Titik Lelah Seorang Wanita

Titik Lelah Seorang Wanita
Part 46 Rumah Baru


__ADS_3

*****


Kita bersiap siap ke acara Nawang sekalian nanti sepulang dari rumah Nawang kita mau lihat rumah Bang Sardan,yang mana yang bagus,murah,terutama lingkungan yang bersahabat.


Semua sudah siap menggunakan pakaian pesta,sesuai dengan undanganya,acara pertunangan newang dengan Ken.


hanya 30 menit perjalanan kita sekeluarga sampai di rumah Nawang,aku ,Gadhis,Almayra, Ayah Rangga,Mama Artha,Sardan.


Rumah yang sangat megah sekali,semua terperanga ,melihat perpaduan warna tembok berwarna abu abu bernuansa mushroom tone dan material kayu berpelitur,membuat bentuk rumah terlihat berwarna .


Taman taman dengan bentuk semak seragam dan rapi,terpangkas dengan rapi.


Pantas saja Nawang betah tinggal di sini,meskipun rumah lama tapi tidak meninggalkan kesan mewah.


Nawang berlari kecil menyambut kedatangan kami.


Senang rasanya kak Gendhis,Bang Sardan dan keluarga mau datang ke acara Nawang,ayo kita ke nenek dan kakek.


Segera mereka menyuruh kami menikmati perjamuan yang telah di sediakan agen catering yang sudah di sewa Nawang.


Ken dan Nawang kelihatan bahagia sekali.


"Kak Gendhis dan Bang Sardan kapan nyusul kita,tunggu apalagi...".


Gendhis dan Sardan wajahnya terlihat merah,mereka berdua menundukkan wajahnya dengan malu malu ,dan senyum tipis menghiasi wajah keduanya.


Nenek Sartijah langsung memeluk Gendhis,meminta maaf atas perbuatannya, menangis tak henti hentinya,Sardan menepuk punggung,nenek Sartijah.


"Sudahlah nek,yang penting sekarang nenek sudah sadar dian insyaf,tidak akan mengulangi lagi perbuatan seperti dulu".


******


Acara telah selesai kamipun bersalam salaman pernikahan Nawang 3 bulan lagi diresmikan,kamipun segera pamit,dan bergegas melihat rumah yang akan di beli Bang Sardan.


Terima kasih kak,insyaallah kalau bang Sardan menempati rumah barunya kami juga akan datang.


Dengan kecepatan sedang Ayah melajukan mobil ke sebuah perumahan tak jauh dari tempat Nawang,tak begitu padat rumahnya,Gadhis dan Bang Sardan menunjuk sebuah rumah minimalis ,Mama Artha berkomentar kurang suka dengan bangunanya kamipun melangkah pergi ke perumahan satunya lagi


15 menit sampailah ke sebuah perumahan dekat dengan rumah kami,rumah yang sudah banyak penghuninya tinggal beberapa yunit saja.


Sebuah rumah hook terlihat mungil,ada taman kecil membuat pemandangan menjadi asri,semua senang melihatnya.


"Ya udah Bang ini aja,suasananya enak,asri,nyaman..!!".


Dalam hati Bang sardan andai saja yang menempati kita bertiga Ndis,Almayra aku dan kamu pasti sangat bahagia sekali.


Ayo Bang kita urus langsung ke admin nya supaya abang cepat menikmati rumah baru ini.


Bukanya ngusir dari rumah Bang ya,tapi aku seneng abang punya rumah akhirnya.

__ADS_1


"Baik Ndis atur saja mana yang terbaik menurut kamu,aku nggak ngerti sama sekali".


kami segera melunasi ke kantor perumahan,setelah semua syarat syarat lengkap kami bergegas pulang,Almayra sudah nangis minta tidur,di kamarnya.


******


keesokan harinya Bang Sardan segera pamit.


Aku izin ke kantor ingin membantu membeli keperluan Bang sardan mulai dari kursi,tempat tidur hingga barang yang kecil untuk di dapur.


Rumah sudah terisi semua,aku dan Gadhis pamit pulang rasanya berat meninggalkan Bang Sardan sendirian di rumahnya.


"Aku dan Gadhis akan sering mengajak Almayra main kerumah abang".Gendis mencoba menghibur Bang Sardan sebelum pamit.


Gadhis dan Gendhis,menyalami punggung tangan Bang Sardan yang sudah dia anggap kakak sendiri,namun ada rasa berbeda ketika Gendhis mau meninggalkan Bang Sardan.


"Bang mimpi indah ya...",Dengan senyum tipis melambaikan tangan,Bang sardan pun dengan mata berembun membalas lambaian tangan Gendhis.


Bang sardan menekan kepalanya yang tiba tiba merasa sakit,untunglah Gendhis sudah pulang, aku tidak mau dia khawatir,beberapa hari ini kesehatanku menutun.


