Titik Lelah Seorang Wanita

Titik Lelah Seorang Wanita
Part 57 Setelah pergi baru terasa kehilangan


__ADS_3

Bendera kuning telah terpasang di gapura perumahan almarhum bang Sardan,Gadhis Firman dan Adit telah mempersiapkan kedatangan jenazah dan prosesi pemakaman,Adit telah menghubungi RT,RW dan para warga sekitar.


Ayah Rangga mama Artha,Gendhis,Fitri, Debby telah berada di belakang mobil ambulans,tak henti-hentinya air mata Gendhis berjatuhan mengingat Gendhis telah jatuh hati,dan berencana berumah tangga beberapa tahun lagi,Debby dan Fitri berusaha mengguatkan.


"Seperti inilah rasanya!,Debb,Fit,ditinggal orang yang kita sayangi,padahal aku berencana,membina rumah tangga.... Kenapa abang pergi secepat ini..??!!",Sabar Ndis timpal Debby mengusap tangan Gendhis.


"Orang yang baik seperti Bang Sardan cepat dipanggilnya...,untungnya sebelum almarhum meninggalkanku, semua sudah aku ceritakan termasuk perasaanku sama beliau",mata Gendhis tampak sembab dan berusaha menceritakan keinginan mereka berdua kepada sahabatnya debby dan Fitri.


"Kamu harus bersyukur Ndis,setidaknya Almarhum meninggal dalam keadaan bahagia,kamu juga sudah mengutarakan perasaanmu,doakan almarhum,semoga Husnul khotimah",amin Debb..


Setelah menempuh perjalanan,satu setengah jam tampak dari jauh bendera kuning,dan rumah sudah di padat dengan para pelayat,Nenek Sartijah, Ken,Nawang,kakek Danu dan murid kakek Danu sangat banyak ikut menyaksikan prosesi pemakaman.


Rombongan Gendhis,disusul kemudian Jenazah bang Sardan segera turun dan di sambut Adit dan Firman ikut memikul Jenazah.


Tampak dari jauh Gadhis dan Almayra,Gadhis kebingungan menjelaskan kepada Almayra yang bertanya-tanya?kenapa papa Sardan dibtaruh di keranda.


"Tan....kenapa Papa Sardan di taruh di kerandan",tanya Almayra,selama Gendhis mengalami banyak masalah memang Almayra sangat dekat dengan Bang Sardan melebihi ayahnya,Dewa.


"Almayra mau bangunin ya tan,ingin main sama Papa Sardan!!",sayang sini tante jelasin,bentar.


"Kak Gimana ini Almayra ingin melihat Almarhum..!!".Gadhis lari di belakang Almayra yang lari cepat menghampiri Jenazah.


Semua orang menitihkan air mata,dan binggung melihat Almayra yang begitu antusias ingin melihat Jenazah.


Gendhis segera mengikutinya juga,dan meraih tangan Almayra berusaha menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


"Bunda mengapa bunda menangis??",gadis kecil bertanya sembari menatap lekat manik mata bundanya yang sudah penuh dengan air mata.

__ADS_1


"Nak Papa Sardan mau pergi jauh dulu ya....,nanti kalau Almayra sudah besar pasti mengerti",Dengan suara terbata bata Gendhis menasehati Almayra.


"Huwa...huwa....Papa...Almayra ikut...",rengek Almayra semakin tak bisa di kendalikan.pantas saja karena mereka berdua sangat dekat bisa dikatakan ikatan batinnya sangat kuat.


Ayah Rangga mama Artha segera menggendong,dan mengajak Almayra ke tempat kesukaanya arena permainan.


Nenek Sartijah dan Nawang segera mendekat ke jenazah dan ingin melihat bang Sardan untuk terakhir kalinya,seorang pemimpin pemakaman membuka penutup mukanya dan segera Nenek Sartijah dan Nawang menatap muka Bang sardan keduanya meneteskan air mata yang dari tadi terbendung di matanya,bukan hanya mereka berdua Gendhis juga dan lainya juga ikut menangis bersamaan.


Pemimpin pemakaman yang di sebut modin,memberi nasehat kepada kami semua,dengan hikmat.


"Sebaiknya kita banyak mendoakan almarhum,supaya di terima di sisinya,di terima amal ibadahnya di beri kekuatan kepada sanak saudara yang ditinggalkan kalau keluarga sudah berkumpul mari kita segera memberangkatkan jenazah".Pinta pak modin.


Nenek Sartijah dengan suara terbata bata segera meminta maaf dan merangkul jenazah almarhum.


