The Thing About Violet

The Thing About Violet
Harapan Baru.


__ADS_3

Violet memanggil Mada untuk mendekat saat ia melihat Mada kesulitan memasang dasi. "Duduklah di dekatku, Mas!" Violet menepuk kasur.


Mada menoleh, menenteng dasi polos berwarna biru tua, lalu melangkah mendekati Violet dan duduk di tepi ranjang.


Violet mengambil dasi yang masih menggantung di dalam genggaman tangannya Mada. Lalu ia mulai duduk tegak dan memasangkan dasi itu di kerah kemejanya Mada sambil bertanya, "Jadi, selama ini Mas nggak bisa memasang dasi?"


Mada memamerkan deretan gigi putih nan rapinya di depan istri cantiknya lalu berucap, "Aku kan semula.seorang bartender jadi, ya nggak bisa pakai dasi"


"Lalu siapa yang biasanya memasangkan dasi?" tanya Violet sambil mengelus dasi gang sudah terpasang sempurna di kerah kemejanya Mada.


"Kolegaku"


"Cewek?" Violet melipat tangan dan menatap tajam kedua bola mata berwana cokelat milik suaminya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Cowok dong. Mana mungkin aku biarkan seorang cewek melingkarkan tangannya ke leherku. Kenapa, cemburu ya?" Mada menyentil pucuk hidungnya Violet.


Violet masih mengerucutkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya.


Mada mengecup keningnya Violet lalu ia menempelkan keningnya di kening istrinya dan berkata, "Aku pengen berduaan terus sama kamu sepanjang hari ini. Aku malas berangkat kerja"


Violet mendorong dadanya Mada lalu menangkup kedua pipinya Mada, mencium bibirnya Mada dan berkata, "Aku udah kasih ciumanku. Sudah bersemangat kan sekarang?"


Mada tersenyum lebar lalu mengusap rambutnya Violet, "Terima kasih kau sudah hadir di hidupku. Aku sangat mencintaimu. Aku kerja dulu, ya? telepon aku di jam makan siang kalau aku lupa meneleponmu, oke? Dan maaf, aku udah hampir telat jadi, nggak bisa menemanimu sarapan"


"Nggak papa buruan berangkat gih! Aku akan telepon kamu pas jam makan siang, nanti" Violet tersenyum penuh cinta ke suami tampannya.

__ADS_1


Mada lalu bangkit dan keluar dari dalam kamarnya dengan berjalan mundur dan terus memberikan. senyuman penuh cinta ke istri tercintanya. Violet tertawa ringan dan merona malu melihat tingkah konyolnya Mada itu.


Sepeninggalnya Mada, Violet mencoba untuk bangkit tapi kembali terjatuh di atas kasur karena, kepalanya ternyata masih terasa sangat pening. Lili masuk ke dalam kamar putrinya dan langsung membantu Violet merebahkan diri di atas bantal, "Kenapa nggak pencet intern phone dan manggil Mama?"


"Vio ingin mencoba jalan, Ma. Tapi, ternyata belum bisa, hehehehe"


"Kamu mau ke mana emangnya?"


"Mandi dong" sahut Violet.


"Kalau gitu, ayok Mama papah ke kamar mandi, pegang bahu Mama dan kita jalan pelan ke kamar mandi" Vio menuruti kata Mamanya dan dia merasq bahagia saat ia kembali bisa merasakan guyuran air hangat dari shower, seluruh tubuhnya langsung merasakan kesegaran dan semangat baru setelah diguyur air hangat. Violet mandi dengan senyum yang terus terulas di wajah putih bersihnya saat ia mengingat semua perhatiannya Mada dan ia merasa sangat bersyukur, akhirnya ia dan Mada bisa menjadi sepasang suami istri. Vio lalu menatap cincin yang melingkar di jari manis kanannya. Ia sentuh cincin itu dan bergumam, "Aku tahu ini bukan cincin berlian. Tapi, cincin ini adalah cincin paling indah yang pernah aku pakai" Violet lalu mencium cincin itu dan kemudian berkata, "Terima kasih, Mas Mada untuk cintamu yang kurasakan begitu indah dan hangat"


Sementara itu, di sebuah kediaman yang mirip dengan sebuah kastil di pulau pribadi sebelah Utara kota Tiongkok, seorang wanita paruh baya yang cantik karena polesan, melangkah masuk ke dalam sebuah kamar. Dia bersitatap dengan pria yang berbaring di atas kasur dengan infus di tangan.


