
keesokan harinya gendhis sudah menjalankan sholat istikharah dan sudah mendapatkan jawabannya, ia sudah yakin dengan keputusanya.
"Ma...nanti Almayra di jemput kak Galih...Mama Imelda ingin sekali mengajak Almayra ke rumah kak Galih untuk bertemu Ayah Basa...!!. Gendhis memperjelas pemberitahuan ke Mamanya.
"ya sudah biar di jemput saja di rumah, nanti kalau di jemput di sekolah kasihan Ibu Guru binggung siap lagi ini orang baru, iyakan...!?". Imbuh mama Artha yang ikut bahagia mendengar calon mantunya mau jemput cucu kesayangnanya.
Aktifitas pagi ini benar-benar di lakukan dengan gembira, oleh Gendhis tidak biasanya ia terlihat secara ini wajahnya. calon mertuanya berebut handphone berbicara dengan Gendhis mama Imel dan papa Basa ingin mengajak jalan Almayra, membuat Gendhis tertawa lepas sampai seisi rumah ikut tertawa melihat calon besanya, karena di loukspeaker.
Gendhis berlari kesiangan, melihat jam 30 menit lagi kantor udah mulai beraktivitas, meskipun sekarang Bos Galih sudah menjadi kekasihnya sekaligus calon suaminya, tetapi ia tetap disiplin soal waktu.
"Ma... aku berangkat ya! keburu siang... titip Almayra assalamualaikum". Gadhis geleng-geleng melihat kakaknya yang masih menjaga kehormatan terhadap calon suaminya takut terlambat.
***
Siang hari Papa Bagas dan Mama Artha menjemput Almayra. Sementara di rumah Gendhis Ayah Basa dan Mama Imel sudah di teras duduk manis menantikan Almayra.
Dari kejauhan kelihatan Papa Bagas membonceng Almayra dan Mama Artha, tampak senyum dari masing-masing bibir semua orang di rumah Gendhis. Segera Almayra berlari mencium punggung tangan Mama Imel dan Papa Basa. Mereka pun segera menciumnya.
"Assalamualaikum hallo Oma dan Opa sudah tadi disini ya..., Almayra sudah di kasih tau sama Oma Artha dan Opa Bagas. Aku ganti baju dulu lanjut kita jalan-jalan". Imbuh Almayra berlari kecil kegirangan masuk kamar dan ganti baju yang sudah di siapkan Bundanya di dalam kamar Almayra beserta tas dan baju gantinya sore nanti.
"Makasih ya kita sudah di bolehin menjemput Almayra jalan-jalan dan ke rumah Galih". Terangnya sembari menyatukan telapak tanganya berulang kali.
__ADS_1
"Saya yang terima kasih Bu Imel sudah sudi menerima anak dan cucu saya, bahkan Bu Imel tidak memandang kami sebagai orang biasa, tapi perhatian luar biasa dari cucu dan anak saya yang tidak pernah di dapat, baru kali ini mungkin mereka berdua merasakan kebahagiaan yang luar biasa!". Mama Artha berterima kasih dan menitihkan air mata haru, air mata bahagia, yang tak bisa di bandung lagi.
Kami tidak menghiraukan itu Bu Artha, di hadapan Tuhan kita sama, dan yang terpenting kebahagiaan anak saya Galih, sudah lama kami mengharapkan cucu dan menantu bru kali ini hati Galih menerima perempuan dalam hidupnya, tentu saja kami sangat bahagia mendengar kabar ini.
"Ayo Almayra sudah selesai ganti baju, nanti makan di jalan aja kita mampir, kira-kira makanan apa yang Almayra suka!". Tanya nya dengan muka sumringah menyambut Almayra.
"Ciap Oma, kita beyi Ayam kentucy caja, tita matan di cana ( siap Oma, kita beli ayam kentucky saja, kita makan di sana)" celoteh Almayra yang masih cadel membuat Ayah Basa tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapnya.
"Haduh... haduh lucunya cucuku ayo kita jalan, kasian dia nanti kelaparan" Imbuh Opa Basa sembari mengelap matanya yang basah karena tertawa karena ulah Almayra yang imut dan lucu.
Mereka berdua berpamitan membawa Almayra jalan-jalan. ketiganya menaiki mobil mewah milik Bos Galih, duduk di barisan kursi kedua, sementara supir melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang. mereka mulai bercanda dengan calon cucunya di dalam mobil.
