The Thing About Violet

The Thing About Violet
Petunjuk Baru


__ADS_3

Mada dan Violet berkeliling pasar tradisional dan kegiatan mereka itu benar-benar menguras semua uang cash yang ada di dalam dompetnya Mada karena, Violet tidak mengijinkan Mada untuk menawar lagi. Mada hanya bisa tersenyum lebar dan mengalah menerima permintaannya Violet itu.


Mada menoleh ke Violet sembari berjalan di sampingnya Violet, ia berkata, "Aku ini rajanya tawar menawar. Aku terbiasa hidup sendiri dan terbiasa berhemat jadi, menawar itu suatu keharusan bagiku. Tapi, di hari ini Mada tidak bisa menawar sama sekali, Huuuffttt!"


Violet terkekeh geli, "Lah aku kasihan Mas sama penjualnya. Mereka kan pas-pasan penghasilannya" sahut Violet.


"Dari mana kau tahu kalau mereka pas-pasan penghasilannya? kalau mereka nggak punya penghasilan lebih dari cukup, mereka nggak akan jualan lagi"


"Pokoknya aku nggak suka tawar menawar. Pertama aku kasihan sama penjualnya, kedua tawar menawar hanya buang-buang waktu, kan? Kalau kita tinggal bayar saja barang yang kita mau, kita bisa menghemat beberapa menit, benar, kan?" Violet menoleh ke Mada dengan senyum lebarnya dan Mada langsung menggemakan tawanya, "Yeeaahh, kau memang selalu benar Cinta"


Saat mereka berjalan menuju ke pintu depan pasar tradisional itu, mereka kembali melintasi penjual dawet dan penjual dawet itu langsung berteriak memanggil Mada, "Mada! kemarilah sebentar Nak! Ada yang ingin Ibu sampaikan ke kamu"


Mada berjalan ke kedai dawet dan dengan malas-malasan, Violet mengikuti Mada. Violet berjalan malas ke kedai dawet karena ia merasa was-was kalau-kalau, penjual dawet itu akan mengatakan hal-hal yang akan membuatnya merasa canggung lagi di depannya Mada dan di depan para pembeli dawet lainnya.


Namun, kenyataannya berbeda dengan bayangannya Vuolet. Penjual dawet itu mengatakan beberapa kata yang mengejutkan bagi Mada dan Violet. Penjual dawet itu berkata dengan menggebu-nggebu, "Ibu cuma mau mengatakan ke kamu kalau sehari sebelum Mama kamu meninggal, ada seorang wanita yang cantik karena make-up tebal dengan setelan baju yang mahal, menghampiri Mama kamu yang tengah makan dawet di sini. Entahlah Mada, mungkin cerita ini sudah nggak penting lagi bagi kamu tapi, Ibu merasa kok Ibu perlu menceritakannya ke kamu"


Mada dan Violet kemudian bersitatap. Mada lalu memandang ke ibu penjual dawet dan bertanya, "Apa wanita itu seperti ini?" Mada memperlihatkan foto dia bersama keluarga Chery Elruno Darmawan sewaktu ia masih berada di Amerika.


Penjual dawet itu menggelengkan kepalanya, "Yang di ponsel kamu ini sangat cantik. Jauh lebih cantik dari wanita yang menghampiri Mama kamu di sini waktu itu. Bukan wanita di ponsel kamu yang menghampiri Mama kamu waktu itu"


"Lalu siapa wanita itu Bu? Apa wanita itu penduduk di sekitar sini? sering belanja juga di pasar ini?" tanya Mada sambil memasukkan kembali ponselnya ke saku celana kainnya.


"Ibu juga baru pertama kali melihat wanita itu. Wanita itu belum pernah belanja di sini. Saat itu adalah pertama kali dan terakhir kalinya Ibu melihat wanita itu" jawab penjual dawet


"Bagaimana wajahnya?" tanya Mada kemudian.


"Dia memakai riasan wajah yang tebal dan lengkap. Wajahnya tidak ramah" sahut penjual dawet.


