
Mada kemudian berdiri dan melangkah ke arah kolam renang. Dia mencari pemuda yang berbincang dengannya tadi dan pemuda itu berkata kalau akan membersihkan kolam renang. Saat ia sudah temukan sosok pemuda itu, Mada menepuk punggung pemuda itu dan berkata, "Bisakah kau beristirahat sebentar? kolam renangnya juga nggak akan segera dipakai kan?"
"Baik Tuan" sahut Pemuda itu sambil meletakkan jaring panjang di bibir kolam renang lalu ia mengikuti langkahnya Mada untuk duduk di bangku kayu yang menghadap ke kolam renang.
"Jangan panggil Tuan dan nggak usah pakai bahasa formal! umur kita sama kan dan kita sederajat di dunia ini" ucap Mada, "Namamu siapa?"
"Oh, baiklah kalau begitu, emm, namaku Allen, Allen Yu" sahut pemuda itu.
Mada menghembuskan napas beratnya lalu bertanya, "Apa pekerjaanmu?"
"Aku seorang guru bahasa di sini. Aku menyukai bahasa karena, aku sangat ngefans dengan Ibu guruku, yaitu Nyonya Melati. Nyonya Melati adalah seorang penulis" sahut Allen.
"Sehebat itukah Nyonya Melati di mata kamu?" tanya Mada.
"Hmm! Aku sangat mengagumi The Elruno dan Tuan Maha Adijaya" sahut Allen.
"Apa kau pikir, The Elruno dan Maha Adijaya, sanggup membunuh orang?" tanya Mada.
"Nggak akan sanggup. Mereka nggak pernah berkata dan bersikap kasar pada sesamanya, mereka selalu peduli dan tulus menolong sesama mereka, bagaimana mungkin mereka sanggup membunuh orang" sahut Allen.
Mada menatap Allen lekat lalu menghela napas panjang, "Begitu ya"
"Emm aku yakin seratus persen lebih, The Elruno dan Maha Adijaya nggak mungkin sanggup membunuh orang. Boleh aku bertanya?"
"Tanya saja"
"Apa kau pacarnya Non Violet?" tanya Allen.
"Bukan" sahut Mada singkat.
"Syukurlah" Allen bernapas lega dan tersenyum lebar.
Mada langsung mengerutkan alisnya, "Kenapa kau sebahagia itu saat tahu aku bukan pacarnya Violet?"
"Aku dan Non Violet tumbuh bersama di kampung ini. Jarak usia kami lima tahun dan karena aku lebih tua dari Non Violet maka aku menganggapnya adik tapi saat kami tumbuh dewasa, aku menyimpan rasa pada Non Violet"
"Violet bukan pacarku tapi Violet punya tunangan. Jangan pernah bermimpi untuk memilikinya" sahut Mada dengan nada kesal saat ia tahu, ada pemuda yang menyimpan rasa untuk Violet.
"Oh begitu ya. Aku juga nggak punya keberanian untuk memiliki Non Violet. Oh iya aku belum tahu namamu. Siapa namamu?"
"Aku nggak punya nama" Mada mendengus kesal karena, tanpa ia sadari ia telah cemburu. Mada lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Allen begitu saja.
Allen menatap punggungnya Mada dan bergumam, "Orang yang aneh, hmm"
Mada lalu melompat di sofa ruang tengah dan tak berapa lama, ia terjatuh ke alam mimpi.
Mada bermimpi kembali ke masa lalu. Saat ia masih berumur lima tahun. Dia keluar dari dalam kamar dan menemukan mamanya terkapar di lantai dengan bersimbah darah. Dia kemudian bertemu dengan laki-laki yang berdiri tegak di depannya dan laki-laki itu berkata kalau ia adalah papanya Mada. Mada hendak melangkah mendekati mamanya, untuk memastikan kalau mamanya masih hidup tapi laki-laki yang mengaku papanya itu langsung menggendongnya dan membawanya pergi.
