
Mada terbangun di pagi hari dengan wajah linglung dan tubuh remuk redam. Dia lalu merogoh saku celananya untuk mencari ponselnya sambil mencoba untuk berdiri, dia panik saat tangannya tidak menyentuh ponsel di dalam saku celananya. Kemudian dia memegang kepalanya sambil memutar badan perlahan untuk mencari keberadaan ponselnya dan dia segera menyesali kebodohannya saat kedua bola matanya menangkap ponselnya sudah hancur berkeping-keping di atas lantai.
Mada lalu mengambil memory card di dalam ponselnya, dia selamatkan memory card itu dan ia masukkan ke dalam dompetnya. Kemudian dia membereskan kepingan-kepingan ponselnya bersamaan dengan ketiga kaleng bir yang semalam ia minum.
Setelah kamarnya bersih kembali, dia segera mandi lalu. Tepat di saat ia berganti baju dan mulai mencangklong tas ranselnya, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Mada berjalan ke pintu dan membukanya, "Kau belum berangkat ke perusahaannya Elruno?"
Ratna tersenyum, "Kita kan searah, aku pikir kita barengan aja ke sananya sekalian mengajak Kakak untuk sarapan sebentar"
Mada tersenyum sambil menutup pintu kamarnya dia mengangguk lalu mengikuti langkahnya Ratna menuju ke ruang Food&Beverage yang ada di sebelah kanan lobi hotel tersebut. Mereka sarapan ala kadarnya karena dikejar oleh waktu dan segera bergegas masuk ke sebuah taksi, menuju ke perusahannya Elruno.
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di perusahaannya Elruno, sebuah gedung yang cukup besar berlantai delapan itu berdiri kokoh menjulang di depan mereka. Lalu mereka masuk. Ratna segera digiring oleh resepsionis menuju ke ruang interview untuk para pegawai baru dan Mada digiring oleh sekretaris pribadinya Chery Elruno menuju ke ruangan pribadinya Chery Elruno.
Mada masuk ke ruangan yang sangat luas, mewah, dan nyaman itu. Mada dipersilakan duduk dan tidak begitu lama, Chery Elruno melangkah anggun ke arah Mada. Mada berdiri dan sebagai seorang laki-laki normal, secara naluri alaminya, dia mengagumi kecantikan dan keanggunannya Chery Elruno.
Chery dan Mada berdiri saling berhadapan lalu Chery mengulurkan tangannya, "Selamat datang, nama kamu Mada Goh, benarkah itu?"
Mada menyambut uluran tangan itu dengan sopan lalu ia berkata, "Benar Bu, saya Mada Goh, putra dari ........."
"Diana Prastowo" Sahut Chery sambil melepas tangannya Mada.
"Benar. Anda ternyata benar-benar mengenal Mama saya" Mada tercengang.
"Duduklah!" Chery duduk dengan anggun di depannya Mada.
Mada ikutan duduk dan terus menatap Chery.
"Jangan menatap istriku terus! jaga mata kamu!" seorang laki-laki melangkah masuk, duduk di sebelahnya Chery lalu mencium keningnya Chery.
"Ah! ini suami saya. Raja namanya" sahut Chery.
"Ah iya, selamat pagi Pak Raja" Mada bangkit, membungkukkan badan ke Raja lalu ia duduk kembali.
"Ada perlu apa kau mencari istriku?" Raja langsung memeluk pinggangnya Chery.
"Saya hanya ingin mencari kebenaran terkait dengan pembunuhan Mama saya dua puluh tahun silam" sahut Mada. "Ada yang berkata kepada saya kalau Ibu Chery Elruno kenal dengan Mama saya jadi, saya datang ke sini untuk menemui Ibu Chery dan.........."
"Aku bukan hanya kenal dengan Diana. Aku dan Diana bahkan sudah seperti saudara. Kami bersahabat dengan sangat baik. Bahkan di saat kau lahir, aku datang dan aku menggendong kamu. Nama kamu, aku yang kasih karena, Diana kebingungan kala itu, dia melahirkan tanpa suami, dan habis ditinggal pergi oleh Nenek kamu, dia panik, bingung dan tidak menyiapkan nama untuk kamu" sahut Chery.
__ADS_1
"Aku masih menyimpan foto waktu aku menggendong kamu dan ada Diana di sampingku" Chery menyerahkan ponselnya.
Mada menatap foto kebersamaan Chery dan Mamanya dan dirinya waktu masih bayi dengan gamang. Lalu ia kembalikan kembali ponsel itu ke Chery.
Mada semakin bingung karena, cerita yang dikatakan oleh Chery, berbeda jauh dengan cerita yang dikatakan oleh Papanya.
