
"Polisi segera menginterograsi,Suhu Ajimat,di susul bergantian semua anak buahnya juga di interogasi".
"Setelah mendapat keterangan dari saudara Bogel, ia membimbing polisi menuju tempat persembunyian, pak Seno dan Bu lasmi,di sebuah kamar,ada sebuah kaca besar tinggal pijat tombolnya,kaca pun segera bergeser terbuka".
"Pak Polisi segera memberikan tembakan peringatan,karena di dalam kamar tersebut masih ada pintu lagi".
"Dor....dor...dor...".
"keluar kalian atau ku dobrak dan kutembak kalian,kalau masih bersembunyi di dalam,menyerhlah kalian tidak akan bisa lolos,tempat ini sudah di kepung,jangan menyulitkan kami para Polisi,kalau hukuman kalian mau di peringan".
"Pak bagaimana ini...??kelihatanya suara ribut ribut tadi,Suhu Ajimat dan anak buah kalah,kita sudah di kepung".
"kita belom merasakan apa apa sudah mau di penjara,ini semua gara gara ide kamu bu,Bapak jadi ikut ikutan di penjara".
"Aku dulu Brotoseno, terkenal lurus lurus saja sekarang jadi buronan,sudahlah Pak tidak ada lagi penyesalan kita menyerah saja,dari pada mati tertembak,ini semua juga gara gara dukun yang mengaku Suhu Ajimat".
"Cekrek......, pintu segera di buka,Polisi segera memborgol kedua tangan,pak Seno dan Bu lasmi,keduanya tertunduk malu,muka merah padam tampak jelas,di wajah mereka berdua".
"Polisi membimbing pak seno dan Bu Lasmi,keluar ...,tampak Mama Artha menangis histeris dan tak dapat berkata apa apa,tengorokan seperti tercekik,mata semua memandang kedua orang tersebut ,tampak semua mata kecewa".
"Mobil tahanan telah siap berangkat,Polisi mengawal dengan ketat,takut tawanan kabur meskipun sudah terkulai lemas semua".
"Pak Ustadz,pak kyai tetap di tempat melanjutkan menyempurnakan arwah arwah yang belum sempurna,sementara rombongan Gadhis dan semua korban tawanan Ajimat bersalam salaman,saling bertukar no telefon,menangis bahagia mengingat semua yang telah dilalui,berterima kasih kepada rombongan Gadhis,terutama suster Luna".
"Semua meninggalkan tempat masing masing ada yang di jemput keluarganya,sementara rombongan Gendhis masih sedih,terutama Bos Galih yang merasa semakin hari semakin kehilangan".
"Tak ada senyum,semua lemas memikirkan Gendhis dan Almayra,dimana mereka kini berada..??".
***************
"Keberadaan Gendhis dan Almayra,ternyata tetap di desa dimana mereka di sekap Suhu Ajimat dulu,Desa Bukit Berbaris, berada di sebuah gua,tak jauh dari rumah tua dulu,pantas saja waktu itu anak buah ajimat tidak menemukan jejak Gendhis dan Almayra".
"Waktu Gendhis sudah kelelahan,Gendhis bertemu nenek tua bernama Sartijah,dan pemuda bernama Sardan,pemikirannya di tolong orang baik,ternyata nenek dan pemuda tersebut sama jahatnya seperti Suhu Ajimat".
"Keluar dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya".
"Itulah kata kata yang tepat untuk Gendhis dan Almayra saat ini".
"Manis di depan saja,sesampainya di dalam gua nenek tua itu menampakkan sifat aslinya kasar,maklumlah Gendhis cerita apa adanya,tentang perbuatan Ajimat,sehingga nenek tua merasa beruntung menemukan darah Golongan O,tak perlu repot repot mencari mangsa".
"Tetapi untunglah pemuda yang bernama Sardan,orangnya ada sifat baiknya,di banding nenek sartijah yang sudah tidak percaya tuhan sehingga sangat jahat".
__ADS_1
"Sebetulnya Sardan di angkat anak oleh mbah Sartijah,dulunya anak pemulung,baik hati,tetapi diguna guna dan di kasih jampi jampi oleh mbah Sartijah,sehingga menjadi penurut,dan ikut jahat".
"Mbah sartijah berulang kali mengambil darah Gendhis tidak perlu bantuan suster atau orang lain,dia sendiri yang mengerjakan,kegiatan pengambilan darah,sudah sangat mahir".
************
"Mbah sudah cukup mbah memeras,tenaga saya,mengambil darah saya,lepaskan saya biarkan saya pergi dengan anak saya,dan membiarkan Mbah,bebas melakukan kemauan mbah".
