
**********
"Di dalam gua,Nenek Sartijah,binggung mencari cari kemana penghuni gua,biasanya rame terdengar celotehan Almayra,sekarang sunyi ,sepi".
"Sardan....sardan.....,Gendhis...,Almayra,kemana semua orang".
aku tunggu saja 1 jam,mungkin dia jalan jalan di sekitar sini..!".
************
"Satu jam sudah berlalu,mereka tidak ada,jangan jangan mereka kabur,coba aku lihat barangnya".
"Sialan....!!".
"Mereka benar benar kabur,akan aku bacakan mantra mantra biar Sardan terluka,kurang ajar sekali,untung sekali aku masih punya foto sardan biar dia tau rasa,sudah aku didik menjadi orang yang sakti mandra guna,malah pergi dengan perempuan sialan itu".
"Aku juga harus ke kakek Danu supaya membantu aku membawa Sardan kembali".
"Aku harus balik lagi ke sana,aku harus segera mencari anak buah biar bisa aku suruh ke sana sini,Nawang dan kakeknya harus tau hal ini ".
"Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan ,tibalah nenek Sartijah di kediaman kakek Danu".
"Hai nek .....!kenapa nenek balik lagi kemari,kasian nenek kelihatan kecapek an sekali,ayo nek segera masuk kubuatkan minum dulu..!!".
"Nawang gawat,mereka kabur,mbah Sartijah segera mengabarinya".
"Siapa Bang Sardan...??,atau perempuan dan anak yang nenek ceritakan itu...??".
"Mereka semua kabur bersama sama,aku yakin ini semua perbuatan Sardan,kemarin dia sempat ngomong, kalau sudah jatuh cinta sama perempuan yang bernama Gendhis itu,tetapi aku melarangnya,aku lebih setuju kalau Sardan menikah dengan kamu...!!".
"Makasih nek suport nya...!".
"Nawang tersenyum lebar,dia memang cantik,tapi judesnya itu yang membuat semua orang malas".
"Nawang kamu ada foto yang sendirian mana...??",pintu nenek Sartijah.
"Buat apa nek....?!".
"Aku akan mencoba menggabungkan foto kamu dan foto Sardan,supaya sardan tergila gila kepadamu ,dan melupakan wanita penggoda itu,akan aku kasih mantra yang sering aku lakukan ketika orang orang datang meminta tolong kepadaku!!".
"Apa bisa nek....??,tanya Nawang seperti tidak percaya bahwa nenek Sartijah bisa".
"kamu meragukan kemampuanku...?,jangan panggil aku nenek Sartijah, kalau aku tidak bisa menaklukkan Hati seseorang,bisa berubah".
"Baiklah nek ini fotoku ......!!".
"Nawang mengambil foto di dalam dompetnya,dan memberikannya kepada nenek Sartijah".
"Kamu memang cantik,tunggu sebentar Sardan pasti bertekuk lutut padamu,dia harus di buat sakit dulu dan mencariku...!!".
"Dengan mata melotot tajam foto Sardan segera di tancapkan jarum jarum ,di muka saja ada lima jarum,foto tersebut di tempelkan di dinding padebokan kakek Danu ,benar benar musyrik nenek Sartijah".
__ADS_1
"Ada juga foto Bang Sardan lainnya di sandingkan dengan foto Nawang".
"Ada lagi bentuk boneka tetapi di balut kain putih,menyerupai pocong,di tancapi dengan jarum jarum juga,sungguh hal diluar nalar ".
"Nek aku telefon kakek Danu ya,biar segera merapat ke sini,kita harus segera mencari Bang Sardan,jangan sampai Bang Sardan dimiliki wanita itu".
"Bip....bip.....bip....",.suara dering handphone Nawang.
"Hallo iya Nawang ada apa ...??".
"kakek harus segera pulang,ada nenek Sartijah di padebokan ".
"Loh emangnya balik lagi,tadi kan sudah pulang".kakek Danu kaget "
"Bang Sardan dan wanita sialan itu kabur...!",Gendhis berusaha menjelaskan apa yang dikatakan nenek Sartijah tadi.
"Apa..!!",bagaimana bisa.
"Kami akan ke kota mencarinya,kami butuh pengawalan,cerikan yang tangguh kek,yang berilmu tinggi,siapa tau di kota kita kuwalahan menghadapi mereka".
"Baiklah aku akan segera memerintah anak buahku untuk menjaga kalian,dan menyerang mereka di kota ".
*****
"Tidak sampai satu jam kakek sudah datang,kakek segera mengenalkan pengawal kami untuk persiapan ke kota".
"Aku tidak ikut Ya ...!!,ada tamu penting dari Jepang,tidak bisa di tinggal ini ada sebuah bisnis yang menjanjikan,jadi sementara aku fokus sama orang Jepang dulu".
"Aku yakin anak buahku bisa membawa Sardan kembali,bertekuk lutut di hadapan kalian".
"Dengan kekuatan mbah Sartijah dan kakek Danu ,yang bisa menerawang,dimana Sardan sekarang ,mereka sudah mengetahui ,samar samar di sebuah penginapan,anak buah di utus dua orang berangkat duluan".
