
Mada kemudian berdiri. Dia menjulurkan tangannya dan membantu Violet berdiri ketika Violet menangkap tangannya. Mada lalu mencium keningnya Violet dan menaikkan Violet kembali ke atas pelana kuda. Setelah itu ia melompat ke atas kuda dan mengajak kuda yang ia beri nama Thunder itu kembali ke kandang kuda.
Beberapa menit kemudian, Mada dan Violet berdiri di depan ranjang dengan saling berhadapan. Mada berucap, "Hanya ada satu ranjang di sini dan Aku akan tidur di lantai. Kau naiklah ke kasur! kau pasti capek sekali hari ini"
"Kenapa kita tidak tidur berdua saja di kasur?" Violet berucap dengan ekspresi lugu.
Mada tersenyum jahil, "Apa kau mau melanjutkan yang tadi?"
"Bu.....bukan itu maksudku. Lantainya dingin dan kotor. Kamu pasti juga capek jadi butuh istirahat yang nyaman, kan? Emm, kita tidur berdua di kasur aja nggak papa"
"Baiklah" Mada membuka kaos dan celana panjang kainnya dan Violet langsung membeliakkan matanya dengan disertai protes, "Kenapa kau bertelanjang dada?"
"Aku kalau tidur memang seperti ini kan, kau baru tahu ya?" Mada menatap heran ke Violet.
"Seingatku dulu kau tidur selalu memakai kaos"
"Sebenarnya sih tidak. Tapi okelah aku pakai lagi kaosku" Mada memakai kembali kaosnya dan naik ke atas kasur dengan santainya lalu ia tidur miring membelakangi Violet yang menyusulnya naik ke atas kasur. Violet pun tidur miring membelakangi Mada.
"Aku besok harus ke luar kota" Mada tiba-tiba berucap dengan terus membelakangi Violet.
Violet mengangkat badan untuk berganti posisi tidur dan ia menatap punggungnya Mada. Kemudian Violet membuka suara, "Jam berapa? naik motor, mobil, atau pesawat?"
Mada mengangkat badan untuk merubah posisi tidurnya dan ia kemudian tidur miring berhadapan dengan Violet, "Naik pesawat karena aku nggak punya motor dan mobilku hanya ada satu, udah dipakai oleh Edo untuk mobilitas urusan kantorku"
"Lalu motor yang kau pakai menjemputku tadi motor siapa?"
"Motornya Jojo. Waktu kamu meneleponku minta segera dijemput tadi, aku panik jadi biar cepat sampai, aku pinjam motornya Jojo"
"Oh. Dan kau bilang apa tadi? kantor? kau tidak bekerja di bar lagi?"
"Aku sudah lulus kuliah hukum dan sekarang ini aku seorang pengacara"
"Hah?! kau tidak bercanda kan?" Violet terkejut dan secara refleks ia memukul pelan bahunya Mada
"Kok malah dipukul sih. Emm, kau lebih suka yang mana? Mada pemilik bar atau Mada pengacara?"
__ADS_1
"Entahlah" Violet berucap sambil menggerakkan bahunya
Mada terkekeh geli lalu berucap, "Aku mulai dari nol lagi. Semua fasilitas dari Papaku udah ditarik Papaku. Kapalku, rumahku yang dulu, semuanya udah lenyap"
"Dan kau pede ngedeketin aku lagi?" Violet tersenyum jahil ke Mada.
"Pede sih enggak sebenarnya. Emm, lebih tepatnya gila mungkin. Aku gila karena cintaku untuk kamu" Mada tersenyum penuh cinta ke Violet.
Violet kembali memukul bahunya Mada lalu ia berucap, "Jangan ngawur! aku ini istri orang"
"Kalau kau diperlakukan dengan baik oleh suami kamu, aku nggak akan nekat mendekati kamu lagi" Mada berucap sambil merapikan rambut Violet lalu ia mengusap-usap telinganya Violet dan berkata lembut, "Tidurlah!"
"Selamat malam" Violet tanpa sadar memajukan wajahnya lalu mengecup bibirnya Mada dengan cepat.
Mada tersentak kaget dan menatap Violet dengan rasa cinta yang membuncah. Mada pun mengecup bibirnya Violet lalu menarik Violet ke dalam pelukannya sambil berucap, "Selamat malam, tidurlah dan mimpi indah"
Keesokan harinya, Gasa meraba kasurnya untuk menemukan dan mendekap tubuh Violet. Namun tangannya tidak menemukan tubuh istrinya maka dia langsung membuka kedua matanya lebar-lebar dan berteriak, "Vio! kau di kamar mandi?" dan tidak ada sahutan.
Gasa segera menyibak selimut dan bangun. Ia pakai kembali kaos dan celana kolor yang ia lepas semalam lalu bergegas turun ke bawah sambil terus memanggil nama istrinya. Setelah percintaan semalam yang begitu dahsyat, liar, dan indah dengan Violet, Gasa merasakan kerinduan yang membuncah pada istri cantiknya itu.
"Kau tidak merasakan perut buncitku ini ya? aku yang memelukmu Mas. Kenapa kau malah mencari Violet?" Mia berucap kesal ke Gasa.
