
****
Gendhis membuat acara doa bersama dan mengumpulkan anak yatim,sanak saudara,teman kantor.
Bos Galih berniat membiayai acara 40 harinya Almarhum,namun Gendhis menolak,uang dari Almarhum bang Sardan sudah lebih dari cukup.
40 hari sudah Bang Sardan pergi menghadap sang khaliq,namun kesedihan masih menyelimuti hati Gendhis.
Ada sesuatu yang membuat hati Gendhis bertambah sedih,nenek Sartijah tidak datang sementara Nawang,Ken,kakek Danu dan muridnya yang hadir membaca doa bersama.
Menurut keterangan Nawang nenek berpamitan rindu pulang ke kampung halamannya di bukit.
Gendis mengutarakan maksud hatinya kepada Nawang dan keluarganya.
"Sungguh sayang nenek Sartijah tidak datang padahal aku sangat ingin beliau yang sudah di anggap bang Sardan nenek atau ibu ikut serta membaca doa bersama sama untuk Bang Sardan..".
"Mungkin beliau ingin menghibur hatinya atau mengenang kenangan bersama abang di sana Ndis".Nawang mengusap lengan Gendhis untuk menenangkan hatinya.
"Oh iya hampir lupa,aku juga mau menyampaikan sebenarnya nenek tinggal saja di rumah peninggalan bang Ken aku tidak keberatan,biar ada yang menempati,sementara aku ingin tinggal dibrumah mama Artha saja".timpal Gendhis yang bermaksud ingin nenek Sartijah saja yang menempatinya.
Dan kalau nenek tidak mau aku ingin sekali rumah Bang Sardan sebagai rumah anak yatim,atau anak-anak jalanan yang butuh tempat berteduh,meskipun tidak besar namun bisa menjadi ladang pahala untuk Almarhum abang Sardan.
Semua kaget mendengar pernyataan Gendhis yang mulia,meskipun Gendhis hidup pas pasan tetapi dia tidak memikirkan akan harta yang di berikan Almarhum.
"Wah....nenek pasti ikut senang Ndis mendengar semua ini,nanti aku akan kabarkan kalau nenek pulang dari desa"..timpal Nawang.
Setelah satu jam berbincang bincang dan menikmati hidangan yang di sediakan Gendhis,pak Ustadz datang dan segera bersiap siap memulai acara doa bersama.
Bos Galih melamun menatap Gendhis heran melihat sifat Gendhis yang dia dengar barusan,baru kali ini melihat Wanita yang bijaksana,meskipun di kasih harta,tetapi malah dia gunakan untuk kepentingan orang yang memberinya semakin terpukau dibuatnya.
****
Setelah acara selesai di gelar semua berpamitan, Gendhis pun meninggalkan rumah Almarhum Bang Sardan, beberapa menit sampailah mereka di rumah mama Artha semua masuk ke kamar masing masing.
Gendhis kali ini tidur di temani Gadhis mereka berdua berencana membaca buku harian bang Sardan,Gendhis minta di temani adiknya untuk membaca buku itu.
Boleh di kata Gendhis sedikit takut untuk membacanya sendiri.
__ADS_1
"Bismillah ayo kita mulai bacanya...".
Assalamualaikum ...
Hay Ndis doain selalu abang ya ...?!
Mungkin saat kamu baca diaryku ini aku sudah menghadap sang khaliq maafin semua kesalahanku.
Terima kasih juga kamu sudah menerima cintaku,semoga dengan tidak adanya aku di sisimu kamu membuka hatimu untuk orang lain yang menyayangi kamu.
Aku lihat Bos kamu sangat mencintai kamu,aku berharap kamu menerima cintanya,dari sekian pria yang mendekatimu Bos Galih lah yang paling tulus mencintaimu,aku sangat setuju kamu berhubungan dengan beliau.
Jaga Almayra,ceritakan tentang aku ya jika dia dewasa nanti ada papa angkat yang begitu mencintainya,menyayanginya,aku akan menjaganya dari sini aku selalu berdoa untuk kebaikan kalian berdua.
Salam untuk Gadhis,Ayah Rangga, Mama Artha,untuk pertemuan yang singkat ini,ucapkan terima kasihku kepada mereka,entah apa jadinya aku tanpa kalian semua.
Titip nenek Sartijah selalu nasehati dia,sikap nenek yang tempramental maklumlah dia semakin tua dan tidak punya siapa siapa anggap dia nenek kamu juga.Semoga nenek bisa berubah menjadi lebih baik.
