
Violet keluar dari ruang UGD dengan merentangkan kedua tangannya ke atas dan menguap. Saat ia menoleh ke kanan, tidak jauh dari pintu masuk UGD di sebuah bangku, ia melihat Mada tidur selonjor. Violet tersenyum geli menangkap pemandangan Mada tertidur di atas bangku panjang di rumah sakit.
Violet lalu melangkah mendekati Mada sambil melihat arlojinya, "Pantas ia sampai tertidur, dia menungguku selama empat jam sih. Dasar ngeyel" Violet berhenti di depannya Mada yang masih tertidur pulas dengan posisi terlentang. Violet memandangi wajahnya Mada dan bergumam lirih, "Dia tampan juga kalau anteng kayak gini"
Violet langsung terkesiap kala Mada membuka kedua mata dan langsung menatap Violet. Violet langsung berdeham dan mundur selangkah, memberi ruang bagi Mada untuk bangun dan duduk.
Mada menguap dan Violet terkekeh geli melihat mimik polosnya Mada saat Mada menguap. Mada menutup mulutnya dan berdiri di depannya Violet, "Ada yang lucu di wajahku? kenapa kau tertawa?"
"Kamu lucu kalau menguap. Kayak anak kucing, imut, hehehehe"
Mada mengusap puncak kepalanya Violet sambil tertawa lirih. Violet menggerakkan kedua bola matanya ke atas dan Mada langsung mengangkat tangannya sambil berkata, "Maaf, aku terbiasa begitu dengan temanku, hehehehe"
Violet memandang Mada, "Aku maafkan. Kita pergi sekarang?"
Mada menganggukkan kepalanya.
Mada menitipkan sepeda motor sport keluaran terbaru miliknya di parkiran rumah sakit dan ia menumpang di mobilnya Violet.
Mada menoleh ke Violet dan bertanya, "Kenapa kau tidak ijinkan aku yang menyetir? perjalanan kita lumayan jauh lho"
"Aku tidak bisa menyerahkan Pinky ke orang lain" sahut Violet sambil terus menyetir dan melirik sekilas ke Mada.
"Pinky? siapa pinky?" tanya Mada.
"Mobil ini. Mobil ini aku kasih nama Pinky, hehehehe. Aku beli sendiri mobil ini dari hasil keringatku sendiri. Aku memenangkan lomba science tingkat nasional, mendapatkan medali emas dan uang. Uangnya aku pakai untuk membeli mobil ini jadi aku tidak rela jika Pinky dipegang orang lain" ucap Violet bangga.
"Walaupun aku adalah temanmu sekarang, aku tetap tidak kau ijinkan memegang Pinky?" Mada tersenyum geli mengucapkan kata Pinky.
"Iya. Bahkan Mira, sahabatku yang kemarin ada di bar, dia juga nggak aku ijinkan mengemudikan Pinky, hehehehehe"
"Wah! kamu cerdas dan hebat ya" Mada memuji tulus ke Violet dan ada buliran rasa kagum di hatinya Mada akan sosoknya Violet.
Mada melirik Violet dan bergumam dalam hati, udah cantik, baik, polos, mandiri, cerdas pula. Paket komplit nih dan wangi tubuhnya, memberikan ketenangan di hatiku seperti wangi Ibu yang selama ini aku rindukan.
Violet tersenyum dan berkata, "Terima kasih"
Satu setengah jam kemudian, mereka sampai di dermaga dan segera turun dari dalam mobil dan sambil melangkah menuju ke kapalnya Mada, Violet menelepon Gasa, "Mas, aku ada medikasi di luar. Aku pulang agak malam. Kita ketemuan di mana?"
"Di restoran yang biasanya ya" sahut Gasa.
"Oke" dan klik. Violet menutup sambungan telepon itu.
Mada menoleh ke Violet, "Tunangan kamu keren ya"
Violet menoleh ke Mada, "Emangnya Kakak pernah bertemu dengan Mas Gasa?"
