Titik Lelah Seorang Wanita

Titik Lelah Seorang Wanita
Part 87 Hari yang berwarna


__ADS_3

*****


Sepanjang perjalanan Mama memintaku membawa Almayra ke rumahku untuk di kenalkan sama Ayah. Sudah tak sabar ingin mencubit pipinya yang cabi dan rambutnya yang bergelombang berwarna coklat serta matanya yang bulat. Itu yang diucapkan nya dari tadi.


Sesampainya di rumah Mama antusias sekali menceritakan sosok Almayra kepada Ayah dan Arumi. Dengan memicingkan mata Arumi tidak menyangka yang menurutnya setelah mengetahui Gendhis mempunyai seorang anak akan menentang habis habisan ternyata malah mendukung supaya secepatnya melangsungkan pernikahan.


"Galih pokoknya besok....sepulang sekolah ajak calon anak kamu ke sini ya .....! Ayah .....kita ajak calon anak Galih main dan belikan mainan yang banyak.!!" Ayah semakin penasaran dengan Gendhis dan tak sabar juga ingin berkenan dengan putri kecil yang membuat semua orang terpana


"Iya Ma nanti aku telefonkan Gendhis minta ijin dahulu ke bundanya. Mudah-mudahan diijinin...aku mau ke kamar dulu mah capek mau mandi gerah...!!". Galih senyum-senyum sendiri menuju kamarnya, hatinya amat sangat bahagia tak sabar menantikan kebahagiaan yang sudah ada di depan mata.


"Tante aku sudah pesan tiket pulang lusa aku pulang duluan buat apa di sini males dengar orang orang yang udah enggak perduli dengan martabatnya lagi....!!". Dengan wajah datar muka diangkat Arumi pamit sengaja pulang duluan merasa sakit hati.


"Arumi....sayang jangan seperti itu....!! tante sangat sayang dengan kamu..tetapi Tante tidak bisa berbuat apa-apa, kami tidak mungkin memaksa Galih sesuai keinginan kami dia sudah dewasa. Mengertilah nak.... kalian bisa saling menguatkan seperti kakak beradik...!?".


Harusnya Tante tegas jadi orang tua kita kan sudah sepakat tujuan kita ke sini mengajak kak Galih bertunangan. Tapi apa yang aku dapat hanya penghinaan dan kalian juga malah membelanya. Sulut emosi Arumi yang sudah memuncak.


Ayah Basa menasehati Arumi bahwa maut jodoh, rejeki, serta kematian adalah takdir dari tuhan yang menciptakan kita. Jikalau kak Galih bukan jodohku berarti tuhan telah menyiapkan rencananya yang indah di depan sana. Percayalah di depan sana juga masih banyak lelaki yang sama baiknya seperti Galih bahkan kalau lelaki itu benar benar jodoh kamu mungkin akan lebih baik lagi.


Air mataku menetes begitu saja apakah secepat itu aku bisa melupakan kak Galih rasa perih bercampur sesak yang aku rasakan sejak tante pulang dengan gembiranya. Bukanya melarang malah merestui. Akhirnya aku putuskan lusa kembali pulang dari pada aku sakit sendirian.


Tetapi aku juga tidak bisa memaksa percuma kak Galih sudah menentukan pilihanya. Aku lanjut saja belajar sampai jadi orang sukses, aku akan menunjukkan bahwa aku lebih baik dari pada wanita janda beranak satu yang bernama Gendhis itu.


"Iya Om, Tante aku mengerti aku akan mencoba melupakan kak Galih dan fokus dulu kuliah dan kerja sampai jadi orang sukses. Doakan aku terus ya....biar aku bisa berlapang dada dan bisa jadi orang yang baik....!!". Pinta Arumi sembari menahan tangis dan segera memeluk Tante Imel bergantian kemudian tangispun pecah di pelukan Om Basa.


"Amin.... yakinlah kamu anak baik kamu pasti bisa..."!. Tegas Om Basa menasehati sembari mengusap punggung Arumi.


Sementara Bos Galih sehabis mandi tersenyum mengibas ngibaskan rambutnya yang basah di depan cermin sembari melilitkan handuk di pinggangnya masih tak percaya wanita yang dicintainya sejak dulu akan segera menjadi istrinya.


Segera berpakaian tidur dan berusaha merebahkan tubuhnya yang sudah berbau wangi di ranjangnya dan meraih handphone yang sedari tadi diisi batre di nakas tempat tidurnya. Segera memencet whatshap mencari sebuah nama yang saat ini adalah kekasihnya.

__ADS_1


Tting....


Tring....


Tring......