"Sardan bagaimanapun kita telah menjadi seorang ibu dan anak,aku tidak pernah menyangka kenapa kita berpisah secepat ini,jalinan yang kita bina sudah menjadi satu ikatan aku dan kamu nak",Nawang memeluk nenek Sartijah berusaha menguatkanya.


Akhirnya kami selaku orang-orang terdekat bang Sardan segera mempersilahkan prosesi pemakaman melakukan apa yang harus segera di lakukan pak Modin.


Hingga kapanpun aku tidak akan melupakanmu Bang,aku akan selalu mendoakan,mungkin takdir menginginkan kita sebagai kakak adik Hingga tuhan tak mengizinkan kita untuk berjodoh,dalam hati aku selalu berbicara sendiri menahan kesedihan yang begitu mendalam.


Benar kata pepatah kalau sudah hilang baru terasa sangat pedih,maafkan aku bang belum bisa membahagaikanmu,baru saja engkau menemukan kehangatan keluarga seperti yang apa telah engkau ungkapkan kini engkau sudah pergi menghadapnya,mataku terus saja menetes sampai pak Ustadz mendekatiku dan menasehatiku.


Perlahan aku berusaha tegar dan menguatkan hatiku,jenazah di angkat kami pun segera berdiri mendengar doa doa di panjatkan.Semua mata menangis mendengar Jenazah Bang Sardan di berangkatkan.


*****


Semua pelayat telah kembali dari tempat pemakaman aku sengaja mengajak team kantorku tidur sampai 7 harian acara tahlillan di rumah almarhum Bang Sardan.

__ADS_1


Tak lupa juga nenek Sartijah,Nawang tentu saja Ken dan kakek Danu.Tetapi kakek Danu dan Ken memilih sore saja baru balik untuk menggelar acara pengajian dan doa bersama saja sore harinya,Ken juga memberikan usul kalau nenek dan Nawang saja yang membantu kami menyiapkan keperluan acara sore hari.Nawang dan nenek pun menyetujuinya.


Tiba tiba pengacara bang Ken datang,akupun meminta kepada pengacara Hendra untuk memberitau wasiat yang akan di sampaikan itu nanti saja setelah 7 hari.


"Maaf pak Hendra saya kita waktunya kurang tepat,bagaimana nek....?menurut nenek kalau nanti saja setelah 7 harinya saja",Gendhis memberikan usul.


"Benar kata Nak Gendhis,Setelah 7 harinya saja,saat ini kami sibuk membacakan doa dan masih dalam masa berkabung",nenek Sartijah mengiyakan usul Gendhis.


"Baik dengan tidak mengurangi rasa hormat saya hanya menjalankan perintah sesuai amanat yang di berikan Almarhum Sardan,sayapun turut berbela sungkawa,semoga Almarhum husnul khotimah",pengacara Hendra menjelaskan bahwa ia hanya menjalankan perintah selepas kepergianya meminta segera di bacakan surat wasiat untuk orang orang yang sudah di beri amanat untuk menerima hartanya.


Pak Hendra segera pamit dan balik sore harinya untuk mengikuti doa bersama.


Sementara Almayra terus merengek mencari Almarhum,semua heran kenapa cintanya begitu besar dari pada ke papanya sendiri,maklumlah papanya lebih peka ke istrinya dari pada ke Almayra.


Semua mata di buat sembab oleh gadis kecil yang belum mengerti apa-apa ini,satu satunya jalan sementara Almayra di titipkan di rumah om Raka dan tante Siska.


Semoga saja Almayra dapat mengerti dan segera ada solusi untuk dapat melupakan Papa Sardan dan dapat menjalani aktifitas meskipun tanpa Almarhum.


*****


Gendhis dan team kantornya mengunjungi makam bang Sardan mereka berdoa di makam,mata Gendhis selalu sembab sejak kematian Almarhum,membuat Bos Galih bertanya tanya dalam hati sebenarnya sejauh apa hubungan Gendhis dan Almarhum. Membuat hatinya sedikit cemburu.


Debby dan Fitri menepuk punggung sahabatnya,karena mereka mengetahui apa sebenarnya rencana mereka berdua.Sungguh nasib Gendhis yang tak ada habisnya belum bisa menemukan kebahagiaan.


"Sudah Ndis ayo kita pulang kasihan Almayra masih membutuhkan kasih sayangmu yang kuat yang tabah",Gendhis menggangguk berdiri dan mereka berjalan menuju rumah Almarhum Bang Sardan.


7 harinya Bang Sardan telah terlewati tibalah saatnya kewajiban pak Hendra memberitahu amanat yang akan di sampaikan kepada teman yang sudah di anggap sebagai keluarga mudah mudahan kabar ini rak membuat persaudaraan mereka renggang karena berita ini menyangkut harta benda.

__ADS_1


__ADS_2