***
"Sayang aku pergi dulu ada urusan, kalian makan dulu ya...! ada klien ngajak ketemuan, nanti kalau sudah demeninggalkan 3 srikandinya. Segera menelfon real maunya apa, aku kasih kabar kalian!".
Pamit Bos Galih dengan sopan dan lemah lembut, membuat Debby dan Fitri terkesan.
"Ehem... enaknya di Sayang seperti itu! kita juga mau ya nggak Fit? " Gendhis wajahnya tampak merah merona karena malu akibat sindiran Debby.
"Ah... kalian juga bisa tinggal ngomong saja ke pangeran kalian!". Imbuh Gendhis sembari membenarkan dasi Bos Galih untuk menutupi wajahnya yang merah merona.
__ADS_1
Bos Galih pun tersenyum, sembari melangkah pergi kanya. penasaran sebenarnya siapa wanita yang mengaku kenal denganya yang akan memberi tender sebesar itu.
Sang sopir segera membukakan pintu mobil, Bos Galih segera masuk dan duduk di barisan belakang. mobil segera di lajukan dengan kecepatan sedang menuju map gogle yang di tuju. Sebuah bangunan megah di tengah kota Hotel yang bernama Tripel x.
Satu jam sudah perjalanan di lalui. Mobilpun segera berhenti di besmen Hotel, segera Bos Galih menuju lobi. Di sana sudah Duduk perempuan membuat Bos Galih semakin penasaran. Dari belakang saja perempuan itu sudah terlihat elegan, dengan wewangian yang khas, yang sepertinya tak asing di penciuman Bos Galih.
"Selamat siang..." Bos Galih memberi salam dari belakang tubuhnya.
"Waalaikumsalam " wanita itupun menoleh dengan senyum di kedua bibirnya yang mengembang, dan tatapan yang fokus ke manik mata Bos Galih.
"Puspita...!". Bos Galih kaget tak melihat sosok wanita yang memberi pesan ternyata dia adalah Puspita penggemarnya sejak SMA yang dulu kucel sekarang berubah menjadi seseorang yang cantik, elegan, dan orang yang sukses di dunia bisnis ternyata dia adalah Puspita.
Mereka pun berjabat tangan, kemudian duduk berhadapan, dan segera bercengkrama tentang pengalaman masing-masing setelah mereka berpisah tak terasa hampir satu jam, dirasa cukup Bos Galih dengan sikap manisnya memulai pembicaraan tentang bisnis yang akan di jalankan apabila di sepakati Puspita.
"kamu tetap saja seperti dulu, aku tidak ingin kita membicarakan bisnis dulu aku masih kangen tau" titah Puspita terang-tegangan kalau dia masih menyukai Bos Galih.
"ha... ha... kamu bisa saja Puspita, aku dengar-dengar kamu kan sudah bersuami ka...!. kita sama-sama sudah mempunyai pasangan, sebentar lagi aku akan menikah tinggal hitungan hari saja, doakan aku bahagia dan langgeng ya...!?". Terang Bos Galih yang persaanya sudah tak bisa di gantian dengan wanita manapun.
Galih selama jalur kuning belum melengkung kamu bukan milik siapa-siapa. Aku juga sudah lama pisah, kami hanya nikah siri karena aku tak begitu simpati kepadanya. hanya mengisi luang waktu saja. Imbuhnya dengan meremas tangan Galih dan menciumnya, spontan galih menolaknya.
Puspita tapi aku tidak bisa kelainan hati, aku sudah menaruh hati kepada calon istriku sudah lama dan baru di terima kemarin, dan aku sudah berjanji tidak akan menyakiti hatinya meskipun kami belum menikah, entah kenapa aku sangat jatuh hati padanya, dan tak mau berpaling sampai detik ini, jadi kita memulai pertemuan ini dengan hubungan bisnis saja.
__ADS_1
"Baiklah kalau itu mau kamu, kita berangkat menuju tempat yang nantinya aku bangun sebuah sekolah elit, ayo kita lihat... kamu satu mobil saja bersamaku, biar supir kamu menanti di suatu tempat sekalian kita ngobrol banyak tentang bisnis ini!?". Imbuh Puspita singkat.
Akhirnya Bos Galih lega mendengar pernyataan puspita yang mengabaikan maksud hati Puspita supaya menjadi rekan kerja saja tak lebih. Iapun tersenyum dan mengiyakan permintaanya supaya satu mobil dan mempercayai Puspita yang memang sudah berubah menjadi dewasa pemikiranya. Tidak seperti waktu SMA yang suka memaksakan kehendaknya.