The Thing About Violet

The Thing About Violet
Piggyback Ride


__ADS_3

Beberapa menit kemudian Mada dan Violet telah berada di dalam sebuah taksi online yang berwarna putih. Taksi online tersebut mengantarkan Mada dan Violet ke kediamannya Mamanya Mada. Kampung halaman di mana Mamanya Mada dilahirkan dan dibesarkan hanyalah sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar seratus ribu sampai satu juta jiwa saja. Namun, masyarakatnya sangat rukun.


Violet jadi teringat dengan perkampungan Elruno di Tiongkok. Semua penduduk yang tinggal tidak jauh dari pondok miliknya Mamanya Mada, menyambut hangat kedatangan Mada dengan senyum dan sapa mereka.


"Mereka baik dan ramah ya?" kata Violet sambil mengiringi langkahnya Mada menuju ke pondok sederhana peninggalan dari Mamanya Mada.


"Mamaku lahir dan besar di sini begitupula denganku jadi wajar kalau mereka baik dan ramah padaku"


"Tapi tetap saja beda dengan masyarakat di kota besar. Mereka sombong dan egois" sahut Violet.


"Masyarakat di kota besar, bukannya sombong dan egois tapi karena mereka sibuk bekerja jadi nggak ada waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga di sekitar mereka" sahut Mada sambil tersenyum ke Violet.


"Yeeeaahhh mungkin kau benar" Violet tersenyum lebar ke Mada.


Mada tiba-tiba berjongkok di depannya Violet.


Violet menghentikan langkahnya secara dadakan dan langaung melempar tanya ke Mada, "Kenapa tiba-tiba jongkok di depanku dan menghalangi jalanku?"


"Kau pasti capek. Jalan menuju ke rumah Mamaku memang sempit dan hanya bisa dilewati dengan jalan kaki. Naiklah ke punggungku! Aku akan menggendongmu" Mada menepuk pundaknya.


"Kau gila ya? banyak orang akan melihat kita nanti. Nggak aku malu! Aku nggak mau naik ke punggungmu" Violet menggeser kakinya lalu berjalan lurus meninggalkan Mada yang masih berjongkok.


Mada bergegas berdiri kembali dan berlari kecil menyusul Violet, "Yakin masih kuat jalan?"


Violet menoleh ke Mada, "Apa kita masih harus berjalan kaki cukup lama? masih jauh?"


Mada menganggukkan kepalanya ke Violet dan seketika itu Violet menghentikan langkah kakinya, memutar setengah badannya dan berkata, ""berjongkoklah seperti tadi! aku mau kau gendong kalau masih jauh, hehehehe"


Mada terkekeh geli dan segera memasang punggungnya di depan Violet. Violet pelan-pelan naik ke punggungnya Mada dan Mada segera berdiri dengan perlahan sambil mengaitkan lengannya di kedua paha bagian belakangnya Violet.


Mada kemudian berjalan dengan menggendong Violet di punggungnya. Istilah Gendong dengan cara seperti ini dikenal dengan istilah piggyback ride. Terkesan kekanak-kanakan tapi akan memberikan bonding atau ikatan yang kuat diantara sepasang kekasih dan cukup efektif untuk meringankan beban bagi yang menggendong jika jarak tempuh masih cukup panjang dan lama.


"Banyak yang melihat kita Mada" bisik Violet di telinganya Mada.


"Mereka pasti paham kalau kamu adalah kekasihku dan kamu lelah"


"Si....siapa yang kau katakan kekasihmu?" Violet berbisik di depan telinganya Mada dengan nada canggung.


"Kamu adalah kekasihku" sahut Mada dengan santainya sambil terus berjalan dengan beban tubuhnya Violet di atas punggungnya.


"Siapa bilang?" Violet mulai meninggikan suaranya.


"Aku. Karena kita sudah Berciuman dan tidur satu ranj......."

__ADS_1


Violet langsung membungkam mulut Mada dengan telapak tangannya dan berteriak, "Hei! kita memang berciuman tapi itu karena refleks saja dan soal tidur satu ranjang, kita nggak melakukan apa-apa kan?"


"Tapi bagiku itu beda. Itu bukan hanya refleks dan........


"Turunkan aku!" pekik Violet.


Mada kemudian menurunkan Violet dengan perlahan dan hati-hati lalu melangkah masuk ke sebuah pekarangan rumah yang tidak begitu luas dan meninggalkan Violet begitu saja.


