The Thing About Violet

The Thing About Violet
Cincin Nikah


__ADS_3

Mada memekik kegirangan dengan lirih di dalam ruang sidang saat ia berhasil memenangkan kasus kliennya. Kliennya yang adalah seorang wanita muda berumur sebaya dengan Mada yang memperebutkan hak dia untuk menjadi anak sah dari seorang pengusaha kaya raya pun ikutan memekik lirih dan terus menatap Mada dengan penuh kekaguman.


Mada, Ratna dan Nona muda yang barus saja mendapatkan status baru sebagai anak sah dari seorang pengusaha kaya raya keluar dari ruang sidang dengan wajah cerah ceria.


Ratna mengucap selamat kepada Mada dan Nona Kesya Tejo Leonardus. Nama keluarga Leonardus baru tersemat di hari itu di nama Kesya Tejo. Kesya tersenyum ke Ratna dan berucap, "Semua berkat kecerdasannya Mister Mada Goh. Terima kasih Mister" Kesya menoleh ke Mada dan menjulurkan tangannya.


Mada menyambut uluran tangan nona muda yang mendadak kaya raya itu dan berkata, "Sama-sama. Saya cuma menegakkan kebenaran dan Anda pantas mendapatkannya"


Kesya langsung menggenggam erat tangannya Mada dan tidak berniat melepaskan tangan itu sebelum ia bertanya, "Maukah Anda makan malam dengan saya? Ini masih jam empat sore, kita bisa pulang dulu dan ketemuan lagi jam tujuh malam di......."


Ratna langsung menangkap gelagat tidak baik dari seorang Kesya Tejo Leonardus.


Mada menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Kesya, "Maaf saya tidak bisa"


"Kalau begitu besok, bisa? Saya akan kasih bonus besar ke Anda pas makan malam nanti atau pas makan malam besok kalau Anda tidak bisa pergi nanti" sahut Kesya dengan senyum lebarnya.


Ratna langsung menilai penampilannya Kesya. Muda, rambut cepak berponi, lurus dan hitam pekat seperti langit malam, langsing, berkulit cukup bersih dan cukup cantik untuk menaklukkan seorang pria.


Apa Mada tidak akan tertarik? ada bonus besar dan seorang wanita yang cukup cantik ada di depannya. Yeeaahhh! memang tidak secantik Violet Cinta Elruno tapi, wanita ini sehat dan cukup menggoda. Batin Ratna.


"Maaf Nona Kesya, untuk hari ini dan selamanya, saya harus sampai di rumah sebelum jam lima sore" sahut Mada.


"Kalau Anda tidak bisa menemani makan malam, maka saya tidak akan bisa memberikan bonus besar ke Anda karena.........."


Mada langsung menganggukkan kepalanya, "Saya tidak membutuhkan bonus besar Nona dan saya permisi, saya harus segera pulang"


Mada kemudian berderap pergi meninggalkan Kesya dan Ratna begitu saja.

__ADS_1


Ratna hendak menyusul Mada namun, lengannya langsung ditahan oleh Kesya, "Tunggu sebentar! Anda sekretarisnya Mister Mada Goh, kan? Apa saya boleh meminta nomer ponsel pribadinya?"


Ratna langsung menatap tajam ke Kesya, "Untuk apa Nona?"


"Aku ingin memberikan sebuah rumah ke Mister Mada Goh atas jasanya memenangkan kasus saya tapi, tidak gratis. Saya juga ingin berkencan dengan Mister Mada sebelum saya memberikan rumah itu dan......"


Ratna langsung menarik lengannya dan berkata, "Maaf sepertinya Anda harus menelan kekecewaan karena, Mister Mada Goh sudah menikah"


"Hah? kapan dia menikah dan kenapa......"


"Saya permisi Nona" Ratna segera berderap pergi meninggalkan Kesya untuk menyusul Mada yang sudah masuk ke jok kemudi mobil.


Mada melajukan mobilnya saat ia melirik Ratna telah memasang sabuk pengamannya dan Mada bertanya, "Kau mau pulang ke rumah atau kau mau ketemu Galvin?"


"Ke rumah aja aku capek" sahut Ratna.


