
Mada hidup di Amerika sebagai sekretaris pribadinya Raja dan Ratna yang bekerja sebagai staf administrasi di sana, sering berpapasan dengan Mada di kantor dan mereka pun sering meluangkan waktu untuk makan siang bersama.
Beberapa karyawannya Chery, mengira Mada.dan Ratna berpacaran.
"Kau pacarnya Mada ya?" tanya salah seorang koleganya Rana yang juga berasal dari Indonesia.
"Aku sih berharapnya begitu tapi sampai saat ini Kak Mada belum nembak aku" sahut Ratna dengan wajah merona malu.
"Kau sangat menyukainya ya?"
"Aku bukan saja menyukai Kak Mada tapi aku sangat mencintainya. Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama di penerbangan panjang kami saat itu. Dia keren, bertato tapi sangat lembut dan sopan, juga ngemong, ah! dia juga tampan" Ratna memekik riang lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Koleganya Ratna terkekeh geli, "Iya Mada memang tampan dan memesona. Bahkan aku dengar, banyak karyawan wanita di sini dan beberapa kliennya Bos, naksir sama Mada"
"Sainganku banyak dong" Ratna mulai mengerucutkan bibirnya.
"Tapi aku lihat, Mada cuma perhatian dan dekat sama kamu. Makanya kamu harus cepat bertindak, sekarang jamannya emansipasi wanita. Wanita harus berinisiatif. Aku lihat kamu memiliki peluang lebih, Mada selalu mengingatkan kamu untuk minum obat saat kau sakit terus sering ke sini untuk mengajak kamu makan siang padahal jarak kantor dia dan bagian administrasi kan cukup jauh, itu tandanya Mada juga ada rasa sama kamu" sahut koleganya Ratna.
"Begitu ya? kalau aku yang duluan nembak Kak Mada, bisa dipastikan Kak Mada akan menerimaku menjadi pacarnya?" Mata Ratna berbinar-binar penuh dengan harapan.
"Hmm! aku yakin seratus persen lebih, Mada akan menerimamu"
"Ah benarkah!" Ratna menggigit jari telunjuknya dengan wajah bersinar.
Dan ucapan dari koleganya itu membuat Ratna memiliki kepercayaan diri penuh untuk mengajak Mada makan malam di sebuah restoran yang cukup mewah. Mada dan Ratna duduk berhadapan. Ratna terus mengulas senyum sedangkan Mada terus menautkan alisnya dan bertanya, "Kenapa mengajakku ke sini? restoran ini cukup mahal, biarkan aku yang membayarnya nanti"
"Nggak Kak! aku yang mengajak Kakak ke sini, aku yang ingin mentraktir Kakak jadi aku yang akan membayarnya" sahut Ratna dengan senyum lebar di wajah manisnya.
"Kau yakin?" tanya Mada.
"Yakin. Aku ada uang kok" Sahut Ratna.
Dan tepat di saat makanan mereka hampir habis, Ratna memberanikan diri untuk berkata sambil menatap lekat kedua bola mata cantiknya Mada, "Aku mencintaimu Kak. Jatuh cinta pada pandangan pertama"
Mada hampir menyemburkan kopi yang ia minum ke Ratna. Saat Mada berhasil menelan kopinya ia lalu mengusap bibirnya sambil meletakkan cangkir kopinya dengan pelan di meja, "Aku tidak salah dengar?" tanya Mada kemudian.
Ratna menggelengkan kepalanya, "Aku serius dan aku yakin, Kakak juga punya perasaan yang sama padaku, iya kan?"
Mada menghela napas panjang lalu berkata dengan sorot mata penuh penyesalan karena, dia akan mengeluarkan kata-kata yang akan mengecewakan Ratna, "Maaf, kalau sikap dan perhatianku ke kamu selama ini, membuatmu salah paham tapi, aku hanya mengganggapmu sebagai adikku selama ini"
__ADS_1
Dhuar! kedua telinganya Ratna bagai tersambar petir dan terasa panas mendengar kata-kata yang lolos dari bibirnya Mada.
Ratna lalu berkata dengan suara gemetar menahan tangis kekecewaan, "Apa kekuranganku di mata Kakak? aku selalu perhatian dan ..........."
"Kamu sempurna. Kamu nggak ada kekurangan sama sekali. Tapi maaf, di hatiku sudah ada seseorang yang sangat aku cintai dan aku tidak bisa mencintai wanita lain selain dia" sahut Mada.
"Siapa dia? apa dia salah satu dari kolega kita?"
Mada menggelengkan kepalanya, "Dia seorang dokter. Tinggal di Indonesia dan namanya kau bisa lihat di perut tato lumba-lumbaku ini" Mada mengelus tengkuknya.
