The Thing About Violet

The Thing About Violet
Fang Yin Mulai Beraksi


__ADS_3

Liu Yin terlihat kecewa saat melihat yabg masuk ke ruangannya bukanlah Johny Prastowo (nama samarannya Mada Goh) melainkan Deo. Deo yang bertugas mengantarkan kopi ke ruangannya CEO di pagi itu.


Liu Yin mengangkat wajahnya dan bertanya saat Deo menaruh nampan kopi di atas meja kerjanya, "Di mana Johny?"


Deo yang masih meriang setelah berciuman kembali dengan satpam wanita yang rutin memeriksanya di pagi hari, balik bertanya, "Siapa Johny?"


Liu Yin langsung mengerutkan keningnya, "Lho? Johny Prastowo kan teman kerja kamu? kok kamu nggak tahu kalau......"


"Oh!" Deo langsung menepuk jidatnya ketika ia mulai tersadar dari kebodohannya lalu kembali berkata, "Maaf, saya kemarin lembur jadi hari ini otak saya tidak bekerja dengan baik dan Anda benar, Madam. Johny Prastowo adalah teman kerja saya" sahut Deo sambil mengelus tengkuknya.


Melihat Deo mengelus tengkuknya, Liu Yin teringat tato di tengkuknya Mada yang bergambar lumba-lumba dan bertuliskan cinta. Hal itu menggelitik Liu Yin untuk bertanya, "Apa kau juga punya tato lumba-lumba bertuliskan cinta di tengkuk kamu?"


"Hah?" Otak Deo yang masih membeku karena gairah yang ditimbulkan oleh satpam wanita di beberapa menit sebelumnya, membuat Deo tidak bisa segera menangkap maksud dari lawan bicaranya.


"Tato lumba-lumba bertuliskan cinta ada di tengkuknya Johny Prastowo teman kerja kamu, kan? Apa kamu juga lupa akan hal itu?"


"Oh iya, benar! hahahaha. Iya ada tato di tengkuknya Ma.....eh maksud saya Johny. Tapi, itu hanya ada di tengkuknya Johny, di tengkuk saya nggak ada, Bu. Nih, Anda lihat sendiri! nggak ada tato kan di tengkuk saya" Deo memperlihatkan tengkuknya ke Liu Yin.


"Tato itu spesial buat Johny ya?"


"Iya! Sangat spesial. Tato itu melambangkan cintanya yang begitu dalam pada wanita yang sangat ia cintai" sahut Deo.


Liu Yin meletakkan pulpennya dan terdiam selama lima menit. Membuat Deo merasa canggung. Lalu Liu Yin mengeluarkan kata, "Oke, kau boleh keluar"


Deo pun menganggukkan kepalanya lalu keluar dari ruangannya Liu Yin.

__ADS_1


Liu Yin kemudian berpangku dagu dan melamun. Dia mempertanyakan apa yang ada di hati dan benaknya. Dia terus memikirkan Johny Prastowo. Kebersamaannya dengan Johny Prastowo selama satu bulan lebih, membuatnya merasa ada gelitikan-gelitikan aneh di hatinya dan jantungnya sering berdebar tanpa alasan yang jelas setiap kali ia mendengarkan guyonan recehannya Johny Prastowo dan tawa merdunya Johny Prastowo.


Liu Yin langsung menepuk jidatnya dan sambil bergumam, "Aku pasti sudah gila jika aku menyukai seorang OB yang sudah memiliki kekasih" ia kembali memegang pulpennya dan kembali bekerja.


Sementara itu, Johny Prastowo alias Mada Goh yang tengah dirindukan oleh Liu Yin, mulai sibuk menggeluti kasus salah satu kliennya dan mulai sibuk bolak-balik ke persidangan.


Fang Yin meradang di tempat persembunyiannya. Fang Yin ternyata berada di salah satu tempat terpencil di Jepang. Fang Yin meradang di saat ia mendengar kabar bahwa putranya yang sesungguhnya ia cintai namun, tidak bisa ia asuh sedari kecil yakni Gasa, dipenjara di sebuah rumah sakit jiwa.


Fang Yin memanggil semua tim-nya untuk merancang rencana, membebaskan Gasa dari penjara rumah sakit jiwa tersebut. Dan dari rapat dadakan yang Fang Yin selenggarakan di hari itu, telah menemukan semua cara yang sangat gila bagi orang pada umumnya.


Sementara itu Violet bekerja dengan tidak tenang. Seberapa kerasnya ia berkonsentrasi penuh pada keluhan semua pasien yang menemuinya, tetap saja Violet merasakan tidak bisa maksimal mempekerjakan otaknya secara total. Violet merasakan pening dan meminta kelonggaran waktu untuk beristirahat selama satu jam di pukul sebelas siang.