Ratna seketika itu juga menoleh ke Mada dan tanpa sadar ia menyemburkan tanya, "Bertemu dengan istrimu? Apa istrimu sudah bangun dari tidur panjangnya?"


"Belum" sahut Mada dengan nada ringan.


"Kok kamu bilang bertemu?" Ratna yang memang ceriwis masih melemparkan tanya ke Mada.


Mada melirik Ratna, "Memandangi wajah istriku kan sama aja dengan bertemu"


Ratna menghela napas panjang dan menatap ke depan tanpa bersuara lagi. Dia merasa kasihan dengan nasibnya Mada tapi, yang dikasihani justru bersikap santai dan tampak baik-baik saja.


Mada melintasi sebuah toko perhiasan emas dan seketika itu ia mengerem laju mobilnya. Ratna tersentak kaget karena, Mada mengerem secara dadakan dan tubuh Ratna menjadi terjulur ke depan. Ratna langsung menoleh ke Mada yang tengah memundurkan mobilnya untuk kemudian memarkirkan mobil itu di depan toko perhiasan emas.

__ADS_1


Ratna langsung protes, "Kenapa kau mengemudikan mobil seenak jidat kamu? kalau aku tidak memakai sabuk pengaman, kepalaku sudah terbentur dashboard mobil dan....."


Mada tidak menggubris ocehannya Ratna. Dia tersenyum lebar, melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil laku turun. Arah pandangnya Ratna mengikuti arah perginya Mada dan ia bergumam lirih, "Kenapa dia masuk ke toko perhiasan emas?" Sambil melepas sabuk pengamannya untuk keluar dari dalam mobil dan menyusul Mada.


Mada tengah asyik memilih sepasang cincin nikah saat Ratna berdiri di sampingnya Mada.


Ratna bertanya, "Untuk apa kau beli cincin nikah? Emangnya kau tahu ukuran jarinya Vio?"


"Tahu dong. Aku tahu semuanya tentang Vio, aku sempat mengukur jarinya Vio tadi pas memandikannya" sahut Mada sambil membayar dua pasang cincin nikah yang terbuat dari emas murni seharga dua juta sembilan ratus delapan puluh lima ribu rupiah dengan uang tunai.


"Kau tidak beli yang berlian?" tanya Ratna.


Mada tersentak kaget, "Ah! iya benar. Cewek lebih suka cincin berlian ya? tapi, aku belum punya cukup uang untuk beli yang Berlian, asal kau tahu, harga cincin berlian yang kecil aja mencapai lima puluh juta rupiah dan uangku hanya cukup untuk beli yang ini" Mada menatap kotak perhiasan yang ia genggam dengan bibir mengerucut.


Ratna langsung terkekeh geli dan menepuk bahunya Mada, "Aku cuma asal tanya. Vio pasti suka barang yang kamu beli dari hasil keringatmu sendiri. Jadi, nggak usah beli yang berlian. Oke, ayok cepat pulang! katanya ingin segera menemui istrimu"


Mada tersenyum lebar dan bertanya saat ia sudah melajukan kembali mobilnya, "Apa cincin pilihanku tadi bagus bentuknya?"


Ratna menoleh ke Mada dan tersenyum lebar sambil menganggukkan kepalanya.


Mada melirik sekilas ke Ratna laku ia memekik kegirangan, "Benarkah?! Apa kau pikir, kalau Vio melihat cincin pilihanku tadi, ia akan menyukainya?"


Ratna masih tersenyum lebar ke arah Mada sambil berkata, "Pasti suka karena, itu pemberian darimu"


"Benarkah?" Mada kembali memekik kegirangan dan terus mengulas senyum tampannya di sepanjang jalan menuju ke rumahnya Ratna.


Ratna menatap ke depan kembali, mengurai senyum lebarnya dan bergumam di dalam hati, cepatlah bangun dari tidur panjangmu Vio! aku mohon. Karena, entah sampai kapan aku sanggup melihat Mada menantimu dengan kepolosannya. Kau beruntung Vio, memiliki cinta setulus dan sebesar cintanya Mada.

__ADS_1


__ADS_2