
Mada terbangun tepat saat ayam jantan berkokok menyambut dinginnya pagi. Hujan masih turun rintik-rintik. Mada melirik jam tangan yang ternyata masih ia pakai di pergelangan tangan kirinya. Jarum pendek di arlojinya menunjuk di angka empat. Mada tersentak kaget saat ia menunduk dan melihat Violet meringkuk cantik dan memeluk tubuhnya. Dan Mada meringis merasakan tangannya mulai kesemutan karena lengan tangan kanannya dipakai sebagai bantal kepalanya Violet.
Mada segera merubah wajah meringisnya dengan senyum hangat. Tangan kirinya terangkat untuk meraba bulu lentik di ujung kelopak matanya Violet. Mada meniupnya pelan lalu merabanya lagi dan ia ulangi perbuatannya itu sebanyak tiga kali sambil terus mengulum senyum menahan geli karena Violet belum juga membuka matanya.
Mada lalu merengkuh Violet ke dalam dekapannya kemudian ia membopong tubuhnya Violet untuk ia pindahkan ke dalam kamar. Mada berniat memindahkan Violet ke dalam kamar karena ia tidak rela wajah cantiknya Violet saat masih tertidur lelap dinikmati oleh Deo dan dia juga tidak rela dinginnya pagi mengusik mimpinya Violet.
Sesampainya di dalam kamar, Mada merebahkan Violet secara perlahan di atas kasur dan tersentak kaget saat Violet tiba-tiba membuka kedua matanya. Mada dan Violet bersitatap.
Mada kemudian tersenyum dan menyapa, "Selamat pagi putri tidurku. Tidurlah lagi gih! Ini masih sangat pagi" Mada menunduk hendak mencium keningnya Violet dan Violet langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Mada mengecup keningnya Violet lalu menatap kedua matanya Violet yang masih terbuka lebar dan berkata, "Kenapa menutup mulutmu? kau ingin aku cium di bibir ya?"
Violet menggelengkan kepalanya dengan penuh semangat dan Mada terkekeh geli, "Lalu kenapa kau tutup mulutmu?"
"Aku belum sikat gigi" sahut Violet dengan mulut yang masih ia tutup dengan telapak tangannya.
Mada menarik tangannya Violet, "Buka aja! aku nggak masalah kamu belum sikat gigi" tetapi Violet menahan telapak tangannya sambil berkata, "Jangan tarik tanganku! keluarlah! aku mau ke kamar mandi sikat gigi dulu"
"Apa kamu juga bersikap seperti ini pada suami kamu? Apa kau juga berkata seperti ini pada suami kamu? apa kau juga malu pada suami kamu kalau kau belum sikat gigi?" Mada berucap dengan sorot mata penuh kecemburuan. Fakta bahwa Violet adalah istri kakak tirinya, seringkali membuat hatinya Mada kembang kempis diterpa kecemburuan.
Alih-alih menjawab pertanyaannya Mada, Violet mendorong tubuhnya Mada lalu ia melompat turun dari kasur dan langsung melesat ke kamar mandi. Ia menutup kasar pintu kamar mandi lalu segera menguncinya. Mada duduk di tepi ranjang menunggu Violet keluar dari dalam kamar mandi sambil berulangkali menghela napas panjang untuk mengusir kecemburuannya.
Beberapa menit kemudian Vuolet keluar dari dalam kamar mandi dan terlonjak kaget saat mendapati Mada masih duduk di tepi ranjang, "Kenapa kau masih ada di sini?"
Mada menoleh ke Violet dan sambil tersenyum ia berucap, "Aku ingin mengucapkan terima kasih. Berkat kamu, aku bisa tidur nyenyak sampai pagi. Sepertinya aku sudah menemukan obat untuk insomniaku"
"Kau minum obat kemarin? aku lihat kau tidak minum obat apapun semalam" Violet berucap sembari duduk di sebelahnya Mada.
Mada langsung memeluk Violet dan berucap di atas pucuk kepalanya Violet, "Kaulah obatnya. Jika, kau ada di sebelahku, tidur di sampingku, aku merasa nyaman dan bisa tidur nyenyak sampai pagi. Andai kau adalah istriku"
Violet membeku dan membisu mendengar ucapannya Mada.
"Kenapa diam? Apa rencana kamu atas Gasa? setelah Gasa mengkhianatimu dan menikah lagi secara diam-diam bahkan sudah menghamili wanita itu?" tanya Mada sambil menciumi rambutnya Violet.
