
Aku segera telefon om Raka,"Om kapan nih aku di ajarin,Ayah matanya sebelah agak rabun jadi aku yang takut".
"Kamu bisanya hari apa,kalau saran om sih,malam hari jalanan sepi,untuk awal biasanya begitu Ndis",siap om,kita mulai minggu depan ya...".
"Aktifitas seperti biasa pagi ke kantor ,kerja tapi banyak ketawanya,kami selalu mendukung setiap ada kekurangan,selalu kompak,jikalau ada yang membutuhkan saran,dan nasehat-nasehat,tidak ada yang merasa lebih pintar,semua sama itulah team solid kita".
"Sore hari sepulang kantor,kebetulan semua kebutuhan Almayra sudah menipis,segera aku mengajak Gadhis ke Supermarket terdekat".
"Aku dan Gadhis berboncengan bawa motor Ayah, Almayra pun ikut,Mama dan Ayah ke pengajian ,alhamdulillah mobil bisa di pakai sama ngajak tetangga buat ke pengajian".
"Hatiku merasa tidak enak,aku berbisik kepada Gadhis,kok kayaknya kita ada yang ngikutin ya Dhis...",ah masa kak ,gimana ini,tenang kita bayar lalu pegangan yang kenceng,kita lewat jalan tikus".
"Keluar kita dari Supermarket,ku lihat kanan,kiri,nggak ada siapa-siapa kak...,mungkin perasaanku saja kali ya Dhis,".
"Beberapa meter,muncullah mobil van hitam dari belakang,kak ada mobil van,di belakang kita,dari depan sepeda motor dua".
"Dag...dig...dug...".
"Bunyi jantung ku seperti ada iramanya,apa-apaan ini,jangan jangan ulah Bang Dewa".
"Berhenti kalian,atau ku tembak,kalau tak ada Almayra mungkin aku nekat,tetapi ini ada anakku ,mau apa kalian.....? biarkan kami lewat... aku tidak kenal kalian...,aku juga tidak pernah mengganggu kalian..."
"Jangan banyak tanya ayo cepat masuk ke mobil sebelum isi peluru ini mengenai kepala kalian,aku hitung satu....dua...".
"Ok...ok ...,aku turuti kemauan kalian,kataku tegar sebetulnya aku juga takut dalam hati,keringat dingin keluar,tapi tak aku tampakkan supaya aku nggak di bilang wanita lemah,aku ingin melindungi almayra sampai titik darah penghabisan".
"Tak kusangka aku mengalami nasib seperti di film-film,kukira hanya cerita,ternyata aku mengalaminya".
"Bawa motornya ke markas,untuk menghilangkan jejak..",salah seorang turun dari boncengan membawa motor Ayah,rampas handphone nya dan matikan".
"Almayra menangis,aku berusaha menenangkanya,aku bukakan permen kesukaanya,salah satu sandal Almayra terjatuh,aku berusaha tidak mengambil,siapa tau bisa jadi jejak menemukan kita".
"Kebetulan jam enam sore ,jalanan di sini sepi,orang orang sedang beribadah".
__ADS_1
"Di tambah lagi kanan kiri ada bambu menjuntai jalan menuju ke jalan tikus memang sepi kupikir aman tetapi malah sasaran empuk mereka".
"Menyesal sekali aku keluar sore ini,anakku dan adikku jadi korban juga,sebenarnya apa mau mereka",segera aku tanyakan kepada kedua orang yang menyekapku ini.
"Apa mau kalian...?,kalau uang kita bisa bicarakan baik-baik,nanti aku usahakan,jangan seperti ini".
"Diam....kamu nanti akan tau apa mau kami...!!".
"kak bagaimana ini...?",wajah Gadhis langsung pucat pasi,menahan ketakutan,kami bergandengan,dan keluar air mata Gadhis",
"Almayra tertidur di pangkuan ku,kubelai rambut hitam ikal,kenapa baru saja bahagia,dan bebas,ada saja bencana".
"Kalau Bang Dewa masa tega sama anaknya sendiri di culik seperti ini".
"Tiga jam kita lalui perjalanan,aku tidak bisa membayangkan bagaimana binggungnya Ayah dan Mama,ataukah mereka mengira kita masih belanja".
