The Thing About Violet

The Thing About Violet
Violet Hamil


__ADS_3

Galvin menemani Violet masuk ke dalam rumahnya Gasa dan Gasa segera berlari untuk memeluk Violet. Gasa sangat merindukan Violet.


Violet meronta di dalam pelukannya Gasa. Sepupunya Galvin itu lalu mendorong tubuh suaminya untuk menjauh darinya.


Gasa menatap Violet dengan kerutan di dahi, "Kenapa kau tidak membalas pelukanku dan malah mendorongku untuk menjauh darimu? Apa kau tidak merindukan suami kamu?"


Violet merapatkan bibirnya, menghela napas panjang lalu berkata, "Haruskah aku merindukan seorang suami yang tidak pernah merindukan aku?"


"Aku sangat merindukanmu Vio. Sungguh!" Gasa hendak merengkuh kembali tubuh istrinya namun, Violet langsung melangkah mundur untuk menghindar.


"Jangan paksa Violet!" Galvin menahan tubuhnya Gasa ketika Gasa nekat melangkah maju untuk mendekap Violet.


Gasa menoleh ke Galvin, "Ini urusan suami dan istri. Kenapa kau ikut campur?"


Violet memekik kesal ke Gasa, "Galvin berhak ikur campur karena, ia pengganti Papaku untuk sementara ini" Violet lalu melangkah masuk dan meninggalkan Galvin dan Gasa begitu saja.


Gasa mendelik ke Galvin, "Kau menemukan Violet di mana?"


Galvin menyeringai, "Aku nggak pernah berniat mengatakannya padamu. Yang penting sekarang ini Vio udah pulan. Dan aku akan selalu mengawasimu. Jika kau berbuat macam-macam pada Vio, maka aku akan bikin perhitungan sama kamu"


Gasa menggeram dan mengepalkan kedua tangannya.


Galvin melihatnya, "Kau mau duel denganku? Ayo aku ladeni"

__ADS_1


Gasa lalu menepuk pundaknya Galvin dan mengulas senyum palsu di wajah tampannya yang dingin, "Masuklah! Aku undang kau makan malam bareng"


Galvin kembali menyeringai dan berkata, "Dengan senang hati aku menerima undangan makan malam darimu" Galvin sengaja menerima.undangan makan malam itu untuk melihat seperti apa pelakor yang telah membuat Violet sedih dan merana.


Mia tidak berani duduk di sebelahnya Gasa. Mia memilih duduk di kursi paling pojok. Gasa tersenyum ke Violet dan menepuk kursi di sebelahnya namun, Violet justru melewati kursi itu dan memilih duduk di sebelahnya Galvin.


Galvin menoleh ke Mia lalu ia mengalihkan pandangannya ke Gasa, "Siapa dia? kenapa duduk satu meja dengan kita?"


Gasa hendak membuka mulut untuk menyemburkan kebohongan lagi tapi, kalah cepat dengan Violet, "Dia pelakor"


Mia mendelik ke Violet dan memekik kesal "Kau yang pelakor!"


Galvin langsung menggertakkan gerahamnya dan menggebrak meja, "Kau berani menduakan Vio?"


"Dia bukan apa-apa. Dia hanya kekhilafanku saja. Aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya mencintai Vio" sahut Gasa.


Violet menjerit karena kaget dijambak dari arah belakang dan menjerit karena, kesakitan. Namun, Violet tidak tega membalas Mia karena, Mia sedang hamil.


Galivin dan Gasa langsung bangkit dari tempat duduk mereka masing-masing karena, kaget melihat reaksinya Mia lalu mereka berdua menarik Mia untuk menjauh dari Violet.


Galvin melotot ke Mia dan menampar Mia, "Berani kau menjambak rambut istriku?"


"Aku juga istrimu, Mas!" pekik Mia sambil mengelus pipinya yang terasa panas terkena tamparannya Gasa.

__ADS_1


"Masuk kamar!" Gasa memerintahkan Mia untuk masuk ke kamar namun Mia bergeming dan terus melotot ke Violet.


Violet dipeluk oleh Galvin dan Galvin langsung mendamprat Mia, "Masuk ke kamarmu atau aku akan bertindak di luar nalar. Kau tahu kan, aku seorang Elruno"


Mia mendengus penuh amarah lalu melangkah menuju ke kamarnya dengan langkah tegap penuh kekesalan di dalam hatinya.


Sejak kejadian itu, Galvin selalu menyempatkan diri mampir ke rumahnya Gasa untuk menengok kondisinya Violet dan di malam hari, barulah Galvin pulang ke kediamannya Elmo. Dan sejak insiden itu, Violet tidak pernah mau disentuh oleh Gasa, Violet lebih memilih tidur di sofa. Gasa hanya bisa berusaha untuk bersabar karena, ia tidak menginginkan Violet pergi lagi dari rumah.


Dua Minggu kemudian, Violet mulai merasa gelisah dan khawatir. Hal itu disebabkan karena, Violet belum mendapat kabar dari Deo dan Mada. Violet pun tidak bisa menghubungi kedua ponselnya Mada dan Deo. Galvin dan Ratna pun panik karena, belum juga berhasil menemukan keberadaannya Deo dan Mada.


Dan di pagi hari yang mulai cerah tanpa rintik hujan, Violet merasa mual. Dia beberapa kali berlari ke wastafel dan muntah-muntah di sana. Gasa merasa khawatir dan Mia merasa panik. Mia panik karena ia tidak mau jika gejala muntah-muntah yang dialami Violet tiap pagi adalah tanda kehamilannya Violet.


Gasa yang sudah berubah dan selalu bersikap lembut dan perhatian pada Violet sejak insiden penjambakan rambut itu langsung membopong Violet lalu membawa Violet ke rumah sakit


Violet mendelik ke suaminya, "Kenapa kau bawa aku ke rumah sakit? turunkan aku, Mas!"


"Nggak! Kamu harus diperiksa menyeluruh" sahut Gasa sambil terus melangkah dan membopong Violet menuju ke ruang UGD.


Koleganya Violet tersenyum ceria ke Gasa, "Selamat, istri Anda, Dokter kesayangan kami ini, hamil"


Gasa dan Violet tersentak kaget lalu Gasa menoleh ke Violet dan memeluk erat tubuh ramping istri tercintanya itu. Violet tidak membalas pelukan suaminya karena, ia masih shock dengan kehamilannya.


"Untuk lebih mengetahui berapa usia kandungannya Violet, mari ikut saya ke ruang praktek dokter kandungan" Dokter UGD itu kemudian bangkit. Violet dan Gasa mengikuti langkah dokter UGD itu menuju ke ruang dokter spesialis kandungan.

__ADS_1


Gasa terus memeluk bahu istrinya dengan wajah berseri.


Beberapa menit kemudian, dokter kandungan memeriksa Violet dengan lebih teliti dan Violet diam membisu seribu bahasa. Putri tunggalnya Elmo Elruno itu tiba-tiba menangis. Dia menangis karena bahagia sekaligus sedih. Dia sedih karena, dia telah mengetahui bahwa Gasa yang sebenarnya di balik topeng. Gasa lah yang telah menyuruh seseorang untuk menyabotase pesawat pribadi Papanya. Gasa lah yang telah dengan sengaja ingin membunuh Papa, Mama dan Galvin. Violet merasakan dadanya begitu sesak menerima kenyataan kalau ia mengandung anak dari orang yang berniat membunuh Papa, Mama dan sepupunya dan Violet kemudian menjadi tak sadarkan diri karena, beban berat itu.


__ADS_2