"Kau masih tidak percaya? kita tunggu sebentar, sekretarisku sedang mengambilkan berkas-berkasnya Diana. Diana dulu adalah sekretarisku jadi perusahaan ini memiliki berkas-berkasnya Diana" sahut Chery Elruno.
"Bukannya saya tidak memercayai Anda tapi, Papa saya menceritakan ke saya, bahwa Anda dan Mama saya adalah musuh bebuyutan dan........"
"Apa Papa kamu bercerita dengan menyertakan bukti?"
Mada menggelengkan kepalanya.
"Kau akan tahu kebenarannya sebentar lagi. Aku punya semua bukti kedekatan aku dengan Mama kamu dan semua bukti kebusukan Papa kamu" ucap Chery.
"Asal kau tahu, Papa kamu itu yang memaksa Mama kamu melayaninya waktu itu dengan ancaman sampai akhirnya Mama kamu mengandung. Istriku yang menolong Mama kamu saat itu. Papa kamu itu laki-laki brengsek, egois, pengecut, dan tidak bertanggung jawab" sahut Raja dengan geram.
Chery langsung mengelus pahanya Raja dan berkata sambil menoleh ke Raja, "Pa, jangan emosi di pagi hari, nanti cakepnya ilang lho, hehehehe"
Raja tersenyum ke Chery lalu mencium pipinya Chery, "Iya, maaf"
"Iya sayang, kamu benar. Maafkan aku" Raja tersenyum ke Chery dengan penuh cinta.
Mada mematung mendengar ucapannya Chery bahwa ia korban kebohongan dari papanya sendiri. Saat berkas dan semua bukti yang Chery katakan akhirnya berada di depannya, Mada meraih dan membuka berkas itu dengan tangan gemetar saat ia menemukan banyak sekali surat ancaman yang Mamanya terima. Mada menitikkan air mata saat ia membaca surat yang mamanya tulis untuk Chery Elruno, di surat itu, mamanya Mada menitipkan Mada ke Chery Elruno jika sesuatu yang buruk terjadi padanya.
"Dan itu Video player yang berisi rekaman Papa kamu saat Papa kamu memaksa Mama kamu untuk melayaninya" sahut Chery Elruno.
Mada meraih video player itu dan melihat rekaman di saat mamanya datang untuk melayani Papanya. Mada mencengkeram erat video player itu. Seketika itu juga, ia membenci Papanya, sangat membenci papanya
Mada lalu menaruh kembali semua bukti itu di atas meja lalu menatap Chery, "Jadi bukan Moses Elruno dan Maha Adijaya yang membunuh Mama saya?"
"Apa Papa kamu juga mencekoki kamu dengan cerita itu? cih! dasar Ivan Goh tidak tahu malu, tega benar dia membohongi anaknya sendiri dengan cerita palsu seperti itu. Dengar Mada, Papaku dan Om Maha saat itu berada di Tiongkok, sekarang kamu pikirkan, di jam sebelas malam, Mama kamu ditusuk oleh seseorang, apa mungkin Papaku dan Om Maha pelakunya? padahal di jam yang sama, Papaku dan Om Maha tengah asyik bercengkerama di Tiongkok. Semua ada buktinya" sahut Chery.
"Iya saya sudah melihat semua buktinya" Mada berkata lirih. "Lalu siapa yang membunuh Mama saya? Siapa yang sudah mengirimkan banyak sekali surat ancaman ke Mama saya?"
"Cobalah kamu ingat kembali, saat itu kamu di mana?"
__ADS_1
"Sa......saya tidak bisa mengingatnya. Setiap kali saya berusaha mengingatnya, kepala saya terasa sakit berdenyut dan jika sudah begitu, Papa datang dan meredakan sakit kepala saya dengan berkata, hukumlah Moses Elruno dan Mada Adijaya karena mereka yang telah membunuh Mama kamu" Mada mulai menekan pelipisnya dengan telapak tangannya.
"Cobalah mengingatnya lagi! demi Mama kamu. Kamu sudah tahu kalau Papa kamu sudah membohongimu selama ini jadi, cobalah untuk mengingatnya kembali!" ucap Chery
Mada mendesis untuk menahan nyeri di kepalanya dan ia mulai membuka suara dengan terbata-bata, "Saya, ssshhhh..........saya.......... disuruh Mama saya, bersembunyi di dalam lemari baju......... saat.......saat pintu rumah kami digedor keras oleh seseorang" Mada mulai meringis kesakitan sambil terus memegangi kepalanya dengan kedua tangannya dan menunduk ke bawah
"Lalu? apalagi yang kau tangkap di memori kamu? suara apapun itu, atau aroma parfum, aroma rokok atau apalah. Cobalah terus mengingatnya, demi Diana, Mama kamu!" sahut Chery.
