
****
Bos galih berlalu meninggalkan Ayah Basa Mama Imel dan Arumi. Tak lama sudah berada di belakang Gendhis, ruangan dapur agak di belakang untuk menjangkaunya ada jalan tangga menurun ke bawah. Saking asyiknya Gendhis dan Bibi Leha ngobrol sampai nggak tau kalau Bos Galih sudah di belakangnya.
"Hem.....pasti ngibahin aku ya....!?". Sembari menatap lekat Gendhis dan Bik Leha dan tersenyum tipis menggodanya.
"Sayang jangan berkata seperti itu...! dosa aku kalau kamu bilang aku ghibahin kamu....!!". Gendhis pertama kali memanggil sayang, membuat dada Bos Galih bergemuruh bahagia.
"Iya deh aku cabut....! Kata kataku tadi tentang ghibah ...! makasih ya Bi udah nemenin cintaku ....tanya Bibi nggak ada satu wanitapun yang bisa menaklukkan hatiku kecuali kamu Ndis...!!??". Sembari meyakinkan Gendhis Bos Galih menyuruh membuktikan bahwa ia hanya tertarik dengan Gendhis.
"Makasih sayang....!!".Timpal Gendhis yang wajahnya semu kemerah merahan karena malu bercampur aduk dengan senang.
"Jangan pernah berakhir ya dengan panggilan itu..!?". Sembari menarik Gendhis dan berlalu.
"Bentar pamit dulu....sama Bi Leha...!!". Pinta Gendhis menarik tanganya yang di pegang oleh Bis Galih.
"Bik pamit ya....sampai jumpa lagi kapan kapan kita lanjutin ceritanya ya...!?". Gendhis memang orangnya sopan kepada siapapun dia sangat menghormati. Tak lupa segera meraih tangan Bibi dan mencium punggung tangan Bi Leha.
"Makasih Non semoga selalu dilancarkan urusannya dan niatan baiknya ....!!". Bibi sungguh tertegun melihat perlakuan Gendhis yang sopan. Dalam hatinya semoga dialah yang menjadi nyonya di rumah ini jangan sampai tergantung wanita lain.
Keduanya berjalan beriringan Gendhis dan Bos Galih sekalian pamit dengan Ayah Basa dan Mama Imel...tak lupa Arumi.
"Ma...aku mau antar Gendhis dulu ...! kasihan udah larut...!!". Bos Galih segera bersalaman dengan Ayah dan Mamanya, Disusul Gendhis mencium punggung tangan Mama Imel dan Ayah Basa juga mengikuti Bos Galih dan yang terakhir hanya Gendhis yang bersalaman dengan Arumi.
"Galih....! Gendhis...! bolehkah Mama ikut...!!??". Pinta Mama Imel entah apa yang ada di benaknya sehingga Mama Imel mau ikut kami.
"Ya sudah boleh ma...! tapi jangan buat masalah ya...!!". Terang Bos Galih dengan tegas.
__ADS_1
"Apa sih kamu ...! pemikiranmu selalu buruk terhadap Mama...!". Dengan tegas Mama Imel menangkis pemikiran Bos Galih.
Ketiganyapun berlalu menuju mobil. Gendhis duduk di barisan kedua sedangkan Mama Imel dan Bos Galih berada di bagian depan. Jantung Gendhis berdegub kencang...! ia tertunduk lemas takut kalau mengetahui keadaanya yang sederhana jauh di banding kehidupan keluarga Bos Galih yang serba mewah. Rumah Gendhis sudah luas masih kalah luas dengan rumah Bos Galih.
Di sepanjang perjalanan Mama Imel berbicara panjang lebar meminta maaf atas perlakuan Arumi kepada Gendhis. Mama Imel menjelaskan perlakuan Arumi seperti itu karena ia sangat mencintai Bos Galih dan menaruh harapan besar agar Bos Galih mau jadi pendamping hidupnya. tetapi Arumi kaget dengan adanya hubungan Gendhis dan Bos Galih.
Mama merestui hubungan kalian dengan satu syarat jangan sia siakan Galih ...aku berharap kamu bisa membahagiakan Galih menjadi istri yang di harapkan Mama dan Ayah. Masalah status tak jadi masalah, melihat kegigihan Galih yang sudah memilih kamu.
"Baik ma...! terima kasih atas restunya...! saya akan berusaha menjadi pasangan kak Galih, berusaha membahagiakan dan tidak akan menyia nyiakanya Ma...!".
Setelah menempuh perjalanan satu jam sampailah di kediaman Gendhis. Tampak dari jauh Almayra menunggu Gendhis di teras rumah dengan memegang boneka kecil kesayanganya, boneka berbie yang kini menjadi kesayanganya.
