
"Apa ini berarti, aku telah menjadi gadis nakal? aku telah selingkuh dari Mas Gasa, benar kan?" tanya Violet sambil menatap deburan ombak di pantai itu.
Mada mencium belahan rambutnya Violet cukup dalam lalu ia berkata, "Kau hanya jujur dengan perasaanmu. Jangan pernah berpikiran kalau kau selingkuh. Jika Gasa memperlakukanmu dengan baik, maka aku nggak akan senekat ini menyatakan perasaanku ke kamu"
"Tapi, aku tetap saja merasa bersalah"
"Jangan bebani perasaanmu dengan yang aneh-aneh. Kita tengah jujur dengan perasaan kita dan bukankah di dunia ini kejujuran itu tidak salah, kan?" ucap Mada sambil mengelus bahunya Violet.
"Yeeeaahhh, kurasa kau benar. Lalu aku harus memanggilmu apa sekarang?" tanya Violet.
"Panggil aku Mas Mada mulai dari sekarang. Aku juga ingin kau panggil Mas" sahut Mada.
"Mas Mada" Violet berucap sambil mengangkat wajahnya untuk menatap Mada.
Mada tersenyum dan kembali mencium Violet dengan penuh kelembutan.
Keesokan harinya, Mada keluar dari kamar mandi dengan tubuh lesu karena, dia sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya semalaman sampai pagi menyapa, "Kenapa hati dan mulutku ini selalu kompak. Mulutku selalu meluncurkan begitu saja apa kata hatiku tanpa berkompromi terlebih dulu dengan otakku? dasar sial!" Mada menyugar rambutnya, meremas rambut hitam lurusnya, dan berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. "Aku ini brengsek, kacau, kenapa aku nekat nembak Violet semalam? aku nggak pantes untuk gadis suci dan baik seperti Violet.......ah Mada! kau emang gila, gila!"
Tok, tok, tok, pintu kamarnya Mada diketuk oleh seseorang di pukul enam pagi. Mada melangkah lebar untuk membuka pintu itu dan cerahnya mentari, terlukis indah di wajah ayunya Violet yang tengah tersenyum manis di depan Mada.
Mada langsung memegang kedua bahunya Violet dan bertanya, "Kau bisa tidur nyenyak semalam? kau baik-baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja. Emm, aku belajar bikin omelet dan perdana bikin kopi, semua untukmu. Nih! cicipilah!" Violet menyodorkan nampan yang dia pegang Mada.
Mada mengambil nampan itu dan berkata, "Makasih" lalu mempersilakan Violet masuk ke kamarnya dan ia buka lebar-lebar pintu kamarnya.
Mereka lalu duduk di meja yang ada di balkon kamar itu. Balkon kamarnya Mada menghadap ke kolam renang. Mada meletakkan nampan di atas meja lalu berkata ke Violet, "Apa kau mau berenang pagi ini?"
Violet menggelengkan kepalanya, "Aku capek. Mungkin nanti sore apa besok pagi aja berenangnya"
"Oke!" Mada masih merasa canggung dan merasa bersalah karena, telah nekat menyatakan perasaan sukanya ke Violet dan dalam diam, ia meraih piring dan langsung mencicipi omelet ala Violet. Mada langsung mengernyit, mengulum bibir, dan ragu untuk meneruskan mengunyah lebih lanjut potongan omelet yang sudah mendarat di lidahnya karena, rasa omelet ala Violet itu sangat lah kacau.
Violet menoleh dan menatap Mada dengan senyum lebar, "Gimana, enak nggak?"
Mada langsung menelan secuil omelet yang ada di dalam mulutnya begitu saja dan dengan menghela napas panjang sambil mengulas senyum aneh, dia menganggukkan-anggukkan kepalanya.
"Enak nggak sih? kok senyum kamu aneh gitu. Coba aku cicipi, sini" Violet mencoba meraih piring di atas tangannya Mada dan Mada langsung menjauhkan piring itu dari jangkauan tangan Violet sambil berkata, "Omelet ini khusus untukku kan? jadi aku akan menghabiskannya sendiri"
"Dasar pelit. Aku minta secuil aja, aaaaa!" Violet membuka mulutnya di depan Mada. Alih-alih menyuapkan secuil omelet ke Violet, Mada bangkit dan menjejalkan semua omelet yang tersisa ke dalam mulutnya. Dia mengunyahnya dengan cepat dan berucap dengan mulut penuh, "Udah habis"
Violet mengerucutkan bibirnya, "Dasar pelit. Emang enak banget ya?"
