
*****
Kami semua bergegas pulang karena acara 7 harinya telah selesai kemarin,namun insyaallah setiap hari aku tidak akan lupa mendoakan almarhum bang Sardan.
Entah mengapa setelah kepergianya,aku merasa gelisah dan menyesal telah menyia-nyiakan ketulusan cinta almarhum,dia sosok lelaki setia dan pengertian sangat jauh dari bang Dewa.
Terdengar suara mobil berhenti tepat di halaman rumah Almarhum Bang Sardan,benar saja yang datang pak hendra dan pak Roy sama sama pengacara yang di tunjuk bang Sardan beliau berdua pimpinan dan wakil di kantor pengacara dan notaris sudah saatnya semua wasiat di bacakan.
"Assalamualaikum..".Pak Roy dan pak Hendara memberi salam.
"Waalaikumsalam ..",serentak semua menjawab salam.
Momen kedatangan mereka sangat pas,untung semua belum pada pulang sehingga semua bisa mengetahui berita ini yang akan segera di kabarkan.
"Selamat sore semuanya Perkenalkan nama saya Roy, saya notarisnya pengacara pak Sardan, dan ini wakil saya pak Hendra",kedua Notaris yang merangkap sebagai pengacara memperkenalkan diri.
Tak lama kemudian beliau berdua segera memulai menyampaikan pesan wasiat yang sangat penting.
Di sini saya sebagai pengacara sekaligus notaris yang akan menyampaikan wasiat almarhum yang sudah di tandatangani tanpa ada paksaan dan tekanan dari siapapun.
Semua kaget menyimak dengan seksama apa sebenarnya isi wasiat yang di buat almarhum bang Sardan.
Satu persatu surat wasiat dibacakan aku sangat kaget dengan pernyataan pak Roy bahwa rumah dan sebagian tabungan dari hasil menjual emasnya dulu di hibahkan ke aku Gendhis dan Almayra,sebagian uang tentu saja ke nenek Sartijah.
Di surat wasiat itu juga di jelaskan bahwa aku dan Almayra di berikan hak lebih banyak karena Bang Sardan sudah menganggap Almayra seperti anaknya sendiri dan di kemudian hari Almayra akan butuh biaya yang banyak untuk pendidikannya
Sedangkan nenek Sartijah hanya seperempat bagian tabungan saja karena beliau sudah sepuh dan tak membutuhkan uang seperti Almayra yang masih mentah dan membutuhkan biaya.
Bulir bulir air mata tak terasa begitu saja jatuh ke permukaan pipiku dan terasa sesak mendengar kabar bahagia ini,benar benar tuhan mengirimkan malaikat tak bersayap,tetapi sayang secepat itu perginya.
Semua mata tertuju padaku,tersenyum dan ikut menangis bersamaku,kecuali nenek Sartijah yang terlihat sorot matanya penuh kebencian,aku tak tau apakah beliau ikhlas harta anak angkatnya lebih banyak di hibahkan kepada aku dan Almayra.
__ADS_1
"Gendhis selamat ya...kamu telah mendapatkan semua harta Anakku Sardan",kata Nenek Sartijah dengan senyum miring,aku sedikit enggak enak dengan senyuman Nenek Sartijah.
"Nek aku tak tau menahu soal keputusan bang Sardan sungguh nek!!,kalau nenek merasa keberatan nenek boleh ambil kembali",Gendhis merasa tak enak dan mau mengembalikan ke nenek Sartijah.
"Maaf Bu Gendhis ini perintah almarhum pesannya Bu Gendhis harus menerimanya tidak boleh di limpahkan kepada siapapun",pak Roy berusaha menjelaskan surat wasiat itu kepada semua yang hadir menyaksikan penyerahan hak waris.
Akupun tidak berani menolak lagi dan aku bersyukur kepada tuhan telah di pertemukan dengan orang baik seperti Bang Sardan,setelah ditinggal beberapa hari aku baru mengerti cintanya seluas lautan bukan hanya kepadaku Tetapi juga Almayra.
Sebenarnya orang seperti ini yang aku cari,tetapi takdir berkata lain,aku tidak akan melupakan kebaikanmu Bang.
Surat wasiat telah di bacakan dan ada buku harian bang Sardan yang dititipkan ke pak Roy kepadaku,aku akan membacanya nanti setelah tiba dirumah mama Artha.
Kami semua bersalam salaman dan yang terakhir bersalaman dengan nenek Sartijah yang memandangku dengan tatapan lain tidak seperti biasanya.