Aku harus segera ke rumah sakit mengecek apa sebenarnya penyakitku.


Bang Sardan memesan taxi onlaine,segera menuju rumah sakit terdekat,beberapa menit sampai di rumah sakit,segera mengambil no antrian,dan giliran pun di panggil.


Serangkaian tes di lakukan,dengan hati berdebar debar,Bang sardan menanti hasil tes lab.


Benar saja apa yang di khawatirkan,Bang Sardan didiaknosis penyakit kanker otak stadium akhir.


"Pak sabar itu hanya diagnosis manusia,saya hanya manusia,tuhan yang menentukan!!".


Saya akan membantu pengobatan bapak semaksimal mungkin tapi bapak juga harus optimis untuk sembuh,jangan berkecil hati.


"Iya Dok,terima kasih..".


Berjalan Bergontai lemas,Bang Sardan meratapi nasibnya,yang dia pikirkan kenapa baru saja bertemu dengan Gendhis dan kelurganya,yang begitu baik sama aku ,harus segera berakhir.


Baru beberapa meter melangkah Bang Sardan kesakitan lagi,akhirnya dokter menyarankan opname,namun Bang Sardan minta rawat jalan saja.


Gendhis menelfon,segera Bang Sardan mengangkatnya.


"Hallo Ndis,abang di rumah ini ada makanan, Mama Artha, membuat gulai nangka kesukaan abang".


"Iya Ndis makasih,udah repot repot bikinin makanan kesukaanku".


Gendhis mulai menyayangi Bang Sardan,mungkin karena dia lelaki yang baik,dan tekun beribadah,ingin segera menyampaikan rasa sayang dan cintanya kalau dia mau menunggu 10 tahun lagi,karena sudah komitmen sama Debby dan Fitri.


Air mata Bang Sardan,menetes begitu saja,mendengar suara Gendhis dibtelefon.


"Bang...abang....abang Sardan..!!".

__ADS_1


Terdiam tak bisa menjawab kata kata Gendhis.Bang sardan tidak bersuara,seperti tercekik di tenggorokan tak dapat mengeluarkan kata kata.


Segera telefon ditutup Gendhis.


Dokter segera meresepkan obat sebagai penghilang rasa sakit,berjalan menuju ruang obat ,tubuh kuat kekar kini berangsur angsur melemah.


Semua aktifitas di rumah sakit telah selesai,Bang Sardan kembali memesan taxi onlaine,dengan lemas menunjukkan alamat rumah barunya.


"Sesuai alamat map ya pak".


"Benar pak sesuai map gogle ,agak cepat ya pak!!".Beberapa menit sudah sampai di depan rumah.


Uang lembaran 100 ribu rupiah di sodorkan di dasbor supir.


"Sebentar pak kembalianaya".


"Nggak usah pak ambil saja!!".


"Terima kasih semoga panjang umur pak ya,banyak rezeki",pak sopir mendoakan Bang Sardan.


Mungkin itu bekal nanti kalau aku sudah tiada,hanya itu yang aku bisa,dalam hati Bang sardan,


Takut keduluan Gendhis,Setelah sampai di depan rumah bergegas masuk,segera memakan sepotong roti sisa kemarin,dan meraih gelas segera meminum obat yang di resepkan dokter.


Aku harus menyembunyikan obat ini,jangan sampai Gendhis dan keluarganya mengetahui penyakitku,aku nggak mau di kasihani!!.


"Assalamualaikum.." .


Bang Sardan lari ke kamar menyembunyikan obat obatan yang banyak sekali,sekali minum bisa 6 biji obat kanker otak.


"Waalaikumsalam",Gendhis dan Almayra sudah di dapur meletakkan gulai nangka kesukaanya.


"Ayo Bang dimakan..ada nasi?".


Aku nggak masak Ndis tadi pagi sampai sore lihat lihat sekitar jalan jalan.


Jalan jalan sampai seharian Bang apa nggak kecapekkan?


"Eng....,enggak kok ndis ,biar tambah besar betis ini He...he".Berusaha mengalihkan perhatian,dan membuang rasa sedih di hatinya.


Abang kelihatan pucat,efek jalan jalan seharian ini bang.


Gendhis langsung mengambil tempat mencuci beras,secara bersamaan mereka berdua mengambil bersamaan, tak sengaja tangan saling bertemu menjadi satu.


Berdegup kencang keduanya saling beradu pandang,Almayra membuyarkan pandangan keduanya.


Bunda aku mau ke halaman belakang main masak masakan di sana!.


"Iya sayang main sana..,bunda menanak nasi biar Om Sardan cepat makan,nggak pucat lagi.

__ADS_1


Andai Bang Sardan mau menanti sampai hatiku sembuh,pasti orang yang aku pilih adalah abang Sardan,


perasaan Gendhis mulai merekah,tetapi juga masih trauma.


__ADS_2