The Thing About Violet

The Thing About Violet
Bom Waktu


__ADS_3

Lili mengelus rambutnya Violet setelah ia selesai mengganti dressnya Violet yang basah karena keringat. Lili menitikkan air mata melihat wajah putrinya. Dan sambil terus mengelus rambutnya Violet, Lili bergumam lirih, "Kenapa kau harus dipertemukan dengan Gasa dan harus mengalami semua kepedihan ini? Justru Mada Goh yang adalah putranya Ivan Goh baik dan tulus menyayangi keluarga kita terlebih kamu"


Lili tidak mengetahui rahasia terbesarnya Ivan Goh yakni kenyataan bahwa Gasa Aefar adalah putra kandungnya Ivan Goh dengan seorang wanita yang bernama Fang Yin. Lili terus mengelus rambut putrinya dan tidak berniat beranjak dari sisi putri tunggalnya.


Pagi beranjak siang dan berganti petang, Mada dan Deo belum pergi dari kediamannya Elmo karena, Elmo masih membutuhkan Mada dan Deo. Elmo kemudian memerintahkan Mada dan Deo bekerja di ruang kerjanya.


Mada bekerja di dalam ruang kerjanya Elmo Elruno bersama dengan Deo. Dan Mada bekerja dengan tidak tenang karena Violet belum sadar dari pingsannya hingga petang tiba.


"Kau terus gelisah karena memikirkan Violet ya?" Deo tiba-tiba menoleh dan langsung menyemburkan tanya ke Mada.


Mada tersentak kaget lalu berkata, "Ia benar. Aku khawatir dengan keadaannya Cinta eh Vio. Kenapa sampai sekarang, Vio belum sadar juga dari pingsannya"


Tiba-tiba Galvin muncul di ruang kerja itu sambil membawa nampan yang berisi penuh kue, beberapa camilan dan teh hijau. Galvin meletakkan nampan itu di meja sofa lalu duduk di depannya Deo dan Mada, "Bro! telpon Ratna gih! minta dia ke sini"


"Untuk apa Ratna ke sini? Ratna banyak kerjaan di kantor" sahut Mada dengan santainya.


"Yeeeeaahhh, nggak paham derita dari kerinduan nih dikau" Galvin langsung melancipkan bibirnya ke Mada.


Deo terkekeh geli melihat sikap konyol yang ditunjukkan oleh Galvin lalu berkata, "Fiuuhhh, aku lega saat ini karena, belum terkena penyakit cinta. Kalau aku kena penyakit cinta, aku bisa jadi gila kayak kalian nih, hiiihh! ogah banget"


Mada mendengus keaal ke Deo, "Kalau entar Lo jatuh cinta akan Gue caci maki sepuasnya Lo"


Deo langsung menggelegarkan tawanya ke udara.


Galvin menatap tajam ke Mada, "Kau kan juga tahu beratnya merindu jadi......"

__ADS_1


"Mana aku tahu, aku kan bukan Dylan, hehehehe" Mada berucap santai kemudian memamerkan jejeran gigi putihnya ke Galvin dan Galvin langsung melemparkan pensil yang ada di atas meja ke Mada dengan sorot mata kesal.


"Jangan kau ganggu Mada. Dia sedang mengkhawatirkan Vio"


"Vio udah sadar kok"


Mada langsung semringah, "Benarkah?" lalu ia bergegas bangkit dan Galvin segera memekik, "Mau ke mana Lo?"


"Mau lihat Vio" Mada berkata dengan nada ringan.


"Pakde dan Budeku ada di dalam kamarnya Vio saat ini. Kau yakin mau ke sana sekarang?" sahut Galvin.


Mada kembali duduk di tempatnya semula dengan menghela napas panjang dan memasang wajah kecewa.


"Kau mau aku pantau kondisi di kamarnya Vio?" Galvin mulai memasang wajah usil.


"Untuk kasih kode ke kamu dong. Kalau Pakde dan Budeku udah keluar dari kamarnya Vio kan aku bisa kasih kode ke kamu untuk masuk ke kamarnya Vio"


Mada mengangguk-anggukkan kepalanya dengan penuh semangat, "Oke sip, sip!"


"Sip,sip apa sip, sip! kamu telpon Ratna dulu! Minta Ratna ke sini! sirih bawa berkas apa kek dan suruh dia ke sini" Galvin tersenyum lebar ke Mada.


