
Keesokan harinya, Mada terbangun dan mengucek-ucek kedua matanya. Ia duduk lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar dan mengumpulkan seluruh kesadarannya dengan menguap serta meliuk-liukkan badannya ke kiri dan ke kanan.
Mada melirik jam tangannya, "Masih jam lima ternyata" lalu Mada menatap pintu yang menyimpan Violet di dalamnya, "Apa dia baik-baik saja?" Mada urung untuk bangkit saat ia melihat seorang laki-laki dengan outfit mewah, berlari di tengah selasar lalu mengetuk pintu di mana ada Violet di dalamnya.
Mada bergeming dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Violet membuka pintu itu dan laki-laki itu langsung memeluk Violet. Violet tampak kaku dan tegang di dalam pelukan laki-laki itu. Mada
"Ada apa sebenarnya? Apa mereka bertengkar semalam?" gumam Mada lirih.
Mada melihat laki-laki itu memegang kedua bahunya Violet lalu mendorong badannya Violet dengan pelan kemudian menunduk. Ada kata yang terucap dari bibir laki-laki itu tetapi Mada tidak bisa mendengarnya. Mada mengerutkan alisnya saat Violet mendorong tubuh laki-laki itu dan tidak begitu lama kemudian, datang seorang wanita berambut keriting. Wanita itu mengenakan outfit mahal nan anggun, dan wajahnya sangat manis terbungkus kulit eksotis berwarna cokelat.
"Siapa wanita itu?" bisik Mada untuk dirinya sendiri.
"Mama!" teriakan kata yang lolos dari bibirnya Violet sampai ke telinganya Mada. Mada lalu melihat, Violet langsung memeluk wanita itu.
"Oh Mamanya Violet ternyata. Manis sekali wajahnya dan anggun penampilannya tapi, Ppffttt!" Mada mengulum bibir menahan geli saat ia membayangkan Violet berambut keriting parah seperti mamanya Violet. Lalu Mada menggeleng-nggelengkan kepalanya, "Untung rambut Violet normal. Kalau rambutnya kayak mamanya, pasti sangat lucu, pppffttt"
Beberapa menit kemudian Mada bangkit lalu berputar badan dan pergi meninggalkan Violet saat dilihatnya, gadis culun yang sudah menarik perhatiannya itu, aman dan baik-baik saja.
Mada pulang ke kapalnya setelah menyuruh Edo mengambil sepeda motor lakinya yang menginap di parkiran rumah sakit seharian penuh kemarin.
Edo menggeleng-nggelengkan kepalanya. Dia pusing merasakan memiliki Bos yang selalu semau gue.
"Kenapa Vio menangis dan menginap di rumah sakit? kalian bertengkar?" tanya Lili.
Gasa yang mengetahui nama besar Elruno dan Violet anak tunggal dari Elmo Elruno merasa ragu untuk mengatakan kejujuran bahwa ia telah menampar Violet dan menyakiti Violet secara psikis.
Violet lalu menarik diri dari pelukan mamanya, "Mama pulang dulu aja ya. Vio dan Masa Gasa masih ada yang perlu dibicarakan. Vio udah gede dan bisa menyelesaikan semuanya sendiri" Vio berucap sambil memutar badan mamanya dan mendorong mamanya ke depan.
Lili menoleh sambil berkata, "Tapi, eh Vio, stop dorong Mama! Mama nggak akan pergi sebelum......."
Vio lalu mencium pipi Mamanya dan berbisik, "Vio akan cerita nanti. Vio janji. Sekarang Mama pulang dulu, ya?!"
Lili menghela napas panjang lalu menyerahkan paper bag yang ia tenteng ke Vio, "Baiklah. Tapi janji nanti cerita dan ini sarapanmu, jangan lupa sarapan!"
Violet menerima paper bag itu dan tersenyum ke mamanya lalu berkata, "Makasih Ma. I Love You"
Lili mengelus pipi putrinya, "I Love You too" lalu melangkah pergi meninggalkan Vio dan Gasa sambil sesekali menoleh sampai ia belok ke kanan dan Vio tidak tampak lagi.
