The Thing About Violet

The Thing About Violet
Gasa Membuka Sedikit Topengnya


__ADS_3

"Bos, maaf kalau saya lancang bertanya, kenapa Anda menghapus rekaman video kebersamaan Anda dengan Nona Dokter? Bukankah itu berarti Anda menyerah atas tantangan yang diberikan oleh Tuan Devo? kalau Anda menyerah, bukankah Anda yang harus gantian memberikan mobil sport ke Tuan Devo?" Edo melirik ke bosnya.


"Persetan soal mobil sport. Kalau harus kasih mobil sport ke Devo, aku akan kasih. Aku nggak mau lagi membuat Violet terluka. Aku telah merusak kepolosannya, merusak kepercayaannya padaku dan aku juga sudah memporak-porandakan imajinasi indah akan ciuman pertamanya, aku memang brengsek!" Mada menampar keras pipinya sendiri.


"Kenapa Tuan? baru kali ini saya lihat Anda sangat peduli pada seorang wanita" tanya Edo sambil terus mengemudikan mobil.


"I don't know. The Thing about her, about Violet, yang aku belum tahu apa itu, membuatku merasa nggak tega untuk melukainya. Dia begitu polos dan suci di mataku, apa mungkin itu yang membuatku tidak tega menyakitinya"


Mada lalu meraup kasar wajah tampannya dan menyandarkan kepalanya ke jok mobil.


Sesampainya di bar miliknya, ia segera naik ke lantai dua, masuk ke ruangannya, dan langsung mengunci ruangannya itu.


Mada lalu melempar dirinya ke sofa panjang single yang berhadapan dengan meja kerjanya.


Lalu menutup matanya dengan lengan kanannya dan ia berkali-kali menghela napas panjang karena, bayangan Violet terus hadir di benaknya.


Violet berlari masuk ke kamarnya tanpa menyapa Mama dan Papanya yang tengah duduk mengobrol di halaman depan. Lili dan Elmo langsung bersitatap. Lili hendak bangkit dan langsung ditahan Elmo, "Biarkan putrimu menenangkan diri dulu. Nanti aja pas makan malam bareng, kita ngobrol santai sambil menyelipkan tanya soal kenapa dia berlari seperti orang habis melihat hantu tadi"


Lili lalu menggenggam tangannya Elmo, "Kau memang paling memahami Putrimu karena, wataknya mirip banget sama kamu"


Elmo tersenyum lebar lalu berkata, "Aku lihat dia lebih mirip kamu. Introvert, keras kepala, dan impulsif"


"Oh, begitu ya" Lili langsung melepas tangannya Elmo dan ia lalu bersedekap sambil memasang muka kesal.


Elmo tertawa lalu berkata, "Tapi justru itu daya tarikmu dan membuatmu unik, tiada duanya di dunia ini. Membuatku tidak bisa berpaling ke wanita lain"


Lili lalu bangkit, berjalan ke arah Elmo dan duduk di pangkuannya Elmo. Dia menggelungkan kedua lengannya di lehernya Elmo lalu tersenyum, "Suamiku, kalau kau sampai berani berpaling ke wanita lain, aku akan........."


Cup, kecupan bibirnya Elmo di atas bibirnya, membuat Lili terdiam dan tidak melanjutkan lagi kata-katanya.


Elmo memandang istrinya dengan penuh cinta, "Hatiku hanya ada satu. Dulu hanya milikmu sepenuhnya tapi sejak Violet lahir, hatiku terbelah dua sama besar dan itu aku serahkan semuanya untuk dua wanita cantik yang hadir di hidupku"


Lili lalu merebahkan kepalanya ke pundaknya Elmo, mencium lehernya Elmo. Elmo langsung membopong Lili ke kamar dan tanpa banyak kata, Elmo segera merebahkan diri di ranjang dan berkata, "Aku siap menuruti apa mau kamu, Bu Bos. Pimpin lah permainan kita kali ini. Aku siap kau hajar habis-habisan"


Lili menyeringai penuh gairah dan langsung melancarkan serangan yang membuat Elmo mulai melemas tak berdaya.


Violet membuang kaosnya Mada ke tempat sampah yang ada di samping pintu kamar mandi setelah ia selesai mandi dan berganti baju. Violet lalu melompat ke atas ranjang mewahnya dan menghela napas panjang. Dia bergumam, "Aku telah selingkuh. Aku memberikan ciuman pertamaku pada pria lain dan bukan pada Mas Gasa. Aku gila. Aku sudah gila" ucap Violet sambil mengacak-acak rambutnya.


Tiba-tiba pintu kamarnya Violet diketuk dan suara Bi Tina menggema di luar kamar, "Non, Tuan Gasa udah datang dan mencari Non. Tuan Gasa menunggu di ruang tamu"


"Baik Bi, makasih" teriak Violet dari dalam kamarnya.