"Tadi di rumah sakit. Aku melihat kamu dan tunangan kamu itu. Aku lihat dia juga sangat mencintaimu" Mada berkata sambil membantu Violet naik ke atas kapal Speed boat mini miliknya.
"Iya" Sahut Violet.
"Kok jawabnya singkat gitu?" Mada mengambilkan Violet sebotol air mineral dingin saat ia melihat Violet telah duduk di bangku yang ada di buritan kapal.
"Iya gitu deh, Hehehehe" Violet menerima air mineral itu dan berucap, "Terima kasih dan duduklah di dekatku Kak! Aku akan mulai memeriksa lukamu"
Mada duduk lalu membuka kaosnya sebelum disuruh dan Violet terkekeh geli melihatnya.
Mada ikutan terkekeh dan berkata, "Aku tipe cowok peka dan romantis kok jadi, sebelum cewek itu bilang, aku udah tahu apa yang cewek itu mau, hehehehe"
__ADS_1
Violet tertawa ringan dan berkata, "Kakak pantas jadi playboy"
"Hah?! Aku?" tanya Mada.
"Hmm" sahut Violet sambil menaruh botol air mineral, menyemprot tangannya dengan hand sanitizer lalu memakai sarung tangan medis.
Mada tersenyum lebar, "Aku bukan playboy tapi aku akui, aku bukan orang suci"
Violet tersenyum, "Nggak ada orang suci di dunia ini, Kak"
Tapi bagiku, kau gadis yang suci. Batin Mada sambil terus menatap Violet yang tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk mulai memeriksa lukanya Mada.
Dokter muda nan cantik itu mulai membuka plester dan kasa steril anti air yang menempel di kulit perutnya Mada untuk memeriksa lukanya Mada, "Hmm, baik-baik saja kok. Bagus dan sudah mulai mengering" Violet berkata sambil mengganti kasa dan perban dengan yang baru. Setelah selesai, ia menembakkan Thermo Gun ke keningnya Mada lalu melihat angka yang tertera, "Tiga enam koma satu. Aman nggak demam. Dan.......sudah selesai" Violet membuka sarung tangan medisnya dan Mada membantu membuangkannya.
Mada kembali duduk di sebelahnya Violet dan Violet langsung bangkit, "Aku pulang ya Kak?"
"Tunggu!" Mada berucap dari dasar hatinya yang terdalam. Ia masih ingin mengobrol dengan Violet tapi dia tidak punya alasan untuk menahan Violet lebih lama untuk duduk dan mengobrol dengannya.
"Ada apa? mau meminjamkan sepatu sneakers lagi?" Violet tertawa ringan dan Mada langsung terbahak-bahak lalu berkata, "Kau punya selera humor yang tinggi juga ya, aku suka"
"Hmm, lalu kenapa menyuruhku menunggu? ada yang nggak beres lagi di badan Kakak?" tanya Violet.
"Aku ingin mengajakmu menyelam. Aku akan tunjukkan keindahan di dalam laut ini. Kamu bisa berenang, kan?" tanya Mada yang belum memakai kembali kaosnya.
Violet kembali duduk lalu bersedekap di depannya Mada, "Jangan aneh-aneh ya! luka Kakak masih belum kering benar dan akan sangat berbahaya kalau......."
Byuur! Mada sudah masuk ke dalam air dan Violet langsung mendelik dan terperangah, "Kak! ayo cepat naik lagi! luka Kakak masih belum........"
"Turunlah! kalau ada masalah di lukaku nanti, kan masih ada kamu. Sekarang turunlah!" teriak Mada dari dalam air dan Mada mengapung di air.
"Aku nggak bawa baju ganti" teriak Violet dari atas kapal.
Violet melepas softlens-nya, memasukannya ke dalam wadah khusus untuk softlens lalu, byuur! Violet ikutan terjun ke laut dan berdiri berhadapan dengan Mada.
Mada tertawa senang lalu ia berkata, "Pencet hidung kamu dan lihatlah ke dalam air!"