"Jadi Cinta itu adalah nama seseorang? bukan karena Kakak sangat cinta akan karakter lumba-lumba?" tanya Ratna.
"Iya, Cinta adalah nama dari seorang wanita yang sangat aku kagumi dan dia sangat menyukai karakter lumba-lumba. Itulah kenapa aku memilih tato ini dan aku beri tulisan Cinta" sahut Mada dengan masih mengelus tengkuknya.
"Aku mengerti" sahut Ratna sambil menunduk menatap kembali piringnya.
"Maafkan Aku. Aku akan membayar makanan ini" Mada hendak bangkit dan Ratna langsung mendongakkan wajahnya dan segera berucap, "Nggak usah Kak! sungguh nggak usah, aku ada uang kok"
Mada menatap Ratna dan sekali lagi ia berkata, "Maaf" lalu ia pamit pergi meninggalkan Ratna karena, tugas kuliahnya menumpuk dan harus segera ia kerjakan. Ratna mengangguk dan menatap punggungnya Mada dengan derai air mata karena, cintanya bertepuk sebelah tangan dan ia harus membayar bill makanan yang ia pesan dan itu cukup menguras isi dompetnya.
Di suatu pagi yang cerah, Raja memanggil Mada, "Kau bisa bela diri?" tanya Raja tanpa basa-basi begitu ia melihat Mada telah berdiri di depannya dengan sikap sopan.
Mada tersenyum, "Bisa Pak, tapi tidak jago"
Mada menautkan alisnya, "Ini balkon kantor Bapak, apa tidak akan terjadi masalah jika saya menyerang Bapak di sini? Kalau Bapak nanti terjatuh dan terluka bagaimana?"
"Balkon ini cukup luas dan aku rasa aku tidak terjatuh dan tidak akan terluka" Raja tersenyum lebar ke Mada, "Sudahlah jangan sungkan! serang aku, cepat!"
Mada akhirnya melesat dan meluncurkan beberapa tinju andalannya namun dengan mudah Raja bisa menghindari semua gerakannya Mada sampai Raja akhirnya bisa melumpuhkan Mada. Raja melepaskan Mada lalu ia berkata, "Gerakanmu mentah sekali dan payah. Siapa yang mengajarimu?"
"Mbah Gugel Pak, hehehehe. Saya belajar otodidak lewat internet" sahut Mada.
"Payah sekali! aku akan mengajarimu mulai dari sekarang. Asal kau tahu, mertuaku dulu adalah atlet taekwondo semasa beliau masih kuliah dan aku juga pernah meraih sabuk hitam dengan delapan strip putih atau biasa disebut Dan sembilan, itu adalah sabuk tertinggi di taekwondo. Celyn adik iparku pun sama. Jadi melihat Gerakanmu tadi, aku hanya bisa mengelus dada. Bagaimana kau bisa terjun ke dunia nyata yang kejam dan liar untuk mencari pembunuh Mama kamu jika ilmu bela diri kamu sepayah itu"
Mada meringis, "Pantas saja kalau Galvin bisa mengalahkan saya dengan sangat mudah saat itu"
"Kau pernah bertemu dengan Galvin?" tanya Raja.
"Iya saya pernah bertemu dengan Galvin" sahut Mada singkat. Mada merasa tidak perlu menjelaskan lebih detail lagi di mana dan kapan ia bertemu dengan Galvin dan karena, karakter Raja sama dengan karakter Mada yang hanya bicara seperlunya saja, membuat Raja kemudian tersenyum dan tidak bertanya lebih jauh lagi.
__ADS_1
Sejak pagi hari itu hingga satu tahun lebih empat bulan, Mada hidup di Amerika, Raja melatih Mada ilmu bela diri yang dia kuasai.
Pagi hari di musim semi, Mada telah menyandang predikat sebagai lulusan terbaik, tercepat di bidang hukum di universitas terpandang di Amerika. Chery, Raja, Bryna, Barnes dan Prince anak bungsunya Chery dan Raja menghadiri acara wisudanya Mada.
Chery menepuk pundaknya Mada, "Selamat Mada, kamu berhasil menyabet gelar sarjana di bidang hukum dalam waktu satu tahun lebih empat bulan. Aku dan suamiku bangga sama kamu. Mama kamu yang ada si Surga, juga pasti bangga banget sama kamu saat ini"
"Saya kan tinggal meneruskan kuliah hukum saya di Indonesia dulu dan mentransfer beberapa mata kuliah yang sama di sini sehingga saya bisa lulus dengan cepat dan saya berhasil lulus dengan lebih cepat, berkat support dari Bapak dan Ibu. Terima kasih banyak Pak, Bu, atas dukungan dan bantuannya selama ini. Mada sungguh berhutang budi pada Bapak dan Ibu. Mada bingung bagaimana caranya Mada bisa membayar semuanya?" Mada menatap Raja dan Chery dengan mata berkaca-kaca.
