The Thing About Violet

The Thing About Violet
Jangan Tinggalkan Aku!


__ADS_3

Mada melangkah ke meja makan dan langsung disambut jeritannya Deo, "Ayam goreng kamu top! aku suka"


Mada menghentikan langkahnya saat ia bersitatap dengan Violet. Violet tersenyum ke Mada lalu ia acungkan ibu jarinya dan memekik polos, "Ayam gorengnya top markotop. Kamu bisa warung makan nih, sumpah enak banget!"


Mada hanya bisa menghela napas panjang dan berkata di dalam hatinya, wanita ini, bisa-bisanya ia bersikap santai seperti itu setelah ciuman panas kami tadi.


Mada kemudian duduk di kursi di depannya Violet dan berkata, "Syukurlah kalau kalian suka"


"Aku ngaku kalah deh. Aku akan kabulkan apapun permintaan kamu" sahut Deo sambil mengambil lagi potongan ayam goreng coke hasil kreasinya Mada.


Mada tersenyum tipis, "Aku belum punya permintaan. Aku nggak kepikiran apa-apa karena capek banget hari ini" lalu Mada menatap Violet.


"Capek kenapa? aku lihat kamu baik-baik aja tadi pas masak" sahut Deo sambil mengigit paha ayam goreng coke yang berwarna cokelat menggoda.


Violet menatap Mada dan berucap sambil mengunyah gigitan ayam goreng coke di dalam mulutnya, "Kau sakit? kau tampak lesu"


Mada menggeram kesal di dalam hatinya, bisa-bisanya ia bertanya seperti itu ke aku? dia nggak sadar apa kalau dia yang sudah membuatku merasa sangat capek? Mada tanpa sadar menggeleng-nggelengkan kepalanya ke Violet dan berkata setelah ia menghela napas panjang, "Aku hanya kurang tidur"


"Kenapa kurang tidur?" tanya Deo. "Apa karena kasus pembunuhan Mama kamu?"


"Itu salah satunya tapi aku mengalami insomnia karena sikap ambigu dari seorang wanita" Mada berucap sambil menatap lekat kedua bola mata jernihnya Violet.


Dan Violet langsung menundukkan wajahnya. Deo kembali bertanya, "Siapa wanita itu?"


Mada hendak membuka mulutnya namun, Violet langsung mengangkat wajah dan langsung berkata, "Aku tahu cara mencari petunjuk siapa pembunuh Mama kamu"


Mada dan Deo langsung menatap Violet dengan serius kemudian bertanya secara bersamaan, "Bagaimana caranya?"


Violet meringis ke Deo dan Mada lalu ia berkata, "Kamu bisa tanya ke tetangga kamu. Apalagi ke tetangga kamu yang tinggal di sepanjang jalan sempit nan panjang yang kita lalui semalam. Kau bisa tanya-tanya ke mereka" Violet menatap Mada

__ADS_1


Deo menoleh ke Mada, "Vio benar"


Mada menghela napas pendek lalu berkata dengan nada sedikit kesal, "Apa mereka masih bisa mengingat kejadian dua puluh tahun silam dan apa mereka bisa tahu siapa wanita berhak tinggi yang melintas di depan mereka dua puluh tahun silam. Polisi aja tidak bisa mendapatkan satu pun saksi mata di kala itu"


"Tidak ada saksi mata dan tidak ada barang bukti" sahut Deo.


Mada menganggukkan kepalanya lalu menempelkan punggungnya di kursi kayu lalu melipat tangannya. Pandangannya belum teralihkan dari wajah ayunya Violet.


Violet menendang kaki di bawah meja dengan harapan itu kakinya Mada sehingga Mada berhenti menatapnya terus. Dan Violet terlonjak kaget saat bukan Mada yang mengaduh tapi Deo. Mada mendelik ke Violet dan Deo mendelik ke Mada, "Kenapa kau menendang kakiku?"


Mada menautkan alisnya ke Violet dan Violet menggerakkan bibirnya tanpa suara, membentuk kata, "Bodo amat!"


