Titik Lelah Seorang Wanita

Titik Lelah Seorang Wanita
Draft 89 Kelakuan gila Puspita


__ADS_3

Bos Galih melangkah menuju parkiran dan memberitahu sang sopir untuk menunggu di sana saja. Setelah meninjau tempat yang diperlihatkan oleh temannya, Puspita, ia akan kembali ke mobilnya. Pak sopir mengangguk dan kembali merebahkan dirinya di jok mobil belakang.


Puspita menunggu di seberang dan menyambut Bos Galih dengan senyum penuh harap saat ia berjalan menuju mobil. "Ayo Gal, kita duduk di belakang saja dan bercerita tentang masa lalu," ajaknya. "Bagaimana kamu bisa sukses seperti ini dan tidak ikut orang tuamu ke luar negeri? Aku ingin mendengar kisahmu."


Puspita menggandeng lengan Bos Galih dengan manja dan sang sopir membuka pintu mobil. Mereka berdua duduk di baris kedua kursi. Puspita memberikan air putih dan tanpa ragu-ragu, Bos Galih segera meminumnya. Bos Galih kaget karena tidak menduga tindakan Puspita.


Setelah 30 menit berlalu, Bos Galih merasa khawatir karena ia memiliki janji untuk makan malam bersama ayah, ibu, dan tunangan. "Puspita, kita belum sampai juga ya? Aku punya janji makan malam nih," tanyanya.


"Tidak Gal, bentar lagi sampai. Lihat, di depan sana sudah terlihat tanah yang akan aku jadikan sekolah elit nantinya," jawab Puspita dengan suara parau.


"Tapi ada bangunan di depan sana," ujar Bos Galih heran.


"Iya, belinya sudah begini. Jadi, nanti yang depan buat kantor. Tetapi, kira-kira menurut kamu untuk ruangan apa yang pas? Ayo kita masuk ke dalam!" terang Puspita meyakinkan.


Sampailah mereka pada tempat yang dituju. Namun, memang ada bangunan kecil minimalis yang sangat bagus dan unik.


Puspita menyuruh sang sopir mencarikan makanan ringan dan minuman di sebuah supermarket yang jaraknya sangat jauh. Harus kembali lagi ke arah mereka masuk karena penduduk di sekitar masih jarang, sehingga lingkungannya masih sepi dan tenang.


Segera pintu dibuka oleh Puspita.


Cekrek...

__ADS_1


Puspita segera masuk dan Bos Galih segera mengikutinya. Terlihat seperangkat kursi sofa empuk dan elegan, perpaduan rumah bergaya industrial, dengan kursi yang pas serta horden yang sudah senada. Warna tembok pun putih bercampur abu-abu. Ada juga kursi berwarna hitam dan tampak sebuah kamar yang juga sangat nyaman untuk beristirahat.


"Kita istirahat sebentar di sini. Setelahnya, baru kita mengelilingi tanah di sebelahnya!" pintanya.


"Kenapa kamu kunci? Kita sebentar saja istirahatnya. Aku kan nggak capek. Buru-buru, setelahnya kita segera kembali ke hotel di mana supirku sudah menungguku di sana!" imbuh Bos Galih.


Segera, Puspita merangkul tubuh Bos Galih yang kekar. ******* pun mulai lirih di telinga Bos Galih. Puspita melepaskan bajunya satu persatu dimulai dari kancing atasan bajunya. Terlihat bra yang sangat bagus dengan renda senada dengan ****** ******** yang sengaja bawahan bajunya diturunkan.


"Cukup, Puspita! Jangan kau teruskan. Aku malu melihatmu seperti ini! Ayo kita akhiri pekerjaan ini. Kalau kamu seperti ini, kenapa aku sebodoh ini percaya dengan kamu yang tetap jahat seperti rencana kamu semula...!" teriak Bos Galih melengking memenuhi semua ruangan itu.


"Galih, kenapa kamu tidak peka! Dari dulu aku mencintaimu, tapi kamu tidak perduli. Apa aku kurang cantik atau kurang menarik? Apakah selalu ada wanita pilihanmu yang membuat kamu tidak memperdulikan aku?" Teriak Puspita yang sudah marah karena penolakan Galih.