"Kau sudah sadar ternyata?" tanya wanita paruh baya yang memiliki nama Fang Yin.


Wanita yang memiliki nama Fang Yin itu, duduk di tepi ranjang lalu ia mengelus pipi kiri pria itu, "Aku Mama kamu. Mama kandung kamu"


Pria itu langsung bangun dan langsung meringis saat pening di kepalanya menyerang dia. Pria itu lalu bersandar ke ranjang dengan masih menatap wanita paruh baya yang mengaku sebagai mama kandungnya.


"Kau pusing ya, Nak? ini sarapan dulu lalu kau minum obat kamu, ya? Mama suapi ya?"


Pria itu terus menatap wanita yang mulai menyuapinya.


"Jangan menatap Mama seperti itu! katakanlah sesuatu! Walaupun itu kata-kata makian, mama akan terima karena, Mama memang bersalah padamu" ucap Fang Yin sambil terus menyuapkan bubur ke pria yang masih bersandar di ranjang itu.

__ADS_1


Namun, pria itu masih bergeming.


"Maafkan Mama, Mama baru bisa menemuimu. Maafkan Mama, Mama meninggalkanmu di panti asuhan karena, saat itu Mama berada di penjara jadi, Mama pikir panti asuhan jauh lebih baik untukmu dibesarkan daripada penjara dan di saat Mama keluar dari penjara, Mama kalah cepat dengan keluarga Aefar dan.........."


"Kalau kau tahu aku dibawa oleh keluarga Aefar kenapa kau tidak mengambilku, tidak memperjuangkanku? dasar brengsek!" Pria.itu akhirnya mengeluarkan kata-kata dengan wajah dingin penuh amarah.


"Karena Mama pikir, keluarga Aefar yang kaya raya, lebih pantas membesarkanmu daripada Mama yang waktu itu masih belum punya tempat tinggal dan pekerjaan tetap. Dan di saat Mama sudah sukses, sudah bisa berdiri tegak, Mama ingin menemuimu tapi, kemudian sesuatu terjadi dan Mama harus menyembunyikan diri Mama sampai sekarang ini. Mama memutuskan untuk membawa kamu saat Mama tahu, kamu dipenjara di rumah sakit jiwa dan Mama tidak bisa melihatmu berada di tempat seperti itu. Itulah kenapa Mama kemudian membebaskanmu dari sana"


Pria itu lalu menangis sesenggukkan di depan wanita yang adalah Mama kandungnya. Mama yang selama ini dia rindukan dan ingin ia jumpai. Fang Yin akhirnya ikut menangis kemudian dia memeluk putranya yang sudah berumur tiga puluh tahun lebih itu dengan penuh kasih dan kerinduan. Putra yang hanya ia peluk sekali saat putranya itu terlahir ke dunia yang kejam ini, akhirnya bisa ia peluk kembali setelah terpisah selama tiga puluh tahun lebih.


Ibu dan anak itu twrus berpelukan sambil menangis untuk melepaskan segala macam rasa yang ada di hati mereka.


Sementara itu, Mada mendapatkan beberapa kali pujian terkait dengan dasinya. Hampir semua koleganya menyapa Mada, "Wah! akhirnya kau bisa memakai dasi sendiri, ya?"


Mada mengelus dasinya dan dengan senyum bangga ia berkata, "Istriku yang memakaikannya"


"Hah?! istri? Kapan kau menikah, kenapa nggak mengundang kami?" sahut koleganya Mada yang mengenakan kemeja biru.


Mada nyengir seperti seekor kuda lalu ia berkata, "Maaf semuanya dadakan dan ......."


"Wah! kau hebat Mada, masih muda udah berani menikah bahkan di awal karier kamu yang masih menanjak ini" sahut koleganya Mada yang mengenakan kemeja hijau pupus.


"Karena, istriku sangat cantik dan sangat cerdas. Dia bibit unggul dan memiliki banyak penggemar jadi, aku langsung menikahinya saat kesempatan itu ada di depan mataku. Aku sangat mencintainya dan nggak ingin dia lepas dari genggamanku lagi"


"Wah! so sweet" sahut koleganya Mada yang mengenakan kemeja cokelat muda.

__ADS_1


Mada tersenyum lebar ke semua koleganya dengan wajah penuh dengan harapan baru.


__ADS_2