The Thing About Violet

The Thing About Violet
Permainan Cinta Berujung Kecewa


__ADS_3

Mada mengaitkan lengan kanannya di pinggang rampingnya Violet guna menarik tubuh Violet hingga masuk ke dalam pelukannya. Kemudian ia berkata, "Sampai kapan kau akan terus menempel di tembok kayak cicak, hah? kalau mau menempel, menempel saja si tubuhku kayak gini nih, lebih nyaman dan hangat kan?"


Violet mengangkat wajah cantiknya untuk melihat wajah Mada yang tengah menunduk menanti sebingkai wajah cantik terarah kepadanya. Violet seolah tersihir. Dia mematung dengan degup jantung yang masih tidak beraturan, dengan rasa yang masih kacau, dan harapan yang masih bias.


Mada terus menunduk, memandangi wajah Violet dari jarak yang begitu dekat. Dengan degup jantung berbalut, hasrat yang masih jinak, cinta yang begitu besar, dan kerinduan yang membuncah, Mada nekat mencium keningnya Violet, cukup lama. Lalu ia menurunkan bibirnya menyusuri hidungnya Violet dengan gerakan lembut, pelan, seiring dengan menutupnya kedua kelopak matanya Violet secara perlahan. Di saat bibir Mada sampai di pucuk hidungnya Violet, ia menarik bibirnya. Mada kemudian memegang pipi kiri Violet dengan tangan kirinya dan berkata, "Apa kau masih membenciku? masih tidak memercayaiku?"


Violet masih memejamkan kedua kelopak matanya dan masih mendongakkan wajahnya. Dengan helaan napas dan bibir sedikit terbuka, Violet menggelengkan kepalanya lalu secara perlahan, ia membuka kedua kelopak matanya. Kedua bola mata hitamnya yang sangat cantik beradu pandang dengan kedua manik coklat nan unik miliknya Mada. "Aku rasa, aku sudah memaafkanmu Mas. Aku rasa sudah tidak ada kebencian lagi di hatiku untukmu. Tapi sebenarnya, aku tidak pernah membencimu. Aku hanya kecewa dengan sikapmu. Kenapa kamu tidak terbuka padaku sedari dulu"


Mada mengelus pipinya Violet lalu ia mencium pipi itu dan berkata, "Terima kasih sudah memaafkan aku"


Violet masih menengadah dan bersitatap dengan Mada dengan bibir yang sedikit terbuka, hal itu membuat naluri alaminya Mada membuat ibu jarinya Mada bergerak menyentuh bibirnya Violet dan mengusap bibir berwarna pink alami itu dengan penuh gairah berbalut kerinduan. Lalu dengan suara serak, Mada bertanya, "Bolehkah aku mencium kamu, di sini?" Mada menekan ibu jarinya di atas bibirnya Violet dengan lembut ketika ia mengucapkan kata di sini.


Violet berkata, "Aku sudah menikah, Mas"


Mada terus mengusapkan ibu jarinya di bibir Violet lalu berkata, "Persetan dengan pernikahanmu. Kalau Gasa setia dan memperlakukanmu dengan baik, aku tidak akan senekat ini" Mada lalu memajukan wajahnya secara perlahan untuk mencium Violet. Violet secara refleks, kembali memejamkan kedua kelopak matanya.


"Kalian sampai mana latihannya?" Suara Jojo sang pemilik tempat latihan taekwondo tiba-tiba menggema di aula latihan bagi para pemula itu, membuat Violet secara refleks, mendorong keras tubuhnya Mada sampai kaki Mada selip dan Mada terjatuh di atas matras.


Jojo tergelak geli dengan wajah puas ia berkata, "Wah! murid baruku berhasil menjatuhkan Mada Goh di atas matras, hahahaha, good job girl!" Jojo mengacungkan jempol ke Violet.


Violet yang masih merona wajahnya hanya bisa berdiri canggung, merapikan rambutnya, lalu memamerkan deretan gigi putih nan rapinya, ke Jojo.


Jojo sialan! ganggu aja! Mada mengumpat di dalam hatinya sembari berdiri dengan bantuan tangannya Jojo.