Violet langsung bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia tampak ragu untuk menemui Gasa. Dia merasa malu, merasa jahat, dan merasa kalau ia sudah berbuat tidak adil pada Gasa. Violet yang tidak terbiasa berbohong menjadi bingung menghadapi Gasa. Dia berada di persimpangan hati antara jujur mengatakan kalau ia telah berciuman dengan pria lain ataukah menutup rapat-rapat hal itu dari Gasa untuk selamanya.


"Baiklah, aku tutup rapat-rapat aja dari Mas Gasa. Jika aku jujur, aku hanya akan menyakiti hatinya. Toh aku juga nggak akan menemui laki-laki brengsek itu lagi"


Violet lalu keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk menemui Gasa.


"Apa kamu sakit? kok lama sekali keluarnya?"

__ADS_1


Gasa berdiri untuk menyambut Violet.


Violet menggelengkan kepalanya dan tersenyum lalu mengajak Gasa untuk kembali duduk.


"Kita keluar sekarang?" tanya Gasa.


"Baiklah. Aku pamit sama Mama dan Papa dulu" Violet naik dan tak berapa lama ia turun kembali dan sudah menyampirkan tas di bahunya.


Gasa mengajak Violet makan, setelah itu ia mengajak Violet berbelanja di sebuah mall. Gasa berbelanja untuk mengisi kulkas di rumahnya yang telah kosong.


Mada yang tidak bisa tenang bekerja di bar akhirnya memutuskan untuk kelar berbelanja. saat ia habis berjongkok mengambil satu kantong besar kacang kulit, ia berdiri, dan berputar badan, ia menabrak seseorang.


Mada berucap, "Maaf, saya tidak sengaja" dan langsung bergeming saat ia menatap orang yang ia tabrak.


Violet pun bergeming dan terus menatap Mada.


Gasa menyentuh bahunya Violet, "Kau kenal dengannya?"


Violet menggelengkan kepalanya lalu pergi berlalu meninggalkan Mada.


Mada melihat punggungnya Violet lalu menghela napas panjang.


Dia pantas marah dan menghindari aku. Batin Mada sambil mulai troli belanjaannya yang sudah penuh menunju ke kasir.


Kenapa di mana-mana aku harus bertemu dengannya? Batin Violet kesal.


Mada mengantre di kasir nomer lima tapi, lama-lama ia merasa tidak tahan melihat kebersamaannya Gasa dan Violet. Entah apa yang salah dengan hatinya, Mada merasa kesal melihat Violet bersama dengan laki-laki lain. Akhirnya dengan mengumpat ia memindahkan trolinya ke deretan antrean yang lain.


Sesampainya di rumah besarnya, Gasa terkesiap saat ia mendapatkan sekretaris pribadinya yang juga sekaligus kekasih rahasianya, ada di rumahnya. "Kenapa kau di sini? pekerjaan kita di kantor sudah selesai kan?" Gasa berucap sambil memberikan kode mata ke sekertaris pribadinya untuk pergi.


"Kakak cantik ini siapa?" tanya Violet


"Oh, dia sekretaris pribadiku namanya Mia dan dia mengantarkan berkas lalu pergi, iya kan?"" ucap Gasa ke Mia.


"Saya Mia" ucap Mia dengan senyum ramah dan mengulurkan tangannya ke Violet.


Violet menyambut ukuran tangan itu dan tersenyum, "Senang berkenalan dengan Anda Kak Mia. Saya Violet"


Mia melepas tangannya lalu pamit dan pergi meninggalkan Gasa dengan hati yang perih, sangat perih.


Violet yang polos, mulai menata belanjaannya Gasa ke dalam lemari es dan tanpa Violet duga, Gasa memeluk pinggangnya dari arah belakang dan mulai menciumi rambutnya. Gasa lalu berbisik di telinganya Violet, "Bolehkah aku mencium kamu sekarang?" Gasa lalu memutar badannya Violet, ia mencubit dagunya Violet dan saat ia menunduk hendak mencium bibirnya Violet, Violet mendorongnya dengan keras karena, kaget. Tubuh Gasa terhempas dan membentur meja.


"Maaf Mas, aku nggak sengaja, aku......."


Gasa menggeram kesal, "Aku tunangan kamu. Apa aku tidak berhak mencium kamu?" dan Gasa mulai membuka sedikit topengnya, tanpa bisa ia tahan dan sembunyikan lagi, sedikit dari watak aslinya keluar. Ia menyipitkan kedua matanya, merapatkan bibir, dan menggertakkan gerahamnya, dia meraih pergelangan tangannya Violet, mencengkeramnya dan menarik Violet masuk ke dalam pelukannya.


"Mas, sakit" Violet meringis kesakitan.


Gasa langsung mencium bibirnya Violet

__ADS_1


dengan sangat kasar dan penuh dengan napsu liar. Violet mulai terisak menangis namun Gasa tidak menggubris tangisan itu.


Violet akhirnya menggigit bibirnya Gasa dan Gasa menghentikan ciumannya namun, Violet mendapatkan balasan tamparan yang cukup keras dari Gasa. Violet tersentak, dia mendorong Gasa cukup keras lalu ia berlari keluar dari rumahnya Gasa. Gasa mengumpat kesal dan berlari menyusul Violet namun, tak terkejar. Violet telah menghilang dari pandangannya. Gasa mengusap darah di bibirnya dan terus mengumpat kesal.


