The Thing About Violet

The Thing About Violet
Topeng Gasa


__ADS_3

Jantung Mada dan Violet berdetak beradu kencang dan saat kapal dalam posisi tenang, mereka bersitatap dan baru menyadari bahwa wajah mereka berada sangat dekat. Rasa canggung mulai terasa dan keduanya semakin mematung.


Violet kemudian tersadar dan langsung mendorong Mada. Ia kemudian duduk tegak dengan kikuk. Begitu pula dengan Mada.


"Maafkan aku Kak tapi, bisakah kita menepi? Aku harus pulang. Tunanganku menungguku di rumah" ucapan Violet yang tiba-tiba, membuat Mada tiba-tiba pula merasa kesal. Ia tidak bisa memungkiri bahwa di hatinya, dia merasa kecewa harus berpisah dengan Violet lebih cepat dari yang ia inginkan.


Mada langsung mengarahkan kapalnya ke tepian tanpa bicara sepatah kata pun.


Kapal telah bersauh berbarengan dengan berlabuhnya rasa di hati Mada di pesonanya Violet. Entah kenapa Mada yang semula hanya ingin mempermainkan Violet lalu melepaskan Violet tanpa beban justru merasa berat untuk hanya sekadar berteman, bermain, dan melepaskan Violet begitu saja.


Kata tunangan yang keluar dari mulutnya Violet entah kenapa membuat hatinya Mada terasa panas membara tanpa alasan yang masuk akal.


"Aku pamit Kak dan jangan lupa minum obatnya secara teratur! jika ada keluhan segera telepon aku, jangan sungkan! kita kan teman" Violet tersenyum ke Mada.


Mada tersenyum tipis dan ia hanya mampu menganggukkan kepalanya sekali saja. Hatinya begitu ingin menahan Violet untuk tetap tinggal tapi, pikirannya mengatakan jangan dan itu cukup membuat Mada menjadi terpaku.


Di saat Violet berputar badan dan hendak turun dari kapalnya Mada, Mada tiba-tiba berkata, "Tunggu!'


Violet menoleh ke belakang dan menunggu Mada yang berlari masuk kembali ke tengah kapal. Beberapa menit kemudian, Mada mendekati Violet dan langsung berjongkok di depannya Violet. Dia memakaikan sepatu sneakers-nya ke kakinya Violet sambil berkata, "Agak kebesaran tapi mending daripada kamu berjalan bertelanjang kaki ke pelataran parkir" Mada kemudian berdiri dan menatap Violet sambil tersenyum.


Violet menunduk menatap kakinya lalu ia tersenyum dan menengadahkan wajahnya untuk memandang Mada untuk berkata, "Terima kasih, Kak. Aku pamit. Jangan lupa rutin minum obatnya!" Mada tersenyum dan mengangguk. Violet lalu turun dari kapal, berjalan ke pelataran parkir sambil sesekali menoleh ke belakang dan melambaikan tangan ke Mada. Mada membalas lambaian tangannya Violet sampai Violet lenyap dari pandangannya.


Mada mengusap kasar wajahnya dan bergumam, "Ada apa dengan diriku ini? mana mungkin aku tertarik dengan seorang anak kecil. Gadis polos yang culun, No! Big No! kamu gila Mada"


Violet masuk ke dalam mobilnya, memasang sabuk pengamannya dan pulang.


Jam sembilan malam tepat, Violet sampai di rumahnya dan Gasa masih menunggunya di ruang tamu sambil bermain catur dengan Elmo Elruno. Mamanya Violet sudah masuk kamar.


"Maaf, Vio baru pulang" Violet berucap sambil duduk di sebelahnya Gasa.


"Tugas Dokter emang seperti itu. Papa bangga sama.kamu" Elmo tersenyum lebar ke putri cantiknya.


"Tidak apa-apa. Aku lega kamu baik-baik saja dan karena, kamu udah pulang dengan selamat sampai di rumah, maka aku pamit. Ini sudah malam" Gasa tersenyum ke Violet lalu bangkit dan menoleh ke Elmo, "Saya pamit, Om"


"Iya silakan. Terima kasih sudah menemani Om bermain catur dan membiarkan Om menang terus, hehehehe"


"Om merendah deh. Om memang cerdas dan saya akui saya kalah telak, hehehehe" sahut Gasa. Elmo langsung tergelak senang.


"Pa, Vio anter Mas Gasa sampai depan dulu ya" ucap Vio dan disambut anggukkan kepala papa tampannya.

__ADS_1


Sesampainya di depan mobilnya Gasa, Gasa menunduk dan melihat sepatu sneakers cowok terpasang kedodoran di kedua kakinya Violet dan Gasa langsung bertanya, "Sepatu siapa yang kau pakai?"


Violet menunduk ke bawah dan berkata, "Sepatu pasienku. Aku tadi pakai heels dan heelsku nyangkut di lubang jalan. Karena, tidak bisa aku ambil, maka aku lepas saja heelsku dan temanku meminjamkan sepatu ini" lalu ia mengangkat wajahnya kembali dan memandang Gasa.