Mada meraup kasar wajahnya lalu mengalihkan pandangannya ke Deo yang tengah melotot tajam ke arahnya. Dengan terpaksa Mada berbohong, "Maaf nggak sengaja, hehehehe"


Deo lalu berkata, "Okelah lupakan saja!" lalu Deo bangkit dan berjalan menuju ke wastafel untuk mencuci piring dan gelas yang habis ia pakai untuk makan.


Mada segera memajukan badannya ke depan dan bertanya lirih ke Violet, "Kenapa kau ingin menendang kakiku tadi?"


"Kau mau aku cium sekarang? mau lagi aku cium?" Mada hendak meraih tengkuknya Violet dan Violet secara otomatis menegakkan wajahnya kembali lalu bangkit dan berlari kecil menuju ke wastafel. Violet bergiliran dengan Deo mencuci piring dan gelasnya sedangkan Deo kembali melangkah ke ruang tamu duduk di depannya Mada. Mereka kembali membahas soal kasus pembunuhan Mamanya Mada.


"Baiklah!" Pekik Deo secara tiba-tiba sambil berdiri lalu menatap Mada, "Kita sudahi sampai di sini dulu! kita butuh istirahat" Deo melangkah masuk ke kamarnya Mada dan Mada hanya bisa membiarkan hal itu karena, dia sudah kehabisan daya untuk sekadar membuka kata, "Jangan!"


Violet berdiri di depannya Mada, "Kau pemilik rumah ini jadi kau tidurlah di kamar itu" Violet menunjuk ke kamar yang berhadapan dengan kamar yang sudah dihuni oleh Deo.


Mada bangkit lalu mendekap Violet, "Kita tidur berdua di sana, oke?"


Violet mendorong Mada lalu mendelik, "Kasur di sana kecil. Hanya muat untum satu orang saja"


Mada kembali menarik masuk tubuhnya Violet ke dalam dekapannya, ""Bukankah itu yang bikin romantis. Malam ini turun hujan dan dingin, kita bisa memulai bisnis kita yang berkaitan dengan panas tubuh di sana"

__ADS_1


Violet kembali mendorong tibuhnya Mada dan menggeram lirih, "Ada Deo. Bisa nggak kau tidak berpikiran terus ke sana? Dasar otak mesum"


"Otakku mesum karena kamu jadi bukan salahku, weekkk!" Mada menjulurkan lidahnya ke Violet.


Violet melipat tangan dan mendengus kesal, "Lalu gimana nih? kau tidur di luar atau di sana?"


"Aku tidur di luar saja. Kau tidurlah di dalam" Mada berucap sambil mengelus rambutnya Violet lalu tersenyum penuh cinta ke Violet.


Violet menganggukkan kepalanya lalu melangkah masuk ke kamar itu. Beberapa menit kemudian, ia keluar kembali melangkah mendekati Mada sambil mendekap bantal dan selimut.


Sesampainya di ruang tengah rumah itu, Violet mendapati Mada telah tertidur pulas. Violet menaruh bantal di belakang kepalanya Mada dengan bergumam, "Katanya insomnia, ini kok baru beberapa menit ditinggal udah ngorok aja, hehehe" Lalu Violet menyelimuti tubuh Mada dengan pelan dan saat ia menarik selimut itu dengan pelan sampai di lehernya Mada, ia melihat Mada mengerutkan dahi. Mada kemudian menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat seiring dengan keluarnya keringat di dahinya.


Violet mengusap keringat di dahinya Mada dengan telapak tangannya lalu ia kembali bergumam, "Apa kamu mimpi buruk lagi, Mas?"


Mada terus menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri kemudian ia bergumam, "Jangan pergi! jangan tinggalkan aku! jangan pergi!" Dadanya Mada bergerak tidak beraturan dan napasnya menderu kencang.


