
Gasa merengkuh tubuh polosnya Mia sahabat di masa kecilnya sekaligus kekasih gelapnya ke dalam pelukannya setelah penyatuan raga penuh gairah mereka di malam itu.
Mia mendongakkan wajahnya, "Kau tidak menyusul Violet ke Tiongkok?"
Gasa menggelengkan kepalanya sambil.mengelus bahunya Mia ia menjawab, "Dia masih anak kecil yang suka ngambek. Aku biarkan dia ngambek sesuka hatinya saat ini, aku bebaskan dia berbuat apapun sebebas-bebasnya sebelum aku mengikat dia erat-erat nanti"
"Kau tidak meminta maaf atas kekasaran kamu kemarin?" tanya Mia sambil merebahkan kepalanya di dada bidangnya Gasa.
"Dia gadis polos, naif, dan pemaaf. Aku akan meminta maaf padanya saat aku menjemputnya di bandara nanti. Yang penting aku sudah mengirim pesan text permintaan maaf ke dia karena, aku tahu betul, kalau dia ngambek, ia nggak akan pernah angkat telpon"
Mia memainkan ujung kukunya di atas dadanya Gasa dan memberanikan diri untuk bertanya, "Apa kau mencintaiku?"
Gasa mempererat pelukannya dan berkata dengan daya yang mulai melemah karena, terserang kelelahan dan kantuk yang hebat, "Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya mencintai Violet. Tapi, aku membutuhkanmu" Lalu dengan santainya Gasa meninggalkan Mia sendirian ke alam mimpi.
Mia terus terjaga dan tidak bisa memejamkan kedua matanya sama sekali dan ia terus mengepalkan tangannya di atas dada bidangnya Gasa. Ia menggumam lirih, "Tapi, aku sangat mencintaimu Gasa dan aku sangat membencimu Violet. Tunggu pembalasanku atas sakit hati yang terus menerus aku rasakan ini, Violet"
Mada dan Violet duduk di balai-balai panjang yang terbuat dari rotan yang terpasang manis di halaman samping villa miliknya Moses Elruno. Mada dan Violet bermain tebak kata yang tertoreh di punggung lewat jari telunjuk.
Mada mendapatkan giliran pertama untuk menebak. Mada menghadap ke depan dan membelakangi Violet. Setiap ukiran jarinya Violet di atas punggungnya Mada, Mada bisa menebak semuanya dengan tepat dan tebakan terakhir Mada, "Mobil. Kamu membentuk mobil kan?" seratus persen benar.
Violet merenggut lalu ia maju ke depan duduk membelakangi Mada. Saat Mada mulai melukis dengan jari telunjuknya di punggungnya Violet, Violet langsung melempar protes, "Kenapa nggak jelas bentuknya? gerakan jari Mas Mada terlalu cepat. Ah Mas Mada curang!"
Mada langsung menggelegarkan tawanya dan berucap, "Mana ada curang, itu tadi bentuk kupu-kupu"
Violet mendengus kesal. Lalu berkata, "Teruskan! tapi jangan cepat-cepat gerakan jarinya!"
Mada terkekeh geli dan sebelum melanjutkan menggambar di atas punggungnya Violet dengan jarinya, ia tersenyum lebar sambil memikirkan karakter apa yang akan ia gambar selanjutnya. Violet menoleh ke belakang, "Buruan, lama amat sih mikirnya!?"
"Hahahaha, iya sebentar, emm, coba tebak yang ini!" Mada lalu menggerakkan jari telunjuknya di atas punggungnya Violet dan membentuk sebuah rumah.
"Apa sih? kenapa cepat banget gerakannya? aku nggak bisa menebaknya, Mas"
"Rumah. Aku membentuk rumah" ucap Mada dengan tawa riang.
"Coba tulisan aja deh! jangan karakter lagi, susah nebaknya" protes Violet. Mada terkekeh geli dan berucap, "Oke deh, bentar ya aku mikir dulu mau nulis apa di punggungmu, hehehehe"
Mada tersenyum lebar lalu menggerakkan jari telunjuknya di atas punggungnya Violet. Dengan terus tersenyum lebar, ia mulai menorehkan huruf, I, kemudian L, ke O selanjutnya menuju ke V, lalu E, dan terakhir jari telunjuknya bergerak membentuk huruf U, di atas punggungnya Violet.
