The Thing About Violet

The Thing About Violet
Pergilah!


__ADS_3

Sakit yang ditanggung Violet harus ia nikmati karena, sakit itu akan menggiring ke sebuah kehidupan baru. Seorang anak, harapan baru dan anak itu tidak berdosa. "Aku harus kuat" gumam Violet lirih setelah ia terbangun dari pingsannya dan segera menyadari kejamnya kenyataan ada di dalam kehidupannya. Violet mengusap kasar buliran bening yang mengalir di pipinya lalu ia mencabut jarum infus dan hendak berdiri. Kepalanya tiba-tiba terasa pusing dan di saat ia hampir jatuh di lantai, sebuah tangan kekar menyangga tubuhnya.


Violet mengangkat wajahnya secara perlahan dan ia beradu pandang dengan sepasang manik cokelat yang tidak asing. Violet langsung membenamkan wajah ayunya yang masih pucat ke dada bidang laki-laki bermanik cokelat itu.


Mada menghela napas panjang dan mengusap rambut panjangnya Violet yang lepek karena, selama dua hari Violet terus berbaring di atas ranjang karena, pingsan. Dan Mada kemudian berkata, "Maafkan aku. Aku baru datang. Kau baik-baik saja, kan? kenapa kau bisa terbaring lemas di sini? Deo ada di luar ingin menjengukmu juga tapi, untum masuk ke sini kami harus bergantian dan........"


Violet mempererat gelungan tangannya di pinggang kekarnya Mada dan menangis sesenggukkan tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


Mada kemudian membopong Violet dan merebahkan Violet di atas ranjang lalu Mada duduk di tepi ranjang dan mengusap air mata di kedua pipinya Violet yang masih mengucur deras sembari berkata, "Sssttt! jangan menangis lagi! Ada aku di sini"


Violet menatap wajahnya Mada yang tampak lusuh dan terus menggelengkan kepalanya tanpa mampu mengeluarkan kata-kata.


Mada menangkup kedua pipinya Violet untuk menghentikan gelengan kepalanya Violet sembari berkata, "Sssttt jangan gelengkan kepalamu terus! kau akan pusing nanti"


Violet bisa mengeluarkan kata setelah meminum segelas air putih hangat dengan dibantu oleh Mada, "Aku hamil"


Satu kata yang meluncur dari bibir manis pujaan hatinya itu membuat Mada tertegun. Mada membisu dan terus menatap wajah cantiknya Violet dengan ambigu.


"Aku hamil anaknya Gasa. Anak ini adalah anak seorang psikopat. Aku paham resikonya membesarkan keturunan dari seorang psikopat tapi, aku tidak ingin menggugurkannya"


"Psikopat?" Mada mengeluarkan tanya dengan nada lemah.


"Iya. Gasa seorang psikopat. Dia yang telah menyuruh seseorang menyabotase pesawat pribadinya Papaku. Dia yang ingin membunuh Papa, Mama dan Galvin" Violet berkata lemah.

__ADS_1


Mada membeliak kaget, "Kau yakin soal itu?"


"Aku mendengarkan sendiri dengan kedua telingaku pengakuannya Gasa. Galvin menaruh perekam suara di tas kerjanya Gasa" sahut Violet.


Mada terhenyak kaget. Dia sungguh tidak menyangka kalau kakak tirinya sejahat itu. Dan Mada menatap Violet dengan tatapan kosong karena, terus terang hatinya merasa tidak terima, pujaan hatinya mengandung anak dari laki-laki lain. Mada ingin memukul seseorang saat itu juga untuk melampiaskan kecemburuan, kekecewaan dan kegeramannya namun, ia tahan rasa itu dengan cara mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat.


Violet bisa merasakan tatapan kosong itu dan menangkap kepalan tangannya Mada. Violet menyentuh kepalan tangannya Mada lalu berkata lirih, "Kau kecewa dan marah ya saat ini?"


Mada tersentak kaget lalu tanpa ia sadari secara otomatis, ia menganggukkan kepalanya. "Bagaimana kau tahu?"