Violet kebingungan melihat sikapnya Mada lalu ia berlari menyusul Mada, "Kenapa kau tinggalkan aku? kita sudah sampai nih?"


Mada menghela napas panjang dan tidak menggubris celotehannya Violet.


"Kok diam? kau marah?"


Mada membuka pintu rumah itu dalam diam dan melangkah masuk ke dalam dan mengabaikan Violet. Mada merasa kesal karena Violet berulangkali menghindari percakapan serius mengenai kepastian hubungan mereka berdua.


"Mada? jawab aku! kau marah? Aduh!" Violet mengaduh saat hidungnya menubruk punggungnya Mada dan Violet langsung mematung saat Mada berbisik, "Sssttt! ada orang menyusup masuk ke sini. Diamlah di sini!" Mada berucap sambil melangkah ke depan dengan pelan di dalam kegelapan.


Violet tidak mengindahkan perintah Mada, ia bergerak mundur untuk menempel pada tembok dan berusaha mencari saklar untuk menghidupkan lampu di dalam rumah itu.


Tiba-tiba terdengar suara dua orang laki-laki tengah berkelahi. Dan Byar! saat lampu berhasil dihidupkan oleh Violet, kedua netranya Violet menangkap Mada tengah menjepit leher seseorang dengan kedua tungkai kakinya. Violet mendekat dan langsung memekik kaget, "Deo?!"


Mada melepaskan jepitannya lalu menegakkan tubuhnya untuk melihat ke depan dengan jelas dan ia pun memekik kaget, "Kau?! ngapain kau di sini?"


Deo meringis, "Tenang dulu! aku di sini atas perintah dari Pak Elmo dan Pak Raja. Mereka memintaku untuk kembali menyelidiki kasus pembunuhan Mama kamu dan aku pikir, aku akan memulai penyelidikanku dari sini"


"Aku kan belum berkenalan secara benar denganmu dan kita belum bertukar nomer ponsel kan?" Deo tersenyum ke Mada.


Mada menghela napas panjang lalu berkata, "Telepon Pak Raja dan nyalakan speakernya, aku ingin memastikan kalau ucapanmu benar"


Deo menghela napas panjang sambil merogoh celananya untuk mengambil ponsel pribadinya. Dia kemudian menelepon Raja dan mengaktifkan speaker ponselnya. Setelah melakukan beberapa perbincangan, Mada akhirnya memercayai semua ucapannya Deo.


Deo kemudian mengalihkan pandangannya ke Violet, "Kenapa kau ajak Violet ke sini?" Ada hubungan apa kalian berdua saja ini?"


"Dia pa........"


Violet langaung membungkam mulutnya Mada dan melempar jejeran gigi putihnya ke Deo kemudian berucap, ""Dia partner bisnisku" Lalu Violet mengalihkan perhatiannya ke Mada kemudian berbisik ke Mada, "Tolong jangan bilang kalau aku ini pacarmu. Karena aku bukan pacarmu dan aku masih berstatus istri orang"


Mada menepis tangannya Violet lalu ia menghela napas panjang dan masuk ke dalam sebuah kamar. Ia meninggalkan Violet dan Deo begitu saja dengan kesal. Ia kesal karena ia tahu kalau Deo menyukai Violet dan ia kesal karena Violet masih belum bersedia mengatakan bahwa dia adalah pacarnya Violet padahal mereka sudah berciuman.


Violet meringis ke Deo yang masih menatapnya dengan raut wajah penuh tanda tanya. Kemudian Deo bertanya, "Kalian partner bisnis di bidang apa? Kau kan dokter spesialis penyakit dalam dan dia..........."


"Dia pengacara. Emm, bisnis kami adalah bisnis........"

__ADS_1


Mada keluar dari dalam kamarnya dengan wajah datar karena kesal dan menyahut asal, "Bisnis yang berkaitan dengan panas tubuh"


Violet menoleh ke Mada dengan raut wajah kaget dan kesal dan berkata di dalam hatinya, sial! kenapa ia jawabnya bisnis yang berkaitan dengan panas tubuh sih? dasar gila!