Violet tersenyum senang ia tahu kata apa yang ditorehkan Mada di punggungnya namun,ia ingin mencoba mengetes Mada, apa Mada bersedia mengatakan kata yang tertoreh di punggungnya itu, dengan bertanya, "Kakak nulis apa?" Violet melempar tanya itu, tanpa menoleh ke belakang,
Mada diam saja. Ia terkesiap dan seketika itu juga Ia menyesali jari jemarinya yang lancang menorehkan jejeran huruf yang membentuk kata I Love You di punggungnya Violet di beberapa detik yang lalu.
Karena tidak kunjung mendengar jawaban dari Mada, maka Violet langsung berputar badan ke belakang dan keningnya terantuk keningnya Mada. Violet mengaduh dan di saat Violet.memundurkan wajahnya, Mada dengan sigap menahan kepalanya Violet, menarik pinggangnya Violet yang hampir jatuh dari atas balai-balai sehingga secara otomatis Violet masuk ke dalam pelukannya Mada
Pandangan mereka beradu disertai bunyi degup jantung yang cukup keras. Mada memikirkan betapa cantiknya kekasih hatinya itu. Kulit putih bersih, wajah ayu alami tanpa riasan apapun, membuat Mada memutuskan untuk mengecup bibir, pipi, dan kening Violet.
Violet masih menatap Mada dan bertanya, "Apa yang Mas tulis di punggungku tadi?"
Mada yang masih kacau pikirannya berada di persimpangan hati, diantara cinta dan dendam, hanya diam menatap Violet.
"Mas? apa yang mas tulis? kok diam?" Violet melukis senyuman yang sangat memesona dan menyihir Mada untuk menangkup pipinya Violet lalu mulai mencumbu Violet dengan lembut. Ia mengungkapkan kata I LOVE YOU lewat ciumannya karena, ia masih belum mampu meloloskan kata itu dari mulutnya.
__ADS_1
Mada tetap mencium Violet, mengunci bibir itu saat ia bangkit sambil membopong Violet. Ia membawa Violet ke lantai dua, menuju ke kamarnya dengan terus mencium bibirnya Violet dengan perlahan dan sangat lembut.
Mada lalu merebahkan Violet di atas ranjang dan mereka melanjutkan ciuman mereka dengan berguling intim di atas ranjang. Tangan Mada mulai mengelus punggungnya Violet lalu menuju ke perut ratanya Violet, menyusupkan tangannya ke dalam kaosnya Violet dan mengelus kulit perutnya Violet lalu bibirnya turun ke perut itu, ia cium perut rata itu dengan penuh cinta, lalu bibirnya kembali naik menuju ke bibirnya Violet.
Violet menatap langit-langit kamar dengan tubuh meliuk seksi secara alami saat tangan Mada terus bergerak di setiap lekuk indah tubuhnya dan wajah Mada menyusup ke lehernya Violet. Dengan napas memburu, Violet mengajukan protes, "Kenapa berhenti Mas?" saat Mada tiba-tiba menghentikan ciuman, usapan tangan lalu merengkuh Violet ke dalam pelukannya.
"Jika aku teruskan, aku takut, aku tidak akan bisa berhenti. Aku nggak ingin membuka segel kesucian kamu sebelum kita menikah" sahut Mada. Dan tanpa berpikir panjang, ia telah mengucapkan kata menikah.
Violet menengadahkan wajahnya, menatap Mada dengan senyum bahagia.
Mada melihat Violet dan bertanya, "Ada apa?"
"Mas akan menikahiku?" Kedua mata Violet berbinar menatap wajah tampannya Mada.
Mada hanya tersenyum ke Violet lalu ia berkata, "Tidurlah!" Mada lalu memejamkan kedua matanya dan mempererat pelukannya.
Violet pun akhirnya ikut memejamkan mata dengan hati yang terasa sangat hangat dan senyuman bahagia terlukis di wajah ayu alaminya.
Mada dan Violet tidur saling berpelukkan dan masih berpakaian lengkap.
