The Thing About Violet

The Thing About Violet
Kapan Kau Mencintaiku?


__ADS_3

Bunyi burung Pipit diiringi Kokok ayam Jantan membentuk harmoni yang indah bersambut dengan sinar mentari yang masih malu-malu menyapa semesta, berhasil membangunkan kedua kelopak mata yang membingkai dua bola mata cokelat nan unik milik Mada Goh. Mada mengusap kedua matanya dengan tangan kiri karena, tangan kanannya ia pakai untuk memeluk tubuh istri tercintanya.


Mada lalu menunduk dan mencium pucuk kepalanya Violet dengan sangat dalam. Violet menggerakkan kepalanya lalu mengangkat wajahnya dan sambil tersenyum ia menyapa suami tercintanya, "Selamat pagi"


Mada tersenyum lalu mengelus perutnya Violet, "Bunny baik-baik saja, kan?"


Violet menganggukkan kepalanya lalu merebahkan kepalanya di atas dada bidangnya Mada sambil berucap, "Memangnya kenapa kau tanyakan itu?"


"Emm, kemarin kita kan melakukan itu dan........"


"Kita tidak menyatu dan aku di posisi miring jadi aman-aman saja, jangan khawatir! aku ini seorang dokter jadi paham......."


"Kau nakal juga ya?" Mada menyentil pucuk hidungnya Violet.


Violet memainkan jari telunjuknya di dada bidangnya Mada dan sambil terkekeh geli ia berucap, "Aku memang nakal. Makanya don't judge a book by its cover"


Mada langsung membahanakan tawanya ke udara lalu berkata, "Tapi, aku suka. Terima kasih sayangku, cintaku, kamu udah memberikanku kepuasan yang luar biasa semalam. Terima kasih kau ijinkan aku meluapkan kerinduanku atas dirimu"


"Aku melakukannya untuk membalas budi kamu" sahut Violet dengan membenamkan wajahnya di dada bidangnya Mada karena ia merasa malu telah menjadi sangat nakal dan liar semalam.


"Wah! cara membalas budi kamu keren juga, ya. Aku dengan senang hati mau menerima balas budi kamu setiap hari" Mada berucap sambil menciumi pucuk kepalanya Violet.


Violet menepuk dada bidangnya Mada dan berucap, "Hentikan Mas! Aku malu"


Mada kembali menggemakan tawa riangnya ke udara.


Violet mengangkat wajahnya dan bertanya, "Jam berapa ini?"


Mada melirik jam di dinding dan berkata, "Masih jam enam pagi. Kenapa, kau sudah lapar? Aku akan siapkan......."


Violet langsung menahan dadanya Mada saat ia melihat suaminya itu hendak bangun dan segera berucap, "Aku belum lapar. Jangan ke mana-mana! Aku ingin kau peluk"


Mada tersenyum lalu ia mencium bibirnya Violet dan Violet langsung menarik wajahnya dan menutup mulutnya, "Mas! Aku belum sikat gigi"

__ADS_1


"Aku juga belum dan aku pernah bilang sama kamu kan, kalau aku nggak peduli kamu udah sikat gigi atau belum?" Mada mengusap pipinya Violet lalu menarik tangannya Violet yang Violet pakai untuk menutup mulutnya. Kemudian Mada mencium kembali bibir ranum istrinya itu, lembut, penuh perasaan dan ia tarik kembali bibirnya saat ia mendengar ponselnya berdering nyaring sekali. Mada meraih ponselnya sambil bergumam kesal, "Siapa sih pagi-pagi gini udah ganggu"


Violet tersenyum geli melihat ekspresinya Mada lalu ia merebahkan kembali kepalanya di atas dada bidang suami tampannya.


"Kenapa Anda menelepon saya sepagi ini?" Mada tampak kesal dan Violet langsung mengangkat wajahnya untuk bertanya, "Siapa?"


Mada langsung menutup ponselnya, mematikan ponselnya dan menaruh kembali ponsel itu di atas nakas lalu ia memeluk Violet, "Hanya klien yang reseh. Dia ingin kasih bonus gede ke aku tapi syaratnya aku harus menemani dia sarapan atau makan siang atau makan malam hari ini"


"Cewek?" Violet masih mengangkat wajah cantiknya dan masih menatap Mada.


Mada mengecup bibirnya Violet lalu menganggukkan kepalanya.


"Apa dia cantik?" ada kecemburuan di nada bicaranya Violet.


"Entahlah. Aku tidak memerhatikannya karena bagiku, yang paling cantik tuh kamu dan nggak ada wanita manapun yang mampu mengalihkan hati dan mataku dari kamu" Mada kembali mengecup bibirnya Violet.


"Kenapa kau mencintaiku dan sejak kapan?" Violet kembali merebahkan kepalanya di atas dada bidangnya Mada.