Mada tersenyum lebar, menaruh piring kosong di atas meja dan berkata, "Masakan perdana darimu untukku, tentu saja sangat enak. Makasih ya" Mada membungkuk dan mengecup bibir lancipnya Violet lalu ia kembali duduk untuk menyesap cangkir kopinya.
Mada kembali mengernyit dan menoleh ke Violet secara spontan dengan bibir yang masih menempel di cangkir kopi.
__ADS_1
Violet menautkan alisnya, "Kenapa, pahit ya?"
Mada menggelengkan kepalanya pelan dan segera menenggak habis kopi bikinannya Violet yang rasanya sangat pahit. Lalu ia letakkan cangkir kopi kembali ke nampan dan berkata, "Makasih udah bikin sarapan terenak sedunia untukku"
"Hehehehe, syukurlah kalau kamu suka. Itu perdana aku masak omelet dan perdana bikin kopi" Violet meringis ke Mada.
Mada meraih tangannya Violet, menariknya Violet hingga Violet terjatuh di atas pangkuannya. Violet tersentak kaget dan hendak bangkit tapi, Mada langsung menahannya. Mada menaruh dagunya di atas pundaknya Violet dan berkata, "Maafkan aku! aku begitu percaya diri semalam nembak kamu"
"Apa kamu menyesalinya Mas?" tanya Violet.
Mada mengelus perut ratanya Violet dan berkata, "Tentu saja aku tidak menyesalinya tapi, aku merasa nggak pantas untuk kamu"
"Kenapa begitu?"
"Kau seorang dokter, suci, polos, dan baik. Aku ini kacau, brengsek dan........"
Violet memutar badan dan langsung membungkam mulutnya Mada dengan tangannya, "Ssssttt! yang paling penting, Mas setia, bertanggung jawab, dan selalu menyayangiku. Mas Mada akan seperti itu kan, kini dan selamanya?"
Mada menganggukkan kepalanya, "Aku berjanji mulai sekarang dan selamanya, hanya ada kau di hatiku" ia lalu menarik tangannya Violet, menciumi telapak tangannya Violet dan bertanya, "Apa Gasa belum pernah mencium tangan kamu seperti ini? kenapa kamu tampak malu dan canggung?"
Violet menggelengkan kepalanya, "Mas Gasa belum pernah mencium bibirku, belum pernah menciumi tanganku seperti ini, dan belum pernah memangku aku seperti ini"
Mada tersenyum senang, "Jadi aku adalah yang pertama?"
Violet merona malu lalu menundukkan wajahnya dan mengangguk pelan.
"Kenapa memandangiku terus Mas?" kedua pipinya Violet merona indah dan membuat Mada mendekatkan wajahnya ke wajah Violet, Violet memejamkan kedua matanya, perutnya terasa terhantam ombak, tubuhnya menegang seperti tersengat impuls listrik jutaan voltase, dan darahnya berdesir hebat diiringi debaran jantung yang sangat kencang.
Mada tersenyum lalu ia mencium kedua pipinya Violet dengan penuh rasa sayang lalu ia cium keningnya Violet cukup lama sampai Violet menghela napas panjang menahan gairah.
Saat Mada menarik wajahnya, Violet membuka kedua matanya dengan heran dan Mada langsung tergelak geli sambil menyentil pucuk hidungnya Violet, "Kenapa menatapku seperti itu? apa yang ada di pikiranmu gadisku, Violetku?"
Violet langsung bangkit dari pangkuannya Mada lalu melangkah lebar meninggalkan Mada karena malu. Mada tergelak geli sambil membawa nampan ia berlari kecil menyusul Violet.
Mada mencuci peralatan makan yang kotor. Setelah selesai ia berputar badan dan menatap Violet yang masih melancipkan bibirnya.
Mada tersenyum geli lalu bertanya, "Kau sudah sarapan? mau aku masakkan sesuatu?"
"Kita sarapan di luar saja yuk! aku ingin jalan-jalan denganmu" sahut Violet yang langsung bangkit dan menarik tangannya Mada dengan keluguannya.
Mada tersenyum bahagia. Dia merasa sangat beruntung bisa berpacaran dengan Violet yang sempurna, sangat sempurna di matanya.
