
"Kak Rangga,aku turun ke bawah sana,barang kali ada sesuatu buat membuka plat besi ini".
"Tangan Om Raka segera merogoh saku celana,
mencari korek api yang biasa di pakai untuk merokok,untung saja terbawa dalam celana,kalau saja mobil tidak terhalang pohon tadi ,sudah pasti aku nggak bawa korek,biasanya aku letakkan di dasbor mobil".
"Baiklah....,tetapi kak perutku...huek...,huek...,huek...di susul Ayah Rangga,huek....,huek...,huek..".
"Keduanya sudah tak tahan segera memuntahkan isi perut,masing-masing,keringat dingin,keluar menahan bau busuk masuk melalui hidung".
"Mulai menutup hidung bernafas lewat mulut".
"Segera Om Raka,berjalan melewati jalan yang sudah tertimbun oleh tengkorak,mencari celah untuk menapakkan kaki yang di bungkus sepatu,kets".
"Sekali kali menyalakan korek, sebagai penerangan jalan,di tembok ada rak terlihat ada benda mengkilat,segera om Raka meraihnya,dan benar saja ada parang".
"Alhamdulillah kak ada parang ini,kemungkinan ini di pakai untuk menebas kepala".
"keduanya beradu pandang mengingat Gendhis,Ghadis,Almaira ada di lingkaran berbahaya,sempat terlintas di hati masing-masing,apakah mereka masih hidup".
"Rasa panik,seketika muncul,ngin segera mengetahui apa yang terjadi di dalam sana sebenarnya".
"Ayah Rangga segera menyambut parang,benda tajam tidak begitu panjang,tetapi kilatnya membuat hati gemetar,apalagi tajam pisaunya,Om Raka,berjinjit menuju ,tangga mengikuti langkah Ayah Rangga".
"Ayo Raka, mumpung suara gergaji dan suara pemotong rumput sedang kenceng kencengnya, segera kita buka gembok dari sela plat besi ini".
"Teng....teng...teng...,sembari membaca ayat-ayat suci,tak henti -hentinya dari tadi,ada yang berbisik,merintih,menangis,...tolong....tolong...bebaskan kami,sempurnakan jasad kami".
"Entah kekuatan dari mana tiba tiba gembok patah,seperti ada energi yang membantu kita dari jiwa jiwa tak berdosa".
"Mereka masih belum tau kalau gembok terlepas,cahaya masuk dari sela sela plat besi yang sudah mulai berkarat,tubuh Om Raka dan Ayah Rangga mulai lemas,kekurangan oksigen".
"Raka sepertinya aku sudah tidak kuat ,badanku sangat lemas,kakiku sulit diajak melangkah,tapi aku harus kuat demi anak anak".
"Aku coba kak buka sedikit plat ini..".
"Bismillah".
"Kepala Om Raka segera menyendul sedikit plat, karena tangan memegang parang yang di ambil dari Ayah Rangga,untuk menopang plat besi yang sangat berat".
__ADS_1
"Mata menyipit menahan keringat bercucuran,bagaikan adu panco,nafas Om Raka juga terengah-engah,sepertinya banyak kehilangan tenaga".
"Ayo Kak".
"Ayah Rangga ternyata pingsan,terkulai lemas,
di barisan tangga tengah".
"Semangat Raka,Om Raka mensusgesti dirinya".
"Benar saja entah tenaga dari mana,langsung mengangkat tubuh kakanya,dan menyendul plat dengan tangan satu,parang sengaja di tinggal,yang terpenting mereka cepat keluar mencari udara segar".
"Untung saja dua orang yang tadi ku dengar namanya Bogel, dan samar-samar kalau tidak salah ada namanya jiwa dan tejo,dia tidak tau dan membelakangi,ruang bawah tanah,satunya memotong rumput,satunya memotong kayu,sehingga terselamatkan oleh suara keras sekali".
"rumput sudah tidak menjulang lagi,si pemotong rumput juga mulai beranjak ke halaman depan, sehingga kita bisa melanjutkan penyelidikan ini".
"Mata segera melihat nanar keluar ,mencari tempat terdekat untuk persembunyian,
Segera membawa Ayah Rangga ke arah gudang dekat dapur".
"Pintu di buka oleh Om Raka,dan segera meletakkan tubuh Kakaknya, di kursi malas yang sudah mulai usang".
