
"Kau kenal dengannya?" Deo menoleh ke Mada.
Mada menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Wajah wanita ini yang paling mirip dengan gambar sketsa yang dibuat oleh Vio. Dia mantan narapidana. Dipenjara selama sepuluh tahun karena, penyalahgunaan obat bius. Dia dulu bekerja sebagai perawat di Tiongkok. Satu rumah sakit dengan Papa kamu, Ivan Goh"
Deo membaca keterangan yang ada di layar laptopnya.
"Fang Yin. Aku sepertinya pernah mendengar nama itu tapi di mana? Fang Yin?" gumam Mada.
"Dia masuk penjara atas tuntutan dari Elmo Elruno?" Mada membaca berbarengan keterangan itu kemudian mereka bersitatap.
"Pantas saja kalau Pak Elmo Elruno menyuruhku membuka kembali kasus ini dan mulai menyelidikinya"
"Tapi kenapa Pak Elmo Elruno yang menyuruhmu? kenapa bukan Bu Chery?" Mada menoleh kembali ke layar laptop.
"Keduanya memintaku untuk membuka kembali kasus ini" sahut Deo.
"Papa pernah bekerja satu kantor dengan wanita ini? Aku harus menemui Papaku kalau begitu" sahut Mada. "Aku akan pulang besok"
"Tapi tunggu dulu! Belum tentu juga wanita ini yang membunuh Mama kamu. Dia hanya menemui Mama kamu di kedai dawet telasih, bukan berarti dia lah pembunuh yang kita cari selama ini" sahut Deo.
"Tapi, paling nggak aku akan bergerak dulu berdasarkan petunjuk ini. Jika mentok, aku akan cari petunjuk lagi"
Violet muncul dengan rambut basah dan fantasi liar di benak Mada mulai menggeliat kembali. Mada terus menatap Violet dengan dada naik turun menahan gairah. Fakta baru ia temukan, bahwa Violet kelihatan semakin cantik dan seksi ketika Violet tampak basah.
Deo menepuk pundaknya Mada, "Hei! kau ngelamunin apa hah? Violet mengajak kita mulai sarapan, kok malah melongo bengong"
Mada tergagap, "Oh! Ah! itu, emm, aku laper jadi bengong, hehehehe, yuk kita sarapan!" Mada berjalan mendahului Deo dan Violet untuk menutupi mukanya yang mulai memerah karena, gairah berbalut malu.
Sesampainya di meja makan, Mada celingukkan mencari sambal lalu menatap Violet, "Nggak ada sambal nih?"
"Nggak ada" ucap Violet santai sembari sibuk mengambil nasi, sayur, dan lauk untuk dirinya sendiri.
Mada.menghela napas panjang, "Kok nggak nyambel? kurang sedap makan sop ayam tanpa sambal kecap"
"Males. Aku nggak suka dan benci banget nguleg" sahut Violet sambil memutar badan lalu berjalan ke ruang tengah untuk duduk dan mulai makan.
"Udah makan aja yang ada. Jadi cowok tuh nggak boleh bawel soal makanan" ucap Deo sembari mengambil nasi, sayur, dan lauk untuk dirinya sendiri.
"Bukannya bawel tapi, emang nggak sedap kalau makan sayur sop tanpa sambal kecap" Mada mengerucutkan bibirnya sambil berjalan menuju ke ruang tengah menyusul Violet lalu ia duduk di depannya Violet.
__ADS_1
Deo tersenyum dan sambil menggeleng-nggelengkan kepalanya dia berjalan menyusul Mada lalu duduk di sebelahnya Mada.
Mada makan sembari meluncurkan protes ke Violet, ""Besok-besok lagi kalau masak tuh harus nyambel!"
