
Flashback On
Mada membantu Deo melawan berandalan yang menghadang Deo dan tanpa.mereka duga ada penembak jitu yang disiapkan untuk menembakkan peluru bius ke Mada dan Deo. Otomatis, Mada dan Deo jatuh terkapar di trotoar.
Gerombolan itu membawa Mada.dan Deo ke sebuah rumah mewah yang hanya memiliki satu nyonya besar. Nyonya besar itu berprofesi sebagai pebisnis makanan ringan di dunia nyata dan memiliki bisnis narkoba di dunia tersembunyi. Masyarakat di sekitar kediaman mewah sang Nyonya besar itu tidak pernah mengetahui bisnis sampingan dari wanita berumur lima puluh tahun itu.
Tiga hari disekap di salah satu ruangan di dalam rumah besar bak istana itu, membuat Deo dan Mada terbangun dari pingsan mereka dengan merasakan sedikit pusing di kepalanya. Mada dan Deo menarik tangan mereka yang diikat di sebuah bangku kayu lalu mereka beradu pandang, "Kenapa kita bisa berada di sini?" tanya Mada.
"Di mana ini?" tanya Deo.
"Sial! aku tanya kok malah balik nanya. Dasar aneh!" Mada mendengus kesal ke Deo.
"Lha kamu yang aneh!" Pekik Deo kesal, "Kita sama-sama tersadar di tempat ini kok nanya kenapa kita bisa di sini, cih!" Deo pun mendengus kesal ke Mada.
Tiba-tiba pintu ruangan di mana di dalamnya ada Deo dan Mada yang masih terikat kencang di sebuah bangku kayu, terbuka lebar. Seseorang dengan masker, topi dan kacamata hitam, melangkah mendekati Mada dan Deo lalu berkata, "Hentikan penyelidikan kalian tentang kematiannya Diana Prastowo kalau kalian tidak menginginkan ibu penjual dawet telasih itu mati dengan sangat mengenaskan"
"Kenapa kau sangat peduli dengan kasus itu dan kenapa.kau bersikeras melayang kami untuk menyelidikinya kasus itu lagi? Apa kau pembunuhnya?" Pekik Mada kesal sambil melengkungkan badannya ke depan.
"Dia hanya pesuruh" sahut Deo.
Mada menoleh ke Deo dengan wajah kesal.
"Itu benar. Dia hanya pesuruh. Pembunuh yang sebenarnya yang telah membayarnya, aku benar, kan?" Deo berucap untuk laki-laki yang menutupi wajahnya dengan sangat rapat itu.
__ADS_1
Laki-laki yang berdiri di depannya Mada dan Deo berucap, "Ini bukan main-main dan bukan becandaan. Kalau kalian nekat melanjutkan penyelidikan atas kasus Diana Prastowo maka bukan hanya penjual dawet itu saja yang akan mati tapi gadis cantik yang kemarin tampak bersama kalian juga akan kami buru dan kami bunuh" Lalu laki-laki itu pergi meninggalkan Mada dan Deo.
Dan berkat kecerdikan keduanya, mereka berhasil berkolaborasi dan akhirnya berhasil keluar dari sekapan para berandalan itu dengan selamat.
Mada dan Deo tidak bisa menghubungi siapa pun saat mereka terlepas dari sekapan itu karena ponsel.mereka hilang. Deo kemudian mengajak Mada pergi ke.markasnya dan dari sana mereka langsung dipulangkan ke Ibukota dan bergegas menemui Galvin.
Galvin menjadi semakin dekat dengan Ratna dan merasa nyaman menjalani hari-hari mereka atas pencarian keberadaannya Mada dan Deo. Dan entah apa yang merasuki Galvin di sore hari nan syahdu itu, ketika ia secara impulsif, menyatakan rasa suka dia ke Ratna.
"Aku menyukaimu. Maukah kamu mencoba untuk berkencan denganku sebanyak tujuh kali?" ucap Galvin kala itu.
"Hah?! kau gila.ya?!" Ratna tersentak kaget.
"Aku memang gila.dam mungkin karena aku gila.maka aku hampir jurusan dokter jiwa,.hehehehe" Galvin meringis ke Ratna.
