Titik Lelah Seorang Wanita

Titik Lelah Seorang Wanita
Draft 91 Kisah akhir titik lelah seorang wanita


__ADS_3

***


Anton melajukan kendaraan dengan kecepatan penuh, pikiranya sudah mengakar kemana-mana takut Bos Galih kenapa-napa. Segera ia menuju kantor ingin menemui Gendhis terlebih dahulu.


Setelah 1 jam perjalanan dilalui Anton tibalah di kantor Bos Galih. Ternyata Gendhis sejak tadi kebinggungan, kenapa handphone Bos Galih tidak aktif, tidak biasanya seperti ini, perasaan Gendhis juga tidak enak. Antonpun segera bergegas turun dari mobil dan ditanya oleh Gendhis.


"Pak Anton mana kak Galih, kok sendirian...!?". Tanyanya heran.


"Maaf non aku akan ceritakan dari awal yang aku tau...!". Terang pak Anton dengan raut wajah yang kacau.


"Ayo kita keruangan Bos Galih dulu, biar kita ngobrolnya enak kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi". Imbuh Gendhis, Debby dan Fitri segera mengikuti di belakang mereka.


"Non kami tadi ke hotel Tripel x". Bos bertemu rekanya di sana, seorang wanita tidak lama hanya beberapa menit, Bos Galih ngobrol di lobi kemudian pamit keluar, wanita itu mengajak Bos Galih meninjau pekerjaannya, kira-kira perjalananya 30 menitan menuju tempat wanita itu. Saya tetap menunggu di besmen, saya rebahan.


Setelah 40 menitan Bos Galih menelfon saya, katanya di jebak, beliau bilang gawat minta di jemput cepat, karena saya berfikir ini darurat, saya menyuruh teman saya Hendra, kebetulan tempatnya mangkal tidak jauh dari Bos Galih sharelock. Tetapi anehnya setelah Hendra sampai di tempat tidak ada Bos Galih lagi. Malah ketemu wajah-wajah preman jadi Hendra langsung balik, dan saya segera merapat ketemu Hendra di warung kopi. Akhirnya saya sepakat untuk menemui non Gendhis langsung kalau lewat pesan saya tidak leluasa menceritakan kejadian ini.


Setelah mendengarkan pesan Pak Anton, Debby dan Fitri mengerutkan kening, dan mereka bertiga saling berpandangan. Saatnya sri kandi menyusun rencana.


"Siapa kira-kira wanita itu, kenapa ada -ada saja masalah sepertinya tak pernah habis..!?". Timpal Gendhis


Kita tidak usah buang-buang waktu Ndis, langsung saja kita telefon komandan kenalan kita. Imbuh Debby yang sudah tidak sabar.

__ADS_1


Gendhis langsung menelfon Komandan Sentot, kenalanya. Tak menunggu lama Komandan langsung mempersiapkan pasukannya menuju sharelock yang di tunjukkan pak Anton. Diikuti pak Anton, Gendhis, Debby dan Fitri. Semua telah siap di belakang mobil polisi, Gendhis dan sahabatnya duduk di kursi baris ke dua semua.


"Kenapa nggak ada habisnya kisahku ini kapan berakhir!". Gendhis berkata sembari mengusap matanya yang mulai berembun


"Percayalah Ndis setelah badai pasti ada cahaya kebahagiaan, jangan putus asa, aku dan Fitri selalu ada untuk kamu!!" Nasehat Debby mendinginkan perasaan Gendhis yang berakar kemana-mana, Fitri pun memeluk Gendhis ikut menenangkan fikiran Gendhis.


Tak terasa perjalanan sudah 1 jam lamanya, tanda mereka akan segera tiba ke tempat sesuai sharelock Bos Galih.


Polisi langsung mengepung dan sebelumnya menangkap beberapa anak buah yang tak sempat lari, kebetulan mereka sedang meneguk minuman keras.


Pintu tak kunjung di bukakan oleh Puspita, meskipun sudah diketuk beberapa kali, akhirnya segera di dobrak oleh beberapa anak buah pak Sentot. Pintu pun terbuka, alangkah kagetnya mereka melihat Bos Galih di ikat dan Puspita tidur di dadanya yang bidang, entah apa yang sudah di lakukan Puspita kepada Bos Galih.


polisi pun segera membebaskan dan Galih merapikan bajunya, Gendhis sempat menangis, kesal dengan Puspita, bagaimanapun ada rasa cemburu karena ulah Puspita.


"Ndis pokoknya kita pulang langsung nikah, aku nggak mau lagi, ada musibah menimpa kita lagi, kemana-mana kamu harus temani aku begitu juga sebaliknya!!". Terangnya sembari tak mau melepas genggaman tanganya.


"Setuju!!!" dengan lantang Debby dan Fitri mengucap kata-kata Setuju secara bersamaan, membuat semua orang terpusat pada pembicaraan mereka. Gendhis terharu menangis dan tertawa secara bergantian.


