Titik Lelah Seorang Wanita

Titik Lelah Seorang Wanita
Part 90 Bos Galih dalam genggaman Puspita


__ADS_3

Saya minta izin ke kamar mandi terlebih dahulu. Karena Anda sangat ingin pipis, saya merasa harus segera ke sana. Begitu sampai di dalam kamar mandi, saya langsung mengeluarkan handphone dari saku celana untuk mencari kontak sang sopir. Beruntung sinyalnya masih ada, meski kurang baik. Saya berbohong sesaat di dalam kamar mandi sebelum akhirnya keluar dan menyimpan kembali ponsel di saku celana.


"Bisakah kau buatkan saya minum, Puspita? Saat ini saya sangat haus," kata Bos Galih sambil mengulur-ngulur waktu menunggu sopirnya tiba. Sebenarnya tadi di kamar mandi saya menghubungi sopir saya karena jarak dari hotel di mana saya menunggu cukup jauh. Setelah satu jam menunggu, sopir Bos Galih akhirnya menelfon rekannya, sesama sopir, untuk meminta bantuan menjemput Bos Galih. Ternyata, teman sopir tersebut tinggal di sekitar pemukiman Puspita.


"Tentu saja," jawab Puspita. "Saya akan panggil anak buah saya yang tadi saya suruh beli minuman. Biar dia cepat pulang. Saya sengaja suruh dia yang jauh supaya kita bisa bermesraan lebih lama." Saya merasa Bos Galih mesum, lalu menggeretakkan gigi dan mengepalkan tangan.


"Aku mau minum kopi pait saja. Apa tidak ada kopi dan gula di sini?" tanya Bos Galih sambil mengalihkan perhatian dan mengulur waktu supaya bisa segera keluar dari tempat itu.


"Ada, sayang. Kamu mau kopi yang manis atau pahit?" tanya Puspita sambil mengelus rambut Bos Galih.


"Pahit manis saja. Dan airnya harus direbus ya! Saya tidak mau air dari dispenser atau termos," pinta Bos Galih.


Puspita kemudian pergi ke dapur kecil, sementara Bos Galih berjalan perlahan menuju teras rumahnya. "Cepat, saya sudah di depan. Kamu kan teman sopirku, kan?" tanya Bos Galih sambil terus mengawasi jalanan di depan.


"Benar, saya Wawan. Saya temannya sopir bapak. Kurang 5 menit lagi saya sampai. Keluar saja sekarang!" imbuh Wawan, yang menyetir sepertinya jalanan miliknya sendiri.


Bos Galih sangat lega mendengar pernyataan teman sopir pribadinya. Tetapi, ia sangat terkejut ketika menoleh ke belakang, ternyata Puspita sudah tepat berada di belakangnya.


"Begini kamu ternyata memperlakukan aku, Gal... tidak kusangka tadi itu hanya alasanmu saja supaya jauh dariku, bisa lari dariku. Tak akan aku lepaskan kamu begitu saja!" Tegasnya sembari tersenyum miring.


Prok...

__ADS_1


Prok...


Prok...


Tepukannya menggugah kaki anak buahnya yang berjaga-jaga di semak-semak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kenapa tadi ada suara motor pergi dan tidak mendengar kembali datangnya suara motor, tetapi tiba-tiba anak buah Puspita langsung muncul? Gumam Bos Galih dalam hati.


"Kamu kaget kan...? Kenapa anak buahku langsung hadir mendengar tepukanku? Sebagian besar memang aku suruh berjaga-jaga di depan sana. Aku tidak bodoh, mengapa aku menyuruh mereka siap siaga. Makanya, kamu nyerah aja nurut sama aku, jangan kabur-kaburan percuma," terang Puspita.


"Puspita, kesabaranku sudah habis! Memangnya aku tawananmu? Aku hanya teman lamamu, bukan musuhmu. Sudahi semua ini, biarkan aku pulang!" bentak Bos Galih yang mulai geram melihat perlakuan Puspita.


Bos Galih berjalan cepat, tidak menghiraukan Puspita dan anak buahnya. Segera, Puspita menggelengkan kepala sebagai tanda memerintahkan anak buahnya menangkapnya. Pertengkaran hebat terjadi antara Bos Galih dan anak buah Puspita. Dengan berkacak pinggang, Puspita menyaksikan perkelahian itu. Bos Galih mulai kepayahan menghadapi anak buah Puspita yang beringas dan kuat. Dan lagi, mereka berjumlah tiga orang, wajar Bos Galih kalah karena tiga lawan satu orang dan orang pilihan Puspita, benar-benar tangguh.


Seketika tubuh Bos Galih terjatuh dan mengeluarkan darah segar dari hidungnya, akibat pukulan anak buah Puspita. Tak menunggu lama, Puspita menyuruh anak buahnya mengangkatnya ke kamar.


