
Mada bergegas masuk ke dalam rumah dan ia berpapasan dengan Galvin. Galvin ikutan berlari kecil saat ia melihat Mada berlari kecil dan tampak terburu-buru untuk masuk ke dalam rumah.
Mada menoleh ke Galvin dengan masih berlari kecil, "Kenapa kau ikutan lari?"
"Lalu kenapa kau lari?" Galvin balik bertanya.
"Aku ingin segera memandikan Vio" sahut Mada dengan wajah penuh senyum dan Galvin langsung mencekal lengannya Mada untuk menghentikan laju larinya Mada. Galvin dan Mada lalu saling berhadapan, "Aku tanya sebagai sesama cowok dan sebagai seorang dokter kejiwaan jadi, jangan berpikiran ke mana-mana"
"Hmm, buruan cepat nanya!" ucap Mada sambil melihat ke lantai dua rumah megah itu.
"Apa kau pernah melihar Vio tanpa busana sebelumnya?" tanya Galvin serius.
Mada menggelengkan kepalanya, "Aku selalu menghormati Vio dan selama kami berpacaran dulu, kami hanya sebatas berciuman"
"Dan kau tidak terganggu melihat Vio tanpa busana saat kau memandikannya?" tanya Galvin.
"Kenapa aku harus terganggu? Aku hanya fokus membuat istriku bersih, wangi, rapi dan selalu tampak ayu" sahut Mada sambil mengerutkan dahinya.
__ADS_1
Galvin langsung meletakkan telapak tangannu di keningnya Mada sambil berucap, "Aku rasa aku butuh untuk memeriksa kejiwaan kamu dan memeriksa apa kau masih pria yang normal"
Mada langsung menepis tangannya Galvin dari keningnya sambil melepas kata, "Apa sih? dasar gila! Kau lama-lama ketularan pasien kamu sepertinya. Menjadi gila, pppffttt" setelah berucap, Mada segera melesat meninggalkan Galvin yang langsung berteriak, "Hei Mada! kau yang gila, dasar sial! hei! apa yang kau genggam itu?!"
Mada berlari menaiki anak tangga dan menoleh ke bawah dan berteriak ke Galvin, "Rahasia!"
Galvin masih melihat ke atas mengikuti arah perginya Mada sambil melipat tangan lalu ia bergumam, "Dia benar-benar pra langka dan Vio beruntung bertemu dengannya"
Mada membuka pintu kamarnya tanpa mengetuk dan terkejut saat ia melihat Lili, Mama mertuanya ada di dalam kamarnya dan tengah mengusap jari manisnya Vio sambil berjongkok.
"Ma, Maaf Mada tidak tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Mada tidak tahu kalau Mama ada di dalam" Mada berdiri tidak jauh dari Lili dan masih menggenggam kotak perhiasan yang berisi sepasang cincin pernikahan.
Lili menatap Mada dan mengulas sebuah senyum lalu ia berdiri. Kemudian Lili menunjukkan sebuah cincin yang berhasil ia lepas dari jari manisnya Violet, "Mama melepas cincin nikahnya Vio dan Gasa karena, di cincin ini ada ukiran namanya Gasa dan Vio, juga tanggal pernikahan mereka. Mama akan menjual cincin berlian ini dan uangnya akan Mama sumbangkan ke yayasan pendidikan anak-anak jalanan di danau biru milik neneknya Violet"
"I...itu cincin berlian?" tanya Mada sambil memasukkan tangannya yang masih menggenggam kotak perhiasan ke dala. saku celana kainnya.
"Iya. Kenapa emangnya?" tanya Lili.
__ADS_1
Mada terdiam dan menatap Lili selama beberapa detik karena, ia merasa ragu dan malu untuk memperlihatkan cincin yang ia beli namun, ia juga ingin memperlihatkan keberadaan cincin itu ke Mama mertuanya.
"Mada ada apa? katakan saja apa yang ingin kau katakan! jangan sungkan sama Mama!" Lili kembali bertanya.