Bos Galih mengerahkan semua anak buahnya dan menelfon semua orang terdekat termasuk Mama dan Ayahnya, orang tua Gendhis, Firman, Adit dan semua rekanya untuk membantu mempersiapkan acara pernikahan mereka.


Semuanya pun bersiap-siap dengan waktu yang singkat ini, acara di adakan di kantor untuk mempersingkat waktu, untung saja pak penghulu ready saat ini juga, tentu saja mereka semua siap Bos Galih membayar 2 kali lipat dari harga biasanya. Tak lupa Dewa dan kerabat lainy juga hadir.

__ADS_1


Bos Galih, Gendhis dan sahabatnya langsung menuju salon langganan keluarga Bos Galih, semuanya telah datang terlebih dahulu, Seperti Mama dan Ayahnya, Mama Artha dan Ayah Gendhis juga Gadhis sudah selesai di rias, tak ketinggalan Almayra juga sudah di rias seperti berbie dengan gaun ping yang sangat cantik.


Nawang, Ken, kakek Danu dan semua anak buahnya sudah hadir, sepertinya alam juga ikut berbahagia melihat kebahagiaan Gendhis.


Gendhis telah selesai di rias, demikian juga Bos Galih, tak ketinggalan Debby dan Bos Arjuna beserta keluarganya ternyata juga tak ketinggalan mereka juga menikah, Fitri dan Aditpun ikut- ikutan menikah, merekapun juga lengkap dengan keluarganya.


Ketiga srikandi sudah ada pasangannya masing-masing. Mereka meninggalkan salon dengan mobil masing-masing. Baju adat jawa sunda membuat tampilan ketiganya sangat istimewa, Busana rancangan Wawan Gutawan memang sangat pas untuk ketiga pasangan ini.


Setibanya di sana tak disangka dengan waktu yang singkat, semua telah siap, kantor di sulap seperti istana dengan 3 kursi pelaminan, semua telah siap menyambut ketiga pasangan.


Sungguh megah meskipun dadakan, sebelum ke pelaminan mereka dipersilahkan menuju tempat akad nikah, masing-masing keluarga pihak lelaki mempersiapkan mas kawin dan telah siap di tempatnya masing-masing.


Semua dibuat tercenggang dengan kecantikan dan keaggunan ke tiga srikandi Bos Galih, haru biru menggambarkan suasana saat ini, Semua sudah duduk di barisan masing-masing Semua saksi juga siap mendengarkan. Ikrar ijab kobul yang sebentar lagi dilaksanakan. Almayra di perlakuan manja oleh keluarga Bos Galih yang ikut duduk di sebelah Mama dan Ayah Basa.


Pertama-tama penghulu duduk di meja Gendhis dan Bos Galih " Saya nikahkan dan kawinkan engkau Galih pratama mandalika dengan Gendhis ayuning putri rahardika binti Rangga rahardika dengan seperangkat alat sholat dan uang 1 miliar di bayar tunai. Saya terima nikah dan kawinya Gendhis ayuning putri rahardika binti Rangga rahardika dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 1 miliar dibayar tunai. Bagaimana saksi sah.


semua menjawab "sah" serempak mereka lega mendengar Gendhis dan Galih telah resmi menjadi suami istri.


Pak penghulu berpindah ke meja berikutnya Debby " Saya nikahkan dan kawinkan engkau Arjuna dengan Debby debora binti Muhsin silatas dengan seperangkat alat sholat dan uang 1 miliar dibayar tunai. Saya terima nikah dan kawinya Debby debora dengN seperangkat alat sholat dan uang 1miliar dibayar tunai. Bagaimana saksi " sah" semuanya pun serempak tak kalah hebohnya dengan Gendhis dan Galih.


Geser lagi pang penghulu berpindah ke meja Fitri, meja yang terakhir. " Saya nikahkan dan kawinkan engkau Adit pamungkas dengan Fitri permata sari binti Rahman sudarman dengan seperangkat alat sholat dan uang 100 juta di bayar tunai. Saya terima nikah dan kawinya Fitri permata sari binti Rahman sudarman dengan seperangkat alat sholat dan uang 100 juta dibayar tunai. Bagaimana saksi "sah" semua heboh bertepuk tangan dan mengucap sah kali ini mungkin yang terakhir makanya telinga masing-masing sampai mau pecah mendengarnya. Demikianlah akhir kisah Gendhis dan teman-temanya menjalani Titik lelah seorang wanita. Yang kini hidup berbahagia dengan pasangannya masing-masing dan mereka menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Semuanya dilalui dengan lika liku yang berbeda-beda dan tidak mudah tentunya.

__ADS_1


NB: Hidup penuh perjuangan jangan sia-siakan untuk berbuat baik dan melakukan kebaikansebisa kita.


__ADS_2