
Tepat jam lima sore, Mada bangun, ia mengambil baskom di kamar mandi, mengisinya dengan air hangat, lalu mengambil waslap bwrsih dari laci khusus untuk handuk kecil. Dia membawa baskom berisi air hangat dan waslap untuk mengelap tubuh istrinya.
Perawat masuk begitu saja karena, Mada memang sengaja membuka pintu kamar lebar-lebar agar supaya, kamar pengantinnya tidak terasa pengap dan berbau lembab. Kamar pengantin itu tidak berhiaskan bunga nan cantik tapi, berhiaskan selang infus dan alih-alih berbau harum, justru yang tercium aroma desinfektan dan obat-obatan.
Mada menoleh ke perawat yang masuk dan berkata, "Mulai hari ini, tiap pagi dan sore hari, saya yang akan memandikan istri saya"
"Tapi Tuan, itu adalah tugas dan kewajiban saya sebagai perawat dan........"
"Saya yang menginginkannya. Anda bisa kembali nanti. Saya akan memandikan istri sqya yang sangat cantik ini dulu" sahut Mada sambil mulai mengelap wajah Violet, leher, dada dan terus turun sampai ke ujung kaki"
Perawat itu melihat ketelatenannya Madw dan tanpa ia sadari ia meneteskan air mata lalu berlaku pergi meninggalkan kamarnya Violet karena merasa tidak tega untuk terus berada di kamar itu, melihat kasih sayang yang tulus yang Mada berikan ke istrinya.
Mada membalikkan pelan tubuh istri tercintanya, untuk mengelap punggung Violet. Kemudian ia keringkan seluruh tubuh istrinya dengan handuk kering dan ia taburi tubuh istrinya dengan bedak yang wangi lalu ia pakaikan dress bermotif bunga-bunga kecil berwarna cerah dengan pelan dan penuh kehati-hatian ke tubuh istrinya. Mada kemudian menyisir rambutnya Violet. Setelah selesai, ia mencium keningnya Violet lalu menegakkan kembali wajahnya, tersenyum menatap wajah ayu alaminya Violet dan berkata, "Selamat pagi Cintaku. Kau sudah wangi dan cantik sekarang ini. Kau paling benci kalau badanmu bau asem, kan? hehehehe. Aku akan bekerja tapi, nanti sore kita akan bertemu lagi. Aku mencintaimu"
Mada lalu bangkit, membawa baskom dan waslap ke kamar mandi, sekalian ia menyegarkan badannya di bawah guyuran air hangat.
Madq keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap. dia kembali mencium kening Violet lalu melangkah keluar dari dalam kamar tanpa lupa meraih tas kerjanya.
Kedua Perawat yang ditugaskan untuk menjaga dan merawat Violet melihat Mada keluar dari dalam kamar, maka kedua perawat itu bergegas masuk ke dalam kamarnya Violet tanpa diperintah dan mulai memeriksa semua alat medis yang terpasang di badannya Violet dan perawat yanh satunya lagi, memeriksa kondisinya Violet.
__ADS_1
Mada bergabung di meja makan dan menyapa Mama dan Papa mertuanya.
Elmo dan Lili membalas sapaannya Mada Goh dengan penuh ucapan rasa syukur. Elmo kemudian berkata setelah ia melihat Mada duduk di depan dia dan Lili, "Aku sudah menghubungi Deo dan mengirimkan orang u tuk membantu Deo di sana. Dan terima kasih kau memutuskan untuk mendampingi Violet di masa sulitnya alih-alih meneruskan penyamaran dan penyelidikanmu ataa kasi pembunuhan yang merenggut nyawa Mama Kamu, Diana Prastowo"
"Karena, saya yakin Mama saya pun akan menyuruh saya menjaga Violet alih-alih membahayakan diri saya untuk terus mengejar pembunuh Mama saya. Saya tidak ingin menempatkan diri saya ke dalam bahaya lagi karena, sekarang ini saya sudah memiliki istri dan calon anak dan kesehatan Violet lebih penting di atas segala-galanya bagi saya" Kesungguhan terdengar di nada bicaranya Mada.