Mada berkata di dalam keadaan mata terpejam, "Tidak! jangan! biarkan aku memastikannya dulu, Mama masih hidup, Mama masih hidup!" Kepala Mada bergerak ke kiri dan ke kanan dengan ritme cepat. Keringat mengucur deras di dahinya Mada dan Mada terus berkata, "Tidak!jangan! jangan bawa aku pergi, hiks,hiks,hiks" Mada terisak dengan mata masih terpejam erat.
Violet duduk di tepi sofa dan dengan pelan ia menyentuh pipinya Mada, "Kak, kakak bermimpi buruk. Bangunlah Kak! ini Vio, Vio ada di sini. Kak, bangun! ini Vio"
Mada terbangun dan terengah-engah. Vio langaing memeluk Mada dan sambil menepuk-nepuk pelan punggungnya Mada, ia berkata, "Tenang Kak! itu hanya mimpi. Ada Vio di sini"
__ADS_1
Mada tergagap-gagap dalam ucapnya, "Itu bukan mimpi, itu bukan mimpi Vio. Itu nyata, itu sangat nyata"
"Sssttt! tenanglah Kak. Vio ambilkan minum, minumlah dulu!" Vio melepaskan Mada dan mengambil gelas yang berisi air putih hangat.
Mada menggelengkan kepala saat ia menyentuh air putih hangat itu, "Aku tidak suka air putih hangat. Aku butuh wiski saat ini. Kau punya?"
Violet langsung menepuk bahunya Mada.
"Aduh!" kok malah dipukul?" Mada mendelik ke Violet.
Violet meletakkan kembali gelas di atas meja lalu ia menatap Mada, "Daripada wiski, bukankah lebih baik Kakak menceritakannya? Aku siap menjadi pendengar yang baik" Violet tersenyum ke Mada.
"Kau yakin mau mendengarkan kisah masa laluku yang mengerikan?" tanya Mada.
Violet menganggukkan kepalanya.
"Aku terlahir tanpa seorang Papa di sampingku. Papaku dan Kakekku masih dipenjara waktu aku lahir ke dunia ini. Lalu saat aku berumur lima tahun, aku melihat Mamaku bersimbah darah di lantai tepat di saat aku bertemu dengan Papa kandungku. Aku hidup dengan Papaku setelah itu, tapi aku kehilangan Mamaku" Mada menopang kepalanya yang terasa sangat berat dengan kedua telapak tangannya. Dia ingin menangis tapi ia tahan karena, ia tidak pernah menangis di depan orang apalagi di depan seorang cewek.
Violet lalu mendekap kepalanya Mada tanpa ragu dan berkata, "Menangis lah Kak! jangan ditahan!"
Mada lalu mendekap erat tubuhnya Violet. Dia benamkan kepalanya di bahunya Violet dan ia menangis sejadi-jadinya di sana. Tangis yang selalu ia tahan setiap kali ia ingat akan kejadian mengerikan itu, saat ia ingat kembali akan mamanya yang meninggal secara tragis.
Setelah bisa menguasai hatinya, Mada melepaskan Violet lalu berkata, "Terima kasih sudah bersedia menemani dan menenangkanku" Mada hendak mengusap air mata di pipinya tapi kalah cepat dengan tangan Violet. Violet mengusap air mata di kedua pipinya Mada dengan polosnya sambil berkata, "Aku senang Kakak sudah bisa meluapkan semua rasa di hati Kakak. Kakak lega kan sekarang?" Violet menangkup kedua pipinya Mada.
Mada terkesiap dan seketika itu pula jantungnya berdetak cepat, wajahnya memanas tanpa sebab. Dia lalu memundurkan wajahnya dan bangkit sambil memalingkan wajahnya yang terasa semakin panas.
"Kakak mandi dulu gih! habis itu kita makan bareng dan sore ini, Allen akan mengantarkan kita ke makamnya Kakek-kakek dan Nenekku"
Mada mengguyur kepalanya dengan air dingin yang mengucur deras dari shower. Dia berusaha menenangkan semua rasa yang berkecamuk di dadanya dengan guyuran air dingin itu. "Kenapa harus Violet" gumam Mada.
