Titik Lelah Seorang Wanita

Titik Lelah Seorang Wanita
Part 23 Menempuh Desa Mati.


__ADS_3

"Tiga puluh menit sudah kami menempuh perjalanan ke pesantren yang di tuju Mang Udin,jalannya agak berkelok kelok,dari jauh nampak papan nama besar" Pondok Pesantern La Tanza".


"Masih masuk gang lagi,belok kiri ,dan belok kiri sekali lagi, di sana mulai terlihat santri putra sedang asyik bermain sepak bola".


"Segeralah kita bertiga turun,Mang Udin segera memencet mobil dan memencet remot kunci pengaman,tanda semua telah keluar".


"Kami menoleh ke kanan dan ke kiri ,mencari kantor Pesantern La Tanza,ternyata di sebelah kanan anak-anak main sepak bola,bersamaan dengan itu,seorang Ustadz keluar dari kantornya,kami segera bergegas menuju ustadz tersebut ".


"Segera Mang Udin menyalami Ustadz itu,dan memberi salam, memperkenalkan diri ,Saya Udin,di susul Bos Galih dan Om Raka,saling menyebutkan nama masing-masing".


Pak Ustadz pun memperkenalkan diri,sembari menyatukan telapak tangan, di letakkan di depan dada dan mulut sembari membungkuk,"nama saya Sholeh hasbulloh...".


"Kalau boleh tau apa maksud kedatangan ke pondok pesantren ini,ada yang bisa saya bantu,tanya pak Ustadz....??".


"Om Raka langsung menjelaskan keponakanya hilang di Desa Lembah sirah,tidak ada orang yang berani ke sana,karena menurut keterangan bapak-bapak di sana Desa mati,dan kalau pulang tinggal nama,kalau bukan orang sakti".


"Jadi kami ke sini mau minta tolong,sama pak kyai atau pak Ustadz menemani kami ke sana,kalau bisa,takut ada apa -apa dengan rombongan kami".


"Jadi kami sedia payung sebelum hujan".


"Mohon maaf sekali untuk saat ini pak kiyai sedang tidak ada di pondok pesantren,besok beliau baru pulang,saat ini ada undangan bupati untuk ceramah di kantor bupati".


"Sedangkan saya tidak mungkin ikut rombongan Bapak,sore nanti akan ada pertemuan wali murid tahun ajaran baru,saran saya semua rombongan berdoa sesuai kemampuan, baca ayat-ayat suci,jangan menganggu mereka insyaallah akan selamat".


"Hidup dan mati itu urusan sang pencipta,yakin para rombongan Bapak akan selamat,saya mendoakan dari sini,di coba dulu kemampuan rombongan".


"Begini saja saya kasih no telefon saya,kalau sekiranya tidak bisa mengatasi,insyaallah secepatnya saya akan ke sana bantu bapak-bapak sekalian".


"Kami semua saling berpandangan,benar juga kata pak Ustadz kita cobak dulu,siapa tau itu hanya isu".


"Baiklah pak Ustadz saya Catat no pak Ustadz, nanti kalau ada apa-apa segera kita telefon ya".


"Catat no pribadi saya sama no kantor, siapa tau pas saya nggak pegang handphone,ada Ustadz lain yang menerima telefon Bapak"


"kalau begitu kita pamit dulu,mohon maaf kalau mengganggu waktu pak Ustadz".


"Tidak kok pak selagi kita bantu insyaallah nanti kita bantu,kita yang mohon maaf belom bisa ikut rombongan Bapak,sebenarnya saya juga penasaran apa yang dikatakan warga benar".


"Sayangnya,waktu yang belom memungkinkan".


"Segera Om Raka bersalaman diikuti Bos Galih dan Mang Udin,mereka segera menaiki mobil dan bergegas meninggalkan pondok pesantren,dan kembali ke penginapan".


"5 menit lagi kita akan sampai di penginapan,terlihat dari kejauhan semua sudah mondar mandir di depan pagar...penginapan".

__ADS_1


"Mereka semua melongo,saling membulatkan mata dengan sempurna dan mulut menganga,ketika kita pulang dengan tangan kosong ,kaget kok ngak ada,orang ....?? yang ikut dalam mobil".


"Debby,Fitri,dan tante Siska, segera berlari kecil menuju carpot,tempat ketiga orang yang di kenal turun".


"Mana Bos....pak kyai ",jangankan pak kyai, pak Ustadz aja nggak bisa ikut ,jadwal padat semua".


"Ha.....trus kita bagaimana?".


"Begini saja,bagaiman...?,kalau yang perempuan tinggal di penginapan saja,kita yang laki -laki maju duluan,kata pak Ustadz kita coba dulu nanti kalau ada apa-apa tinggal telefon saja, insyaallah nanti di bantu".