"Kamu cantik, Puspita, menarik, tetapi aku menganggap kamu sebagian sahabatku, adikku tidak lebih. Perasaanku hanya untuk tunanganku saja." Terang Bos Galih meyakinkan.


"Asalkan permintaanmu wajar, aku akan menurutimu." Bos Galih mengiyakan permintaannya.


"Aku mau menutup matamu karena aku merasa malu. Pejamkan matamu!" Pinta Puspita meminta.


"Baiklah, asal hanya itu saja." Imbuh Bos Galih.


"Aku tutup mata kami pakai kainku ya." Segera Puspita melilit mata Bos Galih dengan kain selendang kecil yang sudah disediakan. Dia juga segera merapikan pakaiannya, lalu memencet handphonenya. Tak beberapa lama terdengar suara sepeda motor datang, dan dua orang bodiguard bertubuh kekar memasuki ruangan tersebut.

__ADS_1


Bos Galih hanya pasrah dengan keadaan saat ini. Setelah matanya tertutup rapat, ia hanya mendengar suara kecil. Puspita berbisik-bisik dengan bodyguard-nya.


"Apa yang kalian lakukan? Puspita, kamu sudah bilang tidak akan melakukan perbuatan yang gila, tapi nyatanya kamu berkhianat dengan perkataanmu! Lepaskan...lepas....lepas...!!" Teriak Bos Galih. Ternyata kedua bodyguard itu menyeretnya ke ranjang, lalu mengikat kedua tangannya dan kakinya. Masing-masing diikat di pojokan tempat tidur, satu tangan diikat di pojokan kanan dan satu tangan diikat di pojokan kiri, demikian juga dengan kakinya.


"Sudahlah, kalian keluar saja biar aku yang mengurusinya. Jangan datang ke sini sebelum aku menelepon kalian. Paham?" perintah Puspita. Mereka segera meninggalkan tempat tersebut dengan suara knalpot yang bising dari sepeda motor masing-masing.


"Galih, aku tidak bisa melepaskanmu kalau kita belum bercinta. Ha... ha... ha... aku tidak akan melepaskan begitu saja. Ayo, mari kita habiskan sedikit waktu ini sebelum kita memulai pekerjaan nanti," goda Puspita.


"Hentikan, Puspita! Jangan gila begitu. Ingat, aku tidak akan memaafkanmu atas perlakuanmu ini!" teriak Bos Galih. Namun Puspita tidak menghiraukannya dan malah semakin gencar melakukan aksinya, meskipun masih dalam tahap bercumbu.


"Sudahlah, diam saja. Nikmati saja permainanku," titah Puspita sambil mencium bibir Bos Galih dan tangannya mulai nakal.


"Puspita, hentikan. Lebih baik kita melakukan hal ini tanpa kamu mengikatku seperti ini. Ayo, lepaskan aku. Saya ingin melakukan apa yang kamu mau. Perlakuanmu membuatku tidak tahan ingin melakukannya denganmu. Kamu sungguh pandai. Lepaskan, Puspita," bujuk Bos Galih yang sengaja berbohong, membuat *******-******* yang membuat Puspita mempercayainya.


Perlahan-lahan, Puspita mulai menuruti perkataan Bos Galih yang meyakinkan, dan dia tersenyum merasa kemenangan telah berada di pihaknya.


"Kamu pasti ketagihan, kan, Galih? Coba dari tadi kamu nurut, tidak sampai aku memaksamu, pasti kita sudah sama-sama menikmatinya, tidak sesulit ini, bukan?" tanya Puspita dengan suara manja.


Galih segera beraksi, memperbaiki bajunya yang sedikit berantakan dan membenarkan baju Puspita.


"Sebentar, aku benarkan dulu bajumu. Aku ingin kita memulai dari awal. Aku dulu yang memulai. Tapi, aku ijin ke kamar mandi dulu, boleh kan?" imbuh Bos Galih.

__ADS_1


"Tentu saja boleh. Aku sangat senang akhirnya kamu sadar. Akulah yang pantas menemanimu, Gal," ujar Puspita sambil mengernyitkan dahinya dan mengelus pundak Galih.


Huh... Bos Galih menghela nafas panjang. Ia telah selamat dari singa betina yang liar. Gumamnya dalam hati, merasa kesal dengan tingkah laku Puspita.


__ADS_2