Violet berjalan di trotoar dengan gamang dan ia terus memandang ke bawah. Setelah cukup lama ia berjalan, tiba-tiba ada bunyi klakson mobil. Violet menoleh dan saat jendela mobil itu terbuka, ia melihat Mada.


Violet mendengus kesal dan melanjutkan langkahnya lagi. Mada langsung keluar dari dalam mobilnya dan mengejar Violet, "Tunggu! biarkan aku mengantarmu pulang. Aku tidak akan macam-macam. Aku janji. Aku juga tidak akan banyak bertanya. Ini sudah malam, sangat berbahaya kalau......"


Violet langsung berbalik badan, melangkah lebar dan masuk ke dalam mobilnya Mada.


Mada tersenyum sambil berlari kecil ia masuk ke mobilnya.


Suasana hening di dalam mobil, membuat Mada menghidupkan radio.


Violet diam seribu bahasa dan Mada menepati janjinya, ia tidak bertanya.


"Antarkan aku ke rumah sakit saja. Aku akan tidur di sana. Aku sudah mengirim pesan text ke Mamaku kalau aku tidur di rumah sakit"


Mada mengantarkan Violet ke rumah sakit tanpa banyak tanya.


Sesampainya di rumah sakit, Violet turun dan masuk ke dalam. Beberapa menit kemudian Mada turun dan menyusul Violet tanpa Violet ketahui. Mada hanya ingin memastikan Violet baik-baik saja. Mada melihat Violet masuk ke bangsal dokter dan duduk di salah satu ranjang bertingkat di sana. Mada melihat dari kaca bundar tembus pandang yang ada di pintu.


"Apa yang terjadi padanya? kenapa ia murung dan kenapa pipinya ia kompres pakai kompresan?" gumam Mada.


Violet merutuki nasibnya, "Kenapa aku sial banget akhir-akhir ini dan kenapa semua cowok kecuali semua cowok di keluargaku, brengsek semuanya. Aku kira Mas Gasa sama seperti Papa, bijak, dewasa, dan ngemong, ternyata..........." Violet mulai terisak dan membuat Mada langsung mengetuk pintu itu saat ia melihat Violet menangis.


Violet bangkit dan membuka pintu itu, "Kenapa kau mengikutiku?"


"Aku mau meminta maaf atas kelakuanku tadi di kapal. Maaf kalau aku telah membuatmu menangis seperti ini" Mada mengira Violet menangis saat itu karena, dia.


Violet mendengus kesal, "Lupakan saja! aku malas membahasnya dan pergilah! aku ingin sendirian saja saat ini"


"A.....apa masih ada kesempatan bagi kita untuk berteman? tidak lebih, hanya berteman" kata Mada.


"Tanpa ada ciuman, pelukan, dan hal-hal aneh seperti tadi?" tanya Violet sambil mengusap pipinya.


"Aku janji, nggak akan ada hal-hal aneh lagi" ucap Mada sambil melihat ke pipinya Violet lalu ia bertanya, "Kenapa dengan pipi kamu? kenapa merah seperti itu?"


"Pergilah! jika kau masih ingin berteman denganku, pergilah! aku ingin sendirian malam ini"


Mada menganggukkan kepalanya lalu melangkah pergi meninggalkan Violet tapi, ia tidak pergi meninggalkan rumah sakit. Ia duduk di bangku panjang yang berada tidak jauh dari ruangan yang dipakai Violet untuk tidur. Mada memutuskan untuk menemani Violet dan ia merebahkan diri di bangku keras yang terbuat dari besi itu.


Mada kemudian menelepon Devo setelah ia mentransfer uang ratusan juta rupiah lewat salah satu aplikasi yang ada di ponselnya ke rekeningnya Devo. "Halo, aku udah transfer uang dan kurasa cukup untuk membeli mobil sport second yang kau inginkan. Aku menyerah kalah. Gadis berkacamata itu sangat sulit aku taklukkan jadi aku putuskan aku menyerah kalah"


"Wah! nggak asyik dong. Kan masih ada waktu sehari lagi. Aku yakin seorang Mada, mampu meluluhkan hati si culun itu dalam waktu sehari" Sahut Devo.


"Aku sudah nggak tertarik untuk menaklukkan si culun itu. Dia gadis baik tidak pantas aku jadikan permainan" sahut Mada.


"Wah! kau jatuh cinta padanya ya?" tanya Devo.

__ADS_1


"Cih! jatuh cinta apa. Mada tidak pernah jatuh cinta" dan klik. Mada mematikan sambungan teleponnya dengan Devo.


Dia masukkan kembali ponselnya ke saku celananya lalu ia memiringkan badannya untum melihat ruangan yang di dalamnya tersimpan Violet. Mada tersenyum bergumam, "selamat malam" dan ia pun memejamkan matanya.


__ADS_2