Di tengah malam, Mada membuka mata dan menunduk, dia tersenyum penuh cinta melihat Violet tidur di atas lengannya. Mada mengusap sebingkai wajah ayu yang menghadap ke arahnya. Lengan Mada mulai terasa kesemutan tapi, ia justru tersenyum bahagia. Mada lalu mencium keningnya Violet dan bergumam, "aku bahagia, lenganku tercipta untukmu, untuk kau jadikan sandaran lelahmu. Maaf, aku belum bisa mengucapkan kata cinta ke kamu walaupun aku sudah sangat mencintaimu saat ini"
Mada kemudian memeluk pinggangnya Violet dan memejamkan kedua matanya di dalam damai. Malam itu untuk pertama kalinya, Mada bisa tidur nyenyak tanpa gangguan mimpi buruk.
Mada membuka kedua matanya dan tersenyum melihat wajah ayu kekasih hatinya di pagi hari. Dia merapikan rambut yang menutupi wajah Violet lalu ia selipkan rambut itu di belakang telinga kemudian ia mengusap telinganya Violet sambil terus memandangi wajah gadis lugu bak malaikat yang begitu ia sayangi.
Violet menguap, lalu membuka kedua matanya dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Mas, kok ada di kamarku?"
Violet masih menutup mulut dengan kedua tangannya lalu mengedarkan pandangannya sambil bangun dan duduk di tengah ranjang, "Ah! iya benar. Ini kamar Mas Mada"
Mada menarik tangannya Violet namun Violet menahan tangannya dengan kuat. Mada terkekeh geli, "Kenapa kamu tutupi terus mulut kamu seperti itu?"
Violet langsung melompat turun dari atas ranjang lalu berkata, "Aku belum sikat gigi" kemudian ia berlari meninggalkan kamarnya Mada diiringi gelak tawanya Mada.
Violet lalu berolah raga di halaman belakang. Tiba-tiba tubuhnya dipeluk oleh seseorang dari belakang. Violet terlonjak kaget lalu berputar badan dan langsung memekik senang saat ia melihat adik sepupunya berdiri di depannya dengan senyum lebar.
Galvin Permata Elruno merentangkan kedua tangannya dan Violet berlari masuk ke dalam pelukan adik sepupunya itu. Kedua saudara sepupu itu saling meluapkan kerinduan mereka dengan pelukan erat.
Tiba-tiba Galvin ditarik oleh seseorang dan Galvin langsung menoleh ke belakang, menghindar sempurna dari bogem mentah orang yang menariknya itu lalu ia melompat mundur.
Mada menggeram dan bersitatap dengan Galvin. "Siapa kau?" kata itu meluncur dari mulut Galvin dan Mada secara berbarengan.
Mada langsung melesat dan menyerang Galvin. Galvin dengan mudahnya menangkis dan menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Mada dan Galvin berhasil mendaratkan satu tinju di perutnya Mada. Mada langsung membungkuk dan terdorong ke belakang sambil meringis kesakitan. Luka di perutnya terkena pukulannya Galvin dan terasa sangat nyeri.
Violet langsung melompat di tengah-tengahnya Mada dan Galvin dan berteriak, "Stop!"
"Siapa dia?" tanya Mada dengan sorot mata penuh kecemburuan.
"Dia adik sepupuku. Putranya tanteku yang tinggal di Inggris" sahut Violet sambil melesat maju lalu merangkul Mada, membantu Mada untuk bisa berdiri tegak.
"Oh! dia tunanganmu ya?" tanya Galvin yang mengira Mada adalah Gasa tunangannya Violet karena, Galvin memang belum pernah bertatap muka dengan Gasa. "Emm, Gasa ya? benar kan?" Galvin mengulas senyum lebar di wajah tampannya.
__ADS_1
Mada mendengus kesal dan diam saja tidak menanggapi ocehannya Galvin. Akhirnya, Violet yang menyahut, "Ini Mada. Aku harus memeriksanya, sepertinya kamu menyarangkan tinju kamu ke luka di perutnya" Violet langsung memapah Mada menuju ke sofa dan Galvin mengikutinya.
"Maafkan aku. Aku nggak sengaja melakukannya" Galvin menatap perut Mada yang berdarah dan Violet tengah mengobatinya.
"Kamu juga harus minta maaf Mas sama Galvin!" ucap Violet.
"Aku? kenapa aku harus meminta maaf padanya? dia yang memukulku?" Mada mengerutkan keningnya.