"Kau tidak hanya gila,.tapi juga nggak romantis" Ratna mencebikkan bibirnya ke Galvin dan tanpa Ratna duga, Galvin menarik tengkuknya Ratna lalu mencium Ratna karena, kesal.
Galvin pun sebenarnya sama. Dia banyak mendapatkan banyak pernyataan cinta dari berbagai bentuk dan karakter wanita namun, dia belum pernah sekali pun berpacaran apalagi mencium seorang gadis. Ciuman itu pun merupakan ciuman pertama bagi Galvin tapi, bagi Ratna Galvin seorang yang ahli dalam berciuman karena, mampu membuat Ratna hampir meledak.
Galvin kemudian melepaskan ciumannya dan menempelkan keningnya di kening Ratna dan dengan dada yang masih bergemuruh dan napas menderu, Galvin kembali bertanya, "Gimana,.maukah kamu mencoba berkencan denganku, sebanyak tujuh kali? jika kau merasa tidak cocok dalam semua momen kencan kota nanti, kita bisa kembali berteman"
Ratna tertawa ringan lalu ia mendorong dadanya Galvin agar Galvin agak menjauh darinya lalu ia berkata, "Baiklah!"
Galvin langsung memeluk Ratna dan di saat ia hendak mencium kembali bibirnya Ratna, pintu rumahnya Ratna diketuk oleh seseorang.
__ADS_1
Mereka berdua tersentak kaget dan dengan wajah yang memerah, mereka berdiri dengan canggung atas satu dengan yang lainnya lalu berjalan ke.depan untuk membuka pintu secara bersamaan dengan wajah tertunduk.
Saat Galvin membuka pintu, Mada dan Deo menatap Galvin dan Ratna dengan penuh tanda tanya.
"Kalian selamat!" pekik Ratna senang dan Galvin tersenyum lebar karena bahagia berjumpa kembali dengan Mada dan Deo di dalam keadaan selamat dan utuh. Galvin kemudian bertanya ke Mada dan Deo, "Kenapa kalian menatap kami dengan mimik wajah seperti itu?"
"Kenapa wajah Ratna memerah, wajah kamu juga dan terlebih lagi bibir kamu, bibir kamu pakai lipstick yang sama dengan Ratna ya?" tanya Mada dengan polosnya diikuti tawa ringannya Deo.
Ratna semakin memerah wajahnya dan Galvin segera mengusap bibirnya sambil berkata, "Emm, ini bukan lipstick tapi ini saos sambal, aku habis makan burger tadi"
Mada kembali membuka mulutnya untuk berkata, "Ppppffttr! mana ada saos sambal susah diusap kayak gitu. Itu lipstick matte kan? lipstick yang tidak membekas di bibir gelas jika kamu minum dan......."
Ratna langsung membungkam mulutnya Mada sambil berucap, "Oke kami baru saja berciuman. Aku jadian sama dia barusan. Puas kau!?"
Deo terkekeh geli dan Galvin meringis sambil mengelus tengkuknya.
Mada.lalu menepis tangannya Ratna dari mulutnya dan berkata, "Nah! jujur kan lebih baik. Kita.udah sama-sama.dewasa, ciuman aja kan hal biasa, hahahaha" Mada menepuk pundaknya Ratna lalu ia menepuk pundaknya Galvin dan berkata, "Selamat kau berhasil.lendapatkan wanita unik ini dan semoga aku titip adikku ini ya"
Galvin tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya di depan Mada.
Kemudian mereka.berempar duduk di sofa setelah dan begitu Galvin mengabarkan kalau Violet pingsan dan diopname di rumah sakit, tanpa mandi dan beristirahat terlebih dahulu, Mada dan Deo langsung melesat ke rumah sakit untuk melihat kondisinya Violet.
Flashback Off
__ADS_1
Mada dan Deo duduk cukup lama di dalam mobil.setelah Mada berhasil masuk ke ruang rawat inapnya Violet dan sempat mengobrol dengan Violet. Mada menceritakan semuanya ke Deo dan Deo berkata dengan bijak, "Aku rasa ada baiknya juga kau menjauh dari Violet jika kau memutuskan untuk terus maju menyelidiki kematian Mama kamu. Kau tidak ingin Violet berada di dalam zona merah, kan? kalau Violet masih bersama.denganmu maka Vio akan ikut terseret ke dalam bahaya"
Mada hanya bisa menghela napas panjang.