"Jaga baik baik pemberian Almarhum Sardan ",titah nenek Sartijah.
"Makasih nek..!!",jawab Gendhis menundukkan kepala.
Gumam nenek Sartijah dalam hati.
Semua telah pergi meninggalkan rumah Almarhum Bang Sardan yang sekarang sudah berganti kepemilikan menjadi Milik Gendhis secara hukum.
*****
Sesampainya di rumah nenek merasa jengkel dan mengungkapkan isi hatinya terhadap Nawang.
"Aku sangat kesal dengan Gendhis,....!!".
"Kenapa nek....dengan Gendhis ..??".Tanya Nawang keheranan melihat sikap nenek Sartijah yang tiba-tiba kesal dengan Gendhis.
Kamu tau nggak semua harta Sardan dikuasai olehnya?..,sedangkan dia bukan istrinya, katanya di dalam surat wasiat pengacara Sardan berisi semua tabungan untuk kehidupan Gendhis dan anaknya ,sedangkan aku hanya di kasih seperempat tabungan saja karena aku sudah tua.
__ADS_1
"Ini sungguh sangat tidak wajar,mana mungkin Sardan hanya menyisihkan aku sedikit saja,harus di beri pelajaran Gendhis!!..".
Nawang segera mendekat dan mengusap punggung Nenek Sartijah,menenangkan hati yang iri karena pembagian harta peninggalan bang Sardan tidak sesuai dengan keinginanya.
"Nek ....mungkin pemikiran almarhum benar,nenek di kasih bagian yang cukup menurutku karena Gendhis dan anaknya lebih membutuhkan dari pada nenek,semua kebutuhan nenek jangan khawatir nanti Nawang dan Bang Ken yang tanggung,soal bagian nenek simpan saja,Kalau bisa di buat naik haji mumpung ada umur nek..!!".Nawang dengan bijak bertutur kata kepada nenek Sartijah semenjak berumah tangga dengan Bang Ken sikap kedewasaanya bertambah sempurna.
Hem....nenek masih saja memikirkan harta,aku harus selalu mengingatkan beliau,agar tidak hidup dalam kesesatan seperti yang sudah-sudah,aku dan Bang Ken beserta kakek Danu sudah berjanji kami akan berubah menjadi lebih baik lagi.
Nawang berfikir keras untuk menyadarkan nenek Sartijah yang mulai kumat kembali lagi sifat aslinya,semua ini tidak boleh dibiarkan harus aku bicarakan dengan kakek dan suamiku nanti malam.
"Ya sudah sekarang nenek istirahat,kalau lapar makan dulu nek,...",titah Nawang kepada nenek Sartijah.
Rupanya Nawang juga kena hasutan Gendhis,dasar wanita pembawa sial,aku harus memusnahkan mereka yang sudah menguasai harta Anakku Sardan. Gumam nenek Sartijah dalam hati ..!!.
Aku harus pura pura pulang ke desa dan mencari anak buahku yang baru keluar dari penjara,mereka pasti mau membantuku memusnahkan Gendhis dan anaknya.
Nenek Sartijah terus saja dendam terhadap Gendhis dan menyusun siasat jahat dalam benaknya,begitulah manusia serakah meskipun sudah tua tidak memikirkan akhirat yang di fikirkan nenek hanya kesenangan dunia yang hanya sesaat.
Lemahnya iman nenek karena dari dulu tidak mengenal agama,yang dia anut hanya aliran sesat,meskipun Nawang,Ken,kakek Danu sudah berubah menjadi orang baik,dan sadar gara gara hasutan Nenek Sartijah tetap tidak bisa merubah sikap nenek Sartijah.
Supaya Nawang tidak curiga aku harus pura pura baik terhadap Gendhis, jika suatu saat nanti aku memusnahkan wanita sialan itu,tidak ketauan kalau akulah dalangnya.
Otak nenek Sartijah yang terus saja berfikir negatif untuk menghabisi Gendhis dan anaknya.
****
Sementara Gendhis dan keluarganya baru tiba di rumah mama Artha,segera masuk ke kamar dan mengunci diri di dalam kamar berusaha merebahkan tubuhnya yang sangat letih,menatap langit-langit,buliran bening keluar dari sudut mata yang indah,mengingat kembali ketulusan bang Sardan.
Gendhis merasa bahagia,meskipun hanya mengenalnya sesaat,merasa titik lelah seorang wanita yang selama ini dia rasakan sedikit berkurang, ternyata ada seseorang yang begitu tulus menyayangi dan mencintai dirinya.
Semoga kamu tenang bang.
__ADS_1