"Coba lanjutkan latihan kalian, aku akan melihatnya di pojokan situ" Jojo berucap kemudian melangkah menuju ke sudut ruangan dan berdiri sambil melipat tangan.


Mada berdiri berhadapan dengan Violet dan berkata, "Ikuti gerakanku kayak tadi dan lakukan dengan benar!"


"Baik Seonbae (senior)" pekik Violet.


Mada menoleh ke kanan dan berteriak ke Jojo, "Apa arti kata yang ia ucapkan? Seon.......bae?"


Mada lalu mengalihkan pandangannya ke Violet.


Jojo terkekeh geli, "Kau tanya saja ke murid kamu!" pekik Jojo kemudian.


Violet menatap Mada dengan senyum geli, "Katanya Tutor di sini, kok arti kata Seonbae nggak tahu?"


"Kau mau kucium saat ini juga?" ucap Mada lirih tapi bisa ditangkap kedua kupingnya Violet.

__ADS_1


Violet melotot ke Mada lalu berkata, "Artinya senior dan sepertinya kau harus memanggilku Hubae yang artinya junior"


Mada menoleh kembali ke Jojo dan berteriak, "Kau yang mengajarinya?"


"Iya aku yang mengajarinya!" Teriak Jojo dari sudut ruangan itu.


"Ah sial kau Jo! kau mempermalukan aku ya, kau ajari dia istilah dalam Taekwondo tapi kau tidak mengajariku istrilah itu sebelumnya, dasar brengsek!" Mada.berteriak ke Jojo dengan wajah garang. Jojo langsung menggemakan tawanya begitu juga dengan Violet.


Mada memalingkan wajahnya ke Violet dan ia tertegun melihat wajah Violet yabg semakin cantik saat Violet tertawa lepas tanpa beban.


Violet lalu menghentikan tawanya saat ia melihat Mada tertegun menatapnya lalu ia segera berkata, "Aku capek kayak gini terus nih, gerakan selanjutnya apa?"


Mada tergagap lalu segera berkata, "Selanjutnya, kau layangkan tinju kamu secara bergantian ke depan dengan kekuatan penuh, begitu terus, sampai aku selesai menghitungnya!"


"Siap Seonbae" pekik Violet sambil memulai gerakan yang diperintahkan oleh Mada.


"Oke stop! good job Cintaku" Mada mengacungkan jempol ke Violet dan Violet langsung membeliakkan kedua bola matanya ke Mada saat ia mendengar kata Cintaku keluar dari mulutnya Mada.


Mada terkekeh geli dan berpura-pura tidak melihat kedua bola matanya Violet yang membeliak sempurna. Mada kemudian berkata, "Kita lanjutkan dengan gerakan kuda-kuda depan tangkis bawah, seperti ini lihatlah baik-baik lalu praktekkan!"


Beberapa jam kemudian, Mada, Violet, dan Jojo duduk di atas matras dengan selonjoran kaki. Jojo berkata ke Violet, "Cukup latihan hari ini, sampai jumpa besok dan kamu harus mengingat semua gerakan dasar yang diajarkan oleh Mada tadi!"


"Siap Seonbae!" sahut Violet. Lalu Violet bangkit, berjalan menuju ke ruang ganti untuk membersihkan diri dari keringat dan mengganti kostum taekwondo yang baru saja ia beli dari Jojo dengan dress yang tadi ia pakai.


"Hmm. Thank you ya" Mada menoleh ke Jojo dan melempar senyum tanda terima kasih.


"Berarti besok, aku yang akan melatih Violet?" Jojo berkata sambil menarik turunkan kedua alisnya di depan Mada.


Mada mengangkat tangan kanannya dan menggoyangkan jari telunjuknya di depan Jojo, "No, No, No! aku nggak rela, Violet disentuh cowok lain. Mulai hari ini dan seterusnya, khusus Violet, aku yang akan melatihnya"


Jojo terkekeh geli, "Dasar! mau modus terus ya kamu. Tapi aku nggak akan membayarmu lho. Kau jadi tutornya Violet secara gratis, kau tidak keberatan?"