"Segera berlari ke arah dapur yang bersebelahan,pintu di buka mata menoleh ke kanan dan ke kiri mencari air untuk Ayah Rangga".
"Kak bangun...",air dari gelas di cipratkan ke muka,sontak Ayah Rangga terbangun.
"uhuk....uhuk...".
"Ayo kak di minum,biar ada sedikit tenaga,untuk kakak".
"Makasih.....,lemes badan ini,tiba-tiba tadi gelap semua ,sekarang kita dimana?...,sudah aman".
"Sudah kak.....,kita menyelinap lewat dapur,aku sudah membaca situasi di sana,waktu kita tidak banyak,sebelum mereka tau kita ada di sini".
"Segera Om Raka dan Ayah Rangga mengendap-endap,keluar melalui pintu gudang dan masuk melalui pintu dapur".
"Rumah ini bangunanya tinggi sekali,ketika mereka berdua masuk melihat banyak sekali tangga,heran kanan kiri rumah rusak,tetapi ini bagus sekali dalamnya".
"Tangga naik terbuat dari kayu di lapisi karpet permadani".
__ADS_1
"tangga berputar di desain sedemikian apik,tibalah di lantai dua,sontak Om Raka dan Ayah kagetnya bukan kepalang,melihat tawanan tujuh orang".
"Terlihat hanya Gadhis,dan perawat itu,sedangkan yang lain laki-laki semua,semua tangan di bogor,lalu....kemana Gendhis dan Almayra".
"Ayah dan Om Raka saling berpandangan,heran....,kami berbicara dengan bahasa isyarat,gelengan kepala dan tangan om raka seolah berbicara tidak tau..!!".
"Tiba-tiba terdengar suara orang naik tangga,Segeralah mereka berdua bersembunyi binggung,karena suara kaki tiba-tiba datang".
"Tidak kehilangan akal kita segera naik ke lantai tiga,....tanpa di sadari ada juga suara kaki turun dari tangga,mereka berdua membulatkan mata tak tau apa yang akan terjadi".
"Mereka pun pasrah,situasi dan keadaan sudah tidak mungkin lagi untuk bersembunyi".
"Saling berpandangan ,Ayah dan om Raka bertemu dengan seseorang ,yang memakai jubah hitam,berambut panjang,kumis tebal".
"Si...siapa kalian...".
"Kami yang bertanya siapa kamu,kenapa kamu menyekap orang-orang,termasuk anakku,di mana anakku satunya,dan cucuku",Ayah Rangga memberikan pertanyaan secara bertubi-tubi".
"Om Raka menimpali,.....awas ya kalau ada apa-apa dengan keponakanku,dan cucuku akan aku jebloskan kalian ke penjara".
"Ingat itu...!!!.".
"Ha....ha...ha....".
"Kalian datang ke sini setor nyawa,baguslah sehingga aku tidak usah repot repot mencari manusia, untuk ku penggal kepalanya".
"Langkahi dulu mayatku, kamu yang akan mati duluan".
"Tangan kanan mengepal tangan kiri,mata si jubah hitam tajam,seperti burung elang menangkap mangsa".
"Bogel,.....jiwo....tejo....".Kemana kalian sampai sampai ada penyelinap masuk nggak tau gumam,si jubah hitam dalam hati".
"Suara langkah dari bawah terhenti".
"Jelas saja terhenti,karena Ibu Lasmi dan Pak Seno yang naik,dari lantai satu,menuju lantai dua dimana mereka semua berkumpul,mereka segera beranjak turun, secara perlahan-lahan,menapakkan kaki dengan tekanan perlahan sekali".
"Pak kita harus sembunyi dulu,sampai misi kita berhasil,kalau suhu Ajimat berhasil dan menang, melawan Ayah Gendhis dan Om nya itu,kita keluar sembari bertepuk tangan".
"Ternyata nama suhu itu Ajimat".
__ADS_1
"Kalau kalah kita bisa bisa masuk penjara,bahaya kita Pak, sembunyi Di kamar bawah saja,aman".
"Cepat cepat Pak masuk kamar ,kedua orang tua yang sudah kehilangan arah,memilih jalan sesat sudah tidak memikirkan dosa lagi,segera memasuki kamar ,ada ruang sembunyi,di balik balik lukisan ,dengan memencet tombol ada pintu terbuka dengan sendirinya".