"Kau tidak perlu membayarnya. Kau bekerja pada kami dan sudah sewajarnya kami menggajimu. Kau kuliah dengan uang hasil kerja keras kamu sendiri" Sahut Raja sambil merangkul Mada.
Mada kemudian memberanikan diri untuk berkata, "Saya sudah lulus kuliah, apakah saya boleh kembali ke Indonesia untuk bekerja di sana dan untuk mulai mencari pembunuh Mama saya?"
Raja dan Chery bersitatap lalu Raja menepuk pundaknya Mada, "Pulanglah ke Indonesia dan carilah pembunuh Mama kamu"
"Ibu akan mendukungmu selalu. Ibu akan bukakan firma hukum untuk kamu di Indonesia dan........"
"Tapi Bu, saya........"
"Kau bisa membayarnya dengan mencicil dari penghasilan kamu nanti. Anggap saja kau pinjam uang dari kami dan kau bisa mencicilnya tiap bulan atau tiap tahun terserah kamu dan tanpa bunga" Sahut Raja.
Mada langsung memeluk Chery dan Raja lalu berucap, "Terima kasih banyak atas kebaikan hati Bapak dan Ibu"
Raja dan Chery terkekeh geli sambil menepuk-nepuk punggungnya Mada. Dan setelah acara wisuda selesai, Mada terbang ke Indonesia, memulai karir di sana sambil mencari pembunuh mamanya dengan berbekal ilmu hukum dan ilmu bela diri yang sangat mumpuni.
Mada kembali terbang dengan Ratna. Raja melihat Ratna dekat dengan Mada dan menugaskan Ratna menjadi sekretarisnya Mada dengan gaji dolar, gaji yang sama yang diterima oleh Ratna selama ia bekerja di perusahaannya Elruno yang berada di Amerika. Ratna terpaksa mengiyakan walaupun ia sebenarnya merasa canggung harus terbang bersama dengan Mada kembali dan harus bekerja bersama dengan Mada tapi, perintah atasan adalah hal yang paling utama di dunia ini dan tidak bisa dibantah.
Satu tahun lima bulan perjalanan pernikahannya Violet dan Gasa berjalan dengan baik tapi tidak harmonis. Gasa sering keluar rumah malam-malam tanpa pamit dan dini hari baru pulang ke rumah. Kenyataan bahwa Violet belum juga hamil di satu tahun lebih lima bulan pernikahan mereka, membuat Gasa semakin dingin pada Violet.
Violet hanya bisa menelan sendiri semua aib suaminya karena, Mamanya pernah mengajari dia, kalau seorang istri harus menjaga aib suami.
Gasa yang di awal-awal pernikahan sangat menggebu-nggebu saat ia menyatu dengan Violet di satu tahun lima bulan pernikahan mereka, Gasa mulai jarang menjamahnya. Violet justru merasa lega dirinya tidak dijamah oleh suaminya cuma ia bertanya-tanya kenapa suaminya berubah, seolah melihat Violet tidak menarik lagi untuk dilirik dan dijamah.
Di malam itu Violet membantu Gasa mandi dan ia memberanikan diri untuk bertanya, "Mas, kenapa Mas sekarang ini nggak pernah menyentuhku?"
Gasa diam saja. Dia tetap memejamkan kedua matanya dan mulai merasa jengkel dengan pertanyannya Violet. Dia merasa jengkel karena frustasi, Mia akhirnya hamil dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mungkin menikahi Mia, mertuanya bisa mencincang dia tapi, anak yang Mia kandung adalah anaknya. Dia sangat merindukan keturunan yang belum juga ia dapatkan dari Violet istri sahnya.
"Mas, kenapa diam saja? apa salahku, aku akan perbaiki Mas. Aku akan berusaha menjadi istri yang lebih baik lagi untukmu dan........"
Plak! Gasa menampar pipinya Violet lalu ia keluar dari dalam bath-up melilitkan handuk di pinggangnya dan keluar dari dalam kamar mandi sambil berucap, "Aku hanya minta istri yang tidak ceriwis, titik!"
__ADS_1
Violet menatap air sabun di bath-up sambil memegang pipinya dan air mata tanpa ia sadari kembali menetes dari kedua mata lentiknya.
Gasa memakai baju dan duduk diam di ruang kerjanya, "Jalan satu-satunya agar aku bisa menikahi Mia, aku harus menyingkirkan Papa dan Mama mertuaku beserta dengan Galvin brengsek itu" Gasa lalu menelepon seseorang dan menutup ponselnya dengan seringai mematikan.