Violet melepaskan diri dari dalam pelukannya Mada kemudian bangkit berdiri di depannya Mada dan berkata, "Aku ingin ke pasar tradisional tempat kau dan Deo belanja kemarin. Dekat kan dari sini? ajak aku ke sana sekarang, bisa?"
Mada bangkit lalu berdiri di depan Violet, "Kenapa kau selalu menghindari perbincangan serius diantara kita Cinta? kenapa kau..........."
"Ini masih pagi. Aku nggak mood bahas yang serius-serius di pagi hari" Violet lalu menarik tangannya Mada, "Mending kita jalan-jalan ke pasar tradisional aja yuk! aku belum pernah menginjakkan kaki di pasar tradisional. Aku penasaran"
__ADS_1
Mada menuruti kemauannya Violet dengan senyum tipisnya. Mada merasa kalau Violet belum serius memperjuangkan cinta yang ada diantara mereka berdua. Namun, Mada hanya bisa mengalah dan terus memberikan ruang dan waktu bagi Violet untuk berpikir walaupun hatinya terasa perih terbakar kecemburuan setiap kali teringat kalau Violet bukanlah istrinya dan belum menjadi miliknya sepenuhnya.
Mada begitu menginginkan Violet hanya memperhatikannya. Mada hanya ingin Violet merindukannya dan selalu ingin berada di sisinya Mada. Namun, kapan impiannya itu akan terwujud jika Violet terus menghindari rasa yang ada diantara mereka.
Mada mengajak Violet berhenti di depan seorang ibu yang sudah cukup berumur. Ibu itu menawarkan macam-macam sayuran dagangannya.
Violet langsung menepuk bahunya Mada dan menengadahkan telapak tangannya di depan Mada, "Kasih ke aku dompetmu!"
Mada menautkan alisnya dan menaruh dompetnya ke tangannya Violet lalu bertanya, "Untuk apa?"
"Kenapa kau menawar? kasihan kan ibu itu udah tua. Aku akan borong semua sayurannya. Berapa uangmu?" Violet membuka dompetnya Mada dengan santainya.
"Benarkah Nona akan memborong dagangannya Ibu?" Ibu yang menjual sayuran tersenyum lebar mendengar ucapannya Violet.
Mada langsung berucap, "Emm, sebentar ya Bu!?" sambil tersenyum kikuk ke ibu yang menjual sayuran karena, ibu itu masih menatap Mada dan Violet dengan wajah keheranan bercampur dengan harapan. Mada langsung memeluk bahunya Violet yang tengah berjongkok di sampingnya. Mada lalu berbisik, "Ini pasar tradisional, Cinta. Kita emang harus pandai nawar. Dan ngapain kamu mau borong semua sayurannya? untuk apa?"
Violet menutup kembali dompetnya Mada dan menoleh ke Mada lalu berbisik, "Aku kasihan Mas. Lihatlah bajunya! sederhana banget bajunya dan sayur seharga lima ribu Mas tawar jadi dua ribu, tega banget sih Mas. Ibu itu dapat apa nanti?" Violet lalu mengerucutkan bibirnya.
Mada terkekeh geli lalu menghela napas panjang dan berkata ke ibu penjual sayur, "Sebentar ya Bu" Mada kemudian mengajak Violet berdiri dan berjalan agak menjauh dari ibu penjual sayur itu, "Cinta, dengarkan Mas! kalau ibu itu setuju sayurnya Mas bayar seharga dua ribu rupiah, berarti Ibu itu sudah dapat untung. Kalau nggak dapat untung dia nggak akan ijinkan Mas beli sayurnya seharga dua ribu rupiah"
"Tapi aku tetap merasa kasihan, Mas"
"Oke kalau kamu mau borong, borong aja! Tapi uang cashku tinggal yang ada di dompet itu. Kalau kita borong sayuran Ibu itu, kita akan pulang hanya membawa sayuran aja. Emangnya kamu mau, makan sayur aja? Mas tahu kamu suka banget sama daging ayam dan telur"
"Kenapa? kau capek atau pengen beli dawet?" Mada mengusap rambutnya Violet.
"Aku nggak tega kalau Mas nawar, aku nggak tega lihat penjualnya"
Mada tertawa ringan lalu memeluk bahunya Violet, "Oke, aku antarkan kamu ke sana dulu"
Mada lalu membantu Violet duduk di bangku di kedai dawet telasih dan Mada terlonjak kaget saat ibu penjual dawet itu memanggil namanya, "Mada! kamu Mada kan? putranya Ibu Diana Prastowo?"