"Kau lebih bijak, tegas, dan cerdas daripada adikmu Mada. Untung aku bisa menemukanmu setelah Fang Yin membuangmu ke panti asuhan dan kau diadopsi oleh keluarga Aefar. Maaf Papa telat menemukanmu"
"Itu tidak penting lagi. Kau adalah Papaku dan ya itu saja yang bisa aku ucapkan" Gasa tersenyum tipis ke Ivan Goh.
"Aku akan kenalkan kamu ke Mada, adik kamu nanti. Kau punya adik, Nak" Ivan Goh tersenyum ke Gasa..
"Nggak usah. Kami sudah bertemu" sahut Gasa
"Hah?! Apa Mada tahu kalau kamu kakaknya?"
Gasa menggeleng dan tetap memasang wajah datar.
"Kenapa kau tidak katakan ke Mada.kalau kau adalah kakaknya?"
"Karena aku tidak menyukainya. Aku. sudah membenci Mada di awal perjumpaan kami" sahut Gasa dan Gasa menatap Ivan Goh dengan sorot mata dingin, wajah datar dan sikap acuh tak acuh.
"Adikmu Mada.itu hatinya lembek mirip dengan Mamanya dan selalu berpikir beratus-ratus kali sebelum mengambil sebuah keputusan, sangat lamban dan sikapnya yang pembangkang memang sedikit menjengkelkan tapi tetap saja ia adikmu. Papa ingin kalian bisa rukun"
"Sudah selesai bicaranya?" tanya Gasa.
"Sudah" sahut Ivan, "Dan jangan lupa, rusak putrinya Elmo Elruno itu. Papa berterima kasih padamu kau mau menjalankan misi Papa dan kau berhasil bertunangan dengan putrinya Elmo brengsek itu"
Gasa bangkit, menganggukkan kepalanya, dan tersenyum ke Ivan Goh lalu melangkah pergi meninggalkan Ivan Goh begitu saja.
__ADS_1
"Dia mencintaiku, bangga padaku, dan peduli padaku, cih! aku hanya dijadikan alat balas dendamnya saja. Semua orang di dunia ini memang brengsek!" Gasa memukul keras kemudi mobilnya.
Violet bersimpuh di depan makam kakek-kakek dan nenek-neneknya dan ia bersimpuh cukup lama di depan makam paling besar, megah, mewah dan bertuliskan Moses Elruno dan Melati Arumi Putri Elruno. Violet berdoa di depan makam itu, "Kek, Nek, doakan Vio bisa.menemukan cinta sejatinya Vio ya, agar Vio bisa seperti Kakek dan Nenek. Vio harap, Kakek dan Nenek mencarikan cowok yang tepat untuk Vio secepatnya ya"
Mada memilih menunggu di balai-balai yang berada tidak jauh dari makam tersebut dan mengobrol dengan warga di sekitar makam. Dia menanyakan soal The Elruno dan Maha Adijaya ke penduuduk sekitar dan mereka semuanya mengatakan hal yang sama persis dengan apa yang dikatakan oleh Allen Yu.
Apa Papa mengarang cerita soal kematiannya Mama? gumam Mada di dalam hatinya.setrlah ia yakin benar bahwa The Elruno dan Maha Adijaya tidak mungkin membunuh Mamanya.
Allen Yu akhirnya mengajak Mada dan Violet ke pantai yang hanya berjarak satu jam saja dari makam tersebut.
Violet langsung turun dari mobil dan berlari menuju ke bibir pantai dengan bertelanjang kaki. Allen dan Mada melukis senyum di wajah mereka saat mereka melihat keceriaannya Violet.
Mada kemudian berlari dan menyusul Violet. Allen memilih menyingkir karena, ia merasa ridak kuat melihat pesonanya Violet lebih lama, Allen takut dia akan semakin dalam mencintai Violet yabg tidak mungkin ia gapai.