Violet lalu menarik lengannya Gasa dan mengajak Gasa ke kantin dan memilih tempat meja paling pojok dan paling belakang. Lalu Violet membuka makanan yang dibawakan oleh mamanya dan mengabaikan Gasa.
Kalau kau bukan keturunan Elruno, udah aku cekik kau saat ini. Berani benar kau abaikan aku seperti ini, cih! Gasa mengumpat kesal di dalam hatinya.
Walaupun di dalam hatinya, Gasa terus mengumpat kesal namun, di wajahnya terus terulas senyum. Gasa kemudian berkata, "Maafkan aku. Aku khilaf karena stres banyak kerjaan di kantor dan karena aku sangat merindukanmu. Kita menjalani LDR cukup lama, kan dan aku kesal saat aku membutuhkanmu, ingin meluapkan kerinduan dan cintaku ke kamu, tunanganku, kamu malah menolaknya"
Violet masih belum berniat mengucapkan kata dan merespons ucapannya Gasa. Violet terus menikmati masakan mamanya dan tidak memandang wajah Gasa sama sekali.
"Apakah kamu akan seperti ini terus? apa kamu sudah tidak peduli padaku?" Gasa mencoba meraih simpatinya Violet.
Violet lalu mengangkat wajahnya dan memandang wajah tampannya Gasa, "Karena, kesalahan Mas sangat besar dan Mas telah benar-benar membuatku kecewa. Kalau Mas ingin meluapkan rasa sayang, rindu, dan cinta, bukan dengan cara memaksa dong. Mas bisa ngomong baik-baik ke aku, kita bicara dulu dari hati ke hati dan........."
"Aku janji nggak akan mengulanginya lagi. Maafkan aku! beri aku kesempatan untuk membuktikan omonganku! Aku janji nggak akan mengulanginya lagi" ucap Gasa dengan memasang mimik wajah serius. Gasa benar-benar mencintai Violet dan sangat takut kehilangan Violet.
Violet yang memiliki jiwa pemaaf seperti almarhum neneknya, akhirnya menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah. Aku kasih kesempatan untukmu Mas tapi kalau sampai Mas mengulanginya lagi, maka aku akan meninggalkanmu untuk selamanya"
Gasa langsung tersenyum lebar, "Terima.kasih sayang. Aku mencintaimu. Aku akan buktikan kata-kataku. Aku nggak akan mengulanginya lagi, janji"
Violet tersenyum lalu memberikan sandwich yang masih utuh ke Gasa, "Makanlah! Mas pasti belum sarapan kan?"
Gasa menerima sandwich itu dan tersenyum ke Violet dengan penuh cinta. Jiwa Gasa yang yang rusak karena trauma masa kecilnya, selalu merasa damai jika ia bersama dengan Violet. Kebaikan, kepolosan, dan kecantikannya Violet benar-benar telah merasuk ke dalam seluruh jiwa dan raganya. Untuk itulah ia begitu mencintai Violet dan tidak ingin kehilangan Violet untuk selama-lamanya.
"Mas mau supnya?" tanya Violet sambil menyodorkan wadah supnya ke depannya Gasa. Gasa tersenyum dan berkata, "Aku mau kalau kamu yang menyuapi supnya"
__ADS_1
Violet yang pemaaf dan cepat melupakan segala kepahitan yang pernah ia terima, terkekeh geli dan menyuapi Gasa sup ayam masakan andalan mamanya. "Enak?" tanya Violet.
"Hmm. Masakan Mama kamu memang yang terbaik" sahut Gasa.
"Sup ini yang ngajari almarhum Nenekku, Nenek Melati jago masak dan Mama selalu belajar masak dari Mama karena, Papa sangat menyukai masakan almarhum Nenek. Kalau Mas suka, aku juga akan belajar masak sup ini sama Mama" ucap Violet.
"Terima kasih" ada cinta yang begitu besar di nada bicaranya Gasa kala itu.
Gasa lalu pamit ke kantor setelah mengecup keningnya Violet.
Di siang hari, satpam rumah sakit menemui Violet, "Dok, ada tamu yang ingin bertemu dengan Dokter. Tamunya menunggu di meja informasi"
"Oh, baik pak. Terima kasih" Violet segera bergegas ke meja informasi dan melihat senyum lebar di wajahnya Mada.