Mada duluan memencet hidungnya lalu menyelam. Violet segera mengikutinya. Violet benar-benar terpana melihat indahnya pemandangan di dalam laut padahal, mereka terhitung masih berada di pinggiran belum berada di tengah-tengahnya laut.
Beberapa menit kemudian, kepala mereka kembali menyembul ke permukaan air dan Violet tertawa riang, "Indah sekali ya Kak"
"Aku nggak bohong kan. Aku kalau suntuk suka menyelam" sahut Mada.
"Kakak kalau pagi keluyuran ya? main-main aja gitu? nggak ada kerjaan?" tanya Violet sambil mengapung di atas air.
"Aku kan kerjanya malam. Biasanya aku bangun siang jam dua belas dan berbelanja barang yang habis di bar tapi hari ini aku malas berbelanja. Mungkin efek dari obat yang aku minum, jadi bawaannya pengen merem aja, hehehehe"
"Kita naik ke kapal sekarang! harus nurut! kalau nggak nurut, aku nggak mau lagi mengobati Kakak dan nggak mau lagi jadi temannya Kakak"
Mada akhirnya menghela napas, terkekeh geli dan menuruti Violet. Mada naik ke atas kapal dan membantu Violet naik.
"Sebentar, aku ambil kaosnya" Mada kemudian berlari masuk dan menuruni anak tangga yang ada di tengah kapal dan tidak begitu lama, Mada kembali naik dan menyerahkan sebuah kaos ke Violet dan ia berkata, "Kau bisa turun ke kamarku dan ganti baju di sana"
"Apa Kakak baik-baik saja? aku rasa, lebih baik aku periksa dulu luka Kakak" Violet memandang Mada dengan penuh rasa khawatir.
"Nggak! kamu buruan ganti baju, nanti kamu malah kena flu bisa gawat. Aku bukan dokter dan nggak bisa mengobati kamu kalau kamu tepar di sini, hehehehe" sahut Mada.
Violet tersenyum lebar lalu ia turun ke kamarnya Mada dan berganti baju di sana. Roknya Mada basah, baju dalamnya pun basah. Violet menyesali keputusannya yang terjun begitu saja ke dalam air. "Aku akan keluar hanya memakai sehelai kaos ini dan tanpa pakaian dalam? Dan di atas ada seorang pria dewasa. Aduh gimana nih?" Violet mencengkeram kedua ujung kaos yang dia pakai dan mematung di dalam kamarnya Mada.
__ADS_1
Mada kemudian berteriak dari atas, "Kok lama ganti bajunya? Apa ada masalah? Aku masuk ya?"
"Jangan masuk!" teriak Violet tapi terlambat, Mada sudah turun dan berdiri di depannya Violet.
Sosok Violet dengan rambut basah terurai, memakai kaosnya yang kedodoran dan kaos itu menjadi dress pendek selutut di tubuh mungilnya Violet, dan ada bayangan yang Mada tangkap, bayangan kenyataan yang membuatnya membeku, yaitu bayangan Violet tanpa pakaian dalam. Mada merona wajahnya, berdeham dan langsung berbalik badan memunggungi Violet.
"Aku udah bilang jangan ke sini kan tadi?!" Violet ikutan. merona malu dan suasana menjadi sangat canggung.
Dengan polosnya, Violet justru berjalan mendekati Mada, menepuk pundaknya Mada dan bertanya, "Apa Kakak punya celana kolor berukuran kecil?"
Grab! Mada menyentuh tangannya Violet yang tersampir di pundaknya dan dengan pelan ia memutar badan. Ia bersitatap dengan Violet dengan jarak yang sangat dekat dan tangannya masih menggenggam tangannya Violet. Violet tanpa sadar menurunkan pandangannya untuk melihat enam kotak cantik di perutnya Mada yang tidak ia sadari sebelumnya kalau tubuh Mada atletis dan menarik untuk terus dipandang.
"Kalau kau ingin menyentuhnya, boleh kok. Toh kemarin dan hari ini kau juga sudah menyentuh perutku" sahut Mada.
"I.....itu be....beda" Jantung Violet mulai berdegup kencang.