"Saya mendengar samar-samar suara high heels, tuk, tuk, tuk, dan..........ssshhhh! ah! sshhhhh! suara perempuan tengah berbicara sayup-sayup dengan Mama saya lalu.......... tiba-tiba......... Mama saya berteriak kesakitan dan di saat saya keluar dari dalam lemari dan berlari ke Mama, Mama sudah jatuh ke lantai dengan bersimbah darah" Mada bercerita sambil terus memegangi kepalanya dengan kedua tangan dan ia mulai terisak menangis.
Chery hendak bangkit untuk menenangkan Mada tapi ditahan oleh Raja, "Dia cowok"
"Tapi dia sudah seperti anakku sendiri sayang. Aku hanya akan menepuk punggungnya, aku nggak tega dia kesakitan seperti itu" Chery menoleh tajam ke Raja.
"Dia cowok. Dia pasti bisa menahan rasa sakitnya" sahut Raja.
Chery menghela napas panjang lalu ia menatap Mada, "Kau baik-baik saja, Nak? maafkan aku yang sudah memaksamu mengingat semuanya tapi itu semua demi kebenaran. Kita perlu menangkap pembunuhnya Diana karena, selama ini, pembunuhnya belum tertangkap karena, tidak ada barang bukti di TKP dan tidak ada kamera CCTV"
Mada mengusap air matanya dan mengangguk pelan, "Justru saya berterima kasih. Berkat paksaan dari Ibu, saya bisa mengingat dengan jelas kalau pembunuh Mama saya adalah seorang perempuan" Sahut Mada.
"Aku menyesal waktu itu aku datang terlambat dan sampai di TKP, jenazah Mama kamu sudah dibawa oleh pihak kepolisan dan kamu juga sudah nggak berada di sana. Aku hanya menemukan surat dari Diana dan yang membuatku semakin menyesal, Diana menitipkan kamu padaku tapi, aku kehilangan kamu" sahut Chery.
"Saya nggak mau lagi balik ke Indonesia untuk sementara waktu. Saya juga nggak mau lagi mengurus semua bar milik Papa saya tapi, saya kere sekarang ini. Apa Saya boleh meminta pekerjaan di sini? Apapun itu, jadi OB atau tukang bikin kopi pun nggak masalah asalkan bisa menghasilkan uang dan mencari rumah sewa di sini" sahut Mada kemudian.
Chery menoleh ke Raja dan Raja menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Kamu kuliah hukum dan berhenti di tengah jalan karena, Papa kamu tidak menyukainya kan? lanjutkan saja kuliah kamu itu, aku akan biayai semuanya sampai kamu selesai kuliah dan juga untuk hidup kamu di sini, kamu tidak usah khawatir, aku dan suamiku akan menanggung semuanya selama kamu hidup di sini"
"Maafkan saya, bukannya saya menolak kebaikan hati Anda berdua tapi, saya tidak terbiasa hidup menumpang tanpa melakukan apapun. Ijinkan saya bekerja di sini dan saya akan melanjutkan kuliah saya dengan uang hasil keringat saya sendiri. Dari gaji yang Anda kasih ke saya, berapa pun itu, akan saya manage dengan baik untuk kuliah dan biaya hidup saya sehari-hari" sahut Mada.
"Baiklah! kau mulai sekarang aku angkat menjadi sekretaris pribadiku, tinggal di rumah dinas yang disediakan oleh perusahaan kami dan kau akan mendapatkan gaji yang lumayan besar" sahut Raja.
Mada tersenyum sumringah, "Soal gaji, saya tidak akan perhitungan. Mendapatkan pekerjaan dan rumah untuk tempat tinggal saja, saya sudah sangat bersyukur. Terima kasih banyak Pak Raja dan Bu Chery Elruno" Mada bangkit dan membungkukkan badannya.
"Tapi kau harus janji melanjutkan kuliah kamu sampai selesai karena, pendidikan itu penting" sahut Chery.
"Baik Bu" sahut Mada dengan masih membungkukkan badannya.
__ADS_1
Begitulah kehidupan barunya Mada, dia bekerja sebagai asisten pribadinya Raja dan melanjutkan studinya di bidang hukum. Satu bulan tanpa terasa berlalu dengan cepat dan bagai tersambar petir di siang bolong, Mada terdorong ke dinding dengan sendirinya di dalam ruang kerjanya Raja karena kaget saat Raja berkata, "Wah! Elmo selamat ya, akhirnya Putri kamu akan menikah juga. Aku, kakak kamu, dan semua keponakan kamu akan terbang sekarang juga untuk ke sana. Tunggu kedatangan kami ya"
Violet akhirnya menikah dengan Kak Gasa. Harusnya aku bahagia atau sedih? gumam Mada sambil terus menempelkan punggungnya di tembok untuk menahan kekuatan tubuhnya yang serasa hampir ambruk karena, berita pernikahannya Violet itu.