"Aku mencintaimu karena kau cantik" sahut Mada.


"Karena, the thing about you membuatku nggak bisa berhenti memikirkanmu sejak perjumpaan pertama kita di bar milikku dulu"


"Dan apa itu?" tanya Violet sambil mengusap mesra dada Mada yang terasa nyaman baginya.


"Mata kamu. The thing itu adalah mata kamu. Aku terpesona pada mata kamu di perjumpaan pertama kita" sahut Mada.


Violet tertawa senang lalu ia bertanya, "Sejak itulah kau jatuh cinta padaku?"


"Anehnya nggak, hahahahaha" Mada tertawa geli saat Violet kembali menepuk dadanya dengan kesal.


"Lalu kapan kau mulai jatuh cinta padaku?"


"Emm, saat kau menangis di dermaga? atau saat kau mengobati lukaku atau saat kau pasrah memberikan ciuman pertamamu untukku"

__ADS_1


Violet langsung bangun, duduk bersila dan menggelitik perutnya Mada, "Kenapa kau ingatkan aku akan kejadian itu? dasar menyebalkan!"


Mada tertawa lepas lalu menarik pelan tubuh Violet untuk kembali ia dekap dan ia lalu berkata, "Sekarang giliran aku yang bertanya ya? kapan kamu jatuh cinta padaku?"


"Siapa yang mencintaimu?" Violet menatap Mada.denhan senyum jahilnya. Mada lalu mengecup bibirnya Violet dengan gemas kemudian berucap, "Mulai curang ya?"


"Hahahaha. Iya baiklah aku jawab. Aku mencintaimu sejak kau bikin tato di tengkuk kamu"


"Hah?! jadi, saat aku nembak kamu di pantai sewaktu kita di Tiongkok, kamu belum......."


Violet terkekeh geli dan berkata, "Aku suka melihat wajah panik kamu, hahahaha"


Mada menyentil pucuk hidungnya Violet, "Dasar jahil. Lalu kapan? kapan kau mulai mencintaiku?"


"Saat kau membela aku di depan Mas Ga........." Violet menghentikan kalimatnya. Dia masih sulit untuk mengucapkan nama mantan suaminya itu.


Mada langsung mengelus pipinya Violet.dan berkata, "Oke aku ngerti. Nggak usah diteruskan lagi. Kapan kau mulai mencintaiku, itu nggak penting. Yang penting kita akan telah jatuh cinta dan akan terus saling mencintai sampai maut memisahkan kita"


Violet menatap suaminya dengan senyum penuh cinta lalu ia membenamkan wajahnya kembali di dada bidang suaminya. Kemudian ia berkata, "Nanti kalau aku udah kembali fit, kita pergi ke Tiongkok untuk mengunjungi makam Nenek dan kakekku ya? Asal kau tahu Mas, Nenek yang menunjukkan jalan hingga aku bisa kembali di sini bersama dengan orang-orang yang menyayangiku"


"Benarkah? tentu saja kita akan ke sana kapan pun kamu mau. Aku juga ingin berterima kasih karena, Nenek Melati telah mengijinkan aku orang kecil dan remahan ini, mencintai cucu cantiknya"


Violet menepuk dadanya Mada dan berkata, "Nenek itu jeli, kalau dia mengijinkan kamu mencintaiku maka di mata Nenek, kamu tuh hebat, Mas"


"Lalu kalau aku hebat, kenapa cucunya Nenek Melati tidak pernah membalas email yang aku kirim?"


Violet mengangkat wajahnya dan menatap Mada dengan kesal, "Itu karena kamu ngeyel. Aku sudah hamil kamu masih aja mengejar aku. Kau tahu, tiap kali kau kirim email, bantal yang kau pakai untuk tidur itu, menjadi pelampiasan emosiku. Bantal itu penuh dengan curhatan dan tangisanku"


"Uluh-uluh! Iya cantikku, maafkan Mas Mada kamu ini, yang tidak tahu malu terus mengejar kamu karena, hanya kamu wanita yang aku cintai" Mada berucap sambil mengelus pipinya Violet.


"Mas nggak kerja? udah jam tujuh lebih lho ini"


"Ah! iya benar. Wah! aku bisa telat nih" Mada lalu mengecup keningnya Violet lalu melesat ke kamar mandi dan Violet menatap Mada dengan senyum geli bercampur dengan rasa bahagia.

__ADS_1


Di sebuah kamar yang sangat luas dengan ranjang dan interior yang mewah, seorang pria tampan tampak merenung. Masih ada selang infus terpasang di punggung tangannya dan ia menatap langit-langit kamar itu dengan tatapan kosong. Lalu ia bergumam, "Ada wangi yang sangat manis yang kurindukan dan aku harus mencari wangi itu sampai dapat"


__ADS_2