The Thing About Violet

The Thing About Violet
Terhina


__ADS_3

Mada ikutan bangkit saat ia melihat Violet bangkit. Laki-laki yang bergelar pengacara itu, mengikuti langkahnya Violet ke toilet dan ia menunggu di depan pintu toilet wanita saat ia melihat Violet telah masuk ke dalam toilet wanita. Mada menunggu dengan sangat sabar sambil melipat kedua tangannya di atas dada bidangnya.


Violet.tersentak kaget ketika ia mendapati Mada Goh berdiri di depan pintu. Mada mencekal pergelangan tangannya Violet dan mengajak Violet ke halaman belakang restoran tersebut tanpa sepengetahuannya Dokter Bayu Darsono.


Mada menempelkan punggungnya Violet secara perlahan ke tembok lalu mengungkung Violet.


Violet mengangkat wajahnya dan bertanya, "Kenapa Mas bisa ada di sini"


Mada yang menundukkan kepala balik bertanya ke Violet, "Harusnya aku bertanya, kenapa kau bisa ada di sini dan makan siang berdua saja dengan seorang pria? siapa dia?"


"Dia dokter kandunganku, kami hanya sekadar makan siang dan......."


"Kenapa kau tidak mencari dokter kandungan wanita? kenapa harus pria? Dan kenapa harus dia?" Mada bersuara serak karena, sebelum ia membuntuti Violet ke toilet, Mada sempat menenggak es kopi hitamnya karena dadanya terasa panas terbakar api cemburu.


"Lalu Mas ini siapa? Mas Mada bukan siapa-siapaku, kan? Kenapa mengaturku harus memilih dokter kandungan wanita dan...... hhmmmpppttt!"


Mada langsung membungkam bibirnya Violet dengan bibirnya. Dan dengan semangat menggelora dia mencium bibir Violet dengan bergairah. Segala dahaganya akan rasa manisnya Violet seakan tidak akan pernah puas.Violet begitu mudahnya ditaklukkan padahal Mada tak menggunakan kedua tangannya sama sekali. Mada hanya menggunakan berpuluh-puluh kecupan secara tepat. Dan di saat lidahnya menyusup masuk, Violet menemukan kembali kesempurnaan antara perintah dan cumbuan.


Panasnya ciuman lelaki yang sesungguhnya sangat ia cintai itu melemaskan seluruh otot dan melenyapkan segala pertahanannya akan kata bahaya. Hembusan napas panas dari lelaki yang sangat dirindukannya itu melelehkan embusan perlawanan terakhirnya Violet.


Itulah ciuman paling memabukkan bagi Violet di sepanjang hidupnya. Mada menggila karena, cemburu dan mengabaikan segala hal yang ada di sekitarnya. Mengabaikan peringatan dari akal sehatnya sendiri bahwa ia tengah berada di ruang terbuka pun Mada tepis mentah-mentah.

__ADS_1


Ketika Mada akhirnya mengangkat kepalanya, ia melihat bibir Mada tampak lebih merah dari biasanya dan basah, mata Violet yang terus terbuka di awal ciuman mereka, tampak jernih, tubuhnya yang menempel di tubuh Mada terasa hangat dan lunak.


Mada lalu menurunkan pandangannya ke dada Violet. Dan dengan kurang ajar ia menyentuhnya dan bergumam sambil menempelkan keningnya di kening Violet, "Oh, sayangku, kau hebat! Aku sungguh merindukanmu dan sangat mencintaimu" Lalu ia mengerang dan mencium bibirnya Violet lagi


Violet segera menyadari akan dirinya yang tengah hamil dan menyadari bahwa ia masih berstatus istrinya Gasa, merasa terhina oleh kebebasannya Mada atas dirinya. Dia bahkan merasa lebih terhina lagi atas perbuatannya sendiri yang mengijinkan Mada mencumbunya.


Violet akhirnya mendorong tubuhnya Mada lalu menampar Mada dan memekik kesal, "Sadarlah Mas! Aku ini istri orang dan sedang hamil, lihat baik-baik kondisiku ini! carilah wanita lain dan berhenti mencintaiku!" Violet mengusap air mata yang mengalir di pipinya dengan kasar saat ia berhasil melepaskan diri dari kungkungannya Mada.