"Nggak masalah. Violet lebih penting daripada uang" sahut Mada sambil tersenyum lebar dan bangkit. Kemudian dengan siulan ringan ia melangkah pergi meninggalkan Jojo yang terus menggeleng-nggelengkan kepalanya melihat tingkah konyolnya Mada.


Mada melepas kostum taekwondonya lalu memasukkan asal ke dalam tas ranselnya. Kemudian ia berganti baju dengan kaos dan celana kolornya dan bergegas menuju ke ruang pendaftaran untuk menemui Violet sebelum Violet pulang.


Tepat di saat Violet hendak membuka pintu bertuliskan Pull, Mada menyemburkan kata, "Tunggu!"


Violet masih memegang gagang pintu bertuliskan Pull lalu ia memutar setengah badannya untuk melihat ke belakang. Mada berlari lalu berdiri di sampingnya Violet, "Kita makan malam dulu ya?"

__ADS_1


Violet menarik gagang pintu yang bertuliskan pull (tarik) lalu ia melangkah keluar sambil tersenyum dan Mada mengikutinya sambil bertanya, "Mau? iya kan mau, makan malam dulu denganku?"


"Ini sudah jam tujuh malam Mas, aku harus segera pulang. Aku kirim pesan text ke Masa Gasa kalau aku akan pulang sebelum jam sembilan malam. Maaf" Violet tersenyum ke Mada


"Kalau gitu, kita bertukar nomer ponsel dulu. Nomerku ganti" ucap Mada. Mada dan Violet lalu bertukar nomer ponsel dan cup, Mada mengecup kilat dahinya Violet.


Violet terlonjak kaget dan langsung melotot sembari berkata, "Kamu ngawur Mas! kalau ada yang lihat gimana? Aku ini istri orang"


"Bodo amat! kalau ada yang lihat dan bertanya, aku akan dengan bangga berteriak, gadis ini Cintaku!" tanpa sadar Mada semakin meninggikan nada bicaranya. Violet langsung membungkam mulutnya Mada lalu dengan terkekeh geli, Violet menarik kembali tangannya kemudian ia melangkah masuk ke dalam mobil yang sudah dibuka oleh Mada. Mada berucap, "Hati-hati" lalu ia daratkan kembali kecupan di dahinya Violet sebelum ia menutup pintu mobilnya Violet. Mada terus melambaikan tangannya ke arah perginya mobil yang dikendarai oleh Violet sampai mobil itu berbelok di tikungan jalan.


Violet terus menyunggingkan senyum bahagianya. Dia merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Mada, ia merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan Mada dan hatinya kembali terasa hangat menerima beberapa kecupan dari Mada. Jiwanya sebagai wanita normal kembali bergejolak karena baru di hari itu, ia kembali menerima kehangatan kecupan, pelukan, dan sentuhan dari lawan jenis setelah berbulan-bulan suaminya tidak pernah lagi menyentuhnya bahkan suaminya sudah mulai jarang pulang ke rumah.


Violet sampai di rumah tepat jam delapan malam. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan terlonjak kaget saat suaminya menarik tubuhnya lalu mendekapnya dengan erat sambil berkata, "Maafkan aku!"


Sesungguhnya jauh di lubuk hatinya Gasa yang paling dalam, ia sangat takut kehilangan Violet.


Violet mematung di dalam dekapannya Gasa dan bertanya di sana, "Maaf untuk apa Mas?"


"Sikapku tadi di kantor Papa kamu. Bukan aku yang meminta para pemegang saham untuk rapat dadakan memilih pemimpin baru tapi pengacara Papamu yang meminta mereka hadir dan pengacara Papa kamu juga yang meneleponku untuk hadir dan memaksaku untuk menggantikan Papa" Gasa mengusap punggungnya Violet lalu ia menciumi rambutnya Violet kemudian ia menurunkan bibir sampai di telinganya Violet, ia mulai memainkan lidahnya di sana sambil terus berbisik, "maafkan aku" Gasa kembali berbohong demi mendapatkan hatinya Violet.