Setelah sarapan, mereka berjalan-jalan di pusat kota dan tiba-tiba Mada menarik Violet masuk ke kedai tato. Violet menoleh ke Mada dengan heran.
Mada mencium pelipisnya Violet, "Aku ingin bikin tato"
__ADS_1
"Hah?! tato bentuk apa?"
"Lumba-lumba. Kau suka dicium lumba-lumba kan, jadi jika kau rindu menatap lumba-lumba, kau bisa menatap tato-ku nanti" ucap Mada sambil mengajak Violet untuk duduk mengantre.
"Akan kau pasang di mana tato lumba-lumbanya?" tanya Violet dengan senyum penuh cinta.
"Kau yang pilih" Mada menciumi tangannya Violet yang masih ia genggam.
Violet langsung bersemangat dan dengan mata berbinar-binar, ia menyentuh tengkuknya Mada, "Di sini boleh?"
"Imajinasi kamu cukup liar juga ya, Apa kau ingin mencium lumba-lumbanya di sini?" Mada terkekeh geli sambil mengelus tengkuknya.
Violet langsung menepuk dadanya Mada dan berkata, "Bukan begitu maksudku. Aku pilihkan bagian tubuh yang tidak sakit jika terkena jarum dan akan gampang diobati jika terjadi infeksi, emm apa pergelangan tangan bagian dalam saja deh, di bagian ini juga nggak akan terasa sakit kalau terkena jarum" Violet menyentuh pergelangan tangan bagian dalamnya Mada.
"Di tengkuk saja nggak papa. Sesuai imajinasi awal kamu tadi" Mada menyentil pucuk hidungnya Violet lalu kembali menciumi tangannya Violet sambil tersenyum lebar. Violet menunduk malu lalu merebahkan kepalanya di bahunya Mada.
Mada memeluk erat Violet dengan penuh rasa sayang dan bertanya, "Nama lengkap kamu siapa? CE kepanjangannya apa?"
"Violet Cinta Elruno" jawab Violet.
"Apa boleh aku memanggilmu Cinta saat kita sedang berduaan? dan apa boleh lumba-lumbanya nanti dikasih tulisan Cinta?"
"Kalau tambah tulisan, sakitnya akan tambah lama kan? cukup gambar lumba-lumba aja, aku nggak mau kamu menahan sakit terlalu lama nanti"
"Boleh nggak?"
"Boleh sih tapi ........"
Mada mengecup keningnya Violet, "Aku hanya butuh jawaban boleh"
Violet tersenyum lebar dan kembali menepuk dadanya Mada.
Dengan panjang karakter yang kecil hanya sekitar sepuluh centimeter dengan tulisan Cinta, tato yang dibuat di atas kulitnya Mada membutuhkan waktu dua jam lebih dan selama itu, Mada tidur tengkurap dengan kepala miring menatap Violet dan saat ia merasakan ada nyeri sedikit, ia menarik tengkuknya Violet dan mencium bibirnya Violet cukup lama. Laki-laki yang melukiskan tato di kulitnya Mada, hanya bisa tertawa dan tersenyum melihat kemesraannya Mada dan Violet.
"Aku menawarkan wiski untuk menahan nyeri tapi kau tolak tadi. Ternyata kau punya penawar rasa sakit sendiri ya?" sahut pemuda yang masih asyik melukis di kulit tengkuknya Mada.
Violet langsung menarik wajahnya dan merona malu. Mada terkekeh geli dan bertanya ke seniman tato yang masih melukis di tengkuknya, "Kau bisa berbahasa Indonesia?"
"Bisa. Pelangganku datang dari berbagai negara jadi aku bisa bermacam-macam bahasa" sahut pemuda si seniman tato itu.
"Oh" sahut Mada sambil memainkan jari jemarinya Violet.
"Anda tidak ditato sekalian Nona cantik?"
Violet hendak membuka mulutnya dan Mada segera memekik, "Jangan! aku nggak rela ia disakiti oleh apapun juga di dunia ini termasuk jarum tato brengsek ini"
__ADS_1
Violet tersenyum ke Mada dengan penuh cinta dan seniman tato itu hanya bisa berucap, "Cinta memang indah jika telah menemukan orang yang tepat"
"Iya, dia tepat bagiku. Sangat tepat" Mada tersenyum ke Violet dan Violet membalas senyuman itu dengan tatapan penuh cinta.