
Mada dan Deo beradu keahlian memasak di depannya Violet. Mada memasak tumis sayur dan ayam goreng coke yang merupakan resep coba-cobanya sewaktu ia tinggal sendirian di Amerika. Terciptalah kreasi ayam goreng coke ketika air di tempat tinggalnya kala itu sewaktu masih di Amerika mati dan yang ada hanyalah sebotol besar Coke. Maka dengan terpaksa Mada mengungkep ayamnya kala itu dengan sebotol besar Coke, minuman favorit penduduk Amerika. Dan alhasil ketika digoreng, ayamnya berasa seperti ayam bakar namun, gurih dan ada manis-manisnya, sangat mantap. Mada akan memamerkan hasil kreasinya itu ke Violet.
Sementara itu, Deo memasak semur daging ayam yang biasa ia masak ketika ia berdinas di pelosok. Semua daging selalu ia masak semur karena dia hanya tahu resep semur dan Deo menggoreng tahu khusus yang katanya lain dari tahu di luaran sana.
Violet yang sedari tadi hanya diijinkan duduk di kursi menyemburkan protes, "Ijinkan aku membantu kalian. Apa aja bisa aku lakukan, mencuci daging, sayur, atau apa aja"
"Nggak" Sahut Mada dan Deo secara bersamaan.
"Kamu duduk aja" pekik Mada dan Deo kembali secara bersamaan sambil terus menghadap ke kompor mereka masing-masing dan menyelesaikan masakan mereka.
"Kalau gitu, aku jalan-jalan di luar dulu ya?"
"Hmm, tapi jangan jauh-jauh!" Mada menoleh ke Violet.
"Oke" Violet tersenyum ke Mada dan Deo kemudian ia melangkah menuju ke halaman rumah minimalis nan asri itu yang dikelilingi dan dilindungi pagar tinggi yang terbuat dari kayu jati. Violet membuka pintu depan yang ada di tengah-tengah pagar kayu, lalu menutupnya dan dia segera memekik kaget, "Astaga! Maaf saya hampir menabrak Ibu"
"Mada pulang ya?" tanya seorang ibu-ibu yang berumur lima puluhan yang berdiri memandangi Violet dengan penuh kecurigaan.
"Iya benar. Maaf Anda siapanya Mada?"
"Saya tetangga sebelah yang selalu meluangkan waktu membersihkan rumah peninggalannya Diana Prastowo. Saya dan Diana sudah seperti saudara" sahut Ibu itu.
"Oh begitu. Kalau Ibu ingin menemui Mada silakan!" sahut Violet.
"Apa Anda istrinya Mada? Anda cantik sekali" sahut Ibu tersebut.
"Ah, hahahaha" Violet tertawa canggung di depan Ibu tersebut. Kemudian ia kembali membuka suara, "Bukan Bu. Saya bukan istrinya Mada. Saya.......emm.....teman bisnisnya Mada"
"Oh begitu. Kalau begitu, Ibu masuk dulu ke dalam untuk menemui Mada ya?"
"Silakan! tapi, emm, maaf saya mau nanya, apa jalan lain selain jalan sempit yang sangat panjang yang saya lalui sama Mada semalam benar-benar tidak ada lagi?"
__ADS_1
"Anda mau ke mana?" tanya Ibu tersebut.
"Saya mau ke mana aja, hehehehe. Hanya sekadar jalan-jalan"
"Rumah ini ada di pinggir jalan besar kan? tentu saja ada banyak jalan menuju ke mana aja" Ibu itu mengulum senyum menahan geli.
Violet tercengang kaget kemudian ia mengedarkan pandangannya dan benar kata Ibu yang masih berdiri di depannya. Rumah milik Mamanya Mada terletak di pinggir jalan besar. Violet langsung mengumpat di dalam hatinya, Dasar Mada brengsek! dia modusin aku kemarin malam. Awas aja, akan kulancarkan protes nanti.
"Saya masuk dulu ya. Anda kalau ingin jalan-jalan, saya sarankan nanti saja. Anda nggak paham daerah sini, Anda bisa tersesat dan daerah sini lumayan sepi walaupun ada di pinggir jalan besar" sahut Ibu itu sambil melangkah masuk. Violet bergidik ngeri mendengar perkataan Ibu tersebut dan akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk jalan-jalan. Dia masuk kembali ke halaman rumah itu lalu memutuskan untuk duduk di ayunan yang ada di bawah pohon besar nan rindang dan ayunan itu masih tampak kokoh talinya.
Beberapa menit kemudian Mada.mengantarkan Ibu tersebut sampai di pintu depan dan mengucapkan terima kasih. Mada kemudian masuk dan menoleh ke kanan. Ia tersenyum lebar melihat Violet bermain ayunan seorang diri membelakangi dirinya. Mada melangkah pelan lalu ia melingkarkan kedua lengannya di dadanya Violet. Ia peluk pujaan hatinya yang sangat cantik itu dari belakang lalu berbisik di telinganya Violet, "Mengapa kau bersembunyi di sini? Nggak jadi jalan-jalan?"