"kami para perempuan,saling beradu pandang,tetapi Debby dan Fitri orang yang kepo,nggak mungkin mereka mau tinggal di penginapan,selain itu mereka berdua juga sahabat setia Gendhis".


"Nggak ah kami akan ikut,timpal Debby,kalau kenapa-kenapa kan ada kalian para lelaki yang menjaga kita".


"Iya benar kata Fitri buat apa kita di sini,kalau hanya menunggu di penginapan ".


"Mama dan Ayah Rangga,segera mengajak mereka siap-siap".


"Ya sudah kita berangkat saja takut nanti kemalaman di jalan".


"Segera kita masuk mobil masing-masing...,keluarga Gendhis di belakang mobil Bos Galih ".


"Sampailah kita di perbatasan Supermarket,terlihat dari jauh Bang Tigor berdiri di depan pintu Supermarket ,segera Mang Udin mengambil jalur memasuki Desa Lembah Sirah".


"Semakin ke dalam semakin terasa angker ,tak ada satu pun orang yang lewat,benar-benar Desa mati,pantas saja mereka tidak ada yang berani ke Desa ini".


"Tiba-tiba pohon di depan kita ambruk".


"Gedebug...".


"Jantung kami serasa copot,untung jaraknya masih 3 meter,sehingga Mang Udin, bisa ngerem mobil,meskipun mendadak membuat semua terlunta ke depan".


"Mobil Om Raka pun agak jauh dari kita, sehingga tidak terjadi tabrakan belakang".


"jalanan pun tertutup pohon besar,aneh nggak ada hujan nggak ada angin tiba-tiba ambruk ".


Semua pun turun,kita berusaha menyingkirkan pohon besar,yang menghalangi perjalanan kita,awalnya lelaki saja yang menyingkirkan pohon itu,namun beberapa kali di coba masih nggak mau bergerak,akhirnya kami ke empat perempuan ikut turun tangan juga".


"Ayo Baca doa dulu ,lalu kita singkirkan sama sama ,Debby dengan percaya diri berbicara keras sekali".


"Semua serentak baca Bismillah...".


"Tetap saja nggak mau bergerak,kita yang kekurangan tenaga apa gimana ?".

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita memanggil warga minta bantuan",kata tante Siska.


"Mana ada yang mau masuk Desa ini,kalau tidak terpaksa seperti kita,ujar Mama".


"kayaknya ini mulai ada yang jahil,kita jalan saja mobil kita taruh di sini kita melangkahi saja pohon besar ini...bagaimana...?".Bos Galih segera mengambil tindakan karena dia ingin segera menemukan Gendhis".


"Bawa perlengkapan kalian yang penting-penting saja".


"Semua saling berpandangan,akhirnya semua menggaguk dan segera melangkah,dan berjalan melewati pohon besar yang tumbang ini".


.


.


"Om Raka menasehati,kami semua,yang penting kita selalu bersatu dan membaca doa,kepada Sang Pencipta".


"Jangan ada yang berpencar".


"Hari sudah mulai sore,nampak langit mendung,menandakan terik panas sudah mulai tenggelam,dan malam akan segera datang".


"Tante siska mulai bersuara,ini sudah mau magrib....bagaimana kalau kita cari tempat untuk bermalam,mau kembali ke mobil atau ke penginapan nggak mungkin,kita sudah berjalan satu jam....an".


"Fitri juga ikut menyahut,kenapa kita tidak menemukan tanda-tanda,ada satu rumah yang di tempati orang ya".


"Tiba-tiba suara dari kejauhan terdengar seperti motor datang".


"Ayah segera menyuruh kita untuk bersembunyi".


"Ayo semua segera ke rumah tua itu yang terdekat dengan kita".


"Rumah tak bertuan,kacanya sudah pecah,rumput menjulang tinggi, berlantaikan tiga, sepertinya bekas rumah belanda,dulunya, bagus sekali,sekarang menyeramkan".


"Sepertinya aku mengenal suara motor ini kak",iya firasatku juga begitu Raka.


"Benar saja motorku itu,kita semua membulatkan mata melihat dari celah cendela tanpa kaca,banyak sekali rumah laba-laba".


"Ayah dan Om Raka ,melihat dari semak-semak di dekat rumah tua ini"


"Bagaiman mungkin yang bawa motor,dua orang lelaki yang tidak kami kenal,huh....membuang dengkusan kasar,wajah Ayah tampak memerah".


"kedua orang itu belalu tanpa menengok kanan dan kiri,tidak tau kalau mereka diintip dari semak-semak dan rumah tua ini"


"Benar-benar penculikan ini...lalu apa motifnya".

__ADS_1


,


__ADS_2