Jederr...


Pintu ditutup kuat. Puspita segera mengambil baskom berisi air hangat dan lainnya, tidak lupa waslap untuk mengusap luka-luka kecil di pelipis dan sedikit tergores pada lengannya akibat pinggiran pintu. "Ini minum dulu, anggap tadi sebuah latihan olahraga, makanya nurut sama aku, sini aku bersihkan mukanya dan luka-luka lainnya!" terang Puspita. Bos Galih hanya bisa pasrah, pikirannya mulai mengakar kemana-mana. Bagaimana jika Gendhis mencarinya sementara ponsel Bos Galih diambil oleh Puspita? Bagaimana cara kabur dari sini? Sementara ia menenangkan diri dan berfikir mencari solusi.


Tok... tok... tok... Rupanya anak buahnya yang membawa makanan dan minuman sudah datang. Puspita segera membukakan pintu dan memindahkan makanan-makanan itu ke dalam piring. "Aku harus makan. Bagaimanapun aku harus mempersiapkan diriku untuk membalas dan melarikan diri. Bagaimana dengan teman sopirku tadi yang sudah sempat berkomunikasi denganku?".


"Ayo... Gal aku suapin sebelum kita menjalin asmara. Awalnya, aku hanya ingin memadu kasih denganmu, tetapi karena sikapmu dan ketampananmu, ini membuatku ingin memilikimu sepenuhnya. Tinggalkan wanitamu itu...!" titahnya sembari menyuapkan makanan ke mulut Bos Galih.

__ADS_1


Di depan terlihat seorang lelaki kebingungan mencari Bos Galih yang tadi sempat berkomunikasi, namun setibanya di lokasi, ia tidak melihat siapapun. Puspita sengaja mematikan ponsel milik Bos Galih. Tiba-tiba muncul dua orang lelaki kekar. "Mencari siapa kamu di wilayah kami, mondar-mandir dari tadi?" tanya kedua anak buah Puspita.


"Maaf, saya seorang sopir taksi. Tadi ada penumpang yang menggunakan aplikasi taksi online, kebetulan saya yang menerima pesanan itu, pak," terangnya sambil membawa tongkat kasti yang dipukul-pukulkan dari telapak tangan kanan ke telapak tangan kirinya. Sopir taksi itu berbohong untuk mengelabuhi bahwa calon penumpangnya berada dalam keadaan bahaya.


Sudah pergi tadi dengan taksi, karena kamu terlambat mungkin. Makanya kalau ada penumpang cepat-cepat jangan mengulur waktu. Pergilah secepatnya. Titahnya dengan mata melotot.


"Baiklah kalau begitu terima kasih, saya akan segera pergi...!". Sopir itu segera pergi dengan maksud melaporkan kepada temannya yang juga sopir, tak lain adalah sopirnya Bos Galih. Segera ia melajukan kendaraannya dengan cepat, maklumlah dia tidak pernah berhubungan dengan kekerasan apalagi orang jahat.


Dengan tangan gemetar ia memencet nomor telepon mencari nama Anton, sopir Bos Galih. Sang sopir segera mengangkat telepon, dan kebetulan ia sudah setengah perjalanan menuju tempat Bos Galih yang sedang disandera. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertemu di sebuah warung kopi pinggir jalan yang remang-remang berwarna biru, tempat biasanya para sopir berkumpul untuk menghilangkan rasa lelah dan kantuk.


Hanya dalam 15 menit mereka sampai di warung kopi, segera menepi dan parkir beriringan. Mereka berjabat tangan dan segera mencari tempat di pojok dan memesan kopi seperti biasa.


"Maaf Hen, aku jadi merepotkan. Kamu terlibat urusanku, aku bingung juga ke mana perginya Bos Galih. Kok tiba-tiba dia sulit sekali dihubungi, benar katamu jangan-jangan disekap di dalam rumah yang katamu tadi jauh dari pemukiman warga!!" imbuh Anton kepada temannya yang namanya Hendra.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Hendra sembari meneguk kopi pahit kesukaannya.


"Aku harus memberitahukan kepada keluarganya dan calon istrinya bagaimana-bagaimananya. Aku serahkan keputusan kepada mereka, kalau aku bertindak sendiri aku takut salah langkah," timpal Anton.


"Baguslah keputusanmu. Itu yang terbaik. Secepatnya kamu harus memberitahukan kepada keluarganya," nasehat Hendra.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Saya akan segera kembali ke kantor dan memberitahu berita ini kepada Bu Gendhis, calon istrinya!" ujar Anton. Mereka pun mengakhiri percakapan dan Anton menuju ke kasir untuk membayar minumannya. Setelah itu, mereka berjabat tangan dan kembali ke mobil masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2