riang, "Halo Cinta, maafkan aku, aku........"


"Violet kecelakaan. Dia pingsan dan tidak bisa menerima teleponmu" Gasa.mencengkeram ponsel yang menempel di daun telinganya dengan geram saat ia mendengar kata cinta meluncur dari mulutnya Mada.


"Apa?! Tapi dia nggak papa kan? ini Kak Gasa ya?" Kepanikkan mulai terdengar di nada suaranya Mada.


"Iya ini aku. Maaf aku akan bawa Violet ke rumah sakit, aku nggak bisa melanjutkan obrolan ini lebih lama lagi" Klik, Gasa langsung memutuskan sambungan telepon itu lalu ia letakkan kembali ponselnya Violet ke dalam tasnya Violet.


Mada langsung duduk lemas dan ia menoleh ke kanan. Dia melihat sebuah paper bag dia ambil paper bag itu dan dia melongok ke dalam paper bag itu. Dia mengambil wadah makan yang kota besar berisi sandwich, yang kotak kecil berisi omelet, dan sebuah Tumbler setelah Mada buka Tumbler itu dan dia cium aromanya, dia bisa tahu kalau itu kopi. Mada menemukan secarik kertas mini bertuliskan, aku sudah belajar masak omelet dengan benar. Omelet kali ini, layak untuk dinikmati.


Mada lalu membuka wadah kecil yang berisi omelet dan mencubit omelet itu. Dia mengunyah omelet itu dengan menitikkan air mata. Kemudian dia tutup kembali wadah makanan itu dan dia segera mengajak Edo yang sedari tadi hanya diam duduk di pojokan ikut merasakan kesedihan Bos besarnya, untuk berlari meninggalkan kapalnya Mada menuju ke rumah sakit Natura Medika.


Galvin, Lili, Celyn, dan Elmo berlari di selasar rumah sakit menuju ke kamar VVIP dan mereka segera membuka pintu kamar itu dan mendapati Gasa tengah menyuapi Violet.


Galvin menoleh ke Gasa begitu pun Gasa. Gasa meletakkan mangkuk bubur di atas nakas lalu bangkit dan mengulurkan tangannya ke Galvin. Galvin menyambut uluran tangan itu dan berkata, "Kau pasti Gasa"


"Iya benar dan kau pasti Galvin. Selamat datang di Indonesia. Kalau perlu tour guide aku siap dua puluh empat jam mengantarmu ke mana saja" sahut Gasa sambil tersenyum lebar. Gasa kembali berakting karena, sesungguhnya dia bukanlah pribadi yang ramah.


Galvin bisa merasakan itu karena, dia memiliki bakat alami yang dimiliki oleh nenek Melati-nya yang bisa membaca karakter seseorang hanya dalam satu atau dua patah kata saja. Galvin hanya tersenyum ke Gasa lalu ia mendekati kakak sepupunya, "Syukurlah cuma luka gores di pelipis dan kau cepat sadar, My Big Sister"


Violet menepuk bahunya Galvin, "Makasih untuk perhatianmu, My Little Brother"


Elmo dan Lili tersenyum lebar melihat tingkah polahnya Violet dan Galvin.

__ADS_1


Celyn gantian memeluk Violet dan Violet senang bukan kepalang, Tante yang sangat ia rindukan akhirnya datang mengunjungi keluarganya.


Gasa yang tidak menyukai kehangatan sebuah keluarga, akhirnya melipir keluar tanpa bersuara dan menghirup udara segar di luar kamar bertepatan dengan berdirinya Mada di depannya.


Mada hendak masuk ke dalam tapi ditahan oleh Gasa, "Violet tidak ingin bertemu denganmu dan saat ini, keluarganya sedang ada di dalam. Lebih baik kita bicara sebentar di kantin"


"Tapi, dia baik-baik saja kan?" tanya Mada sambil mengekor langkahnya Gasa.


"Vio baik-baik saja" Gasa berucap tanpa menoleh ke Mada.


Sesampainya di kantin, mereka duduk berhadapan di meja paling pokok. Gasa segera berucap, "Violet telah menceritakan semuanya ke aku. Dia meminta maaf karena, telah khilaf mengkhianati aku dan berpacaran secara diam-diam denganmu......."


"Kakak tidak menamparnya kan? tidak berlaku kasar padanya kan? aku yang salah Kak, aku yang sudah nekat menyatakan rasa sukaku pada Violet jangan salahkan Violet! pukul saja aku!" Mada mengarahkan pipinya ke Gasa.


Gasa menepuk pelan pipinya Mada dan untuk menarik simpati dari semua orang nantinya, dia berkata, "Aku tidak menampar Violet dan selamanya tidak akan berlaku kasar lagi pada Vio asalkan kau bersedia meninggalkan Violet selamanya. Lagian Violet juga sudah sangat membencimu. Violet sudah tidak mau lagi bertemu denganmu"


"Benarkah seperti itu? bukankah dia cewek pemaaf? dia akan memaafkanku setelah reda amarahnya. Aku hanya ingin meluruskan semua kesalahpahaman diantara kami......aku hanya ingin tetap berteman dengannya Kak, aku mohon........"


"Pergilah sejauh-jauhnya dari Violet agar aku tidak mengingat kembali perselingkuhan kalian. Aku memafkan kalian tapi aku tidak bisa melihatmu berada di dekatnya Vio lagi"


"Baiklah aku akan pergi dari Violet sejauh-jauhnya tapi, kumohon perlakukan Violet dengan baik, jangan pernah menampar lagi, apapun alasannya!" pinta Mada dan ada kesungguhan dan ketulusan di nada suaranya.


Gasa menganggukkan kepalanya, "Aku janji"


Mada memercayai begitu saja janjinya Gasa karena rasa bersalah yang membalut erat dirinya saat itu. Rasa bersalah pada Violet dan rasa bersalah pada Kakak tirinya karena, ia sudah nekat berpacaran dengan Violet di belakang Kakak tirinya. Mada kemudian bangkit dan pergi dari rumah sakit Natura Medika tanpa bertemu dengan Violet.

__ADS_1


Mada memutuskan untuk terbang ke Amerika saat itu juga, untuk menemui Chery Elruno. Dia butuh kejelasan dari kematian Mamanya dan ia yakin, Chery Elruno bisa membantu dia menjelaskan semuanya secara detail. Entah kenapa di dalam hati kecilnya, dia lebih memercayai Chery Elruno yang belum pernah ia temui daripada Papa kandungnya sendiri.


Mada duduk di dalam pesawat dan langsung memutuskan untuk memejamkan mata demi melupakan semua kesedihan hatinya karena, dia telah kehilangan kekasih hatinya untuk selama-lamanya.


__ADS_2