"Dia cowok?" tanya Gasa dengan nada cemburu.


"Iya" Jawab Violet dengan polosnya karena, Violet memang tidak terbiasa berbohong.


"Kau pulang sampai malam begini, pergi untuk memeriksa pasien kamu dan dia seorang cowok? kenapa tadi tidak meneleponku dan memintaku untuk mengantar kamu?" Gasa mulai meninggikan nada bicaranya karena cemburu.


"Aku panik saat menerima telepon kalau dia demam. Aku panik karena, dia pasien pertama yang aku tangani dan ia demam. Aku takut salah diagnosis makanya aku langsung berlari ke sana tanpa berpikir panjang sampai aku salah pakai sepatu" ucap Violet dengan nada ringan tanpa rasa bersalah karena, dia memang tidak bersalah.


"Itulah kenapa aku tidak suka dengan wanita karir. Apalagi dokter. Jam kerja kamu tidak menentu dan aku benci itu. Gaji dokter magang apalagi dokter umum itu sangatlah kecil, aku bisa membuatmu lebih. itulah kenapa aku memintamu menjadi ibu rumah tangga saja setelah kita menikah" ucap Gasa dengan wajah penuh protes.


Violet merasa tersinggung. Entah karena dia capek secara fisik setelah seharian bekerja atau karena ia merasa capek secara psikis karena, setelah satu tahun ia berpacaran dan satu tahun bertunangan dengan Gasa, Gasa mulai suka mengaturnya. Lalu Violet berkata dengan nada tinggi, "Aku menyukai pekerjaanku dan jangan pernah menghina pekerjaanku! Aku juga mau jujur sama Mas. Huuffttt! aku nggak mau jadi ibu rumah tangga karena, aku punya keahlian dan impian. Aku tidak mau diatur dan dikekang, Mas"


Gasa yang tidak menyukai dibantah, mulai menunjukkan sifat aslinya, ia langsung mengangkat tangan dan hendak menampar Violet. Tapi ia tahan tangannya di udara selama beberapa detik lalu ia turunkan kembali dan ia kepalkan tangan itu di samping badannya dan menatap Violet dengan tajam. Gasa kemudian masuk ke dalam mobilnya, menutup pintu mobil dengan sangat keras di depannya Violet dan pergi begitu saja meninggalkan Violet dengan melajukan mobilnya sangat kencang.


Violet tertegun dan bergidik ngeri sambil bergumam, "Apa Mas Gasa tadi mau menamparku?" Violet lalu menggeleng-nggelengkan kepalanya, berputar badan, dan masuk ke dalam rumahnya.


Dengan wajah menakutkan, Gasa mencengkeram kemudinya dengan sangat kencang dan ia ngebut.


Gasa menjadi tersingkir dan harus menahan segala rasa setiap kali ia menerima siksaan fisik maupun batin dari ibu angkatnya. Itulah kenapa ia tumbuh menjadi anak yang pendiam dan sabar jika tampak di luar tapi sesungguhnya, di dalam jiwa Gasa ada jiwa pemberontak dan watak keras yang sangat mengerikan karena sering mendapatkan perlakuan buruk dari ibu angkatnya.


Gasa selalu menyembunyikan watak aslinya itu. Bahkan Violet kekasihnya Gasa, tidak pernah mengenal dan melihat watak Gasa yang sesungguhnya.


Di depan Violet, di depan wanita yang ia sukai, Gasa menyembunyikan status dirinya yang hanyalah anak adopsi di keluarga Aefar dan selalu memakai topeng agar selalu tampak sempurna di mata wanita yang ia cintai.


Gasa menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah. Ia turun dan seorang wanita yang seumuran dengan Gasa, menyambutnya. Wanita itu adalah teman masa kecilnya Gasa sewaktu di panti asuhan dan Gasa merekrutnya menjadi sekretaris pribadinya sekaligus kekasih rahasianya. Hanya Mia nama wanita itu yang tahu watak Gasa yang sesungguhnya dan bisa menerima Gasa apa adanya.


Gasa masuk ke rumah dan langsung merengkuh Mia ke dalam pelukannya, ia mencium Mia lalu membopong Mia dan melangkah masuk ke kamar. Ia lalu mengikat kedua tangan Mia di ranjang, menampar Mia sekali dengan pelan lalu ia mencium Mia dengan lembut dan ia tampar lagi Mia dengan lebih keras dan mulai melampiaskan segala rasa yang ada di dirinya ke Mia. Setelah puas bercinta sebanyak dua kali dengan Mia, ia melepaskan ikatan di tangan Mia lalu pergi meninggalkan Mia begitu saja dan tidur di kamar yang lain.


Mia merasakan sakit di sekujur tubuhnya karena, Gasa menyukai kekerasan di atas ranjang. Mia bisa menahan semuanya karena, ia sangat mencintai Gasa. Mia lalu memungut dua pengaman bekas pakai dan ia melangkah ke tempat sampah yang berada di depan kamar mandi untuk membuang dua pengaman bekas pakai itu. Lalu ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mia menatap pantulan dirinya di kaca, ia mengusap wajahnya yang memar, lalu menunduk dan meraba tubuhnya. Ia juga menemukan banyak lebam di sana.