Masuk dulu Ma....berkenalan dengan keluarga dan anakku " Maaf beginilah keadaanku Ma....keluargaku hanya keluarga yang sederhana tidak ada yang istimewa...!!". Gendhis berucap sembari gelisah takut .... kalau Mama Imel tidak setuju setelah mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Kamu tenang saja keluarga kami tidak memandang harta....hanya perlu kesetiaan dan kesungguhanmu menjadi pendamping Galih yang jauh dari kami. Karena ia memilih tinggal di sini dari pada di luar negri kami hanya bisa berharap dan berdoa semoga dia menemukan pendamping yang tepat.
"Bunda....".
Anak bunda baru pulang mengaji ya...! ayo salaman dengan Oma dan Papa Galih....Titah Gendhis kepada Almayra.
"Bun....bukanya ini om Galih ...! kenapa Bunda bilang ini Papa Almayra...!!??".Tanya Almayra dengan polosnya sembari menatap lekat Bundanya ...dan menanti jawaban dari Bundanya. Sontak semua tertawa melihat Almayra bertanya.
"Aduh Ndis anak kamu lucu dan cantik banget kalau Ayah Basa tau pasti akan sangat senang denganya...!!". Tak menyangka Mama Imel langsung menyukai Almayra dengan pipi cabi yang menggemaskan.
"Nanti Bunda jelasin ya nak...! sekarang ajak Oma imel masuk...kita kenalin sama Oma sama Opa...!". Pinta Gendis dengan perasaan lega setelah mengetahui kalau Mama imel ternyata tak mempermasalahkan status dan keadaanya.
Almayra berlari memanggil Oma dan Opanya. ketika Mama Imel masih bahagia dengan tingkah Almayra yang menggemaskan. Ayah Rangga dan Mama Artha kaget melihat kedatangan kami bertiga.
__ADS_1
"Ma kenalkan ini Mama Ayah saya.....! dan ini Mamanya Kak Galih ..!". Gendhis mengenalkan orang tuanya kepada Mama Imel dan sebaliknya ia juga mengenalkan Mamanya Bos Galih ke orang tuanya. Mereka saling berjabat tangan dan saling memperkenalkan namanya masing masing.
"Kok nggak ngabarin Ndis...kami nggak menyiapkan hidangan apa apa jadinya kalau mendadak begini...!!??". Mama Artha biasanya kalau kedatangan tamu selalu menyiapkan hidangan yang rasanya takut kalah dengan restoran rasanya.
"Udah Ma enggak apa-apa kami habis makan malam kok..! ya ....kan Ndis....!?". Terang Bos Galih ke Gendhis.
"Ayo...ayo masuk dulu kenalkan saya Mamanya Gendhis dan ini Ayahnya !". Keduanya saling bersalaman bergantian sembari menyebutkan namanya masing masing.
Sebelumnya saya yang ngotot mau ikut ke sini mengantar Gendhis. Kebetulan orang tua Gendhis ada, secepatnya saya mau ngomong mereka berdua harus cepat di halalkan mumpung Aku dan Ayahnya di Indonesia, Galih sudah waktunya berumah tangga sebagai orang tua kami ingin melihat dia bahagia dan kami ingin segera menimang cucu. Titah Mama Imel yang membuat Mama Artha dan keluarga kaget karena harus secepatnya melangsungkan pernikahan.
"kami terserah Gendhis karena dia yang menjalani..!". Ayah Rangga menimpali juga.
"Saya juga ingin secepatnya menikahi Gendhis, tetapi karna saya sangat sayang sekali sama Gendhis apapun keputusnya saya terima...!". Bos Galih berusaha menjelaskan isi hatinya.
"Bagaimana nak...!!??". Tanya Ayah Rangga kepada Gendhis.
"Baiklah karena saya sangat sayang dengan kak Galih saya terima dan saya mau melaksanakan pernikahan kapan pun....!!".
"Terima kasih sekarang kami pamit pulang dulu Mama akan segera memberi kabar kepada Ayah Basa. Almayra ikut oma mau nggak ikut ke luar negri nanti oma sekolahin di sana biar ada temanya Oma sama Opa..". Pintanya yang langsung jatuh hati melihat Almayra yang cantik dan gemas dibuatnya.
Galih tertawa bahagia melihat Mamanya mau menerima dan merestui Gendhis wanita yang di cintanya setelah melihat keadaan mereka.
"Alma ....kasian Bunda dong Oma kalau aku ikut ke luar negri...!". Sontak membuat semua orang seisi ruangan tertawa.
Besok kamu harus ketemu sama Opa ya....kami tunggu ...! Pinta Oma.
"Baik Oma besok aku mau ke rumah Om Galih...". Balas Almayra dengan suaranya yang agak agak cadel dan masih memanggil calon Papanya dengan sebutan Om.
__ADS_1
Mama Imel segera pamit semua terlihat bahagia tidak menyangka Mama Imel sebaik itu. Ayah Rangga Mama Artha dan Gendhis sangat bahagia dan terharu. Melihat semua yang dialami putrinya.