Mada menghela napas panjang dan menarik tangannya dari dalam saku celana kainnya dan menunjukkan kotak perhiasan di depan Lili, "Saya membeli cincin pernikahan tapi, bukan berlian Ma karena, saya belum memiliki cukup uang untuk membeli sepasang cincin berlian. Maafkan saya, Ma!"
Lili tersenyum lebar dengan genangan air mata di kedua pelupuk matanya, "Mada, jangan terbebani dengan cincin berlian. Vio akan lebih senang memakai cincin dari kamu karena, ia mencintai kamu dan cincin itu kau beli dari hasil jerih payah kami sendiri" Lili lalu menepuk pundaknya Mada, "Mandikan istri kamu dan pasangkan cincinnya" Lili lalu melangkah keluar dari meninggalkan Mada.
Mada tersenyum bahagia mendengar kata-kata yang diucapkan oleh mama mertuanya. Mada langsung meletakkan tas kerja dan kasnya di atas Sofia lalu ia menggulung lengan kemejanya sampai ke siku sambil berjalan mendekati Violet. Mada duduk di tepi ranjang dan sambil membuka dressnya Vio, ia berucap, "Setelah ini aku akan pasangkan cincin nikah kita. Tapi maaf ya, aku lupa mengukir nama dan tanggal pernikahan kita di cincin ini karena tergesa-gesa tadi. Nanti aja ya setelah kamu bangun, kita bersama-sama pergi mengukir nama kita di cincin ini" Mada lalu bangkit untuk menaruh baju kotornya Vio ke ranjang khusus untuk baju kotor dan ia mencuci tangannya di wastafel.setelah ia menyelimuti Vio.
Kemudian Mada mengambil Baskom dan ia isi dengan air hangat lalu ia mengambil waslap yang masih bersih di laci di bawah wastafel, laci khusus untuk handuk kecil.
Beberapa menit berikutnya Mada sudah mulai mengelap wajah ayunya Violet, lalu turun ke lehernya Violet sambil bercerita, "Aku memenangkan pertandinganku yang kedua di pengadilan tadi setelah kasus Gasa dan aku senang banget Cinta. Emm, setelah kamu selesai mandi, aku akan membacakan novel Pada Sebuah Kapal kesukaanmu. Namun, aku lihat endingnya sangat menyedihkan. Apa kau sudah baca novel itu sampai selesai?" Mada berucap sambil membalikkan badan Vio dengan pelan untuk mengelap punggungnya Vio. Setelah itu ia meraih handuk kering untuk mengelap punggungnya Vio dan mengelap seluruh badannya Vio.
Langkah berikutnya, Mada menaburkan bedak harum ke ketiaknya Vio yang sangat mulus tanpa adanya bulu di sana dan ketiak itu putih hingga membuat Mada bergumam, "Kau tahu Cinta, kau punya ketiak yang sangat indah" lalu ia menaburkan bedak wangi itu ke perut dan punggungnya Vio. Setelah itu, ia memakaikan dress dengan sangat hati-hati. Mada lalu mengelus pipinya Violet , "Kau sudah wangi dan cantik sekarang. Emm, aku mandi dulu ya" Mada mengecup keningnya Violet lalu bangkit sambil membawa baskom, waslap dan handuk berukuran sedang ke kamar mandi. Setelah menaruh handuk dan waslap ke keranjang baju kotor dan membersihkan baskom, barulah Mada mandi.
Mada memang tipe orang detail, segala sesuatunya harus detail.
__ADS_1
Mada keluar dari dalam kamar mandi dengan terus mengulas senyum dan kembali duduk di tepi ranjang. Lalu ia meraih kotak perhiasan yang ia letakkan di atas nakas. Ia mengeluarkan cincin dan ia pasangan ke jari manis tangan kananya Violet lalu ia cium jemarinya Vio dan berucap, "Cincin ini tampak semakin cantik jika melekat di jari manismu ini"
Mada lalu meletakkan tangan Vio di atas pangkuannya lalu ia memasang sendiri cincinnya di jari manis tangan kanannya. Mada lalu menautkan kedua tangan kanan mereka dan memandang kedua cincin yang sudah melingkar di kedua jari manis mereka lalu tersenyum penuh cinta dan bergumam, "Indah seperti cinta kita berdua"