
Violet berteriak di tengah deru motor yang melintasi jalan raya di pekatnya malam, "Jangan bawa aku ke rumahmu, ke hotel, atau membawaku pulang ke rumah Papaku!"
"Sial!" Mada tanpa sadar mengumpat karena dia belum kepikiran sama sekali akan membawa Violet ke mana. Ketiga tempat yang menyusup ke benaknya telah ditolak mentah-mentah oleh Violet sebelum ia sempat menawarkannya.
"Kau mengumpat padaku ya tadi? hah!" Violet memajukan kepalanya ke depan dan berteriak ke helmnya Mada.
Mada menggelengkan kepalanya yang tertutup rapat helm Ber-SNI dan tampak mahal itu. Mada lalu meminggirkan motornya sejenak dan menoleh ke belakang setelah ia mematikan mesin motornya, "Aku akan bawa kau ke peternakan kuda milik Papaku, mau? ini sudah jam sepuluh malam kamu butuh istirahat dan di peternakan kuda milik Papaku ada pondok kecil buat tidur"
"Aku mau" Violet menganggukkan kepalanya.
"Kau pakai dulu helm ini! angin malam dingin dan perjalanan kita agak jauh" Mada memakaikan helm cadangan yang ia taruh di setang sepeda motor sedari tadi dan lupa ia sodorkan ke Violet karena Violet langsung melompat ke motor tadi. Mada kemudian melepas jaket kulit berwarna hitam yang ia pakai, Dan pakai jaketku!" ucap Mada sambil memakaikan jaketnya ke tubuh Violet dan mengancingkan rapat ritsleting Jake itu sampai ke lehernya Violet.
"Lalu kau?" tanya Violet.
"Aku terbiasa keluar malam tanpa jaket. Tenang aja, aku tahan banting kayak iron man"
Violet terkekeh geli lalu Mada kembali meraung-raungkan motornya dan ia luncurkan ke jalan raya menuju ke pinggir kota ke peternakan kuda milik Papanya.
Dua jam kemudian, Mada dan Violet sampai ke peternakan kuda itu. Mada menaruh motor di dalam kandang kuda dan Violet nyeletuk, "Apa aku boleh berkuda malam ini?"
Mada menoleh kaget ke Violet, "Ini sudah jam dua belas malam Nyonya, kau tidak lelah?"
"Aku butuh pelampiasan emosi dan aku rasa aku tidak akan bisa tidur malam ini"
"Kau pernah berkuda sebelumnya?" Mada akhirnya mengalah, ia bertanya sambil melepaskan helm dari kepalanya Violet.
"Pernah. Pas aku kelas enam SD, hehehe"
Violet meringis ke Mada
"What?! itu sudah lama sekali Nyonya"
__ADS_1
"Berhenti memanggilku Nyonya! aku udah terlihat tua ya? kenapa dari tadi kau panggil Nyonya terus!" Violet membentak Mada dengan wajah kesal.
Mada.terkekeh geli dan sambil mengeluarkan seekor kuda yang tampak jinak berwarna cokelat dari dalam kandang, ia bertanya "Kalau gitu, aku masih boleh memanggilmu, Cinta?"
Violet menganggukkan kepalanya dengan rona malu di wajahnya lalu Mada segera memasang pelana kuda dan memastikannya aman. Kemudian ia mengangkat tubuhnya Violet naik ke pelana tersebut setelah itu ia segera melompat naik, duduk di belakang Violet. Mada lalu menggosok tubuh kuda itu dan berkata, "Thunder, bawa aku berkeliling malam ini!" seolah paham akan perkataannya Mada, kuda itu langsung melesat berlari menuju ke padang rumput yang berada tidak jauh dari pondok kecil dan kandang kuda milik papanya Mada.
Satu tangan menyentuh tali pengekang kuda dan satu tangan mendekap pinggangnya Violet, Mada tersenyum bahagia, dia bisa berkuda dengan Violet dan bisa mencium lebih dekat wangi rambut dan tubuhnya Violet yang begitu ia rindukan selama ini.
Mada menghentikan kudanya di bawah sebuah pohon yang besar dan berdaun lebat. Mada mengikat kudanya di batang pohon itu lalu ia menurunkan Violet dari atas pelana kuda. Mereka kemudian duduk di bawah pohon itu, di atas rumput hijau yang bersih dan indah.
Violet membuka jaket yang ia pakai, ia lepas dan ia letakkan jaket itu di samping kiri tubuhnya, di atas rumput hijau alami yang sangat indah.
Mada menoleh ke Violet, "Boleh aku bertanya?"
Violet menjawab tanpa menoleh ke Mada, "Boleh"
"Kenapa kau meneleponku dan pergi dari rumah suamimu?"
"Harusnya kau tidak keluar dari rumah suami kamu. Kau masih Nyonya di rumah itu. Kau istri sahnya Gasa. Tunjukkan kuasamu ke wanita tidak tahu malu itu!" Mada menggeram kesal.