"Ada apa Kak?"tanya Violet.
Mada menyerahkan kantong plastik berwarna hitam ke Violet, "Ini baju kamu kemarin"
Violet merona malu dan langsung meraih kantong plastik itu sambil membungkam mulut Mada dengan kata, "Ssssttt! jangan keras-keras ngomongnya! kalau ada yang denger bisa terjadi kesalahpahaman"
Mada menarik tangannya Violet lalu melepas tangan itu dan berkata, "Kalau ada yang tanya, aku kan bisa ngomong kalau aku tukang laundry, hehehehe"
"Aku akan bayar laundry-an ini" Violet merogoh saku roknya tapi Mada segera berucap, "Bayarnya ditraktir makan siang aja gimana? aku laper, hehehehe"
Violet terkekeh geli lalu ia menganggukkan kepalanya tanda setuju dan langsung mengajak Mada ke kantin.
Violet yang tidak banyak bicara, tidak akan mengeluarkan kata jika ditanya, dan introvert beradu dengan Mada yang cuek dan tidak suka banyak tanya, membuat makan siang mereka hening tanpa kata dan cerita.
Di detik mereka bersitatap, mereka saling melempar senyum dalam suasana yang canggung.
Kenapa ia nggak ngomong sih. Violet dan Mada mengucapkan kata yang sama di dalam hati mereka masing-masing.
"Ehem" Mada akhirnya berdeham dan berkata, "Sebenarnya aku nggak ingin minta ganti untuk biaya laundry-nya, emm, aku hanya ingin mengobrol denganmu"
"Hmm?" Mada menatap Violet dengan tanya di wajahnya.
"Kenapa, Kakak ingin mengobrol denganku?"
"Entahlah. Itu terlintas begitu saja di benakku tadi" ucap Mada dengan santainya.
Krik, krik, krik, krik. Suasana kembali hening dan kembali terasa canggung.
Ingin mengobrol denganku, tapi kenapa nggak banyak bicara. Dasar aneh. Batin Violet sambil menyesap cangkir tehnya.
"Apa kau masih marah?" tanya Mada dengan ragu.
Violet menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih sudah memaafkanku" Mada berucap sambil melihat ke piringnya Violet, "kenapa kripiknya kau makan tanpa saos tomat?"
"Keripik? mana keripiknya?" tanya Violet heran.
"Itu di piring kamu" tunjuk Mada.
Violet tergelak geli, "Ini bukan keripik Kak. Ini kentang goreng. Kenapa Kakak menyebutnya keripik? Ppffttt"
"Bagiku, semua kentang yang digoreng itu keripik" ucap Mada dengan polosnya dan Violet kembali tergelak geli.
"Kenapa kau pakai kacamata lagi?" tanya Mada kemudian.
"Pakai softlens itu ribet" sahut Violet.
"Tapi keribetan itu membuat kamu tampak cantik" sahut Mada.
__ADS_1
"Kenapa Kakak sering mengatakan kalau aku cantik?" tanya Violet.
"Karena kamu memang cantik dan aku selalu mengatakan apa kata hatiku secara jujur apa adanya. Tapi, jangan berpikiran macam-macam. Aku memujimu apa adanya nggak ada niat macam-macam lho" sahut Mada.
"Iya. Aku tahu" Violet tersenyum geli.
"Kenapa kamu begitu baik?" tanya Mada.
"Hmm?" Violet melempar tatapan penuh tanya ke Mada.
"Kamu begitu mudahnya memaafkan aku, kenapa?" sahut Mada.
"Karena, almarhum Nenekku selalu mengajarkan ke Vio, setiap orang pantas mendapatkan kesempatan kedua dan jiwa kita akan merasa damai jika kita selalu memaafkan dan tidak menyimpan dendam" sahut Vio.
"Dan jika kita tidak bertemu lagi kemarin malam dan aku tidak minta maaf, apa kamu akan menjauhiku, tidak menemuiku lagi dan tidak mau berteman lagi denganku?" tanya Mada.
"Iya" sahut Violet.
"Kenapa?"
"Jika kita tidak ditakdirkan untuk bertemu lagi ya sudah, selesai kan?"