Segeralah Gendhis mengangkat telefon sembari hatinya berbunga bunga seperti ABG yang baru saja mengenal percintaan.


"Assalamualaikum hallo sayang......". Jawab Gendhis.


"Waalaikumsalam .....jangan pernah berpaling dariku ya....sayang..!!??". Selalu kata kata itu setiap telefon Gendhis Bos Galih sangat takut kehilangan cintanya.


Ndis .....Mama dan Ayahku ingin sekali bermain dengan Almayra. Mereka berdua ingin mengajak jalan dan beli mainan untuk anak kita. Perkataan Bos Galih membuat Gendhis terharu mau mengakui Almayra seperti anaknya sendiri.


Boleh- boleh kak silahkan saja, aku kasih tau anaknya sepulang sekolah biar siap-siap. pasti Almayra gembira, makasih kak ya sudah mau menganggap Almayra seperti anak. Timpal Gendhis berterima kasih.


"Amin semoga semua kata kata kakak nggak berubah....! kak Aku mau melaksanakan ibadah malam udah dulu ya....besok kita sambung lagi...!!". Gendhis mengakhiri percakapan matanya yang pedas, ngantuk badanya juga sangat lelah apalagi belum melaksanakan ibadah malamnya.


"Tunggu dulu sayang mana kata kata sayang ke aku dari tadi manggilnya kak belum dengar yang membuat hatiku tentram...!!??". Permintaan Bos Galih yang manja membuat Gendhis tersenyum sendiri.


"Ya tuhan sayang.....! makasih ya.... semoga kedepannya hubungan kita semakin romantis dan sayangku ini selalu kayak gini sikapnya....!". Tak menyangka Bos Galih orangnya seromantis itu mungkin ini jawaban kesabaran Gendhis dan cobaan yang bertubi tubi hingga mendapatkan lelaki spesial sepertinya.


"Mimpi indah ya....sayang.....besok kita langsung tentukan acara pernikahan kita. Sekarang aku juga udah ngantuk tetapi kalau begadang semalaman ngobrol sama kamu betah deh ...nahan kantuk...!!". Celetuknya si Bos lagi yang tak berhenti menggombal dari tadi.


"Bunda ....kenapa Bunda senyum senyum sendiri....!!". Tiba tiba Almayra datang...


"Oh...Bunda nggak senyum sendiri ada Papa Galih yang barusan telefon Bunda...!!". Sahut Gendhis.


"Bunda Almayra mau tanya kenapa om Galih harus di panggil papa katanya Bunda mau jelasin ..!!??". Tanya Almayra dengan suara terbata bata dengan ekspresi yang semakin penasaran kenapa yang dulu om sekarang kok dinpanggil Papa.

__ADS_1


Almayra Bunda jelasin ya...? . "Almayra senang nggak dengan Om atau Papa Galih...??". Tanya Gendhis ingin melihat ekspresi Almayra yang masih polos.


"Seneng apalagi sama omanya tadi...? Alma sangat senang Bun...!". Jawab Almayra.


Ini mungkin saat yang tepat meminta restu dari Almayra semua jawaban tergantung sama Almayra.


Alhamdulillah kalau seneng, Seumpama Papa Galih ingin menjadi Papa beneran mau nggak Almayra jadi anaknya....? Tanya Gendhis lagi.


"Bener Bun.....teyus....Papa Dewa bagaimana.....!!". Tanya Almayra dengan nada bicaranya yang cadel


"Papa Dewa tetap Papa Almayra jadi Papa Almayra ada dua, Bunda sama Papa Galih nanti akan bersama sama terus nanti kalau Almayra sudah besar pasti mengerti...!!". Jelas Gendhis memberi pengertian.


Hole ....


Hole....


Hole.....


"Asik...... Almayra batal punya Papa yang nemenin setiap hali, mengantal aku ke cekolah....tiap hali..!!". Celotehnya yang membuat Gendhis lega dan bahagia sekaligus ketawa.


Baru kali ini Almayra tertawa lepas, aku bahagia sekaligus khawatir kalau kebahagian ini hanya sementara seperti kehidupanku dengan Bang Dewa.


Sebetulnya aku masih belum yakin dengan pernikahan ini rasa trauma yang dulu belum bisa aku lupakan meskipun aku telah memaafkan Bang Dewa.


"Bun....bunda....!". Gendhis masih larut dalam lamunannya.


"Kak....melamun saja setiap aku ke kamar kakak pasti bawaanya melamun, nggak baik...sana kak sholat aku tau kakak pasti bimbang sana...minta petunjuk..!". Gendhis tersenyum menatap adiknya yang selalu suport dan selalu mengerti apa yang di pikirkan kakaknya


.

__ADS_1


__ADS_2