Violet mencebikkan bibirnya ke Mada, "Emangnya aku istrimu? Mas Gasa aja belum pernah aku bikinkan sambal"
"Vio benar" sahut Deo dengan santainya, "Emang kamu siapanya Vio kok nyuruh Vio harus nyambel"
Mada mencengkeram erat piringnya lalu memandang Violet dengan wajah kesal karena, Violet menyebutkan nama Gasa. Dia merasa dibanding-bandingkan dengan Gasa oleh Violet dan itu membuat hati Mada meradang karena cemburu. Mada kemudian bangkit dengan wajah datar. Kemudian Mada tanpa kata apapun ia meninggalkan Violet dan Deo menuju ke teras depan. Mada kemudian makan di teras depan sambil menikmati rintik hujan yang masih giat mengguyur bumi.
Pandangannya Violet mengikuti arah perginya Mada lalu ia menghela napas panjang dan melanjutkan lagi makannya.
"Aku akan pergi sebentar setelah sarapan. Aku harus ke markas untuk memberikan laporan. Hanya sekitar dua jam." Ucap Deo ke Violet.
"Oh! oke baiklah. Hati-hati" sahut Violet.
Setelah mencuci bersih dan membereskan perabotan makan yang habis mereka pakai, Mada dan Violet mengantarkan Deo sampai ke pintu depan dan setelah mobilnya Deo berbelok dan tak tampak lagi, Mada langsung membopong Violet dan melangkah lebar masuk kembali ke dalam rumah. Mada tidak menghiraukan Violet yang terus meronta dan berteriak meminta untuk diturunkan.
Mada menurunkan tubuh Violet di dalam kamar dan ia mengunci kamar itu lalu ia masukkan kuncinya ke dalam saku celananya.
Violet mendelik ke Mada, "Kau mau apa? kenapa kau kunci pintunya?"
"Aku ingin berbicara serius denganmu. Kalau pintunya tidak aku kunci, kau takut kau akan kabur sebelum kita menyelesaikan pembicaraan serius kita"
Violet bangkit, "Kalau gitu, nggak usah berbincang serius. Kita jalan-jalan aja yuk!"
Mada memegang pergelangan tangan Violet lalu menariknya pelan dan membuat Violet terduduk kembali di atas ranjang.
Violet langsung menoleh ke Mada dan mematung. Mau tidak mau, dia akhirnya sampai di waktu di mana ia harus tegas kepada Mada dan jujur kepada dirinya sendiri.
Mada mengangkat tangannya lalu mengusap pipinya Violet, "Katakan sejujurnya! Apa arti hadirku bagimu?"
Violet menatap kedua bola mata cokelat nan unik miliknya Mada lalu ia menghela napas panjang, "Aku masih belum bisa menjelaskannya ke kamu"
"Kenapa? Apa kau tidak mencintaiku?"
Violet tanpa sadar menggelengkan kepalanya.
"Apa arti dari gelengan kepalamu? kau tidak mencintaiku?" Mada berucap dengan nada setengah tidak percaya.
"Bukan begitu, aku ........"
__ADS_1
"Jadi kau mencintaiku?" Mada terus mencecar Violet tanpa jeda.
Tanpa sadar Violet menganggukkan kepalanya.
"Sial! Cinta! jangan hanya menggelengkan kepala dan menganggukkan kepala aja dong! katakan dengan jelas apa yang kau ......."
"Aku mencintaimu. Aku masih sangat mencintaimu" Violet berucap sambil menatap sangat dalam jernihnya kedua bola mata cokelatnya Mada.
Mada menangkup kedua pipinya Violet dan hendak mencium bibirnya Violet saking gembiranya, ia akhirnya mendengar kata cinta meluncur dari mulutnya Violet dan itu ditujukan untuknya. Namun, Violet menahan Mada dan berkata, "Jangan cium aku dulu! Aku akan hilang fokus jika kau menciumku sekarang"
"Hilang fokus? untuk apa?" kenapa?" Mada mengerutkan keningnya di depan Violet.
"Untuk mengatakan yang sejujurnya. Semua yang ada di benak dan hatiku"
Mada menarik kedua tangannya dari kedua pipinya Violet lalu ia menghela napas panjang, "Oke katakanlah!"