Mada tersenyum ramah ke ibu penjual dawet laku ia bertanya dengan sopan, "Ibu tahu Mama saya? Ibu juga tahu nama saya?"
"Kamu masih sama tampannya dengan kamu waktu masih kecil. Tentu saja Ibu ingat. Mama kamu, Ibu Diana Prastowo, selalu berhenti di sini setiap kali beliau kelelahan setelah berkeliling berbelanja karena, kamu suka sama dawet sini"
Mada kemudian berkata, "Sebentar Bu, saya akan bayar sayuran dulu. Saya pesan es dawet dua"
Beberapa detik kemudian, Mada sudah duduk di sebelahnya Violet. Violet bertanya ke Mada, "Ibu itu sudah lama berjualan di sini berarti ya?"
__ADS_1
"Sejak tahun 1985 tuh ada tulisannya, berdiri sejak tahun 1985" Sahut Mada.
"Capek dong berdiri terus dari tahun 1985" Violet menoleh ke Mada dengan senyum jenaka.
Mada tersenyum jahil dan berkata, "Tidak secapek aku nunggu kepastian dari kamu"
Violet langsung menepuk bahunya Mada, "Ini tempat umum. Jangan ngomong ngawur!"
Mada hanya bisa kembali menghela napas panjang.
Ibu penjual dawet kemudian mengajak Mada untuk mengobrol, "Ini kekasih kamu atau istri kamu? Kalau nggak salah kamu udah di puluh enam tahun kan? udah pas untuk menikah"
"Uhuk-uhuk" Violet tersedak air dawet dan Mada langsung menepuk-nepuk pelan punggungnya Violet sambil menjawab pertanyaannya ibu penjual dawet, "Dia ini, teman dekat saya Bu"
"Oh! kenapa nggak jadian aja? kalian serasi lho. Nona ini cantik dan kamu tampan"
"Uhuk-uhuk" Violet kembali tersedak dan Mada menghela napas panjang, "Minumnya pelan-pelan dong Cinta, kenapa tersedak terus sih? sakit ya?" Mada berucap sembari mengelus-elus punggungnya Violet.
"Manggilnya aja udah pakai cinta kok masih bilang teman dekat sih?" Ibu penjual dawet melempar senyum jahil ke Mada.
Mada merona dan sambil mengelus tengkuknya ia berkata ke ibu penjual dawet, "Namanya memang Cinta, Bu"
Violet langsung meletakkan mangkuk dawet yang telah kosong di meja lalu bangkit, menganggukkan kepala ke ibu penjual dawet kemudian berkata ke Mada, "Kita masih harus membeli daging ayam kan? keburu siang nanti"
"Lho katanya kamu mau nunggu di sini? duduklah! aku akan ke kedai daging ayam sendiri. Tidak jauh kok dari sini. Aku tinggal sebentar, ya?" Mada berucap sembari membayar dawet.
Violet menggenggam ujung kaosnya Mada, "Aku ikut"
"Wah, mesranya! ditinggal sebentar aja nggak mau" pekik ibu penjual dawet dengan senyum cerah, "Ibu doakan kalian cepat menikah dan......"
Violet langsung menarik Mada untuk pergi dari kedai dawet itu. Mada melambaikan tangan ke ibu penjual dawet sambil menjerit, "Saya akan datang lagi kapan-kapan Bu" lalu ia memutar badan dan berlari kecil menyusul langkahnya Violet sembari terus mengulas senyum geli di wajah tampannya.
Mada mengiringi langkahnya Violet dan berkata dengan senyum terkulum, "Kau mau ke mana Cinta?"
"Beli daging ayam" sahut Violet dengan nada ringan namun, terdengar ketus.
"Tapi arahnya bukan ke sana" Mada terkekeh geli.
Violet langsung menghentikan langkahnya dan memutar badan setengah untuk menatap Mada dengan wajah memerah karena, malu.
__ADS_1
"Arahnya ke sana" Mada menunjuk ke arah yang berlawanan sambil menatap Violet dengan senyum terkulum.
"Oke kita ke sana" Violet langsung mengarahkan langkahnya ke arah yang ditunjuk oleh Mada dan melangkah mendahului Mada dengan kikuk. Mada kembali berlari kecil menyusul Violet dengan senyum geli.