Violet kemudian duduk di tepi kursi panjang itu lalu Violet mengelus-elus dahinya Mada dengan penuh kasih sayang, "Ssstt! aku di sini Mas. Aku nggak akan meninggalkanmu"


Seolah mendengar suaranya Violet di dalam mimpinya, Mada yang masih memejamkan kedua matanya, berhenti menggerakkan kepalanya dan Violet dapat melihat dadanya Mada mulai bergerak beraturan. Mada mulai merasa tenang. Violet tersenyum dan menaruh telapak tangannya di atas dadanya Mada kemudian ia menyanyikan lagu Bintang, lagi kesukaannya Mada sembari menepuk-nepuk pelan dadanya Mada.


Violet kemudian berniat untuk bangkit dan masuk kembali ke dalam kamarnya setelah ia melihat Mada benar-benar tenang dan tidak gelisah lagi. Namun, tangannya tiba-tiba ditangkap oleh Mada lalu ditarik hingga membuat tubuhnya Violet rebah di samping tubuhnya Mada dengan posisi menghadap ke wajahnya Mada.


Kursi kayu jati itu lumayan lebar dan panjang jadi bisa untuk tidur dua orang. Violet mencoba menarik tangannya tapi, tidak berhasil. Mada menggenggam erat tangannya Violet. Violet menghela napas panjang kemudian bergumam, "Oke lah! aku akan tidur di sini dan bangun pagi-pagi buta nanti. Daripada aku paksa menarik keras tanganku, aku hanya akan membangunkan Mas Mada, kan kasihan. Dia sudah tenang saat ini" Tanpa Violet sadari ia memajukan wajahnya dan mencium dahinya Mada lalu berbisik lirih, "Mimpi indah ya Mas" Violet akhirnya tertidur dengan tangan kanannya berada di dalam genggaman tangannya Mada.


Sementara itu di kediamannya Gasa, Mia berhasil memperoleh informasi dari sahabatnya yang bekerja di kepolisian. Mia mengetahui di mana Violet berada. Namun, Mia tidak memiliki niat untuk mengatakan keberadaannya Violet ke Gasa. Mia tersenyum licik di depan pesan text yang dikirim oleh sahabatnya lalu ia bergumam, "Aku akan pakai informasi ini di saat yang tepat. Tunggu pembalasanku Violet"


Galvin mulai bergerak mengikuti ke mana pun Gasa pergi. Dan beberapa keanehan mulai membuat Galvin semakin mengarahkan penyelidikannya atas sabotase yang dilakukan seseorang di pesawat pribadi milik Elmo Elruno hanya ke Gasa Aefar seorang.


Gasa Aefar merenung di kafe langganannya untuk berpikir di mana kira-kira Violet berada karena, di semua tempat yang biasa dikunjungi Violet, Gasa tidak bisa menemukan istri yang sesungguhnya sangat ia cintai itu. Gasa juga memikirkan kejanggalan atas musibah meledaknya pesawat pribadinya Elmo Elruno, "Aku seharusnya langsung paham saat semua keluarga Elruno tidak balik ke sini dan mereka hanya mengirimkan utusan ke sini. Aku seharusnya langsung paham kalau saat itu, Papa dan Mama mertuaku itu belum meninggal. Dasar bodoh!" Gasa menepuk sendiri jidat lebarnya.

__ADS_1


Galvin bisa mendengar gumamannya Gasa karena, sebelumnya ia telah berhasil menaruh alat perekam di tas kerjanya Gasa tanpa Gasa tahu. "Ada gunanya juga aku datang ke kantornya Gasa tadi pagi. Aku berhasil membuat ia panik dan hal itu membuat aku berhasil menempelkan alat perekam di tas kerjanya Gasa. Jadi benar dugaanku, Gasa lah otak dibalik sabotase pesawat pribadinya Pakde Elmo" gumam Galvin di dalam mobilnya.


"Oke, tinggal menunggu ia menyatakan secara jelas kalau dia lah otak dibalik meledaknya pesawat pribadinya Pakde Elmo" ucap Galvin sambil memakai kembali sabuk pengamannya dan meluncurkan mobil sport barunya hadiah dari Pakdenya menuju ke rumah Pakdenya.


__ADS_2