Dokter Bayu yang juga kebetulan berdinas di rumah sakit yang sama dengan Violet segera.dihubungi oleh perawat yang bertugas menjadi asistennya Violet di hari itu.


Dokter Bayu langsung membuka pintu ruang prakteknya Violet dan langsung panik melihat Violet berbaring di atas ranjang dan terus memijit pangkal hidungnya, "Ada apa? apa yang kau rasakan, adik cantikku?" tanya Dokter Bayu sambil meletakkan stetoskopnya ke perut buncitnya Violet. Kemudian Dokter Bayu berkata, "Syukurlah janin di perut kamu, baik-baik saja. Dan bagaimana denganmu, apa yang kau rasakan?"


"Entahlah Kak, eh Dok......."


"Kau boleh memanggilku Kak di sini" sahut Dokter Bayu dengan senyum lebar di wajah tampannya.


Violet tersenyum tanpa melepaskan pijatannya di pangkal hidungnya. Kemudian putri tunggalnya Elmo Elruno itu berkata, "Aku tiba-tiba diserang rasa pening yang sangat hebat"


Dokter Bayu mulai memeriksa Violet mulai dari mengecek suhu tubuhnya Violet dan ia bernapas lega saat ia melihat suhu tubuhnya Violet normal dan tekanan darahnya Violet pun normal. Lalu Dokter muda yang masih lajang itu memasukkan stetoskopnya ke dalam saku jas putih dinasnya, melipat tangan dan menatap Violet, "Apa yang kau pikirkan?"


"Hah? aku nggak memikirkan apapun" sahut Violet dengan masih memejamkan kedua matanya karena, ia takut Dokter Bayu akan menangkap kebohongan di kedua bola matanya jika ia bersitatap dengan dokter muda yang dia panggil dengan Kak, itu.

__ADS_1


"Bohong. Aku menemukan kalau pening yang kamu alami adalah gejala stres karena, semuanya normal di badan kamu" sahut Dokter Bayu. "Jujurlah! hanya ada kita berdua saat ini dan........"


"Aku tertekan dengan kondisi suamiku yang tidak kunjung membaik. Suamiku masih dipenjara di rumah sakit jiwa dan rumah suamiku tidak laku juga aku jual. Papaku tidak mau membelinya karena, Papaku trauma dengan kejadian yang beliau lihat di rumah itu. Dan aku juga syok, istri kedua suamiku akhirnya meninggal dunia" sahut Violet.


"Hanya itu?" tanya Dokter Bayu sambil duduk di tepi ranjang.


Violet masih memejamkan kedua matanya dan menganggukkan kepalanya. Violet tidak sanggup menceritakan soal Mada Goh, kekasih rahasianya yang sebenarnya masih sangat ia cintai namun, tidak boleh ia cintai.


Dokter Bayu menghela napas panjang lalu berkata, "Aku akan beli rumah suami kamu itu jika bisa meringankan stres yang kamu derita. Karena bagiku, kesehatan kamu dan janin kamu sangat penting. Aku nggak ingin kamu kenapa-kenapa"


Violet langsung membuka kedua kelopak matanya yang berbulu lentik alami dan sangat indah dipandang itu.


Dokter Bayu terkekeh geli melihat ekspresi kagetnya Violet, lalu ia berkata, "Aku serius. Berapa pun harganya, akan aku bayar"


"Benarkah?" Violet langsung duduk dan bersila di atas ranjang.


"Hmm" Dokter Bayu tersenyum tulus.


"Bayar aja yang kakak punya. Baya aja berapa pun, Kak. Asal rumah itu laku" sahut Violet.


"Hahahaha, mana boleh begitu. Rumah suami kamu aku lihat sangat besar, luas dan mewah. Aku nggak berani membayarnya dengan harga asal-asalan"


Violet dengan polosnya menggenggam tangannya Dokter Bayu, "Aku serius. Bayar aja sesuai dengan kantong Kakak saat ini. Aku rela, beneran, serius!"


Dokter Bayu menunduk untuk melihat tangan Violet yang menggenggam tangannya. Baru pertama kalinya Dokter Bayu merasakan tangannya digenggam Violet. Ada getaran aneh di sekujur tubuhnya dan jantungnya mulai berdegup kencang. Lalu dokter muda yang memiliki wajah penuh simpati dan lembut itu mengalihkan pandangannya ke wajah Violet yang berjarak sangat dekat dengan wajahnya, deg, deg, deg..............

__ADS_1


__ADS_2