Aku bahagia sekali mengenal kamu,walaupun sesaat,kamu telah membimbingku ke jalan yang benar,titip pesan ke pak Ustadz juga yang telah membimbingku.
Maaf aku tidak bisa memberikan lebih,hanya rumah dan sedikit tabungan yang bisa aku berikan untuk kalian berdua.Semoga bermanfaat bagi kalian.
Tak terasa butiran bening keluar dari kedua sudut mata Gendhis,dan Gadhis mereka berdua menangis sampai terisak,mengingat Almarhum yang sangat mencintai keluargaku.
"Dhis yuk kita sholat,kita doakan Almarhum...supaya tenang disisinya,semoga doa kita diijabahi oleh yang maha kuasa,kita doakan Almarhum semoga Husnul khotimah.
Segera keduanya mengambil air wudhu segera mereka sholat taubat,sekalian mendoakan almarhum.
Gendhis menangis untuk yang kesekian kalinya,pelupuk matanya sampai bengkak,ada penyesalan yang terdalam sempat menolak cinta tulus Almarhum,namun sekarang dia ikhlas mendoakan Bang Sardan yang sudah tidak sakit lagi di alam sana.
*****
Sementara nenek Sartijah,tidak bisa menerima kabar tentang hak waris yang jatuh kepada Gendhis dan Almayra anaknya,sudah dua hari nenek berada di desa bukit menunggu anak buahnya yang keluar dari penjara.
Nenek mengutus tetangganya yang seorang pencuri untuk mencari keberadaan mereka berdua,tak berselang lama mereka pun tiba di halaman nenek.
Tok...tok...tok.Pintu di ketuk dari luar,nenek tergopoh gopoh segera membuka pintunya.
__ADS_1
"Masuk..",titah nenek Sartijah kepada ketiga anak buahnya.
"Kamu pulang saja Bin tugasmu sudah selesai"titah nenek Sartijah kepada Sarbini biasa di panggil Bin menyuruhnya pulang supaya tidak mengetahui rencana selanjutnya.
"Tapi nek uang bagianku masih separuh kurang sisanya lagi..",pinta Sarbini meminta bayaran yang sudah di janjikan nenek Sartijah.
Tenang saja nanti setelah aku kembali dari kota aku kasih dua kali lipat,jika misiku berhasil,kalau nggak berhasil tetap pada perjanjian kita semula.
"Benarkah nek,dua kali lipat dari perjanjian..!!".
Kamu jangan khawatir uangku banyak dari peninggalan Sardan,belum lagi nanti ketika misiku berhasil pasti tambah banyak.
Sarbini segera bergegas pulang,berpamitan kepada ketiganya dan mencium punggung tangan nenek.
Buru buru nenek mengantar pulang dan menutup pintu,memastikan Sarbini benar benar pulang dan tidak ada orang yang mendengar rencana jahatnya.
"Untunglah kalian sudah keluar!!".
"Rencana apa lagi nek kami siap asal sesuai dengan upahnya...!!?".
"Pasti sesuai jangan khawatir asalkan kalian bisa menyelesaikan misi ini...!!".
Nenek Sartijah langsung menjelaskan rencananya,tidak di sangka hanya karena harta rela mencelakai Gendhis dan Almayra.
Mereka pun mengiyakan rencananya dan akan segera berangkat ke kota bersama dengan nenek Sartijah.
"Aku bareng kalian saja dan duduk manis di rumah Nawang dan kakek Danu supaya mereka tidak mencurigai rencanaku",sungguh sangat lihai nenek memerankan aksinya dan di dukung anak buahnya.
Setelah semua selesai kamu telefon saja aku,dan aku kasihkan sisanya,ini sementara separuh dulu sama dengan Sarbini tadi..!!.
Nenek Sartijah mengeluarkan amplop coklat yang berisi uang pecahan lima puluhan dan ratusan,semua ada 150 juta.
Segera mereka bergegas meninggalkan rumah nenek,pergi ke kota,nenek Sartijah duduk di barisan kedua,sedangkan mereka duduk di depan berdampingan.
Sengaja mereka menyewa mobil van yang sudah jelek sekali,sengaja untuk penyamaran,nomor platnya sudah usang.
Lima jam mereka telah melalui perjalanan,nenek menyuruh mereka mengantar sampai gerbang rumah Nawang,sengaja turun perlahan lahan.
__ADS_1
Pusing yang menghampirinya membuat nenek berjalan sempoyongan,segera mobil berjalan meninggalkan nenek tak satupun orang di rumah kakek Danu melihat kedatangan membuat hati nenek lega.