Deo semakin menautkan alisnya, "Panas tubuh? bisnis apa tuh?" Deo mengikuti langkah Mada ke lantai dua rumah itu. Rumah yang berukuran kecil berlantai dua itu hanya memiliki dua kamar, satu dapur, satu ruangan yang dipakai untuk ruang makan sekaligus ruang untuk bersantai sambil menonton televisi dan ruang di lantai atas hanya ada ruangan luas tanpa sekat dan berjejer rak yang berisi penuh bermacam-macam jenis buku.


Mada diam dan tidak menghiraukan ocehan dan keberadaannya Deo.


"Hei! aku bertanya kenapa nggak kau jawab?"


"Tanyakan ke Bu Dokter yang terhormat itu, bisnis apa yang berkaitan dengan panas tubuh. Aku sibuk. Aku akan mulai mencari petunjuk di sini" Mada berdiri di depan tak buku paling ujung dan mulai membuka-buka halaman sebuah dari sebuah buku yang cukup tebal.


"Sial! tidak penting juga bagiku untuk mengetahui bisnis kalian. Aku akan membantumu mencari petunjuk melalui buku-buku ini" Deo berdiri di sebelahnya Mada dan mulai mengambil sebuah buka untuk ia buka tiap halamannya.


Violet menghenyakkan tubuhnya di kursi lalu ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi itu. Kemudian ia bergumam, "Huuufttt! aku harus jawab apa kalau Deo tiba-tiba menanyakan bisnis apa itu? dasar Mada gila! Bisnis apa coba yang berkaitan dengan panas tubuh?"


Violet kemudian menegakkan badannya, bangkit dan memutuskan untuk memasang seprai di dua kamar itu dan Violet merasa heran karena kedua kamar itu tidak berbau lembab dan baju juga seprai yang adq di dalam lemari juga masih rapi, bersih, dan wanginya masih segar. Violet bergumam, "Apa ada yang secara rutin membersihkan rumah ini?" Setelah memasang seprai, Violet memutuskan untuk menata baju baru yang ia beli karena, ia hanya membawa dompet yang berisi ponselnya kartu-kartu saktinya dan tidak membawa sehelai baju pun kecuali yang ia kenakan.


Violet kemudian ketiduran di kursi itu. Mada dan Deo turun beberapa jam kemudian dari lantai atas dan bersitatap ketika mereka melihat Violet ketiduran di kursi sederhana yang ada di tengah ruangan rumah mungil itu.


"Aku juga ingin beristirahat" Deo melenggang santai menuju ke sebuah kamar dan Mada segera memekik, "Kenapa ke sana?"


Deo menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, "Lho ini kan kamarmu kan? kau tadi masuk ke sini"


"Iya benar itu kamarku dan kenapa kau mau masuk ke sana?" Mada mendelik kesal.


"Mau tidur siang dong. Mau istirahat sebentar sebelum nanti kita lanjutkan kembali penyelidikan kita" Deo kembali melangkah ke depan dan Mada langsung berlari dan menarik pergelangan tangannya Deo, "Jangan masuk ke kamarku! kamarmu di sana" Mada menunjuk ruangan yang masih tertutup rapat dan berhadapan dengan kamarnya.


Deo menoleh dan mengerutkan dahinya, "Lho itu kan nanti buat tidur Violet"


"Violet tidur di sini" Mada berucap jujur karena kesal.


"Bagaimana bisa Violet tidur satu kamar denganmu? kau ngigau ya?"


Mada meraup kasar wajah tampannya dan mengumpat kesal, "Sial! maksudku tidak seperti itu, Vio akan tidur di sini dan aku di kursi"


"Kau yakin? di luar dingin lho. Bukankah lebih baik kita tidur satu ranjang? jangan khawatir aku laki-laki normal kok. Aku nggak akan menggoda kamu" Deo menyingkirkan badannya Mada dan ia melangkah masuk ke dalam kamar itu kemudian merebahkan diri di atas kasur dengan santainya.


Mada menyusul Deo dan berdiri di depan ranjang, "Kenapa kau tidak tidur di hotel?"


"Nggak bisa" sahut Deo tanpa membuka kedua kelopak matanya.


"Kenapa nggak bisa? kau tidak punya uang? aku akan kasih uangnya "

__ADS_1


"Aku ini dalam misi rahasia jadi nggak bisa tidur di hotel. Identitasku akan terbongkar nanti"


"Sial!" Mada menyugar kasar rambutnya dengan jari jemarinya lalu ia melangkah keluar dari dalam kamarnya dengan kesal.


__ADS_2