"Apa reaksi Mama saya waktu itu?" tanya Mada.


"Mama kamu terlihat kaget lalu di saat Mama kamu secara spontan hendak menggeser tempat duduknya, wanita itu menahan lengan Mama kamu dan membisikkan sesuatu ke Mama kamu dan Mama kamu membeliak kaget waktu itu. Entah apa yang dibisikkan oleh wanita itu, Ibu nggak bisa mendengarnya"


Mada kembali bersitatap dengan Violet. Violet lalu mengajak Mada duduk dan Violet kemudian bertanya ke penjual dawet itu, "Ibu masih bisa mengingat wajahnya?"

__ADS_1


"Masih. Ibu sangat pandai dalam hal mengingat wajah seseorang. Buktinya, Ibu langsung bisa mengenali Mada kan, tadi" sahut penjual dawet itu.


"Ibu punya kertas kosong dan pulpen atau pensil?" tanya Violet.


"Ada. Sebentar Ibu ambilkan" penjual dawet itu berdiri dan berlari kecil ke arah belakang.


Tidak begitu lama penjual dawet yang bernama Ibu Darmi itu kembali duduk di depannya Violet dan meletakkan kertas kosong dengan sebuah pensil.


"Kau mau apa?" tanya Mada sambil menoleh ke Violet.


"Aku bisa menggambar. Aku akan berusaha menggambar wajah wanita itu berdasarkan gambaran dan penjelasan dari Ibu Darmi" sahut Violet sambil meraih pensil lalu berkata ke Bu Darmi, "Bagaimana ciri-ciri wanita itu Bu?'


Mada memandang Violet dengan kagum dan penuh rasa cinta lalu ia melihat ke kertas putih di mana Violet sudah mulai menggoreskan pensil di kertas itu beriringan dengan penjelasan yang keluar.


Setelah menyelesaikan sketsa gambarnya, Violet mengangkat kertas lalu menyerahkannya ke Bu Darmi, "Apa benar seperti ini wajah wanita itu, Bu?"


Bu Darmi meraih kertas itu lalu tersenyum lebar , "Wah! Anda hebat sekali dalam menggambar. Iya benar. Wajah wanita yang Anda gambar ini, mirip sekali dengan wajah wanita yang menemui Mamanya Mada di sini kala itu"


Mada menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Kemudian dia dan Violet menatap Bu Darmi dan mengucapkan terima kasih lalu pamit untuk bergegas pulang menemui Deo.


Sesampainya di rumah, Mada menaruh semua belanjaannya ke dalam lemari es lalu bergegas bergabung di ruang tengah. Ia menyipitkan kedua matanya saat melihat Deo telah duduk di sebelahnya Violet dan mulai membahas hasil lukisan wajah yang berhasil dibuat oleh Violet.


Mada berdiri di depannya Violet dan Deo lalu berkata dengan tatapan dan nada tegas ke Violet, "Vio, kau pindah ke sini!"


Violet dan Deo secara serempak mengangkat wajah mereka untuk menatap Mada.


"Laki-laki dan seorang wanita tidak boleh duduk bersebelahan. Vio, cepat pindah ke sini!"


Violet menghela napas panjang lalu bangkit dan duduk di kursi single. Mada tersenyum senang melihat Violet menurutinya dan ia tersentak kaget saat menoleh ke Deo karena Deo tengah mendelik ke arahnya.


Mada duduk di kursi single di depannya Deo dan berkata dengan santai, "Jangan mendelik kayak gitu, entar sepi jodoh kalau kau sering mendelik kayak gitu"


Deo menggeleng-nggelengkan kepalanya lalu berkata, "Dasar gila!"

__ADS_1


"Gimana, apa gambar yang dibikin Violet bisa memberikan kita petunjuk?" tanya Mada.


"Aku sudah mengirimkan sketsa gambar ini ke kantor pusat dan belum mendapatkan balasannya" sahut Deo.