Mia mendesis kesakitan saat ia tersenyum di pantulan cermin. Lalu ia berkata, "Aku rela kau perlakukan seperti ini Gasa karena, aku sangat mencintaimu"


Keesokan harinya, Violet tidak seperti biasanya, menatap lama bayangan dirinya di cermin, dia meraba wajahnya lalu tersenyum dan bergumam, "Apa benar, aku ini cantik jika tidak memakai kacamata? kalau gitu, aku nanti mau menemui dokter mata di rumah sakit dan meminta dibikinkan softlens, hehehehe"


Dan sejak siang hari, Violet telah memakai softlens dan menyimpan kacamata tebalnya di wadahnya. Semua koleganya di rumah sakit, memuji Violet semakin cantik dan Violet tersenyum senang menerima semua pujian itu.

__ADS_1



Violet yang selalu dikucir kuda, selalu memainkan kucir kudanya setiap kali ia merasa malu karena senang itu, berjalan di koridor menuju ke UGD dengan langkah riang dan tiba-tiba ia mengerem langkahnya saat ia melihat Gasa berdiri di depannya dengan wajah kusut.


"Mas, makan siang udah hampir selesai. Kalau Mas ke sini mau mengajak aku makan siang, maaf, aku nggak bisa. Aku harus balik ke UGD" ucap Violet.



Gasa menyentuh pelipisnya karena, ia masih merasakan pening di kepalanya, semalaman dia tidak bisa memejamkan mata sama.sekali. Lalu ia berkata, "Maafkan aku. Aku sangat kasar semalam"


"Aku sudah memaafkanmu Mas. Sekarang Mas balik ke kantor gih, aku mau masuk ke UGD sekarang, ada banyak pasien hari ini dan aku akan sangat sibuk, mungkin nggak bisa pegang HP sampai pulang nanti" Violet mengelus pundaknya Gasa.


Gasa menganggukkan kepalanya, dia mengusap puncak kepalanya Violet lalu berkata, "Selamat bekerja, aku mencintaimu"


Violet tersenyum lalu ia masuk ke dalam ruang UGD dan Gasa pun balik ke kantornya.


Mada menatap Gasa dan Violet dari kejauhan lalu bergumam, "Hmm, oke dan keren juga ya tunangannya Violet, pantas saja dia nggak tertarik sama aku. Tapi aku nggak akan patah semangat. Sebelum aku dapatkan Violet dan bisa mendapatkan mobil sport dari Devo, aku nggak akan menyerah"


Mada menunggu di luar UGD dan di saat ia melihat Violet keluar dari UGD menuju ke pantry untuk mengambil minuman, Mada mengikutinya dan ia kemudian berdiri di depan pintu pantry.



"Saya juga mau satu gelas kopi bikinan kamu" ucap Mada. Violet tersentak kaget dan hampir saja menjatuhkan cangkirnya.


Violet menoleh dan mendelik ke Mada, "Bisa nggak munculnya dengan cara yang wajar? ngagetin aja" ucap Violet sambil melanjutkan membuat satu cup kopi lalu ia serahkan ke Mada sambil bertanya, "Ada apa kemari? kenapa nggak periksa ke klinik umum kalau ada keluhan?"


Mada memegang cup kopi dan berucap, "Terima kasih kopinya dan aku nggak ingin periksa ke klinik umum karena, aku hanya mau diperiksa sama kamu karena, kamu temanku"


"Tapi Kak, jika ke rumah sakit, kontrolnya harus ke klinik umum bukan ke UGD" sahut Violet sambil melangkah keluar dari pantry.


Mada mengikuti langkah Violet dan berkata, "Aku tahu. Itulah kenapa aku menunggu di luar tadi, aku menunggumu selesai dinas dan mengajakmu ke kapalku lagi untuk kamu cek lukaku"


Violet tersenyum dan menoleh, "Aku rencananya juga mau ke kapal kamu Kak, untuk mengembalikan sepatu kamu, emm, apa Kakak pulang aja dulu ke kapal Kakak, kalau menunggu di sini, terlalu lama, Kakak akan............"


"Nggak papa. Aku rela menunggumu karena, kamu cantik sekali hari ini tanpa kacamata jelekmu. Kamu sangat cantik pakai softlens" Mada tersenyum menatap Violet.


Violet menghentikan langkahnya di depan pintu UGD dan berkata, "Silakan menunggu kalau Kakak nggak keberatan tapi jangan salahkan aku kalau terlalu lama menunggu nanti"


"Siap" Mada mengacungkan ibu jarinya ke Violet dan Violet tersenyum geli lalu masuk ke dalam UGD.

__ADS_1


Mada menyesap cup kopi lalu tersenyum senang sambil berjalan ke salah satu bangku yang kosong untuk menunggu Violet selesai berdinas. Dia terus tersenyum membayangkan wajah cantiknya Violet dan tanpa sadar ia bergumam, "Dia benar-benar cantik hari ini"


__ADS_2