Mada akhirnya dengan sangat terpaksa menelepon Ratna dan menyuruh Ratna mengantarkan berkas kontrak kerja daam dengan PT, Global Dirga ke kediamannya Elmo Elruno dan setelah Mada menutup sambungan ponselnya, Galvin memekik girang, "Thank you, Bro! sekarang aku akan ke kamarnya Vio untuk memantau kondisi di sana. Tunggu kode dariku ya!" Galvin melangkah keluar dari ruang kerja Pakdenya dengan melangkah mundur dan terus memamerkan deretan gigi rapi nan putihnya ke Mada.


Mada mengangguk riang penuh harap dan Deo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus terkekeh geli melihat tingkah konyolnya Mada dan Galvin.

__ADS_1


Galvin mengetuk pintu kamarnya ya Violet dan masuk ke dalam setelah mendapat sahutan dari Pakdenya. Begitu masuk, Elmo langsung menarik Galvin menjauh dari ranjangnya Violet dan langsung memborbardir Galvin dengan pertanyaan, "Apa DNA seorang psikopat kaan menurun delapan puluh lima persen ke keturunannya?"


"Rumornya sih begitu Pakde. Tapi, belum ada penelitian khusus tentang itu. Kami para ahli dan para petugas medis di bidang kejiwaan hanya memakai ilmu titeni artinya, kita terus mengamati dan mencatat di saat kami melihat kejanggalan tanda-tanda atau ciri-ciri umum dari keturunan pasien kami yang psikopat"


"Dan......" Tanya Elmo dengan tidak sabar.


"Dan yang kami dapati, keturunan para psikopat memang bisa mendapatkan DNA dari Papa atau Mamanya atau bahkan Kakeknya atau Kakek buyutnya. Karena orang norma pun akan menurunkan DNA mereka ke.keturunan mereka, kan? Tapi, DNA bawaan seorang psikopat yang ada di anaknya sejak lahir itu akan lenyap hilang ditelan waktu jika keturunan dari psikopat itu diasuh dengan pola asuh yang tepat dan benar, tumbuh di lingkungan normal yang penuh dengan cinta kasih jadi........."


"Jadi, cucuku akan baik-baik saja, kan jika diasuh dengan tepat dan benar lalu hidup di tengah lingkungan normal seperti keluarganya pakde ini? cucuku tidak akan menjadi sama persis dengan Papanya, kan?"


"Seharusnya sih tidak jika anak Violet diasuh dengan penuh cinta kasih di dalam keluarga yang normal seperti ini" sahut Galvin.


"Tapi, dari ucapanmu tadi, aku jadi kepikiran karena, jika cucuku mengalami peristiwa traumatis sedikit saja maka ia akan menjadi sama persis dengan Papanya?" tanya Elmo.


"Iya benar sekali. Pakde memang cerdas"


"Berarti kita seperti memegang sebuah bom waktu ya? jika kita salah memegangnya atau salah memotong kabelnya, maka bom itu akan meledak dan mencelakai orang-orang di sekitarnya" Elmo semakin mengerutkan alisnya .


"Iya benar sekali" sahut Galvin.


Elmo langsung terhenyak lemas di atas sofa dan bergumam lirih, "Lalu apa yang harus aku lakukan? aku nggak ingin Violet memelihara sebuah bom waktu tapi, aku juga tidak tega jika janin di rahimnya violet harus digugurkan"


Galvin duduk di sebelah Pakdenya dan sambil memijat pelan pundak Pakdenya, ia berkata, "Violet juga nggak mungkin mengijinkan kandungannya digugurkan. Kita pelihara dan jaga bareng-bareng aja bom waktu itu! Aku yakin semua akan baik-baik saja, Pakde, apalagi ada aku, si dokter jiwa yang gila ini, hehehehe. Aku akan jaga Vio dan anaknya, Pakde tenang aja"


Elmo lalu merangkul bahu keponakan tampannya itu dan berkata, "Terima kasih banyak ya kamu udah menyayangi Vio dan selalu menjaga Vio"

__ADS_1


"Ah! terima kasih apa sih Pakde. Vio adalah kakakku jadi aku dan dia harus saling menyayangi dan menjaga, kan?"


Elmo tersenyum lebar ke Galvin dan menganggukkan kepalanya.


__ADS_2