"Hmm, kau benar. Dan untungnya kita dipertemukan kembali, jadi aku bisa meminta maaf dan kita bisa berteman kembali" sahut Mada dan bibir yang tanpa ia perintah, membentuk sebuah senyuman manis karena, ia mengagumi kecerdasan dan kedewasaan Violet dalam berpikir. Dia juga mengagumi kebaikan Violet dan memuja jiwa murninya Violet yang pemaaf.
Violet tersenyum ke Mada dengan tulus.
"Kita berteman" sahut Mada dan Violet secara bersamaan, lalu obrolan mereka berakhir dengan saling melempar tawa.
Sejak siang itu, Mada dan Violet menjadi semakin akrab. Mada benar-benar menawarkan pertemanan yang tulus dan menekan rasa aneh yang kerapkali timbul di hatinya dengan menganggap Violet sebagai adik perempuannya.
Dengan sikap Mada yang apa adanya, ngemong, dan tidak banyak tanya, Violet pun menjadi sangat nyaman dan memercayai Mada. Violet mulai bisa terbuka dengan seorang laki-laki di luar keluarganya. Bahkan dengan Gasa tunangannya, ia tidak bisa bersikap terbuka dan merasa nyaman seperti saat ia bersama dengan Mada.
Hanya Mada, laki-laki di luar keluarganya yang berhasil membuat Violet bisa mengekspresikan dirinya secara bebas tanpa beban. Seperti di hari keempat belas pertemanannya dengan Mada, Mada tiba-tiba menjemput Violet, "Naiklah! Aku akan ajak kau ke suatu tempat"
"Ke mana?" tanya Violet.
"Ke tempat yang kau impikan" sahut Mada.
"Mobilku?" tanya Violet.
"Aku akan antarkan kau ke sini lagi nanti. Cepatlah naik, keburu sore" ucap Mada.
Violet langsung melompat naik, membonceng Mada yang membawa sepeda motor lakinya dan mereka sampai di taman safari.
Mada mengajak Violet masuk ke tenda yang mempertontonkan kepintaran hewan mamalia laut seperti lumba-lumba dan Anjing laut. Violet terus tertawa senang dan membuat Mada sesekali mencuri pandang karena, Mada sangat menyukai wajah Violet yang terbingkai tawa.
Dia seribu kali lebih cantik dan menawan setiap kali ia tertawa. Batin Mada.
Mada yang kenal dengan salah satu pelatih lumba-lumba telah bekerja sama dengan temannya itu sebelum ia mengajak Violet ke sana. Di saat sesi bercengkerama dengan lumba-lumba tiba, pemandu acara itu berteriak, "Dokter Violet dari rumah sakit Harapan Kasih, Lumba-lumba kita, menunggu Dokter cantik untuk mereka sapa"
Violet menoleh ke Mada dengan wajah riang dan kaget. Mada tersenyum lebar sambil bertepuk tangan ia berkata, "Majulah!"
Violet memekik senang dan segera melesat ke depan untuk bercengkerama dengan lumba-lumba itu dan Mada menyusul, untuk merekam momen keceriaannya Violet dengan Lumba-lumba itu. Mada mengambil banyak gambar, wajah bahagianya Violet saat lumba-lumba itu mencium pipinya.
Violet berulangkali mengucapkan terima kasih saat ia dan Mada berjalan menuju ke parkiran motor dan Violet langsung mematung saat ia melihat Gasa berdiri di depan mobil sambil bersedekap dan menatap Mada dengan wajah geram.
Gasa langsung menarik pergelangan tangan Violet dan terus menggenggam pergelangan tangan itu dengan keras sampai Violet mengaduh, "Mas, sakit"
Mada langsung mencengkeram pergelangan tangan Gasa dan menggeram, "Lepaskan tangan Vio! dia kesakitan Bro"
Gasa menggeram kesal dan berbisik di telinganya Mada, "Dia tunanganku. Mau aku apakan saja itu terserah aku, kan"
Mada meradang penuh amarah mendengar kata yang keluar dari mulutnya Gasa. Mada langsung mendaratkan bogem mentah ke wajahnya Gasa.
__ADS_1