"Kenapa tadi aku nggak telefon Ayah ketika kita curiga di ikuti orang".
"pertanyaan dan pernyataan dalam hatiku bergejolak tidak karuan ".
"Saling mengguatkan kita berjalan,aku menggendong Almayra,Gadhis matanya sembab sejak tadi menangis,dia memang belum pernah mengalami hal seperti ini aku pun juga demikian"
"Namun perjalanan hidupku,mengajariku untuk tegar,aku harus melindungi dua orang yang aku cintai ini,bagaimana caranya akan aku hadapi!.
"Masukkan ke dalam kamar,kalian dengar ya kalau kalian bikin ulah atau macam- macam dengan kita,akan kami pisah kamarnya satu orang satu kamar".
Paham....!!!
"kamipun terdiam, karna tidak mau kalau sampai kita berpisah,kita harus pura- pura tunduk kalau ada kesempatan kita lari".
"Suara sepatu semakin mendekat,ternyata pengantar makanan ,ayo makan kalian".
"Gadhis dan aku terus berbicara bahasa isyarat,agar mereka tak mendengar,pelan sekali ,sampai ada langkah kaki lagi,kali ini langkah kaki pelan,aku berusaha mengintip dari lubang kunci,pintu,hanya melihat,orang perempuan agak tua,mereka sepasang suami,istri"
__ADS_1
"Terlihat jari jari kaki ada kutek berwarna merah,memakai sandal transparan,dengan kaki kuning langsat,sepertinya tidak asing,tetapi siapa ".
"sementara,mereka juga melakukan ritual-ritual,yang menakutkan aku sontak terkejut,ku dengar mereka menganut ilmu tentang ,kekuatan ,kejayaan,dan bisa membuat orang takhluk, membutuhkan tumbal,kurang lima orang lagi ".
"Untung gadhis tertidur,menangis ketakutan sampai ketiduran,itulah yang di alami adikku,aku tidak boleh memberi tau Gadis takut semakin histeris nantinya".
"Aku tak habis fikir,jaman sekarang kok masih ada orang percaya hal mistik".
"Semua berkumpul ada Lima orang lelaki,dan satu perempuan,sayangnya aku hanya bisa melihat kaki- kaki mereka saja".
"Segala macam peralatan klenik, di siapkan sekarang yang di butuhkan golongan darah O".
"Bagaimana Bu...kalau kita cek dua orang di dalam,siapa tau golongan darah salah satunya O
benar-benar memang golongan darah mereka O,tapi kalau adiknya aku nggak tau".
"Hah...siapa itu kok tau kalau golongan darah ku O,mati aku bagaimana ini....,Gadhis harus segera aku bangunin,ini sudah nggak bisa pakai rahasia-rahasai lagi,aku harus jujur dengan kesaksian pendengaran,semoga kita bisa melewati semua ini".
"Dek....,ayo bangun,bisikku pelan,ada yang harus kita bicarakan",Gadhis mengucek kedua matanya yang sembab,aku bisikan pelan-pelan apa yang terjadi,Gadhis kaget,binggung,bagaimana kak ini...?
"Pintu di tendang keras,sampai Almayra terbangun,...hey yang sopan,nggak lihat anakku sampai menangis,kita bisa bicarakan baik-baik awas kalau anakku kenapa-kenapa".
"Diam...habis ini kalian akan di ambil darahnya,di cocokkan apa darah kalian golongan O...",golongan darah kami bukan O...,golongan darah kami B,aku berusaha berbohong".
"Jangan banyak omong....,Parjo bawa perawat itu ke sini,ayo segera periksa...i..iya..iya...pak baiklah,huwa.....huwa...huwa...Almayra semakin kenceng nangisnya".
"Segera di ambil darahku dan darah Gadhis melalui daging di balik jari".
"Suruh diam anaknya kalau nggak aku jadiin sate".
"Aku diam saja,melirik tajam mataku ke arah orang yang namanya Parjo".
"Parjo berjalan duluan,di depan perawat itu,dengan sigap segera perawat berbalik badan
__ADS_1
Perawat mengedipkan mata merem sebelah,memberi kode,sambil berbisik,kita atur strategi kabur...,aku juga tawanan".