Elmo dan Lili tanpa sadar, menitikkan air mata.dan kemudian berucap secara kompak, "Terima kasih banyak, Mada"
"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi tugas dan kewajiban saya sebagai suaminya Violet" Mada melempar senyum tulus ke Elmo dan Lili
"Sekarang ini, kami berdua adalah Mama dan Papa kamu juga. Kau bisa memanggilku Mama dan memanggil Papanya Violet, Papa!" sahut Lili sambil mengusap air matanya.
"Baik, Ma, Pa" Mada menatap Elmo dan Lili dengan sorot mata penuh kasih yang tulus dan Elmo bisa merasakannya.
Mada bisa merasakan kalau Ratna beberapa kali melihat ke arahnya. Mada menghela napas lalu melirik ke Ratna sembari terus fokus mengemudikan mobilnya, "Katakan saja apa yang ada di benakmu! Daripada kau terus menerus mencuri pandang ke aku. Aku bisa Ge-Er lho" Mada terkekeh geli.
Ratna langsung menepuk bahunya Mada dan berkata, "Hatiku udah jadi miliknya Galvin"
"Iya aku tahu. Aku cuma bercanda. Katakan apa yang ingin kau katakan!" sahut Mada sambil kembali melirik Ratna.
__ADS_1
Ratna kembali menoleh ke Mada, "Emm, aku cuma ingin memastikan kau baik-baik saja"
"Aku baik-baik saja. Aku tidak merasakan terbebani jika itu yang ingin kau ketahui. Aku justru merasa lega, bersyukur dan sangat bahagia karena, akhirnya, aku bisa menikah dengan Violet dan bisa berada di sampingnya sebanyak yang aku mau" sahut Mada sambil memberikan senyum lebar sekilas.
ke Ratna karena, ia harus kembali menatap ke depan dan fokus mengemudi.
Ratna bisa mendengar ada kejujuran dan nada bicaranya Mada. Gadis manis kekasihnya Galvin itu juga bisa melihat keseriusan di sorot mata dan senyumannya Mada. Tapi, dia tetap tergelitik untuk bertanya, "Tapi, istrimu tidur panjang saat ini. Entah sampai kapan kondisi istri kamu akan seperti ini? kalau misalnya titik terburuknya, kondisi istri kamu tidak pernah sadar kembali apa yang akan kau lakukan?"
Mada melirik Ratna dengan senyum di wajahnya dan berkata dengan tegas, "Aku akan tetap di sisinya sampai maut memisahkan kami"
"Hah?! kau gila Mada! dan ........"
"Bukankah Cinta itu tidak pernah berlogika dan cenderung penuh dengan kegilaan?" sahut Mada.
"Iya tapi, tidak segila cinta yang kamu miliki" sahut Ratna.
"Jangan pedulikan aku. Aku yakinkan ke kamu kalau aku baik-baik saja dan aku sangat bahagia saat ini dan untuk selama-lamanya, aku akan tetap baik-baik saja dan bahagia. Dan kau tahu, sejak berada di sampingnya Violet aku tidak pernah mengalami mimpi buruk lagi dan tidak mengalami insomnia lagi" sahut Mada.
"Yeeaaahh! Kau memang gila sedari dulu" sahut Ratna dan disambut tawa renyahnya Mada.
__ADS_1
Elmo Elruno mendatangi kediamannya Ivan Gih dengan dikawal dua unit mobil Van yang berisi anak buah kepercayaannya. Ivan Goh menyambut kedatangannya Elmo dengan damai. Kedua laki-laki yang masih tampak muda dan tampan di usia mereka yang sudah memasuki kepala lima itu, akhirnya bisa duduk saling berhadapan kembali.
Ivan dan Elmo saling menghunus tatapan tajam...........