Violet menoleh ke Mada, "Aku rasa kau benar. Tapi, aku butuh menenangkan diri dulu"
Mada melihat leher Violet penuh dengan tanda kepemilikan saat rambut violet tersibak secara alami dibelai angin malam. Mada langsung merapatkan bibirnya dan tak bisa ia pungkiri ia merasa sangat cemburu. Kecemburuan di hati Mada menggerakkan tangan Mada untuk menyentuh lehernya Violet dan mengusap pelan tanda merah keunguan di sana. Violet tersentak kaget dan secara refleks ia menoleh ke Mada.
Mada bersitatap dengan Violet dan Mada berucap dengan nada penuh kecemburuan, "Apa kau habis bercinta dengan suamimu tadi?"
Violet langsung menepis tangannya Mada dari lehernya lalu ia mengambil jaket untuk ia pakai kembali dan ia tarik ritsleting jaket itu sampai menutupi lehernya. dan ia membisu di depan Mada yang masih menatapnya lekat.
"Apa kau mencintai Gasa?" tanya Mada.dengan wajah datar dan nada suara yang masih berbalut kecemburuan.
"Entahlah"
__ADS_1
"Dan aku? Apa kau masih mencintaiku?" tanya Mada.
"Entahlah"
"Cinta, kau harus tegas dengan perasaanmu!" Mada tanpa sadar meninggikan nada suaranya di saat kecemburuan sudah menguasai hatinya secara mutlak.
Violet seketika itu berdiri lalu melengkingkan suaranya, "Aku tidak bisa tegas dengan perasaanku karena, aku ini tidak pantas dicintai oleh siapa pun"
Mada berdiri dan memegang kedua bahunya Violet, "Jangan berkata seperti itu! Kau paling pantas untuk aku cintai dan hanya kau yang........."
"Aku tidak bisa hamil. Aku sudah menikah dengan Mas Gasa selama satu tahun lebih lima bulan tapi, aku belum bisa hamil juga" Violet mulai menundukkan wajahnya dan menangis pilu.
Mada langsung menarik tubuh Violet masuk ke dalam kehangatan tubuhnya. Ia peluk erat Violet sambil berkata, "Apa kau sudah periksa?"
Violet menggelengkan kepalanya. Mada menunggu Violet tenang sambil terus menepuk-nepuk pelan punggungnya Violet. Setelah Violet sedikit tenang, ia mendorong pelan tubuhnya Violet untuk ia tatap kedua bola mata indahnya Violet, "Pernikahanmu masih terlalu dini untuk mengatakan kalau kamu tidak bisa hamil. Lagian kamu belum periksa kesehatanmu, kan?"
"Aku takut periksa. Aku takut kecewa" sahut Violet sambil berkali-kali menghela napas pendek untuk meredakan sisa isak tangisnya.
"Ada aku. Aku akan menemani periksa nanti dan percaya padaku, aku yakin kau baik-baik saja dan bisa hamil"
Violet lalu menundukkan wajahnya. Mada mencubit dagunya Violet, mengangkatnya sedikit dan ibu jarinya menyentuh bibirnya Violet yang masih bergetar menahan tangis. Mada mengusap bibirnya Violet berulangkali sementara bola matanya mengikuti setiap gerakan lembut ibu jarinya.
Kemudian Mada bergerak berdasarkan insting semata, ia merendahkan kepalanya dan mencium bibirnya Violet. Ciumannya Mada halus, lembut, dan menghibur. Namun tertanam sepenuhnya pada bibirnya Violet. Mada kemudian menggosok mulutnya yang sebagian terbuka ke bibirnya Violet dan membuat Violet segera memagut bibirnya Mada. Mada dan Violet berciuman dengan sensual, intim, dan menggairahkan dengan lidah yang saling bertemu.
Mada dengan pelan merebahkan Violet di atas hamparan rumit hijau dan mereka terus berciuman dengan intim dan sambil berguling ke sana kemari di atas stepa.
Dada Violet menggelenyar indah saat tangan Mada menyusup masuk dan memberikan sentuhan hangatnya. Mada terus mempertemukan lidahnya dengan lidahnya Violet sementara tangannya bermain-main di titik kenyal yang membuat Violet merasakan sensasi menggairahkan menusuk langsung sampai ke bagian bawah tubuh Violet. Mada mencumbunya dengan indah sehingga mampu membuat Violet bersikap submisif. Berbeda dengan suaminya yang selalu dominan di atas ranjang.
Mada berhenti berguling dan memposisikan Violet rebah di bawah kungkungannya. Lalu ia menarik bibirnya. Dia jejakkan kedua telapak tangannya di atas rumput di samping kedua sisi kepalanya Violet. Ia menatap Violet dengan manik cokelatnya yang tampak sedikit menggelap karena tersapu kabut gairah. Dan Violet membuka kedua matanya saat Violet merasakan ciuman yang memabukkan baginya terhentikan. Violet menatap kedua manik unik miliknya Mada dengan wajah penuh tanda tanya.
Mada tersenyum ke Violet, "Aku ingin menyatu denganmu, sungguh sangat ingin menyatu denganmu" Suara Mada parau dan napasnya masih menderu karena gairah lalu ia kembali berucap, "Tapi nanti di ranjang pengantin kita. Bukan di Padang rumput seperti ini. Aku memang pernah menikah tapi pernikahanku hanya di atas surat dan di sisa umurku ini, aku hanya ingin menyatu dengan satu wanita saja untuk selama-lamanya dan wanita itu kamu"
__ADS_1