"yang mengikuti,kami ternyata benar anak buah Kakek Danu".
************
"Sementara Bang Sardan mulai rajin belajar sholat,membaca Al qur'an,di dampingi pak kyai dekat rumah Gendhis,lain dengan pak kyai yang membantu Suhu ajimat,namun ilmunya sangat sangat sebanding".
"Setiap 2 hari sekali Bang Sardan di rukyah,sama pak kyai ".
"Saat ini semua tertidur,kecuali Bang Sardan malam ini sulit memejamkan mata,badanya terasa panas,menggigil,mau bangun sholat malam rasanya lemas,sehingga memutuskan menutup wajah dan sekujur tubuhnya dengan selimut ".
"Bang Sardan,tidur di kamar tamu,dekat ruang tamu,sedangkan kamar Mama Artha dan Ayah Rangga,Gendhis,dan Gadhis di ruang agak belakang dekat dengan ruang makan,meskipun keluarga Gendhis sederhana,tetapi peninggalan orang tuanya sungguh luas".
"Badanku kok tiba tiba,nggak enak kayak gini,mau muntah rasanya".
"Jam terus berputar,tidur tidak bisa lelap,hanya tidur sebentar, sebentar juga bangun,mimpi menyeramkan,kenapa perasaanku selalu ingat nenek Sartijah,dan Nawang,padahal sedikitpun aku tidak punya pemikiran atau perasaan apa apa terhadap Nawang ".
"Suara Adzan berkumandang aku harus melaksanakan ibadah pagi".
"Au....sulit sekali kakiku di gerakan,tangan tanganku juga kaku...,bagaimana ini....!!".
__ADS_1
"Gendhis mengetuk pintu kamarku..".
"tok....tok...tok....".
"Bang ayo beribadah,sama sama,Ayah Rangga sudah di tempat ibadah,semua sudah siap tinggal nunggu abang...".
"Apakah abang ketiduran...!!".
"Ndis tolong aku nggak bisa bangun,kakiku sulit di gerakan,tangan tanganku juga sangat kaku,sekarang badanku seperti patung,rasa mual dari tadi belom juga hilang.....!!".
"Ya udah abang tiduran dulu aku panggil ayah,tetapi aku beribadah dulu bang ya,nanti biar di cari kunci serep sama ayah".
"Iya Ndis makasih...!".
"Segera Gendis meninggalkan kamar bang Sardan".
"Ayah,bang Sardan tiba tiba sakit badanya,nggak bisa bergerak katanya kaku semua,pintunya di kunci dari dalam nanti kita bantu setelah beribadah ya...?".
"Semua terkejut....,membulatkan mata dan bibir menganga melihat Gendhis menjelaskan perihal tentang Bang Sardan ".
" padahal kemarin baik baik saja",timpal Gadhis.
"Itulah hidup,tidak ada yang tau kalau penyakit bisa datang kapan saja,makanya kita harus selalu ingat pada sang pencipta ".Mama Artha menasehati kami.l
"Ayo semua siap siap..",Ayah Rangga memberi kode,menoleh barisan segera mulai bacaan iqomah
"Aku kok mulai curiga,jangan jangan ini ulah mereka....!?,mbah Sartijah sama kakek Danu....!tetapi aku nggak mau nuduh dulu sebelum aku ada bukti...!?",dalam hati Bang sardan timbul pemikiran yang tak wajar .
"Ataukah aku orang yang penyakitan....??".
"Semakin was was,Bang Sardan mulai memikirkan hal yang tidak tidak,dia juga takut kalau semua ini adalah karma,karena telah menuruti perintah nenek Sartijah yang sudah menyekutukan Tuhan".
"Ya tuhan ampunilah hambamu ini,hamba sudah bertaubat,jangan cabut dulu nyawaku..!!,berilah aku kesempatan untuk menebus semua dosa dosaku,".
"Ayah Rangga dan semua keluargaku Gendhis selesai beribadah,Ayah menyuruh mama mengambil kunci serep di laci bufet,ruang kuarga".
"Segera Mama kembali sudah memegang kunci serep,dan menyodorkan ke Ayah".
"Tak berlangsung lama,pintu segera terbuka ,Semua terbelalak melihat nasib bang Sardan,mukanya pucat,bibirnya putih seperti mayat".
"Kita bawa ke rumah sakit saja biar di cek seluruh tubuh apa sebenarnya penyakit yang tiba tiba datang".
"Gendhis telefon Om Raka,biar bantu Ayah mengangkat Sardan...!!'.
"Baik ayah...!!".
"Gendhis berlari kecil menuju kamar,mengambil ponselnya yang masih terhubung dengan alat cas,segera melepas canger yang sudah mengisi batre sampai 100 persen".
"Tring.....tring....tring....,nggak diangkat Yah".
"Aku ada ide yah,aku bantu kita gotong royong kita pakai pandu gini gini aku juga pernah ikut pramuka kan...!!".
__ADS_1
"Apa kamu bisa...kak..??",gadhis tertawa kecil.
"Ayo kita coba,apa yang nggak bisa kalau sama Gendhis".Dasar anak Mama yang satu ini.