"Kau berulangkali menghela napas panjang, memejamkan mata dan mengepalkan kedua tanganmu"


"Terus terang aku lelah karena, aku dan Deo baru saja melarikan diri dari sekapan seseorang. Pikiran pertamaku adalah kamu dan entah kenapa, aku ingin segera bertemu denganmu untuk itulah aku dan Deo berupaya mencari segala cara untuk bisa segera berlari menjumpaimu. Aku dikejutkan dengan berita kami diopname di sini lalu semakin syok dengan berita kehamilanmu dan kegilaannya Gasa"


Mada memegang tangannya Violet, "Aku mencintaimu. Apapun yang terjadi dan apapun yang kamu lakukan, tidak bisa menghapus rasa cintaku untukmu"


Violet lalu menurunkan tangannya, "Kalau begitu, lupakan saja aku dan jangan pernah muncul di depanku lagi!"


"Tapi kenapa? Kau akan menceraikan Gasa, kan? Walaupun aku kecewa kamu mengandung anak dari pria lain tapi cintaku ini memampukan aku untuk bisa menerima kenyataan itu dan oke lah! Aku bersedia menjaga kamu dan anak kamu di sisa umurku ini setelah kami bercerai dengan Gasa"


"Tinggalkan aku! pergilah dan jangan muncul lagi di depanku!"


"Cinta, jangan seperti ini! Maafkan aku! Apapun kesalahanku, maafkan aku! Tapi jangan larang aku untuk menemui kamu, please!?" Mada bangkit dan hendak memeluk Violet namun, Violet menahan tubuhnya Mada sembari terus memencet bel di ranjangnya.

__ADS_1


Seorang suster masuk ke ruang rawat inapnya Violet itu dan langsung melempar tanya, "Ada apa Dokter Violet memencet bel? Ada yang bisa saya bantu, Dok?"


"Tolong bawa orang ini pergi! Saya butuh istirahat" Violet lalu berbaring miring dan membelakangi Mada.


Mada menghela napas panjang meraup kasar wajahnya lalu melangkah gontai keluar dari ruang rawat inapnya Violet. Berat sekali beban yang harus ia tanggung karena, ia melihat kesedihan di wajahnya Violet.


Mada kemudian mengajak Deo untuk pergi dari rumah sakit swasta itu dengan wajah murung penuh dengan guratan kekecewaan dan kesedihan.


Gasa segera melesatkan mobil mewahnya ke rumah sakit begitu ia menerima kabar dari pihak rumah sakit kalau istri tercintanya telah sadar. Gasa membawakan satu keranjang buah yang berisi jeruk dan anggur, buah kesukaannya Violet dan berlari menuju ke ruang rawat inapnya Violet.


Violet tersentak kaget saat ia melihat Gasa melangkah masuk ke kamar rawat inapnya karena jujur Violet masih belum siap bertemu dengan suaminya. Violet masih bingung bagaimana harus bersikap di depan suaminya.


Gasa meletakkan keranjang buah yang ia tenteng di atas nakas lalu ia memeluk Violet, menciumi wajah cantik istri yang sangat ia cintai itu, lalu mencium perutnya Violet yang masih tampak rata.


Gasa lalu duduk di tepi ranjang dan mengusap wajah putih bersihnya Violet yang masih tampak lesu dan pucat dan bertanya dengan penuh kasih sayang, "Aku bawakan jeruk dan anggur. Kau mau aku kupaskan yang mana dulu?"


Violet ingin merasakan kesegaran di raganya yang terasa lemas untuk itulah ia kemudian berucap, "Jeruk saja"


Gasa tersenyum cerah lalu mengambil sebuah jeruk dan mulai mengupasnya sembari terus menatap Violet dan berkata, "Terima kasih kau terus berupaya dan akhirnya berhasil mengandung anakku. Aku sangat senang dan sangat mencintaimu"


Violet hatinya melempar senyum tipis tanpa kata. Lalu ia membuka mulut untuk menerima suapan buah jeruk dari suaminya.


Lima jam kemudian, Violet diijinkan untuk pulang dan sejak hari itu, Gasa hanya memperhatikan Violet dan tidak pernah menganggap Mia ada. Hal itu semakin membuat rasa dendam dan bencinya Mia kepada Violet semakin menggumpal kental. Mia mulai menggeram di dalam kamarnya, "Aku akan menyingkapkan Vio"

__ADS_1


Sementara itu, Elmo dan Lili pulang ke Indonesia. Setelah mendengar kabar soal kehamilannya Violet dan mendengar kabar bahwa Gasa yang sudah menyabotase pesawat pribadinya. Elmo memutuskan untuk mulai muncul di depannya Gasa.


__ADS_2