Mada dan Violet duduk di bibir pantai setelah mereka kelelahan bermain kejar-kejaran.
Mada menoleh ke Violet dan tangannya tanpa sadar melayang ke wajahnya Violet untuk merapikan rambutnya Violet yang tertepa angin pantai dan menutupi wajah ayunya Violet. Mada langsung menarik tangannya dan berkatqa, "Maaf" saat ia melihat Violet terpaku dan menatap Mada.
"Ah! nggak papa Kok. Makasih udah merapikan rambutnya Vio"
Mada menatap pantai dan berkata, "Apa kau akan marah jika aku memintamu lebih dari berteman?"
"Apa maksud Kakak?" Violet menoleh ke Mada dan Mada pun menoleh ke Violet.
"Aku kira kita nggak bisa hanya berteman" sahut Mada sambil memegang pipinya Violet, "Aku menyukaimu"
Violet tertegun, "Tapi, kita baru aja kenal selama tiga Minggu dan baru aja dekat"
"Aku tahu. Tapi, aku belum pernah merasa seperti ini dengan cewek lain. Aku baru merasakannya sama kamu. Selalu ingin bertemu denganmu, mencari alasan konyol agar bisa bertemu kamu lagi, bersedia melakukan apapun yang kamu minta tanpa berpikir panjang, bibirku selalu tersenyum tanpa aku perintah setiap kali mataku menangkap senyuman di wajah kamu dan hatiku selalu berdebar tidak jelas saat kau menyentuhku" Mada masih menempelkan tangannya di pipinya Violet.
Apa ini jawaban dari Kakek dan Nenek atas doaku tadi? Apa Kak Mada yang akan jadi cinta sejati ku? Tapi apa iya, secepat ini Kakek dan Nenek menemukan cowok yang tepat untukku? Gumam Violet di dalam hatinya.
Mada lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Violet. Menempelkan dahinya ke dahi Violet. tangannya menyentuh pundak Violet dengan napas yang menderu lembut. Violet mulai bergetar dan tanpa mereka sadari, bibir mereka bergerak untuk menemukan bibir yang mereka damba.
Saat bibir keduanya menempel, Mulut Mada langsung terbuka dan menangkap mulut Violet. Semangat Mada semakin menggelora saat Violet tidak mendorongnya. Mada lalu memberikan sejumlah kecupan di bibir ranumnya Violet disertai ucapan, "Aku serius menginginkanmu lebih dari sekadar teman, Vio dan aku belum pernah seserius ini sebelumnya"
Vio membalas ucapan Mada dengan ciuman membabi buta dan Mada semakin menggila, lidahnya menelusup masuk dan berpesta di dalam mulutnya Violet.
Saat ia akhirnya mengangkat wajahnya, ia melihat bibir merahnya Violet yang ranum dan tampak basah itu ia usap bibir itu dengan ibu jarinya kemudian ia merengkuh Violet ke dalam pelukannya.
Violet membuka mata dan bertanya, "Kenapa berhenti?"
Mada terkekeh dan sambil mengelus bahunya Vio, dia berucap, "Kita masih punya banyak waktu nanti"
"Lalu kita ini sekarang apa?" tanya Violet
"Tentu saja kamu kekasihku sekarang. Kamu pacarku" sahut Mada sambil mencium pucuk kepalanya Violet.
"Kalau begitu, saat kita pulang ke Indonesia, aku harus memutuskan pertunanganku dengan Mas Gasa" sahut Violet
"Hmm, aku setuju. Itu harus" Sahut Mada sambil mempererat pelukannya.
Dan aku akan menceraikan Katherine. Maaf aku tidak beritahukan soal Katherine istriku ke kamu karena, aku malas menjelaskan hal yang rumit itu ke kamu. Yang penting aku akan menceraikan Katherine setelah kita balik ke Indonesia dan aku hanya akan memiliki satu wanita saja di dunia ini yaitu kamu. Gumam Mada di dalam hatinya.
__ADS_1