Gasa tersentak kaget dan segera berputar badan sambil.mengurai tangannya Mia, "Lalu di mana istriku?"
"Aku juga istrimu Mas!" Pekik Mia penuh dengan kecemburuan.
"Di mana Vio?" Gasa mulai meninggikan nada suaranya dan mulai menggeram kesal.
"Vio pergi dari rumah semalam. Dia berlari keluar rumah begitu saja dan belum balik sampai sekarang"
"Sial! kau muncul di depannya Vio kemarin malam?" Gasa mendelik ke Mia.
"Iya"
Plak! Gasa menampar.pipinya Mia, "Kan udah aku bilang, jangan muncul dulu di depannya Vio! Aku akan bilang ke Vio soal kamu pagi ini..Kenapa kamu jadi orang tidak sabaran begini, dasar gila!" Gasa menatap kesal ke Mia.
__ADS_1
"Aku ini wanita hamil Mas. Aku sering laper kalau malam dan........"
Gasa menggeram kesal lalu pergi begitu saja meninggalkan Mia. Gasa balik ke lantai atas menuju ke kamarnya. Gasa meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Violet tapi, ponselnya Violet tidak aktif. Gasa berteriak dan mengumpat keras di dalam kamarnya sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya dengan panik.
Gasa kemudian memberanikan diri menelepon Galvin dan Galvin mengatakan kalau Violet tidak bersama dengannya. Gasa semakin kesal dan panik kemudian ia melesat ke kamar mandi, mandi kilat dan segera memakai setelan kantornya lalu melesat pergi keluar dari rumah tanpa menggubris teriakannya Mia yang menyuruhnya berhenti untuk sarapan terlebih dahulu.
Gasa mengemudikan mobilnya sambil terus bergumam, "Sayangku, kau di mana?"
Sementara itu, Mada bangun pagi-pagi dan ia hanya bisa tertidur selama satu jam saja, segera mengendarai motornya untuk pergi ke pasar terdekat. Mada membeli beras, beberapa kilogram daging sapi, sayuran, bumbu dasar, tidak lupa ia pun membeli teh, kopi, dan gula. Mada Juga membeli sabun mandi, sikat gigi, dan pasta gigi. Sesampainya di pondok ia mulai memasak nasi dan memasak sayuran sederhana dengan kompor electric. Mada juga menyeduh teh dan kopi.
Mada menata semua hasil masakannya di atas satu-satunya meja yang terbuat dari kayu jati yang ada di tengah ruangan pondok kecil itu. Dan ponselnya berbunyi, "Kau nggak pulang semalam? ke mana saja kau?" suara cemprengnya Ratna langsung menusuk telinganya Mada.
"Aku ada di kandang kuda Papaku. Aku kangen sama kudaku" sahut Mada dengan santainya.
"Oh. Kamu jadi berangkat ke.luar kota hari ini? ke kampung halaman Mama kamu?" tanya Ratna.
"Hmm. Tolong kau urus semua urusan di sini selama seminggu ya!?"
"Siap Pak Bos" sahut Ratna.
Mada menatap ranjang besar dari kayu jati yang ada di ujung pondok karena, pondok itu tidak ada kamarnya. Pondok itu hanya ada satu ruangan besar terbagi untuk ranjang, kompor electric yang ada di dapur bersih nan mini, dan ruang tamu. Semua kursi dan meja, yang ada di ruang tamu dan ruang makan di pondok itu, hanya berupa kayu jati bukan berupa kursi sofa yang empuk dan mewah yang biasanya ada di rumah gedongan.
Mada tersenyum lebar sambil duduk di kursi ketika ia mendapati Violet belum bergerak dan belum ada tanda-tanda kalau Violet akan bangun. Mada kemudian bergumam, "Kalau begini terus. Dia nggak bangun-bangun, aku bisa kemalaman sampai di kampung halamannya Mama nanti. Tapi aku juga nggak tega membangunkannya. Dia tampak letih"
Mada tersentak kaget ketika tiba-tiba Violet duduk bersila di tengah kasur dan menatap Mada dengan rambut tidak beraturan menutupi wajah cantiknya. Penampilan Violet yang amburadul di pagi hari itu justru membuat Mada terpesona dan tertegun. Mada tanpa sadar bergumam, "Bangun tidur aja dia tampak sangat cantik"
Violet merapikan rambutnya lalu bangkit dan berjalan mendekati meja yang sudah menyajikan nasi, sayur, kopi, dan teh. Violet duduk di depannya Mada lalu ia tersenyum, "Air liurmu menetes tuh"
Mada secara refleks.mengusap bibirnya dan Violet langsung menggemakan tawanya ke udara. Mada terkekeh geli lalu berkata, "Segeralah sarapan lalu mandilah! Aku akan mengantarmu pulang untuk berganti baju lalu aku akan ke bandara"
"Aku ikut kamu boleh?"
"Hah?!" jangan bercanda Cinta!"
"Aku serius. Aku masih malas bertemu suamiku dan pelakor itu. Aku akan ambil cuti dadakan dan aku akan ikut denganmu"
__ADS_1
Mada hanya bisa menghela napas panjang dan menyugar kasar rambutnya dengan jemari tangannya.