"Aku memang sangat mencintaimu Mas tapi.........."
"Nggak usah pakai tapi" pekik Mada dengan cepat.
"Dengarkan dulu dan jangan pernah menyela sebelum aku selesai berbicara" Violet mendelik ke Mada dan Mada berucap, "Maaf! oke lanjutkan!"
"Tapi, aku juga bingung. Aku tidak ingin bercerai dari Mas Gasa karena, di keluargaku belum pernah ada yang bercerai. Jika aku bercerai, itu hanya akan membuat keluargaku malu, kan?" Violet berhenti berbicara dan menatap Mada dengan sorot mata penuh dengan kesedihan.
"Dan kau bisa hidup tenang dengan pelakor itu? Kau bisa hidup tenang berbagi suami dengannya? Dan gimana jika anaknya nanti lahir, apa yang akan kau lakukan?" tanya Mada.
"Itulah kenapa aku selalu menghindari pembicaraan serius ini. Aku nggak kuat menerima semua kenyataan yang ada di depan mataku. Aku ingin terus mengabaikannya dan.........." Violet mulai terisak menangis.
Mada merengkuh tubuh rampingnya Violet untuk ia peluk. Mada mengelus pelan punggungnya Violet sambil berkata, "Jangan hiraukan penilaian orang! raihlah kebahagiaanmu sendiri! Aku yakin, jika orang tua kamu mengetahui soal Gasa yang sudah menduakan kamu, mereka pasti juga akan menyarankan kamu untuk bercerai"
"Lalu apa bedanya denganku? Aku juga selingkuh kan? Aku sudah berciuman dengan lelaki yang bukan suamiku" Violet semakin kencang tangisnya.
Mada menghela napas panjang sembari mengusap lembut rambut panjangnya Violet, ia berkata, "Kau nggak akan pergi dari rumah dan masuk ke dalam pelukan laki-laki lain kalau kau diperlakukan dengan penuh kasih sayang oleh suami kamu. Dan aku juga tidak akan nekat masuk kembali ke dalam kehidupan kamu jika suami kamu, suami yang penuh kasih, lembut, dan setia"
Violet menangis semakin hebat di dalam pelukannya Mada.
Mada kemudian mendorong kedua bahunya Violet, ia usap air mata Violet dengan bibirnya. Dia ciumi berkali-kali kedua kelopak matanya Violet yang berbulu lentik lalu ia menurunkan bibirnya ke hidung mungil nan mancungnya Violet terus turun hingga sampai di depan bibirnya Violet. Kemudian dengan perlahan, Mada menempelkan bibirnya di atas bibirnya Violet. Hanya menempel selama beberapa detik dan Violet yang terlebih dahulu menggerakkan bibirnya untuk memagut bibirnya Mada. Kedua sejoli itu kemudian mulai berciuman dengan lembut dan penuh dengan perasaan campur aduk diiringi kesyahduan gerimis yang mengetuk-ngetuk jendela kamar itu.
Mada semakin menggila saat Violet menggigit bibirnya. Memaksa bibir Mada terbuka dan Violet menyusupkan lidahnya di sana. Violet mengajak bercanda lidahnya Mada dan membuat gairahnya Mada semakin menggelora. Dinginnya pagi telah berganti menjadi panas karena api gairah yang membungkus tubuh kedua sejoli itu.
Ciuman Mada benar-benar membuat Violet merasa sebagai wanita seutuhnya dan membuat Violet merasa begitu dicintai. Mada kemudian merebahkan Violet secara perlahan di atas kasur tanpa melepaskan ciumannya. sementara Mada memancing Violet untuk tersu menjadi partisipan dalam ciuman mereka yang mendalam itu, tangan Mada mulai menyusup masuk ke dalam dan mulai menemukan spot favoritnya. Tangannya menjadi keasyikan bermain di sana setelah ia melepas pengait bra.
__ADS_1
Semua yang ada di diri Violet terasa sangat luar biasa bagi Mada dan membuat Mada ingin terus mencicipinya...................