Mada menepuk-nepuk kedua pahanya dengan kedua telapak tangannya sembari berkata, "Aku sungguh tidak sabar menunggu kabar dari kantor pusat kamu. Semoga ada petunjuk dari gambar itu"


"Kalian tunggu saja kabar dari kantor pusat. Aku akan memasak sarapan untuk kita" Violet bangkit dan kedua laki-laki itu langsung menoleh ke Violet lalu bertanya secara kompak, "Kau bisa masak, kan?"


Violet menatap keduanya dengan senyum jahil, "Entahlah"


"Kalau gitu biar aku saja yang masak. Entar Deo bisa pingsan makan masakanmu. Kalau aku kan sudah terbiasa" sahut Mada sembari bangkit.


Violet mendelik ke Mada dan Deo langsung melempar tanya, "Sudah terbiasa?"


Mada memandang Deo, "Vio mantanku. Kau tahu itu kan. Jadi, soal masakannya Vio, aku lah yang benar-benar tahu betapa dahsyatnya masakannya"


Violet terkekeh geli lalu berkata, "Sejak aku menikah, aku belajar memasak sama Mamaku jadi, aman. Duduklah dengan tenang kalian wahai anak-anakku! Mama akan memasak untuk kalian, hohohoho" Violet lalu memutar badan dan berjalan menuju ke dapur.


Mada kembali duduk lalu bersitatap dengan Deo dan mereka kemudian berbarengan menggemakan tawa mereka melihat sikap konyolnya Violet tadi.


Violet memasak nasi di tempat memasak nasi lalu ia menggoreng omelet, masakan andalannya. Kemudian memasak sup ayam dan selesailah sudah. Violet memang hanya menguasai dua masakan itu. Violet selalu malas memasak nasi goreng dan malas membuat sambal karena ia benci menguleg di cobek walaupun ia tahu, Mada sangat menyukai sambal cobek dan nasi goreng, Violet tetap tidak akan membuatnya.


Violet kemudian masuk ke kamar untuk mandi setelah memasak ia berkeringat dan merasa risih untuk itulah ia bergegas masuk ke kamar untuk mandi.


Mada secara sembunyi-sembunyi terus memperhatikan gerak-geriknya Violet dan harus menahan gairah yang tiba-tiba timbul saat ia melihat Violet menggelung rambut panjang, hitam dan indahnya ke atas sehingga memperlihatkan leher belakangnya Violet yang halus putih bak sutera. Mada tanpa sadar menelan salivanya secara pelan karena ia takut, Deo akan menyadari halusinasi indah yang dengan liar menyusup masuk ke dalam otaknya.


Mada semakin kalang kabut menguasai gairahnya saat ia melihat Violet mulai berkeringat. Buliran demi buliran keringatnya Violet menuruni leher belakangnya Violet dan membuat Violet semakin terlihat seksi. Mada membayangkan ia melangkah mendekati Violet lalu memeluk Violet dari belakang dan ia menciumi leher belakangnya Violet. Bayangan yang membuat dadanya naik turun itu membuat Mada seketika itu juga menjadi kepanasan. Tanpa sadar ia mengambil majalah edisi kuno dan lawas yang ada di bawah meja kemudian ia mengibas-ngibaskan majalah itu untuk mengusir gerah dan gairahnya.


Deo melihat Mada dan melempar tanya, "Di luar hujan deras. Aku aja kedinginan nih, kok kamu malah kepanasan? kamu sakit ya?"


"Cerewet kau, nggak usah hiraukan aku! Lanjutkan aja kerjaan kamu! gimana udah ada jawaban dari kantor pusat kamu" ucap Mada sambil terus mengibas-ngibaskan majalah yang ia pegang.


"Sudah. kemarilah dan lihatlah!" Deo menyuruh Mada duduk di sampingnya laptopnya. Mada langsung bangkit, berlari kecil dan duduk di sebelahnya Deo. Ia menatap layar laptop dengan kerutan di dahinya.

__ADS_1


__ADS_2