"Apanya yang beda?" tanya Mada dengan suara parau karena, ia mulai dikuasai oleh gairah.
"Aku kemarin hanya fokus ke luka Kakak tapi saat ini, a....aku menemukan kalau tubuh Kakak sangat atletis dan........."
"Dan......." Mada menaruh tangan Violet yang ia genggam dengan tangan kirinya di atas dadanya lalu tangan kanannya mencubit dagunya Violet.
Violet bersitatap dengan Mada dan mematung.
Mada akhirnya nekat menempelkan bibirnya ke bibir Violet dan ia nekat menyapu bibirnya Violet secara perlahan saat Violet tidak mendorong dia.
Dan Mada membeliakkan matanya tersentak kaget saat ia merasakan Violet mencoba bereksperimen membalas ciumannya Mada dengan ragu namun justru hal itu membuat Mada semakin menggila. Ia segera menangkup pipi Violet, memiringkan sedikit kepala kepalanya ke kiri, membuka mulut, lalu ia memejamkan mata.
Mada dan Violet menikmati ciuman mereka dan terhanyut dalam keintiman mereka.
Itu adalah ciuman pertama bagi Violet dan tanpa Violet sadari ia memeluk Mada seraya mengelus punggungnya Mada. Mada membalas pelukannya Violet dan terus mencium Violet.. Saat ia menghentikan ciumannya, ia melihat Violet masih memejamkan mata. Lalu Mada mencoba menyentuh leher Violet, pundak Violet, bahu Violet, dan Mada melihat tubuh Violet bergetar dengan sangat hebat dan Violet mulai terisak.
Mada langsung menyesali kebejatannya yang nekat mencium Violet dan ia langsung menghentikan gerakan tangannya. Lalu ia bertanya, "Apa kau belum pernah dicium dan disentuh sebelumnya?"
Violet membuka matanya, ia menatap Mada dan Violet menggelengkan kepalanya dalam kebisuan. Mada melepaskan Violet lalu ia mundur selangkah.
Violet langsung tersadar dan merasa malu sekaligus merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia bergegas naik ke atas, menyambar semua tasnya, memakai sepatu sneakers-nya lalu berlari meninggalkan kapalnya Mada menuju ke mobilnya. Violet masuk ke dalam mobilnya, memasang sabuk pengaman dan melajukan mobilnya dengan air mata yang terus menetes tanpa bisa ia tahan.
Mada diam mematung saat ia melihat Violet berlari pergi meninggalkannya begitu saja.
Edo yang Mada tugaskan untuk mengambil gambar kebersamaannya dengan Violet secara sembunyi -sembunyi, akhirnya muncul di depannya Mada.
"Saya sudah merekam semuanya Bos. Anda hebat juga, dalam waktu singkat sudah bisa mencium gadis itu" ucap Edo.
"Berikan ponselnya!" Mada berkata dengan geram.
Edo menyerahkan ponsel yang ia genggam ke Mada dan Mada langsung mencari rekaman ia mencium Violet. Dia langsung hapus rekaman itu.
"Kok dihapus Bos?"
Mada diam saja dan berputar badan meninggalkan Edo yang masih tampak kebingungan dengan sikap aneh yang ditunjukkan Bosnya.
Mada kembali ke dalam kamarnya yang ada di dalam kapal ia berganti baju dan menemukan blus, rok, dan pakaian dalamnya Violet yang basah dan masih teronggok di lantai kamarnya. Mada memungut pakaian itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik plastik. Lalu ia mengajak Edo pergi meninggalkan kapal.
Mada mengajak Edo ke tempat laundry dan memasukkan semua bajunya Violet di sana lalu bertanya, "Kapan bisa saya ambil baju-baju ini?"
"Besok siang, sudah bisa Anda ambil" sahut pelayan laundry itu.
__ADS_1
Mada membayarnya dan masuk kembali ke dalam mobilnya. "Kita langsung ke bar saja, aku malas pulang"
"Baik Bos" sahut Edo.