Naluri alami kewanitaannya Violet memberontak liar untuk menyerah kalah saat Gasa mulai menggodanya dengan ciuman-ciuman nakal yang Gasa daratkan di cuping telinga, leher, dan pundaknya Violet. Rasa cinta yang mulai ada di hatinya Violet untuk Gasa, kembali ditipu dengan cumbuannya Gasa. Setelah berbulan-bulan tidak disentuh oleh suaminya, membuat Violet menjadi terbuka dan menyerah pada permainan cumbuannya Gasa dengan mudahnya.


Secara alami oleh karena gairah, Violet membalas ciumannya Gasa dan Gasa segera membopong Violet lalu ia memangku Violet di atas ranjang. Mereka kemudian menyatu dengan posisi duduk saling berhadapan dan erangan kepuasan yang pertama terdengar, membuat Gasa meneruskan aksinya, ia merebahkan Violet dan terus menyerang Violet dengan penuh gairah dan kerinduan. Gasa merasakan kenikmatan yang luar biasa setelah berbulan-bulan ia tidak menyentuh Violet. Violet terasa bagaikan morfin yang membuatnya kecanduan dan ia tidak bisa berhenti menyatu dengan Violet dalam berbagai gaya.


Violet pun tersihir dengan kehangatan dan indahnya cumbuannya Gasa. Dia terbuai dengan kenikmatan permainannya Gasa sehingga tanpa ia sadari, dia telah berkali-kali mengerang puas berbarengan dengan Gasa dan di ronde ketiga, mereka menghentikan permainan penuh gairah mereka dengan napas menderu. Gasa lalu memeluk Violet dengan masih bertubuh polos. Lalu ia mencium lehernya Violet dan berbisik, "Terima kasih sudah memaafkanku dan terima kasih sudah memuaskanku malam ini. Aku sangat mencintaimu sayang"


Violet hanya bisa diam di dalam dekapannya Gasa. Beberapa menit kemudian dia melepaskan diri dari dekapan suaminya yang sudah tertidur pulas. Violet bangkit menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu ia berganti pakaian dan keluar dari dalam kamar untuk makan. Setelah berlatih taekwondo dan bergulat dengan suaminya di atas ranjang dengan liarnya, perutnya merintih kelaparan.


Violet mengambil nasi dan lauk lalu memakannya dengan rakus sambil sesekali menenggak air mineral dinginnya. Dan di suapannya yang kelima, Violet menggantungkan sendoknya di depan mulutnya lalu ia lepaskan begitu saja sendok itu hingga jatuh di atas meja makan sampai nasi dan lauknya buyar di sana ketika ia melihat Mia tiba-tiba duduk di depannya sambil menaruh piring berisi nasi dan lauk.


Mia tersenyum santai ke Violet dan berkata, "Ibu hamil kalau malam sering laper, hehehehe"


"Kenapa kau bisa ada di sini?" Violet melotot ke Mia.


"Aku istri Mas Gasa sekarang, jadi aku berhak dong ada di rumahnya Mas Gasa" Mia tersenyum santai ke Violet.


"Dasar pelakor tidak tahu malu!" Violet menggeram ke Mia.


"Asal kau tahu Nona Elruno yang terhormat, kaulah yang pelakor. Aku dan Gasa sudah berpacaran sejak kami SMP, jauh sebelum Gasa mengenal kamu. Jadi......benar kan, kau lah si pelakor itu, cih!"

__ADS_1


Violet menggebrak meja lalu berdiri, "Kalau saja kau tidak sedang hamil, aku pasti sudah menyeretmu keluar dari rumah ini. Huufttt! Teruskan perilaku tidak tahu malu kamu itu, dasar wanita murahan!" lalu Violet berbalik badan sambil memencet sebuah nomer di ponselnya dan berlari menuju ke teras depan rumahnya Gasa. Violet menitikkan air mata, dia merana karena permainan cintanya dengan suaminya yang ia rasa indah ternyata berujung kecewa.


Beberapa menit kemudian, sebuah sepeda motor memasuki halaman rumahnya Gasa Aefar. Violet yang sedang berdiri di keremangan serambi malam itu, menoleh ke arah suara mesin motor yang meraung-raung dan tanpa berpikir panjang ia langsung melompat naik ke motor itu dan pasrah mengikuti ke arah mana, Mada akan membawanya pergi.


__ADS_2