Violet mengurai gelungan kedua lengannya Mada lalu ia melompat dari atas ayunan. Setelah berpijak ke tanah dengan stabil, Violet berputar badan, menghadap ke Mada sambil melipat kedua tangannya.
"Oke, Kenapa raut wajahmu seperti itu? Aku melakukan kesalahan apalagi kali ini?"
"Kau kemarin modusin aku ya?"
"Dasar gila kau Mada! jalan yang kita tempuh kemarin tuh panjang banget dan bikin aku capek banget tahu nggak?"
"Aku kan udah gendong kamu" Mada berucap ringan dengan raut wajah polos.
"Nah itu juga. Selain capek, aku juga dapat malu karena kamu gendong aku dan........."
"Dan kenapa kau tidak memanggilku Mas Mada lagi?" Mada melangkah maju.
Violet bergerak mundur hingga punggungnya menempel rapat di kayu pohon.
Mada berdiri begitu dekat hingga Violet bisa mencium harum cologne yang dipakai Mada dan Violet juga bisa merasakan panas tubuhnya Mada.
"Kenapa Cinta? kenapa kau tidak memanggilku Mas Mada lagi?"
__ADS_1
Violet mendongakkan wajahnya, "Itu karena, emm, panggilan Mas terasa kurang sopan bagiku karena, aku ini wanita yang sudah menikah"
"Kurang sopan?" Mada langsung mengaitkan lengan kekarnya ke pinggangnya Violet dan ia tarik hingga tubuhnya Violet menempel di dadanya Mada. Kemudian Mada mencubit dagunya Violet. Ia cium dahinya Violet, "apa ini juga kurang sopan bagimu, hah? Lalu apa yang kau rasakan saat aku mencium kamu seperti ini?"
Violet diam membisu dan menatap Mada dengan tatapan ambigu.
Mada kemudian mencium kedua pipinya Violet sembari bertanya, "Kau masih belum merasakan apapun?"
Violet hendak menundukkan wajahnya namun Mada menahannya dan mulutnya Mada langsung menyambar mulut Violet. Violet mencoba mengelak dengan menggeleng keras kepalanya ke kanan lalu ke kiri.
Tetapi Mada tetap mencari celah dan akhirnya ia berhasil menangkap mulutnya Violet dengan semangat menggelora ia mencium pujaan hatinya dengan bergairah. Violet dengan mudahnya ditaklukkan oleh Mada. Panasnya ciuman Mada melelehkan pertahanan terakhir Violet untuk melawan Mada. Mada menyerang Violet dengan ciuman membabi-buta yang Violet pikir hanya ia lihat di film karena, ia juga belum pernah merasakan ciuman semacam itu dari suaminya.
Mada mendaratkan sejumlah kecupan secara tepat kemudian lidahnya berpesta di dalam mulutnya Violet. Seolah ia ingin terus mencicipi rasa manisnya Violet. Violet secara otomatis mengikuti permainan ciuman itu dan entah terdorong oleh gairah semata atau cinta, Violet belum mampu menegaskannya kepada dirinya sendiri.
Ketika akhirnya Mada mengangkat kepalanya dan mengangkat dagunya Violet secara perlahan untuk mengamati bibir Violet yang tampak merah muda alami dan basah. Mata jernihnya Violet menatap Mada seiring dengan dadanya Violet yang naik turun dengan cepat. Mada segera berkata dengan suara parau dan kedua netra berkabut gairah, "Aku bisa merasakan kalau kau masih memiliki rasa padaku. Aku tidak berjuang sendiri dengan cinta ini. Aku tahu kau pun ingin berjuang untuk cinta kita"
Violet menepis tangannya Mada dan berkata lirih, "Lepaskan aku!"
"Nggak! panggil dulu aku Mas Mada dan katakanlah dulu kalau penilaianku benar. Kau masih mencintaiku. Rasa kita masih sama"
"Mas Mada lepaskan aku!" Violet melempar senyum kesal ke Mada.
"Katakan kalau kau ........."
"Mada! Vio! di mana kalian?" Suara teriakannya Deo membuat Mada secara refleks mendorong tubuh Violet. Violet melotot ke Mada lalu ia berlari menuju ke arah suaranya Deo. Violet meninggalkan Mada begitu saja. Beberapa detik kemudian, Violet melambaikan tangan kanannya ke Deo, "Aku di sini"
"Ah syukurlah! aku kira kau ke mana. Mana Mada?" tanya Deo.
Violet menggedikkan bahunya, "Aku nggak tahu"
"Okelah, kita masuk dulu. Makanan keburu dingin" sahut Deo dan Violet melangkah mengikuti Deo sambil tersenyum.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Mada berputar badan. Ia berjalan pelan dengan kedua tangan berada di dalam saku celana kainnya. Dia terus melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan berbagai rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Dia sungguh-sungguh ingin memiliki Violet seutuhnya sehingga Violet tidak lagi menghindarinya terus. Mada sudah terlalu capek dengan keambiguan sikap Violet atas hubungan mereka dan atas perasaan mereka berdua namun, Mada tidak tahu bagaimana caranya