Mada menatap Violet penuh dengan penyesalan dan berkata, "Maafkan aku! aku khilaf karena, terus terang aku cemburu dan tolong jangan suruh aku untuk mencari wanita lain, ya?! kumohon!" Mada menjukurkan tangan kanannya untuk mengusap pipinya Violet.


Namun, Violet melengos lalu melangkah lebar meninggalkan Mada yang tertegun menatap punggungnya Violet yang semakin menjauh darinya dengan sorot mata penuh dengan penyesalan. Mada kemudian duduk di atas batu yang ada di depannya dan meraup kasar wajahnya. Dia seketika itu membenci dirinya sendiri karena, telah menghina Violet dengan kebebasannya mencumbu wanita yang sangat ia rindukan dan cintai itu. "Seharusnya aku tidak dibutakan oleh kecemburuan. Seharusnya aku menghargai wanita yang aku cintai. Tapi......" Mada tidak mampu mengeluarkan kata lagi dan ia langsung menjambak rambutnya sendiri.


Dokter Bayu menoleh dan bertanya, "Kenapa lama sekali berada di dalam toilet? Aku hampir saja menyusulmu tadi. Apa kau sakit?" Dokter Bayu menatap Violet penuh dengan kekhawatiran.


Violet duduk, tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu berkata, "Antriannya panjang tadi jadi lama, Kak" Violet terpaksa berbohong


"Oh! Cepat dimakan nasi gorengnya! udah hampir dingin tuh. Nasi goreng kalau dingin kan keras dan nggak enak" ujar Dokter Bayu Darsono dengan penuh senyum.


Violet tersenyum tipis, mulai memakan nasi goreng yang sudah hampir dingin dengan ucap di dalam batinnya, Sama seperti hatiku ini. Lama-lama akan dingin pada semua pria dan tidak enak untuk dirasakan.


Mada merasa malas untuk memakan main course yang dia pesan. Dia menyambar tabletnya dan tanpa menoleh ke mejanya Violet, ia berjalan lebar melintasi mejanya Violet menuju ke kasir. Violet terus menatap punggungnya Mada dan kembali berucap di dalam hatinya, Kumohon lupakan aku, Mas! Aku nggak pantas untuk kau tunggu dan kau cintai selamanya. Masih banyak wanita yang masih single, masih perawan dan cantik di luar sana, carilah yang wanita lain, Mas!

__ADS_1


Mada keluar dari restoran itu dengan hati dan pikiran yang kacau bahkan lebih kacau dari pikirannya saat ia berperang di dalam ruang persidangan untuk memenangkan sebuah kasus. Mada masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya kembali ke gedung pengadilan dengan malas-malasan. Rasa panas tamparan tangannya Violet dan tatapan Violet yang merasa terhina, menancap tajam di hatinya bagai duri dan itu terasa sangat menyakitkan.


Mada akhirnya berhasil memarkirkan mobilnya di area parkir gedung pengadilan negeri lalu ia memukul kemudinya, meletakkan keningnya di atas kemudi dan terisak di sana. Mada mengangkat kepalanya dan mengusap air matanya saat ia mendengar ada seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya.


Wajah Galvin dan Ratna yang ia lihat di kaca jendela mobilnya. Mada keluar lalu bertanya, "Ada apa?"


"Kau kenapa? wajah kamu lesu dan........"


"Aku capek dan ketiduran di mobil" Sahut Mada terpaksa melepaskan kebohongan. "Ada apa kalian kemari?" Mada menanyakan kembali pertanyaan yang sama.


"Kau belum lihat berita ya?" tanya Ratna.


"Kenapa kalian berbelit- belit sih? Aku sudah pusing dengan segala masalah yang ada jadi, tolong katakan saja ada apa, jangan berbelit-belit!"


"Rumah sakit jiwa tempat Galvin bekerja mengalami kebakaran. Ada beberapa pasien yang hilang dan pasien di kamar VVIP nomer lima..........."


"Bu....bukankah itu ruangan di mana Gasa menjalani karantina ya?" Mada memotong ucapannya Ratna dengan mata nanar.


"Iya benar dan pasien di dalam kamar itu hangus terbakar dan tidak bisa dikenali lagi" ucap Ratna.


Mada langsung memundurkan langkahnya dan tubuhnya membentur mobil lalu ia melorotkan tubuhnya hingga ia terduduk di atas halaman parkir gedung pengadilan negeri dan bergeming dengan pandangan nanar.

__ADS_1


__ADS_2