"ha...ha...ha...enak saja kamu ...!!,timpal mbah Sartijah".
"Sardan mengedipkan mata".
"Syut...!!.",.menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.
"Bukan waktu yang tepat,nanti aku bantu kabur dari sini,aku mencintaimu Gendhis",timpal Sardan.
"apa...??".Gendhis kaget bukan main sembari membulatkan mata dan mulutnya.
"Sedang berbisik bisik apa kalian..!!".
"Maaf mbah aku mencintai Gendhis,apa boleh aku menjadikan dia istri Sardan ....??".
"Jangan harap,kamu bisa menjadikan dia istri kamu....!!,kamu sudah aku jodohkan dengan Nawang,ingat itu anak sahabat seperguruanku".
"Oh iya Sardan,aku akan ke rumah sahabatku,kakek Danu,aku akan mempercepat pernikahan kalian,jaga Gendhis dan anaknya jangan sampai kabur....!!".
"Nanti malam aku berangkat...!!".
"Aku ke bukit sebrang dulu,cari oleh oleh,sekalian kamu cari persediaan makanan kita menipis,Gendhis dan anaknya kita ikat seperti biasanya".
"Huwa...huwa....mama ..ayo pulang".
"Almayra jangan menangis nak,nanti kita pasti pulang...",Gendhis berusaha menenangkan Almayra.
"Suruh diam anak kamu...!!, ayo Sardan kita berangkat saja sekarang,aku sudah tidak sabar segera mau menemui Nawang".!
"Nek nanti setelah aku mendapatkan cukup makanan aku Segera balik ya,aku gak enak badan,nenek ke balik bukit mau ke pasar itu kan..??".
"Ya sudah tunggu aku di rumah saja,setelah itu kita bergegas ke rumah kakek Danu dan bertemu Nawang".
*******
__ADS_1
"Sepertinya sudah penuh keranjangku nek,ada mangga,pisang,ubi,singkong,besok lagi ya nek ,rasanya mau pingsan meriang sekali badanku....".
"Baiklah hati hati,aku akan segera pulang,dan membuatkan kamu ramuan,biar segera pulih sakitmu".
"kita berpisah di sini saja Sardan".
"Iya nek...".
"Sardan segera bergegas menuju rumah,pemikirannya akan mengajak Gendhis dan Almayra kabur,dari Desa Bukit Berbaris".
"Satu jam berlalu,tibalah Sardan di mulut gua"
"Segera penutup gua di buka, disingkirkan di sebelah kayu kayu dan batu batu, yang menutupi pintu masuk gua".
"Gendhis......!!".
"Ayo kabur dari sini,biar ku lepas tali di tangan kamu,dan Almayra".
"Sungguhkah itu...??".
"Benar,memangnya aku lagi bercanda,cepatlah keburu nenek Sartijah datang".
"Ayo sayangku.... Almayra ,jangan menangis lagi mama akan membawamu pulang,bersama om Ardan".
"Gendhis biar Almayra aku yang Gendong,kamu bawa bekal kita untuk di jalan saja,kita akan menyusuri sungai,kita ambil jalan di mana nenek Sartijah,tidak tau,aku sudah mempelajari dan memikirkan ke mana arah jalan tersebut,aku juga sudah membuat perahu dari bambu".
"Ayo kita jalan yang agak cepat ya ikuti aku".
"tak jauh dari sini tampak ada sungai....",sardan menunjuk ke arah sungai tersebut".
"Kamu tunggu di sini ....!!",aku ambil perahunya,sengaja aku sembunyikan,setiap mbah Sartijah tidur aku sempatkan membuatnya".
"Aku akan lakukan saja untuk kamu, dan Almayra,aku mencintaimu dan menyayangi Almayra,sejak pertama kali bertemu, aku sudah jatuh hati kepadamu".
"Aku juga sudah muak dengan perlakuan Mbah Sartijah,yang mau menangnya sendiri,tanpa memikirkan perasaanku...!!".
"Gendhis hanya menggangguk...".
"Maaf Sardan,saat ini aku belom bisa kasih kamu jawaban apa apa,yang aku pikirkan hanya Almayra, kasihan dia minta pulang terus".
"Aku akan sabar mendengarkan jawaban dari kamu".
__ADS_1
"Ayo naiklah dulu....!!".Sardan memerintah Gendhis.
"Aku takut Sardan bagaimana kalau terbalik perahu ini".Gendhis khawatir perahunya terbaik,tapi apa boleh buat hanya ini satu satunya kabur dari nenek Sartijah".