"Kamu sudah menyerangnya duluan tadi. Kamu salah paham dan......."
"Maafkan aku!" Mada langsung mengucapkan kata itu ke Galvin. Mada yang sulit untuk bisa mengucapkan kata maaf kepada siapa pun jika ia merasa tidak bersalah, akhirnya mau mengucapkan kata itu atas permintaannya Violet. Violet telah banyak membawa perubahan positif di diri Mada.
"Aku sudah memaafkanmu dari tadi" ucap Galvin ke Mada lalu Galvin menoleh ke Violet, "Dia bukan Gasa tunangan kamu lalu kenapa ia bisa berada di sini bersamamu?" tanya Galvin ke Violet.
"Aku pacarnya" Sahut Mada.
"Hah?! wow! fantastic! I like your style, sister! kau selingkuh ya?" ucap Galvin.
Violet langsung menepuk bahunya Galvin, "Aku tidak selingkuh, aku melarikan diri ke sini karena, Mas Gasa sudah dua kali menamparku, dan aku butuh menenangkan diri di sini. Lalu, aku tiba-tiba saja suka sama Mas Mada dan nanti pas pulang ke Indonesia, aku akan memutuskan pertunanganku dengan Mas Gasa"
"Ajak aku nanti pas kamu menemui si Gasa itu! aku ingin melihat seperti apa tampangnya, berani benar ia menampar Kakakku sampai dua kali, cih! aku akan bikin perhitungan dengannya" Galvin langsung menggeram kesal .
"Jangan aneh-aneh! aku akan selesaikan sendiri masalahku dengan Mas Gasa. Untuk apa kau kemari sendirian tanpa Tante dan Om?" tanya Violet.
Galvin meringis, "Aku kangen sama Kakek dan Nenek, jadi aku ke sini mengunjungi makam Kakek dan Nenek"
"Jangan bohong! kau pasti melarikan diri dari Om dan Tante kan?" Violet langsung menepuk bahunya Galvin.
Galvin langsung melompat dan duduk di sampingnya Mada lalu memegang lengannya Mada, "Kakak ipar, tolong aku! Kakak sepupuku itu galaknya kayak Mamaku, aku takut nih"
Mada menoleh ke Galvin, ia tersenyum senang saat Galvin memanggilnya Kakak ipar lalu ia menoleh ke Violet hendak membuka mulut namun, Violet segera berucap, "Jangan bela dia!"
Mada langsung merapatkan bibirnya dan menoleh ke Galvin, "Kau urus sendiri masalahmu. Aku juga takut sama kakak kamu kalau pas ia melotot kayak gitu"
"Ah sial!" Gavin langsung melepas lengannya Mada dan Mada terkekeh geli.
"Galvin Permata Elruno! katakan yang sebenarnya!" Violet berkacak pinggang dan melotot ke Galvin.
"Aku lari dari perjodohan. Aku nggak mau dijodohkan karena, aku nggak suka sama bule. Aku ingin pulang ke Indonesia mencari cewek Asia tapi, aku memutuskan sembunyi di sini dulu karena, aku yakin Mama dan Papaku pasti saat ini tengah meluncur ke rumahmu" sahut Galvin sambil merengut dan menundukkan kepalanya.
Mada menepuk pundaknya Galvin, "Aku mendukungmu! aku juga tidak suka perjodohan"
Galvin langsung mengangkat wajahnya dan memeluk Mada, "Makasih Kakak Ipar"
Mada langsung mendorong Galvin, "Terima kasih, terima kasih aja, nggak usah pakai peluk, cih!"
Violet terkekeh geli lalu menyahut, "Dasar Kakek Alfa season kedua, kau mirip banget sama Kakek Alfa. Aku juga mendukungmu, aku juga tidak pernah menyukai perjodohan"
Galvin langsung melompat berdiri dan memeluk Violet, "Makasih Kak!"
Saat Mada hendak menarik Galvin karena, ia tidak suka ada cowok lain memeluk Violet sekalipun itu adalah adik sepupunya Violet, tiba-tiba ponselnya Mada berbunyi, Mada mengangkat panggilan telepon itu dan kabar yang diberikan oleh asistennya langsung membuat Mada berdiri, menoleh ke Violet dan berkata, "Aku harus balik Ke Indonesia, sekarang!"
__ADS_1